Why Should Get MARRIED?!

Why Should Get MARRIED?!
Chapter. 17


__ADS_3

Malam hari, cafe sudah tutup, kayawan cafe sudah pulang kecuali Yujin.


Kang-Joon dan Young-Joo masuk ke cafe.


“Bagaimana pkeerjaanmu hari ini?” Tanya Yujin sambil menggandeng Young-Joo.


“Menyenangkan, aku merasa bersemangat bekerja.” Mata Young-Joo tampak berbinar, tidak ada wajah lelah sama sekali, maklum ini addalah pekerjaan pertamanya.


“Tentu saja bosnya kan baik hati.” Kang-Joon memuji diri sendiri.


So-Hee tersenyum geli.


“Kalau begitu kami pulang dulu sajangnim, seniman Song.” Yujin pamit.


“Hmm.. hati-hati.” So-Hee masih sibuk dengan laptopnya.


“Kami duluan.” Young-Joo pamit.


“Hmm.. sampai bertemu besok.” Kang-Joon duduk di hadapan So-Hee.


“Ayo makan.” Ajak Kang-Joon.


“Sebentar lagi, masih tanggung.”


“Hmm..”


So-Hee melirik ke Kang-Joon. “Kenapa melihatku seperti itu?” Tanya So-Hee.


“Ada yang ingin aku tanyakan padamu.”


“Apa?” Dalam hati So-Hee merasa cemas, dia takut kalau-kalau Kang-Joon menyatakan perasaannya.


“Emm.. bagaimana jika mantan kekasihmu yang pernah meninggalkanmu beberapa tahun lalu tiba-tiba menyapamu?”


“Apa?? Mantan pacarmu menghubungimu lagi??”


“Hmm.. iya.”


“Kenapa? Menurutku aneh, kenapa tiba-tiba saja menghubungi?” So-Hee tidak lagi fokus pada pekerjaannya.


“Dia meninggalkanku lalu menikah dengan anak pemilik museum seni. Dia menghubungiku untuk menawarkan kerjasama membuat pameran di museum seni milik mertuanya.” 


“Lalu? Kau berminat??” So-Hee mulai penasaran.


“Emm.. sejujurnya aku berminat tapi aku masih ragu.”


“Apa yang membuatmu ragu? apa kau ragu akan menyukai dia lagi kalau bertemu??”


“Bukan itu.”


“Aku ragu kau memperbolehkan aku ikut.” Kang-Joon menatap So-Hee dengan tatapan tegas.


So-Hee tidak bisa menjwab.


“Jang So-Hee, kau pasti tahu kan?”


“Emm.. tidak, aku tidak tahu.” So-Hee berpura sibuk dengan laptopnya, tapi sebenarnya dia tidak bisa fokus kelainnya selain Kang-Joon.

__ADS_1


“Kau berbohong.”


“Apa?”


“Belum waktunya, aku akna memilih waktu yang tepat untuk mengatakannya, Jadi sekarang kau fokus saja pada pekerjaanmu lalu kita makan, aku lapar sekali.”


“Hahh.. kau yang bikin aku tidak fokus, ayo makan sekarang saja.” So-Hee berkemas lalu mereka pergi makan.



Pagi hari.


So-Hee duduk di kursi bus paling belakang menyandar kaca, sambil melamun karena mengantuk.


Semalam So-Hee tidak bisa tidur karena di otaknya terngiang cerita Kang-Joon tentang sang mantan.


So-Hee merasa ada yang aneh dengan dirinya, kenapa dia sangat terusik dengan mantan Kang-Joon. Jelas-jelas dia tidak kenal orang itu, dan dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan merek tapi kenapa dia merasa sangat terusik?


“Hahh.. bisa gila aku.” So-Hee mengambil headphone, lalu memakainya. Dia mendengarkan lagu dengan nada lembut berharap hatinya bisa ikut kalem, tapi tidak berhasil.


Ting!


So-Hee memencet bel, lalu turun di halte. 


“Huft.. Jang So-Hee kau harus bersikap profesional, kau harus bekerja dengan tenang, lupakan soal Kang-Joon dan mantannya. Persetan dengan orang yang tidak pernah aku kenal!” So-Hee berjalan menuju cafenya.


Ternyata Yujin, Young-Joo dan Kang-Joon sudah datang, mereka sedang berbincang di depan cafe yang masih terkunci.


‘Haishh.. sial!! Kenapa sepagi ini sudah bertemu Kang-Joon sih?’ So-Hee mengumpat dalam hati.


“Good mornin.” So-Hee menebar senyuman.


“Sajangnim ada sesuatu yang mau aku dan Young-Joo berikan.” Yujin membawa sebuah box dengan ukuran yang lumayan besar.


“Apa?”


“Ini adalah kain untuk sajangnim dan seniman Song. Buatlah pakaian untuk acara pernikahanku dna Young-Joo.” Yujin mneyerahkan box itu ke So-Hee.


“Kemungkinan besar orang tuaku tidak akan datang, jadi.. sajangnim.. hyung.. aku minta tolong jadilah keluarga untukku saat pernikahan esok.” Young-Joo meminta dengan kerendahan hati.


“Apa?? Jadi ini kain pasangan? Untuk aku dan Kang-Joon??” So-Hee mengulangi apa yang sudah dia dengar dari Yujin.


Yujin dan Young-Joo mengangguk.


“Yaak!! Pernikahan kalian tinggal sembilan hari lagi! Aku tidak punya kenalan penjahit baju, bagaimana ini?” So-Hee panik.


“Ikut aku.” Kang-Joon menarik tangan So-Hee.


“Mau kemana? Aku harus membuka cafe dulu.” So-Hee pasrah ikut masuk ke mobil Kang-Joon.


“Berikan kuncinya padaku sajangnim.” Yujin meminta kunci cafe pada So-Hee


“Memangnya kita mau kemana sih?” Tanya So-Hee ke Kang-Joon.


“Kita tidak boleh mengulur waktu, kita harus segera menjahit kain itu.” Kang-Joon memakaikan sabuk pengaman ke So-Hee, lalu dia membawa mobil melaju kencang.


Hingga akhirnya sampai di salah satu butik seorang perancang baju terkenal di kawasan Gangnam.

__ADS_1


“Kita akan membuah baju disini??” Mata So-Hee terbelalak saat turun dari mobil.


“Hmm..” Kang-Joon memencet bel berkali-kali. Butik masih belum buka.


Lalu tak lama kemudian munculah sang perancang busana terkenal itu. Kim Yoona.


“Anyeong nuna.” Sapa Kang-Joon.


“Kalau bukan kau yang memencet bel seperti itu sudah aku laporkan ke polisi” Yoona melirik ke arah So-Hee.


“Aa.. dia temanku, buatkan baju untuk kami nuna. Tapi waktunya tidak lama.” Kata Kang-Joon.


“Masuk.” Yoona mempersilahkan Kang-Joon dan So-Hee masuk ke butik.


“Jangan lupa tutup kembali, belum saatnya butik buka.” Yoona berjalan menuju ruang pribadinya.


Kang-Joon dan So-Hee mengikuti.


So-Hee kagum saat melihat ruang kerja milik Yoona.


“Jadi berapa lama waktunya?” Tanya Yoona.


“Satu minggu.” Jawab Kang-Joon.


“Kau gila ya? Kau pikir aku ini tidak ada pekerjaan lain?” Sindir Yoona dengan nada bercanda.


“Aku dan So-Hee harus mendampingi pengantin lelaki, karena orang tuanya tidak datang, kerena pernikahan mereka tidak direstui.”


“Omo! Kasihan sekali. Hmm.. kalau begitu kalian mau model seperti apa?” Tanya Yoona.


“Aku seperti biasa saja, tubuhku juga tidak berubah jadi tolong urus milik So-Hee.”


“Akhirnya kau punya pacar juga.” Yoona mendekai So-Hee.


“Tidak, kami bukan seperti itu.” So-Hee panik menjawab.


“Emm.. kalau bukan mungkin sebentar lagi.” Yoona mulai mengukur badan So-Hee.


“Aku tunggu di luar.” Kang-Joon keluar dari ruangan.


“Kau percaya padaku?” Tanya  Yoona.


“Hmm.. apapun bentuk bajunya asal tidak terlalu berbuka.” Jawab So-Hee.


“Dia tidak pernah datang kesin selain dengan ibunya, kau pasti orang yang spesial baginya.” Yoona masih sibuk mengukur dan mencatat.


“Benar kah?”


“Hmm.. dia kan anak mami.”


So-Hee tersenyum.


“Tapi kau tidak perlu khawair, dia orang yang baik dan bertanggung jawab. Walau kadang dia bersikap dingin, tapi memang itu sifat bawaan orang tampan, bukan begitu?”


So-Hee hanya tersenyum, dia tidak tahu harus menjawab bagaimana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2