
“Tapi seorang manusia memang dilahirkan untuk menjadi rumit dengan hatinya.
Meski sudah berusaha menutup rapat hatinya namun jika dia bertemu dengan pemilik kunci hatinya maka semua usaha kerasnya untuk menutup rapat hatinya akan sia-sia karena pada akhirnya si pemilik kunci hati akan dengan mudah membukanya.”
“Auhhh… dengar kata-katamu saja aku sudah merasa pusing, hem.. mungkin memang benar berkencan bukan hal yang tepat untukku.”
“Kau belum pernah mencobanya, dari mana kau tahu?”
“Benar juga.”
“Jika suatu hari kau merasakan bahagia saat bersama orang dan kau merasakan kosong saat tak bersamanya. Kau harus menyerahkan semua keputusan pada hatimu, bukan otakmu. Jika hatimu menggiring untuk melakukan yang tidak sesuai dengan yang otakmu mau biarkanlah, dengan begitu ku akan bisa merasakan cinta yang sesungguhnya. Karena cinta adalah pekerjaan hati jadi otak tidak perlu ikut campur.”
“Kau demam?” Tiba-tiba So-Hee memegang jidat Kang-Joon. “Tidak demam ternyata.” So-Hee kembali duduk.
Kang-Joon tersenyum.
...----------------...
Kang-Joon melemparkan badan ke kasur. Entah mengapa badannya terasa capek. Kang-Joon melirik jam di atas nakas.
11:32 PM
Kang-Joon bergegas ke kamar mandi untuk mandi agar badannya terasa segar. Keluar dari kamar mandi Kang-Joon melirik jam lagi.
00:06 AM
“Hahh..” Kang-Joon menghembus nafas kasar, entah mengapa dia merasa kesal dengan pergerakan waktu yang terasa lambat.
Kang-Joon keluar kamar, dia menuju ke kulkas untung mengambil air mineral.
“Ah.. dingin.” Karena minum sambil melamun, Kang-Joon tak sengaja menumpahkan air mineral yang dingin ke dadanya yang tidak tertutup jubah mandi.
“Huft..” Kang-Joon meletakkan botol air mineral di meja lalu kembali ke kamar.
Kang-Joon melepaskan jubah mandinya lalu memakai piyama sutra dari merk rumah fashion asal Paris. Sambil bercermin dan mengeringkan rambut dengan tangan seadanya, Kang-Joon masih terngiang-ngiang perkataan So-Hee tadi. “Hahh.. entahlah.”
Kang-Joon keluar kamar lagi menuju meja makan. “Ah.. kenapa bisa tumpah sih, merepotkan saja.” Kang-Joon melihat mejanya yang sedikit basah karena ulahnya sendiri menumpahkan air mineral di meja makan.
Kang-Joon menuju ruang tamu untuk mengambil tisu, namun otaknya teralihkan oleh remote televisi.
Lupa dengan tujuan awal, Kang-Joon malah menyalakan televisi. Kini dia sibuk menggonta-ganti saluran televisi.
“Hah.. produser televisi sedang tidak ada ide membuat acara yang bagus ya? Kenapa tidak ada yang menarik sih?” Kang-Joon mengomel sendiri, pada akhirnya dia menyerah. Kang-Joon mulai membuka Net***x untuk mencari tontonan yang menarik.
“Hem.. semua yang ingin aku tonton sudah aku tonton, hahhh..” Menyerah lagi, Kang-Joon tidak menemukan sesuatu yang membuatnya tertarik untuk menonton.
Kang-Joon melirik jam di dinding ruang tamu.
01:01 AM
“Hahh..” Kang-Joon akhirnya mematikan televisi lalu mengambil tisu dan kembali ke meja makan untuk mengelap air yang dia tumpahkan.
Kang-Joon duduk di kursi makan sambil menghabiskan air mineral.
KREK.. KREK..
Kang-Joon menghancurkan botol air mineral lalu membuangnya ke tempat sampah, lalu dia kembali lagi duduk di kursi makan.
Tik..
__ADS_1
Tok..
Tik..
Tok..
Tik..
Tok..
Tik..
Tok..
Kang-Joon termenung sejenak sampai akhirnya dia menemukan ide yang bagus untuk menghabiskan waktu.
“Ini akan membuatku ngantuk.” Kang-Joon mengambil satu kaleng bir dari kulkas lalu kembali duduk di kursi makan.
Sambil menghabiskan bir di otak Kang-Joon terus berputar adegan makan malamnya bersama So-Hee, sampai tanpa sadar dia sudah menghabiskan lima kaleng bir.
“Hahh.. akhirnya aku mengantuk juga.” Kang-Joon berjalan menuju kamar, dia segera berbaring di kasur, menarik selimut tebal.
Kang-Joon melirik jam di nakasnya.
02:55 AM
Tak butuh waktu lama Kang-Joon akhirnya tertidur pulas.
...----------------...
TAP!
So-Hee kemudian duduk di kursi belakang di dekat jendela.
TRIIIIING…
“Hem.. Yujin sakit?” So-Hee segera menghubungi Yujin setelah membaca pesannya.
“Hemm?? Tidak aktif?” So-Hee mencoba sekali lagi.
“Mungkin dia sedang tidak ingin diganggu, baiklah kalau begitu artinya aku hari ini menjadi sandera di The S 3.”
Hanya butuh lima belas menit hingga sampai ke halte dekat The S 3. So-Hee turun dari bus lalu berjalan menuju cafe.
Dari jauh So-Hee mengamati tempat parkir yang masih kosong, lalu matanya melirik ke studio seni milik Kang-Joon.
So-Hee melihat jam tangannya.
07:45 AM
“Tidak biasanya dia berangkat siang, huhh.. tidak ada kabar juga.” So-Hee melihat ponselnya, tidak ada pesan atau panggilan masuk.
Saat So-Hee akan memasukan ponselnya ke dalam tas, tiba-tiba ponselnya berdering, bergegas So-Hee menjawab telepon yang masuk.
“Good Morning.”
“Selamat pagi.” Suara dari ponsel yang berbarengan dengan sambutan So-Hee.
So-Hee menarik ponselnya untuk melihat siapa yang meneleponnya, karena suara yang muncul bukan suara orang yang dia tunggu.
__ADS_1
‘Senior Seung-Yoon’
“Aaa..” So-Hee merasa malu pada dirinya sendiri.
“Hari apa ini? Kenapa kedengarannya u sedang happy?” Tanya Seung-Yoon.
“Emm.. aku harus selalu menanamkan semangat pagi dan keceriaan tiap pagi agar karyawanku terbawa aura positifnya. Bukan begitu?” Dengan sigap So-Hee berbohong ke Seung-Yoon.
“Hem.. jadi begitu. Oke, kalau begitu aku tidak salah pilih hari.”
“Apa maksudnya?”
“Setelah sidang selesai aku akan mampir ke The S 3.”
“Kau sedang menuju pengadilan?” Tanya So-Hee.
“Sudah sampai, aku masuk dulu. Bye!” Seung-Yoon mengakhiri percakapannya dengan So-Hee.
“Aish.. dasar bocah! Suka sekali menutup telepon tiba-tiba.”
So-Hee sampai di cafenya.
“Oke, tampaknya hari yang melelahkan akan segera dimulai.” Gerutu So-Hee sambil membuka cafenya.
...----------------...
Malam hari.
Suasana cafe sudah sepi, cafe sudah tutup sekitar satu jam lalu. Semua staff cafe juga sudah pulang, tinggal So-Hee sendiri yang masih sibuk dengan inbox di emailnya.
Tok.. tok..
“Oh.. Young-Joo.” So-Hee melambaikan tangan tanda mempersilahkan Young-Joo untuk masuk.
“Annyeonghaseyo Jang sajangnim.” Young-Joo masuk lalu mendekat ke So-Hee.
“Hem.. annyeong. Ada apa? Yujin masih sakit?” Tanya So-Hee.
“Sakit?” Young-Joo bingung.
“Kau tidak tahu? Hari ini dia izin tidak masuk karena sakit.”
So-Hee meneliti raut wajah Young-Joo yang tampak bingung. “Apa terjadi sesuatu??”
“Tidak, tadi pagi Yujin datang ke apartemen ku, dia memakai baju seragam. Dia bilang ada yang ingin dikatakan, tapi aku menolaknya karena terburu-buru ada janji dengan dosen pembimbing skripsi.”
“Yaaa!!! Kau seharusnya mendengarkan dulu apa yang ingin Yujin ceritakan.” So-Hee mulai meninggi.
Tok.. tok..
Suara ketukan pintu membuat So-Hee dan Young-Joo menengok.
Kang-Joon memberi sinyal dengan tangan, apakah dia boleh masuk. So-Hee mengangguk.
Young-Joo menundukan kepala memberi salam pada Kang-Joon, begitu pula sebaliknya.
“Kalian sedang marahan?” So-Hee kembali mengintrogasi Young-Joo.
Bersambung..
__ADS_1