
So-Hee dan Yujin bekerja seperti biasa, Kang-Joon pun melakukan hal yang sama. Sedangkna Young-Joo pergi ke kampus untuk mengurus tugas akhirnya.
10:00 waktu Seoul.
Pengunjung The S 3 tidak begitu ramai, beberapa kursi masih kosong.
“Hoaaam..” So-Hee menguap di dekat meja kasir.
“Sajangnim, minum ini.” Yujin memberi satu cup es amerikano ke So-Hee.
“Thank you! Kau tahu saja kalau aku butuh cafein. Yujin kamu jangan minum kopi dulua.” So-Hee merebut satu cup es amerikano dari tangan Yujin.
“Bukan untukku, aku sengaja membelinya untuk seniman Song.” Kata Yujin.
“Oh.. begitu, ya sudah kau tunggu kasir saja akan aku berikan ke Kang-Joon.” So-Hee membawa es amerikano ke studio Kang-Joo.
Tok.. tok..
“Boleh masuk?” So-Hee menengok ke dalam studio, Kang-Joon sedang mengerjakan sebuah patung.
“Masuk saja.” Sambut Kang-Joon.
“Waahh.. kalau diingat-ingat selama ini aku belum pernah melihatmu bekerja, baru kali ini.”
“Itu karena kamu selalu sibuk dan jarang sekali ke studioku. Selama ini selalu aku yang datang ke kafe, itu pun saat kafe sudah tutup.”
__ADS_1
“Benar juga. Oiya.. ini dari Yujin.” So-Hee memberikan es amerikano ke Kang-Joon.
“Tunggu sebentar.” Kang-Joon mencuci tangannya yang penuh gypsum.
“Berapa harga paling mahal dari karyamu?” Tanya So-Hee sambil melihat-lihat beberapa patung yang belum sempurna.
“Tidak mahal, karyaku masih murah.”
“Jadi berapa harga karya termahal milikmu?” So-Hee penasaran dia kembali bertanya.
“Dua ratus lima puluh ribu euro."
"Waaaaah.. daebak!"
*Daebak : Hebat.
"Waaaah.. gila.. harga satu karya milikmu setara dengan omzet dua kafe selama sebulan, haha.." So-Hee tertawa miris.
Tok.. tok.. tok.. tok.. tok..
"Sajangnim…."
So-Hee membuka pintu.
"Gawat, ibu dari pacar Yujin eonni datang lalu memarahinya di depan pelanggan." Seorang karyawan The S terlihat panik saat melapor ke So-Hee.
__ADS_1
So-Hee segera kembali ke kafe.
Ibu Young-Joo sedang memaki-maki Yujin di depan meja kasir.
“Permisi ada ribut-ribut apa ini?” So-Hee segera mendekati ibu Young-Joo.
Ibu Young-Joo melirik ke nametag So-Hee.
“Aaa.. jadi anda bosnya, anak buah anda ini menggoda anak saya dan sekarang dia seenaknya minta tanggung jawab!! Kau pikir kau ini siapa? Menikah?? Young-Joo tinggal menyelesaikan tugas akhirnya lalu lulus, tapi kau memintanya untuk menikah??!! Dasar p*lac*r!! Orang tidak berpendidikan!!”
“Sebelum saya murka lebih baik anda keluar dari kafe saya.” So-Hee mencoba menahan emosinya, dia sudah menggulung lengan blazernya.
“Urusan saya dan anak ini belum selesai, sini kau, keluar kau dari situ!!” Ibu Young-Joo mencoba menerobos masuk ke dalam area karyawan tapi So-Hee dan Kang-Joon menahannya.
“Kamu lelaki yang kemarin datang bersama Young-Joo kan? Jadi kalian bersekongkol untuk membela wanita ini ha??!!” Ibu Young-Joo memiliki postur badan yang tidak tinggi dan sedikit gemuk, wajahnya bulat dengan alis yang jelas, saat marah seperti ini wajahnya semakin terlihat kejam.
“Nyonya.. saya adalah pengacara, akan sangat mudah bagi saya untuk memasukan anda ke penjara dan membayar denda karena diseluruh kafe ini ada CCTV. Jadi sebelum saya murka lebih baik anda keluar dari sini.” Suara So-Hee sudah mulai meninggi.
Kang-Joon dapat melihat perubahan emosi So-Hee, “Maaf nyonya, kita bicara di luar atau di studio saya dilantai dua gedung ini. Karena jika anda seperti ini terus anda akan rugi sendiri.” Kang-Joon mencoba menengahi So-Hee dan ibu Young-Joo.
Sedangkan Yujin terlihat pucat, keringat di dahinya bercucuran, dia hanya bisa diam karena tidak tahu apa yang bisa diperbuat.
Kang-Joon berhasil membawa ibu Young-Joo keluar dari kafe. So-Hee memasang tanda ‘CLOSE’ di pintu cafe.
“Eheeemm.. sebelumnya saya minta maaf atas kejadian yang membuat pelanggan tidak nyaman. Saya, Jang So-Hee pemilik kafe ini meminta maaf kepada semua pelanggan.” So-Hee menundukan badan lalu seluruh karyawan juga ikut melakukannya.
__ADS_1
“Sebagai tanda permintaan maaf kami, anda semua bisa sepuasnya makan dan minum gratis. Tapi saya mohon untuk tidak menyebarkan cerita, foto atau video atas kejadian ini, terimakasih." So-Hee kembali menundukan badan sebagai tanda minta maaf.
Bersambung...