
“Baiklah, dia seniman yang menyewa di lantai dua gedung cafe The S 3. Kami kenal saat hari pertama The S 3 buka. Sudahkan?? Kalau begitu ayo kita bahas tentang project The S.”
“Tumben kau bisa berteman dan mau minum berdua dengan orang yang belum lama kau kenal?” Seung-Yoon sudah lebih dari tujuh belas tahun mengenal So-Hee, dia adalah kakak tingkat So-Hee saat kuliah di Sydney. Saat masih menjadi pengacara So-Hee bergabung dengan firma hukum milik ayah Seung-Yoon.
“Dia orang yang baik sama sepertimu.” So-Hee sibuk dengan laptopnya.
Seung-Yoon melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap So-Hee seolah mencari tahu lebih dalam mengenai Kang-Joon. “Hanya itu?”
“Hem? Apa maksudnya?” So-Hee bingung dengan pertanyaan ambigu Seung-Yoon.
“Tidak jadi, ayo kita lanjutkan soal rencana mu itu.”
“Seperti yang sudah ada di proposal yang aku kirim kemarin, aku berencana membuat kopi instan dan merchandise yang dijual secara online dan overseas. Saat release aku berencana menggaet BTS untuk kolaborasi sekaligus sebagai brand ambassadornya.”
“Kenapa BTS? Apa kau seorang ARMY?” Tanya Seung-Yoon dengan nada bercanda.
“Aigoo.. sunbae tahu juga rupanya soal BTS. Emm.. Kenapa BTS? Karena mereka adalah idol yang sedang mendunia, jadi aku rasa mereka orang yang tepat.” So-Hee sedang dalam mode serius, meski sudah mengenal Seung-Yoon lama tetapi So-Hee selalu bersikap profesional setiap membahas bisnisnya dengan sang investor, Ji Seung-Yoon.
“Bukannya akan keluar uang banyak untuk bisa menjadikan mereka brand ambassador?”
“Aku rasa biaya yang kita keluarkan untuk menggaet mereka bisa dibilang untuk investasi masa depan. Kembali ke tujuan awal, target konsumen untuk project ini adalah anak-anak muda di seluruh dunia, jadi sejak awal launching aku ingin produk ini secara cepat dapat mengapung di berbagai negara, jadi menurut ku menggaet BTS adalah strategi marketing yang tepat melihat kepopuleran mereka saat ini.” So-Hee menjelaskan secara rinci ide project yang sedang dia bangun.
“Oke, tapi idol atau aktor, aktris di negara kita memang sedang banyak yang mendunia, lalu kenapa kau pilih BTS?”
“Menurut pengamatan ku ada dua group di negara kita yang mempunyai fans di luar negeri yang banyak, ada BTS dan BLACKPINK. Lalu kenapa BTS yang aku pilih? Jawabannya adalah karena sebagian besar fans BTS adalah wanita, dan wanita lebih gampang terpengaruh trend dibanding lelaki.”
“Hemm.. oke, kalau begitu aku setuju. Lalu sudah sejauh apa project ini berjalan?”
“Produsen kopi sudah setuju, mereka sedang membuat beberapa varian baru selain varian yang sudah ada di cafe. Untuk kemasan aku sudah memilih seorang designer untuk membuat branding guidelines. Aku juga sudah bertemu beberapa perusahaan startup untuk memilih aplikasi dan sistem web untuk penjualan online. Jika tidak ada halangan bulan depan contoh produk, branding guidelines, sistem web akan aku perlihatkan ke sunbaenim.”
“Oke, lanjutkan. Oiya.. untuk cafe baru kau tunda saja projectnya sampai tahun depan.”
“Emm.. mungkin aku akan mulai mencari tempat di akhir tahun.”
“Hemm.. begitu lebih baik, dari pada hidup mu hanya kau gunakan untuk bekerja terus, kau juga harus menikmati hidup.”
“Ah… kenapa sunbae juga bilang begitu sih? Sunbae kan tahu target ku bisnisku.”
__ADS_1
“Juga bilang begitu? Memang ada orang lain yang bilang hal yang sama?”
“Kang-Joon juga bilang begitu.”
“Kang-Joon lagi? Wahh.. aku makin penasaran orang seperti apa dia.”
“Kenapa?”
Tiba-tiba ponsel Seung-Yoon berdering.
“Hem.. baiklah, aku sudah selesai, suruh dia menunggu sebentar.” Seung-Yoon berbicara di ponsel.
“Aku harus kembali ke kantor.” Seung-Yoon menyeruput kopinya sebelum meninggalkan kursi.
“Baiklah, hati-hati di jalan sunbae.”
“Habiskan makananmu, aku sudah bayar mahal.” Seung-Yoon menepuk pundak kanan So-Hee.
“Jangan khawatir, akan aku habiskan semuanya.”
“Hem?” So-Hee bingung kenapa Seung-Yoon yang belum mengenal Kang-Joon menitip salam. “Dasar orang aneh.” So-Hee masih memandang Kang-Joon dari balik kaca.
___
Malam hari setelah cafe tutup So-Hee dan Kang-Joon makan malam disebuah restoran yang menjual masakan khas thailand.
“Bagaimana presentasi mu ke investor? Lancar?” Tanya Kang-Joon sambil menyeruput kuah tom yam.
“Lancar.” Sama seperti Kang-Joon, So-Hee juga sedang sibuk dengan makanannya.
“Oiya, sunbae menitip salam pada mu.”
“Hem?? Sunbae?? Nugu?? Siapa yang kau maksud?” Kang-Joon bingung.
“Hehehe.. aneh memang, sunbae yang aku maksud adalah si investor tunggal yang aku ceritakan pada mu. Dia adalah Ji Seung-Yoon, di adalah kakak tingkat ku saat aku masih kuliah S2 di Sydney. Dia juga seniorku di tempat kerja dulu, dia juga anak pemilik firma hukum tempat ku bekerja.”
“Aaa.. jadi investor itu teman dekat mu ya.”
__ADS_1
“Iya, kami sangat dekat.”
Kang-Joon berhenti makan untuk mengamati ekspresi wajah So-Hee.
“Se..dekat apa?” Dengan ragu-ragu Kang-Joon menanyakan hal tersebut.
“Emm.. ya sedekat yang aku ceritakan tadi. Kenapa?”
“Ah.. tidak, hanya saja saat menceritakan sunbae mu itu kau terlihat bahagia, aku pikir kau suka padanya.”
“Suka??”
Kang-Joon hanya tersenyum tidak mengeluarkan satu katapun.
“Sebenarnya dia dulu pernah suka padaku.”
Kang-Joon akhirnya menemukan jawaban atas ekspresi So-Hee. “Suka padamu??” Lagi-lagi Kang-Joon tidak menanyakan secara lugas apa yang sebenarnya ingin dia tanyakan.
“Iya, saat masih bekerja sebagai pengacara dia pernah menyatakan perasaannya padaku. Saat itu aku benar-benar kaget, aku tidak menyangka dia menyukai ku sebagai wanita bukan sebagai teman, jujur saat itu hanya dia temanku, jadi aku merasa kecewa karena dia menyukaiku bukan sebagai teman.” Pandangan So-Hee tampak kosong.
“Lalu?”
“Aku berkata jujur padanya bahwa aku sangat suka berteman dengannya, karena dia adalah satu-satunya temanku. Lalu aku memintanya untuk tetap menjadi temanku seperti biasa. Hemm.. awalnya dia selalu menghindari ku, namun aku selalu tidak tahu malu mengikutinya setiap ada kesempatan, dan…. ya… begitulah.”
“Begitulah bagaimana maksudmu?” Kang-Joon semakin penasaran tentang hubungan So-Hee dan Seung-Yoon.
“Dan akhirnya dia mulai risih denganku lalu bisa menyingkirkan perasaannya dan tetap berteman seperti biasa denganku, hehehe..”
“Selama ini kau mengenalnya benar-benar tidak pernah menyukainya sebagai pria?”
“Tidak, aku pernah menyukai seorang pria jadi aku tahu persis bagaimana rasanya. Dan rasa itu tidak aku rasakan sama sekali dengan sunbae. Sejujurnya aku merasa bersalah saat menolaknya, tapi aku juga tidak bisa memaksakan diri untuk menyukainya sebagai pria. Hem.. manusia memang rumit ya. Benarkan?” So-Hee sudah kembali dari pikirannya yang melayang, sekarang dia menatap Kang-Joo.
“Bukan manusia yang rumit, tapi hati mereka yang rumit.”
“Hem.. benar juga, maka dari itu aku memutuskan untuk menutup rapat-rapat hatiku agar hidupku tidak menjadi rumit.” So-Hee kembali menyantap makanannya.
Bersambung..
__ADS_1