
So-Hee dan Kang-Joon tiba di rumah So-Hee.
"Emm.. kau mau minum soju?" So-Hee mencoba menahan Kang-Joon pulang.
Kang-Joong tersenyum.
"Kau tidak ingin aku pulang ya?" Kata Kang-Joon dengan tatapan menggoda.
"Emm.. kalau iya memangnya kau mau tetap disini?"
"Tidak untuk hari ini ya." Kang-Joon memegang kedua pipi So-Hee lalu mengecup bibir So-Hee.
"Besok aku ada pertemuan dengan seniman-seniman penyelenggara pameran. Portofolio dan bahan presentasiku belum selesai. Jadi maaf aku harus pulang untuk mengerjakan itu."
So-Hee memanyunkan bibirnya.
"Emm.. iya sih, aku juga harus menyelesaikan materi iklanku. Karena aku terlalu gugup jadi tidak bisa berkonsentrasi kerja." So-Hee tersipu malu.
"Aku juga sama." Kang-Joon menggaruk kepalanya.
"Ya sudah kau pulang sana."
"Hmm.. selamat bekerja, telepon aku kalau butuh ditemani." Kang-Joon masuk ke mobilnya lalu pergi.
So-Hee masuk ke rumah.
"Aaaaak.. Song Kang-Jooooooon." So-Hee melompat-lompat kegirangan.
Lalu merasa malu dan wajahnya memerah saat ingat mereka berciuman di cafe.
Maklum bagi So-Hee semuanya serba pertama, pacar pertama, cinta pertama dan ciuman pertama.
"Jang So-Hee tolong sadar diri! Ayo mandi lalu bekerja." So-Hee menyadarkan dirinya sendiri.
Dengan langkah riang gembira So-Hee pergi mandi.
__ADS_1
–
Di rumah Kang-Joon.
Kang-Joon baru aaja masuk ke rumah, senyum merekah belum hilang dari wajahnya.
Drrrrt.. drrt..
"Dia sudah merindukanku? Cepat sekali, hehe.." Kang-Joon mengambil ponsel dari saku mantelnya.
"Oh.. ternyata ibu, aku kira So-Hee."
"Selamat malam nyonya besar." Kang-Joon menyapa ibunya.
"Aigo.. apa kau menang lotre? Kenapa sepertinya kau bahagia sekali." Hanya melalui panggilan suara saja sang ibu sudah tahu bahwa anak semata wayangnya sedang berbahagia.
"Hehe.. ibu tahu saja."
"Benar kau menang lotre??"
"Lebih dari itu."
"Maaf ibu belakangan aku sibuk." Kang-Joon mengambil air mineral botol lalu meneguknya.
"Sibuk?? Memangnya kau punya pacar??"
Uhuk.. uhuk..
Karena kaget mendengar cetolehan ibunya yang dia yakin sebenarnya hanya bercanda namun faktanya benar.
"Kenapa sepertinya terkejut begitu? Benar ya? Emm.. apa wanita itu si pemilik cafe di lantai satu?"
Kang-Joon sekarang tahu kenapa ibunye menelepon.
"Pasti Yoona nuna kan yang melapor ke ibu?"
__ADS_1
"Jadi benar kau berpacaran dengan So-Hee??"
"Lusa aku akan datang, sampai jumpa ibu, aku mencintaimu, muaaah.." Kang-Joon mengakhiri sepihak pembicaraannya dengan sang ibu.
"Dasar Yoona nuna! Huft.. sudahlah aku mandi saja dulu. Pekerjaan menungguku."
Selesai mandi Kang-Joon mulai membuka laptopnya. Dia harus menyelesaikan portofolio dan presentasi tema karyanya untuk besok pagi.
Kang-Joon melirik ponselnya, tidak ada notifikasi apapun.
"Hmm.. So-Hee memang selalu berkonsentrasi penuh saat bekerja. Baiklah aku juga harus begitu, hwaiting Song Kang-Joon." Kang-Joon menyemangati dirinya sendiri.
–
Di rumah So-Hee.
So-Hee sedang berkutat menyiapkan bahan untuk promosi proyek barunya.
Tuk.. tuk..
So-He melihat ponselnya, nihil tidak asa notifikasi dari orang yang dia inginkan.
Tidak tahan, So-Hee memutuskan untuk menelepon Kang-Joon.
"Tapi Kaang-Joon pasti sibuk, sudahlah tidak usah saja." So-Hee memutus panggilan yang belum terjawab lalu lima detik kemudian Kang-Joon menelepon.
"Ada apa? Apa kau sudah merindukanku?" Tanya Kang-Joon.
"Dasar narsis, hehe.. tapi aku memang menunggu telepon darimu sih." So-Hee kini bisa dengan mudahnya jujur pada Kang-Joon.
"Menyenangkan mendengar suaramu, coba bercerita."
"Enak saja, pekerjaanku belum selesai ya." So-Hee kembali bekerja.
"Sama, tapi rasanya aku ingin terus mendengar suaramu."
__ADS_1
So-Hee tersipu malu, pada akhirnya mereka saling bercerita dan menhenal lebih dalam lagi. Walau tidak seratus persen fokus bekerja So-Hee dan Kang-Joo berusaha tetap profesional, mereka tetap mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab mereka.
Bersambung...