
So-Hee masuk ke mobil Kang-Joon.
“Apa aku masih bau alkohol?” Tanya So-Hee sambil mencondongkan wajahnya ke Kang-Joon.
“Emm.. sedikit.”
“Benarkah? Aishh.. nanti pasti aku habis-habisan ditanya oleh Yujin.”
Kang-Joon hanya tersenyum.
“Mau makan apa kita?” Tanya So-Hee.
“Ke restoran yang menjual berbagai macam makanan penghilang pengar.”
Tak lama setelah masuk ke mobil So-Hee tertidur.
“Hahh.. bisa-bisanya dia tertidur, aigoo.” Kang-Joon menyetir dengan kecepatan yang pelan agar tidak membangunkan So-Hee.
“Tuan putri, kita sudah sampai.” Kang-Joon membangunkan So-Hee.
“OMO! Aku tidur??” So-Hee terbangun dia kaget setelah tahu bahwa dirinya tertidur selama perjalanan. “Mian.” *Mian : Maaf.
“Ayo turun, walau masih pengar tapi kita tetap harus bekerja dan menghadapi hari ini.” Kang-Joon keluar mobil lalu diikuti oleh So-Hee.
Mereka masuk ke sebuah restoran kuno yang tidak begitu besar, arsitektur dan interior kuno membuat suasana restoran ini terasa sejuk.
“Huwaa.. keren sekali tempat ini.” So-Hee terpukau melihat suasana restoran itu.
“Hemm.. aku selalu kesini setiap habis mabuk.”
“Silahkan lihat-lihat dulu menu kami.” Seorang pelayan mendatangi So-Hee dan Kang-Joon yang baru saja duduk.
“Yukgaejang satu dan air mineral.” Tanpa melihat menu Kang-Joon langsung memesan Yukgaejang, sup daging sapi pedas pereda pengar.
“Sundubu Jjigae dan air mineral.” So-Hee memesan sup tahu.
“Baik, mohon ditunggu.” Pelayan restoran pergi meninggalkan Kang-Joon dan So-Hee.
“Kau kuat makan pedas pagi-pagi?” Tanya So-Hee
“Hemm.. yukgaejang adalah makanan favoritku untuk menghilangkan pengar.”
“Kau hobi minum alkohol?” Tanya So-Hee.
“Tidak juga, aku lebih suka minum saat suasana hati sedang sedih, kecewa dan bahagia.”
“Kalau begitu kau sering minum dong?”
“Tidak juga, karena suasana hati ku sering datar dan biasa saja.”
“Emm.. kau tidak marah kan aku mabuk seperti semalam?”
__ADS_1
“Kenapa aku harus marah?” Kang-Joon bingung dengan kata-kata So-Hee barusan, terdengar ambigu.
“Aku ingat semua yang aku ceritakan dan semua yang kau ceritakan semalam. Aku sengaja membeli soju dan mengajakmu mabuk agar aku bisa memiliki rasa bebas saat menceritakan asal muasal ku yang menyedihkan itu.”
Pelayan datang membawa dua botol air mineral dan dua gelas teh hijau hangat.
“Ini minuman service dari kami, silahkan menikmati.” Kata pelayan sebelum pergi.
“Semua hanya masa lalu, tidak penting, bukan begitu?” Kang-Joon menyeruput teh hijau miliknya.
“Kau benar, tidak penting, itu kata yang sangat pas.” So-Hee ikut menyeruput teh hijau miliknya.
Tidak lama pesanan mereka datang, lalu merek menyantap dengan tenang.
...----------------...
Yujin segera mendatangi So-Hee yang baru saja datang.
“Sajangnim datang bersama seniman lantai dua?” Seperti yang sudah So-Hee bayangkan, Yujin segera menyerbu So-Hee.
“Hem.”
“Hemmm… bau alkohol. Jangan-jangan semalam sajangnim dan seniman lantai dua minum bersama?”
“Sst.. jangan keras-keras.” So-Hee menyeret Yujin untuk masuk ke bar agar tidak mengganggu pelanggan yang sudah mulai banyak.
“Jangan-jangan sajangnim menginap di rumah seniman lantai dua atau sebaliknya dan kalian berangkat bersama??”
“Yaa..!! Kang Yujin!! Hentikan khayalan kotor mu itu. Aku dan Kang-Koon baru saja makan pagi untuk menghilangkan pengar.”
“Semalam aku dan Kang-Joon minum disini, lalu aku pulang ke rumah diantar Kang-Joon bersama supir sewaan, karena dia juga mabuk. Lalu pagi tadi Kang-Joon menjemput ku untuk makan pagi agar pengar kami cepat hilang. Sudah, itu saja, tidak ada hal lain, jadi KAU!” So-Hee menunjuk Yujin.
“.. Jangan berpikir yang macam-macam. Paham?” So-Hee segera meninggalkan Yujin untuk menuju ke ruangan pribadi nya.
...----------------...
Siang hari Yujin mengantar es americano ke Kang-Joon. Kang-Joon selalu memesan kopi yang sama dan minta untuk di antar setiap jam satu siang, kali ini Yujin sengaja mengantar ke studio Kang-Joon.
TOK.. TOK..
“Oh.. masuk saja.” Kang-Joon sedang sibuk mencampur beberapa cat untuk karya nya.
“Seniman Song, ini es americano seperti biasa dan ini wafel keju free dari aku.” Yujin meletakan kopi dan waffle di meja.
“Hemm.. kenapa tiba-tiba memberi ku wafel?”
“Sebagai tanda terimakasih karena seniman Song sudah berhasil mendekati sajangnim.
“Kau seperti ibu nya saja.” Kang-Joon tersenyum.
“Pokoknya kapanpun membutuhkan bantuan ku untuk langkah yang lebih, aku siap membantu.” Dengan wajah berbinar dan penuh semangat Yujin menawarkan bantuan ke Kang-Joon.
__ADS_1
Kang-Joon salah tingkah, dia menggaruk kepalanya mesti tidak gatal. “Emm.. ya, terimakasih.”
“Kalau begitu aku permisi, sampai jumpa.” Yujin meninggalkan studio Kang-Joon menuju kembali ke cafe.
...----------------...
“Aaaa.. mianhae sunbaenim, aku terlambat.” Yujin baru saja sampai di sebuah cafe, dia langsung duduk menghadap seorang lelaki yang sudah menunggunya. *Mianhae sunbaenim : Maaf senior.
“Tidak, aku juga baru saja datang.” Seung-Yoon tersenyum, hari ini dia tampak begitu tampan dengan setelan jas yang selalu menjadi style nya.
Ji Seung-Yoon adalah kakak tingkat So-Hee di perguruan tinggi, dia adalah seorang pengacara di firma hukum milik ayahnya yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
“Syukurlah, emm.. karna sunbae tidak punya banyak waktu kalau begitu aku langsung saja.” So-Hee mengeluarkan laptopnya, lalu membukanya, tapi Seung-Yoon menutupnya kembali.
“Pesan minum dan makan dulu, kau pasti belum makan kan?”
“Emm.. tidak usah, aku bisa makan nanti.” So-Hee kembali membuka laptopnya, lagi-lagi Seung-Yoon melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
“Setidaknya kau harus mencicipi makanan disini kan? Itu tugasmu kan? Survey menu di cafe lain, jadi kau harus pesan.” Seung-Yoon menyodorkan buku menu ke So-Hee.
Seung-Yoon memetik jari untuk mengundang pelayan.
So-Hee sedang malas memilih menu, dia tidak tertarik makan.
“Saya pesan menu spesial hari ini, terimakasih.” So-Hee mengembalikan buku menu ke pelayan.
“Baiklah, mohon ditunggu.” Pelayan kemudian pergi.
“Kau habis mabuk ya?” Tanya Seung-Yoon.
“Ha?? Bagaimana sunbae tahu? Memang aku masih bau alkohol?”
Seung-Yoon menggelengkan kepala, “Tidak, feeling saja. Minum dengan Yujin?”
“Bukan.” So-Hee kembali membuka laptopnya.
“Lalu dengan siapa?”
“Song Kang-Joon, teman baru ku.”
“Teman baru?? Kau punya teman baru?? Kenapa aku baru tahu??”
“Karena sunbae belum pernah bertemu dengannya, makanya datang ke The S 3 nanti aku kenalkan dengan Kang-Joon.”
Seung-Yoon memandang So-Hee dengan tatapan penuh tanya. “Jadi siapa itu Song Kang-Joon? Bagaimana kau bisa kenal dengannya?” Seung-Yoon kembali menutup laptop Seo-Hee.
“SUNBAE!! Katanya kau tidak punya waktu banyak, kenapa dari tadi menghalangi ku buka laptop sih?!” So-Hee kesal, dia sudah bersemangat untuk memperlihatkan proposal project barunya.
“Jadi… siapa Song Kang-Joon si teman baru mu itu? Bagaimana kau kenal dia? Sudah berapa lama kalian kenal?”
“Ckckck.. aku seperti tersangka yang di introgasi polisi saja.”
__ADS_1
“Jawab.”
To be continued...