
"Emm.. tapi dia pernah punya kekasih sebelumnya." So-Hee ingin mengulik tentang mantan kekasih Kang-Joon, dia berpikir siapa tahu Yoona mengetahui tentang hal itu.
"Aa.. mantan kekasihnya yang di Belanda itu?" Yoona ternyata tahu.
"Ternyata anda tahu."
"Aku hanya mendengarkan ceritanya dari ibu Kang-Joon."
"Tampaknya anda akrab dengan ibu Kang-Joon juga."
"Jelas saja, gedung ini adalah milik ibu Kang-Joon."
So-Hee membelalakan mata merasa takjub.
"Kau tidak perlu meragukan seorang Song Kang-Joon, terima saja pernyataan cintanya."
"Ah.. tidak kami tidak seperti itu kok." Jawab So-Hee canggung.
"Tunggu sebentar." Yoona mencari file model baju yang akan dia buatkan untuk So-Hee.
"Apa kau suka model seperti ini?" Yoona menunjukan design baju miliknya di sebuah tablet.
"Waah.. cantik sekali." So-Hee terpesona dengan design dress midi polos dengan sedikit aksen renda pada bagian lengan dan ujung rok.
"Oke aku anggap setuju."
"Terimakasih."
"Ayo temui Kang-Joon."
So-Hee dan Yoona keluar dari ruangan kerja Yoona.
"Sudah selesai?" Kang-Joon duduk di sofa sambil membaca majalah fashion.
"Sudah, dia bukan orang yang ribet, cocok sekali denganmu." Kata-kata Yoona membuat So-Hee dan Kang-Joon tidak bisa menjawab.
"Emm.. saya ada kupon gratis kopi di cafe saya. Kebetulan tempatnya tidak jauh dari sini. Semoga anda berkenan menerimanya." So-Hee mengalihkan pembicaraan, dia memberi Yoona kupon gratsi.
"Daebak!! Aku setiap hari beli kopi di The S! Sungguh!" Yoona tampak senang menerima kupon dari So-Hee.
"Terimakasih sudah mau membeli kopi di cafe kami." Kata So-Hee sambil tersipu.
"Aku yang berterimakasih sudah dapat kupon gratis minum kopi selama satu bulan. Menyenangkan, rasanya seperti menang lotre." Yoona memandang kupon dengan binar bahagia.
"Kalau begitu kami pamit." Kang-Joon mengajak So-Hee untuk kembali ke cafe.
"Hmm.. hati-hati, salam untuk ibumu." Kata Yoona.
So-Hee ikut undur diri.
__ADS_1
...----------------...
Di dalam mobil.
"Emm.. apa kau sudah menjawab permintaan mantan kekasihmu?" So-Hee sebenarnya ragu menanyakan hal ini, tapi dia masih merasa sangat terusik dengan hal itu.
"Belum, bagaimana menurutmu?"
"Emm.. kau menginginkannya?"
"Sebenarnya iya."
"Ingin beremu mantanmu atau ingin ikut pamerannya?" Selidik So-Hee.
"Hehe.. aku rasa kita harus menepi." Kang-Joon menepi di depan mini market.
Kang-Joon mengajak So-Hee keluar dari mobil.
“Mau apa kau menepi disini?” So-Hee panik.
“Aku tidak bisa fokus menyetir.” Kang-Joon memegang kedua pundak So-Hee lalu menatapnya dalam.
“Kenapa? Kenapa menatapku begitu?” Jantung So-Hee berpacu lebih kencang.
“Hahh.. aku rasa tidak dapat menundanya lagi. Aku menyukaimu Jang So-Hee.”
DEG!
“Aku pernah bilang kepadamu kan? Mencintai seseorang adalah pekerjaan hati, jadi otak tidak perlu ikut campur. Jadi Jang So-Hee aku harap kau mengikuti apa yang hatimu inginkan.” Kang-Joon tidak bisa lepas menatap wajah So-Hee.
So-Hee juga menatap Kang-Joon, tapi dia tidak dapat berkata apa-apa.
“Song.. Kang-Joon kenapa kau..” So-Hee terbata-bata.
“Aku tidak meminta jawabannya sekarang.”
So-Hee tertunduk.
“Ayo kita kembali ke tempat kerja. Ada banyak hal yang harus aku lakukan hari ini.” Kang-Joon menggandeng So-Hee hingga masuk ke mobil.
Di dalam mobil mereka tidak saling bicara, suasananya jadi canggung.
‘Ashh.. sial kenapa jadi begini sih? Apa yang harus aku katakan pada Kang-Joon?’ So-Hee sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Sudah sampai.”
So-Hee buru-buru keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke cafe tanpa berkata apapun pada Kang-Joon.
“Manis sekali, wajahnya merah seperti kepiting rebus.” Kang-Joon kembali ke studionya.
__ADS_1
...----------------...
“Sajangnim.. kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu merah seperti itu? Apa kau sakit?” Tanya Yujin saat melihat wajah So-Hee yang masih memerah.
“Tidak, bawakan aku es amerikano.” So-Hee masuk ke ruang kerjanya.
“Haissssh..” So-Hee duduk di kursi kerjanya, dia mengacak-acak rambut, merasa frustasi.
Drrrt..
Satu pesan masuk dari Kang-Joon.
‘Tidak perlu terburu-buru, aku akan menunggu dengan sabar jawabannya. Kau punya waktu sampai cafe tutup.’
“Haishhh.. apa dia gila?? Apanya yang tidak terburu-buru?? Malam ini? Hahhh.. dasar Song Kang-Joon!” So-Hee membanting ponselnya ke sofa.
“Sajangnim?” Yujin ternyata sudah berada di depan pintu.
“Yujin kesini.” So-Hee memanggil Yujin.
“Duduklah sebentar, ada yang ingin aku ceritakan, tapi jangan tertawa ya.”
Yujin mengangkat kedua alisnya, sedikit bingung dengan sikap So-Hee yang tidak seperti biasanya.
“Emm.. jadi.. emm..” Wajah So-Hee kembali memerah.
“Ada apa sajangnim? Apa kau benar-benar tidak sedang sakit?” Yujin heran dengan sikap So-Hee yang menurutnya aneh.
“Emm… Kang-Joon.. menyatakan perasaannya padaku.”
“APA??? DAEBAK!! Aku kira dia akan menyatakan perasaan sedikit lebih lama, ternyata dia tidak sabaran juga, uwww… selamat sajangnim.” Yujin memegang kedua telapak tangan So-Hee. “Lalu apa yang membuat sajangnim seperti ini?”
“Emm.. aku tidak tahu harus menjawab bagaimana.”
“Bohong! Sajangnim tentu sudah tahu jawabannya, tapi sajangnim menyangkalnya.”
‘D*mn! Kenapa Yujin tahu!’ Dalam hati So-Hee mengumpat karena kata-kata Yujin benar sekali.
“Ahhh.. entahlah.” So-Hee menarik tangannya dari tangan Yujin.
“Sajangnim.. apa salahnya mencintai seseorang?”
So-Hee terdiam, seumur hidup dia selalu menarik diri dari segala sesuatu yang berbau cinta-cintaan, tapi kali ini hatinya berontak, Kang-Joon menghancurkna pertahanan diri So-Hee.
“Hahh.. entahlah. Aku merasa bahagia saat bersama Kang-Joon, aku merasa hari-hariku sepi jika tidak bertemu dengannya. Bahkan aku merasa terusik saat dia menceritakan tentang mantan kekasihnya.”
“Fix! Itu adalah jawabannya sajangnim, jadi jangan disangkal lagi ya. Hwaiting sajangnim!!” Yujin pergi meninggalkan ruangan So-Hee.
“Hahh.. aku bisa gila.” So-Hee menempelkan pipinya di meja kerja.
__ADS_1
Bersambung...