
Tak terasa matahari sudah terbit lagi.
So-Hee membuka mata saat alarm di ponselnya berbunyi.
06:00 pagi.
So-Hee bangun, dia mengambil air mineral di lemari pendingin.
“Hahh.. kepalaku masih terasa sakit.” Mengingat kejadian semalam membuat kepala So-Hee terasa sakit kembali.
“Lebih baik aku bawa untuk olahraga saja, aku harus menyibukan diri hari ini.” So-Hee bersiap untuk lari.
Dia berganti pakaian untuk lari, lengkap dengan earphone wireless nya. So-Hee berlari di taman yang tidak jauh dari rumahnya.
So-Hee mencoba untuk tidak memperdulikan urusan Yujin, sekuat tenaga dia melawan otak dan hatinya.
Setelah selesai lari, So-Hee memasak, padahal sudah lama So-Hee tidak pernah memasak di rumahnya.
So-Hee membuat pasta untuk makan paginya.
Berulang kali So-Hee melirik ponselnya, tidak ada notifikasi yang berarti. So-Hee berharap Yujin, Young-Joo dan Kang-Joon menghubunginya namun tidak ada apa-apa, nihil.
“Hahh.. lebih baik aku segera mandi lalu berangkat bekerja.” So-Hee membereskan piring bekas makannya lalu mandi.
Seperti biasa So-Hee berangkat ke The S 3 menggunakan bus. Di dalam bus So-Hee tidak memegang ponselnya sama sekali, dia hanya melamun ke luar jendela, menikmati langit dan keramaian kota Seoul.
So-Hee turun dari bus, dia berjalan menuju cafe, sesampainya di depan cafe So-Hee tidak melihat mobil Kang-Joon, studionya pun masih tutup.
“Oke aku harus bisa fokus, kau pasti bisa So-Hee.” So-Hee menyemangati dirinya sendiri.
Hari itu So-Hee melakukan semua pekerjaannya dengan baik walaupun pikirannya masih bercabang ke Yujin, Young-Joo dan Kang-Joon.
Malam tiba, seperti biasa setelah semua karyawannya pulang So-Hee meneliti semua laporan dari ketiga cafenya.
Malam itu So-Hee hanya ditemani sebotol wine, tidak seperti hari-hari sebelumnya dimana Kang-Joon yang sering menemaninya.
So-Hee mengetuk dua kali layar ponselnya, masih saja tidak ada notifikasi dari ketiga orang yang dia nanti.
“Hahh.. oke saatnya menyelesaikan semuanya lalu pulang.” So-Hee menguncir rambutnya lalu fokus pada layar laptop.
Setelah hampir satu jam So-Hee bekerja, tiba-tiba ada suara seseorang mengetuk pintu.
Tok.. tok.. tok..
So-Hee menoleh, sosok yang ditunggu muncul juga.
Kang-Joon berdiri di depan pintu cafe sambil memasang senyum tanpa dosa.
“Lihat senyumnya, kenapa dia memasang senyum seolah tidak terjadi sesuatu?” So-Hee menggerutu sendiri sebelum akhirnya membuka pintu cafe.
“Maaf pak cafe kami sudah tutup.” Ucap Yumi sambil menekuk kedua tangannya di depan.
“Baguslah, aku memang mau menemui pemilik cafe saat cafenya sudah tutup.” Jawab Kang-Joon santai.
“Kau pikir ini lucu? Kau, Yujin dan Young-Joo tidak ada kabar sama sekali hari ini?”
__ADS_1
“Emm.. boleh aku masuk? Disini dingin sekali.” Kang-Joon menggosok-gosokan kedua tangannya agar lebih hangat.
“Hahh..” So-Hee berjalan menuju kursinya, lalu Kang-Joon membuntut.
Kang-Joon melirik ke botol wine yang sudah terbuka.
“Don’t touch my wine sir.”
Kang-Joon mengangkat kedua tangannya sambil memasang wajah berpura takut.
“Aku datang untuk melapor.” Kang-Joon duduk di hadapan So-Hee.
“Kalau mau lapor sana ke kantor polisi saja, laporan diterima dua puluh empat jam.”
“Yakin kau tidak ingin mendengarkan laporanku?” Kang-Joon terus mengajak So-Hee bercanda, dia ingin mencairkan suasana.
“Haahh.. sudah katakan saja.”
“Tadi aku menemani Young-Joo ke rumahnya, Young-Joo sudah mengatakan perihal keadaan Yujin. Lalu ibunya mengusirnya, ibunya memukul Young-Joo sambil menangis histeris. Ibunya juga mengancam akan memutus uang kiriman dan menarik apartemen yang sekarang ditempati Young-Joo.”
“Dasar ibu gila!! Lalu dimana Young-Joo sekarang?”
“Di apartemenku.”
“Lalu Yujin?”
“Aku, Yujin dan Young-Joo sudah menceritakan juga pada ayah Yujin. Diluar dugaan dia menangis bahagia dan bilang akan menerima Young-Joo di rumahnya. Tapi aku tidak menyarankan hal itu sebelum mereka resmi menikah.”
“Jadi mereka akan menikah sungguhan??”
“Iya.”
“Tidak, aku akan menanggung biaya kuliah Young-Joo hingga lulus. Dan mulai saat ini aku kan mempekerjakan Young-Joo sebagai asistenku.”
“Tapi dia masih harus kuliah, dia tinggal skripsi kan?”
“Iya, aku tidak akan mengganggu kuliahnya. Aku akan pastikan Young-Joo melakukan kewajibannya sebagai mahasiswa, suami dan ayah yang baik.”
So-Hee memandang Kang-Joon kagum.
“Aku tidak menyangka kau akan melakukan hal sebanyak ini untuk orang yang baru saja kau kenal.”
“Aku kasihan pada Yujin, tapi aku kagum juga dengan merek berdua.”
“Kagum? Kagum karena mereka berhasil membuat anak di usia muda?”
Kang-Joon tersenyum.
“Aku kagum dengan cara mereka saling menguatkan satu sama lain, aku iri pada Young-Joo, dia memiliki wanita yang bisa diandalkan di sebelahnya.”
So-Hee meneguk segelas wine. “Kau juga bisa.”
“Kau tidak ingin seperti mereka?”
“Tidak, aku tidak ingin mengenal cinta apalagi menikah. Prinsipku masih belum berubah.”
__ADS_1
“Belum berubah? Artinya ada kesempatan untuk berubah?”
“Hmm.. entahlah.”
“Ayo aku antar pulang.” Ajak Kang-Joon.
“Oke, aku siap-siap dulu.”
Setelah membereskan semua pekerjaannya So-Hee pulang diantar oleh Kang-Joon.
“Menurutmu apa keputusan mereka adalah yang terbaik?” So-Hee bertanya ke Kang-Joon tanpa melihat wajahnya.
“Aku rasa iya, menurutmu?”
“Entahlah, aku senang Yujin mempertahankan kehamilannya tapi aku rasa mereka berdua akan merugi karena masa muda mereka akan segera berakhir.”
“Kenapa kamu berpikir begitu?” Kang-Joon fokus menyetir sambil menanggapi So-Hee.
“Saat anak mereka lahir maka mereka akan berpusat pada anak mereka dan akan menyingkirkan semua keinginan mereka, impian mereka dan perlahan dunia mereka akan hilang.”
“Dunia mereka akan menghilang namun akan ada dunia baru yang mungkin lebih indah.”
“Lebih indah? Emm.. belum tentu seperti itu.”
“Setidaknya mereka mempertanggungjawabkan apa yang mereka perbuat.”
“Hmm.. aku sedikit salut pada mereka berdua.”
So-Hee selalu memandang kehidupan pernikahan adalah suatu hal yang mengerikan dan suram. Bagi So-Hee cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah pernikahan, menurutnya pernikahan adalah suatu hubungan yang sangat rumit yang dia yakin tidak akan pernah bisa dimasuki.
“Sudah sampai.” Mereka sampai di rumah So-Hee.
“Terimakasih.” So-Hee keluar dari mobil Kang-Joon.
Kang-Joon juga ikut keluar dari mobilnya.
“Aku masuk dulu.” Kata So-Hee.
“Emm.. boleh aku memelukmu?”
“Ne?” So-Hee terkejut kenapa tiba-tiba Kang-Joon berkata seperti itu.
Kang-Joon memeluk So-Hee.
“Aku ada untuk mendengar semua isi otak dan hatimu.”
So-Hee tertegun mendengar kata-kata hangat Kang-Joon.
“Emm.. baiklah.” Hanya itu yang So-Hee katakan.
Kang-Joon melepaskan pelukannya pada So-Hee.
“Masuk sana, dingin.”
“Hmm.. kau hati-hati di jalan.” So-Hee berjalan menuju rumah, lalu dia melambaikan tangan pada Kang-Joon sambil melemparkan sebuah senyuman.
__ADS_1
Kang-Joon melakukan hal yang sama.
Bersambung..