
Pagi-pagi Kang-Joon sudah kelabakan karena bangun terlambat.
Dia ada janji pertemuan dengan para seniman yang akan mengadakan pameran bersamanya.
Kang-Joon bangun pukul tujuh tiga puluh pagi padahal pertemuan diadakan pukul sembilan pagi.
Semalam Kang-Joon mengerkan portofolio dan bahan presentasi diselingi ngobrol dengan So-Hee di telepon makanya pekerjaannya baru selesai pukul tiga pagi, alhasil dia kesiangan.
Kang-Joon cepat-cepat mandi, lalu asal mengambil baju, lalu cepat-cepat mengemasi barang bawaan lalu berangkat.
"Hah.. ramai sekali jalannya, aku masuk jalan tol saja." Kang-Joon memutar balik mobilnya menuju jalan tol.
Ddrrr.. drrt..
Panggilan masuk dari So-Hee membuat Kang-Joon tersenyum.
"Good morniiiiiiing." Sapa So-Hee ceria.
"Morning.. senangnya pagi-pagi sudah ada yang menyapa dengan ceria."
"Aku menunggu teleponmu, tapi ternyata kau tidak menelepon."
"Maaf aku bangun kesiangan."
"Oya? Memang bangun jam berapa?"
"Tujuh tiga puluh, hehe.."
"Kalau tahu begitu aku akan telepon pagi-pagi sekali. Aku biasa bangun jam enam tiga puluh."
"Kalau begitu besok bangunkan aku, aku tidak akan memasang alarm, pokoknya kau yang jadi alarmku, oke?" Kang-Joon masih bisa tersenyum walau sedang dikejar waktu.
"Baiklahhhh, hehe.. ya sudah hati-hati di jalan ya. Semoga presentasimu lancar, sampai bertemu." So-Hee mengakhiri pembicaraan.
...----------------...
Cafe The S 3.
So-Hee baru saja mengakhiri pembicaraan di telepon dengan Kang-Joon.
Senyum merekah tidak pernah lepas dari bibir So-Hee hari ini.
__ADS_1
Semua karyawan begunjing, mereka penasaran kenapa So-Hee terlihat bahagia sekali seperti anak TK yang dapat permen.
"Manager Kang hari ini mood sajangnim sedang bagus sekali ya? Emm.. apa dia baru saja dapat lotre? Atau dapat suntikan dana dari pengacara Seung-Yoon?" Tanya kepala koki pada Yujin.
Yujin tertawa terbahak-bahak di dapur.
"Tetot! Salah! Sajangnim sedang di mabuk cinta." Jawab Yujin.
"Daebak!! Siapa lelaki yang bisa menghancurkan batu keras itu? Pengacara Seung-Yoon?? Atau seniman lantai dua??"
"Haha.. iya kau benar, seniman lantai dua."
"Pantas saja sekarang sajangnim stay di sini terus, ternyata ada maunya, hehe.."
BRAK..
Yujin dan kepala koki kaget saat seseorang di belakang mereka menggebrak meja.
Mereka menoleh.
"SAJANGNIM??"
"Emm.. tidak sajangnim, emm.. buka begitu." Kepala koki kebingungan menjawab, lengannya menyenggol-nyenggol lengan Yujin memberi sinyal darurat.
"Hehe.. jangan marah sajangnim yang cantik, kami begini karena kami senaaaaaang sekali akhirnya sajangnim berkencan dengan seseorang." Yujin memilih kata-kata yang manis agar So-Hee tidak marah.
"Hahahahha.. kalian tertipu…. aku tidak marah, sama sekali." So-Hee tertawa lepas.
Yujin dan kepala koki sampai bingung melihatnya.
"Aku juga senang akhirnya aku berani membuka hati."
Yujin memeluk So-Hee.
"Aku adalah orang yang paling bahagia mengetahui sajangnim dan seniman Song resmi berpacaran."
"Semoga langgeng ya sajangnim, sampai menikah." Kepala koki menyelamai So-Hee.
"Ah.. tidak ysah berlebihan, jangan bawa-bawa kata menikah, membuatku merinding saja. Oiya.. ngomong-ngomong soal menikah, semalam aku sudah mengirim pesan pada kepala koki kita ini untuk membuat rincian pesta pernikahamu. Kau bayar belanjaannya, kita buat pestanya di sini saja, bagaimana setuju kan?"
Yujin terlihat terharu, matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Terimakasih sa..jangnim, huhuhu.." Yujin menangis.
"Kenapa menangis?" Tanya So-Hee panik.
"Karena aku bahagia, huhuhu.."
"Orang hamil memang begitu sajangnim, terlalu sensitif. Dulu waktu istriku hamil dia juga sering menangis lalu setelah itu akan biasa lagi, jadi biarkan saja, hehe.."
...----------------...
Kang-Joon tiba di tempat pertemuan, dia seniman terakhir yang datang.
"Maaf semua saya terlambat." Kang-Joon berulang kali menundukan basan untuk minta maaf, dia merasa tidak enak karena dia yang paling junior dan paling muda diantara empat seniman lainnya.
"Tidak apa, kita masih menunggu satu orang lagi." Kata salah satu seniman.
Kang-Joon menghitung dalam hati, sudah lengkap.
"Siapa yang anda maksud?" Tanya Kang-Joon.
"Panjang umur, itu dia datang."
Kang-Joon menoleh, dan melihat sesosok wanita yang dia kenal.
"Lee Seul-Gi??" Betapa kagetnya Kang-Joon saat melihat sang mantan berada di depan matanya.
Wanita yang sudah empat tahun tidak bertemu, wanita yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Selamat pagi semua, maaf terlambat. Saya Lee Seul-Gi, manager promotor pameran kali ini, mohon kerjasamanya." Seul-Gi memberi hormat pada semua seniman, tepuk tangan dari seniman membahana.
Namun Kang-Joon masih terkesimak melihat Seul-Gi, dia sama sekali tidak menyangka akan betemu dengan mantan kekasihnya itu di Seoul.
Seul-Gi duduk di salah satu kursi kosong.
"Seniman Song kenapa berdiri disitu? Ayo duduk agar diskusi ini cepat mulai." Ajak salah satu seniman.
Kang-Joon duduk kursi kosong tepat di sebelah Seul-Gi karena hanya itu satu-satunya kursi yang kosong disini.
"Baiklah kalau begitu akan saya mulai." Seul-Gi memulai diskui
Bersambung..
__ADS_1