
Kang-Joon dan So-Hee kembali ke rumah sakit.
“Bagaimana keadaan Yujin?” Tanya So-Hee pada Young-Joo yang sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang gawat darurat.
“Setelah cairan infusnya habis Yujin boleh pulang, sekarang dia tidur.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Sajangnim, seniman Song saya minta maaf atas mewakili ibu saya.” Young-Joo mneundukan badan.
“Kenapa kau yang mita maaf, kau tidak salah.” So-Hee memegang keda bahu Young-Joo memintanya untuk berdiri tegap.
“Sudah tidak perlu dipikirkan, yang sudah berlalu biarkan saja.” Kata Kang-Joon.
“Seniman Song, malam ini saya akan menginap di rumah Yujin, jadi seniman Song dan sajangnim boleh meninggalkan rumah sakit, terimakasih dan sekali lagi maaf.”
“Tapi Yujin..”
Kang-Joon menarik tangan So-Hee sebagai sinyal untuk menghentikan apa yang ingin dia katakan.
“Ini kartuku, pakailah untuk membayar rumah sakit.” Kang-Joon mengeluarkan kartu debitnya.
“Tidak seniman Song terimakasih, Yujin yang akan membayar, dia sudah berpesan padaku begitu, sekali lagi terimakasih dan maaf.”
“Ya sudah kalau begitu, jaga Yujin dengan benar. Kami pergi dulu.” So-Hee dan Kang-Joon meninggalkan Young-Joo.
“Kau mau langsung pulang?” Tanya Kang-Joon.
“Hmm.. aku bisa pakai bus, kau pulang saja.” So-Hee dan Kang-Joon masuk kedalam lift.
“Tidak, aku antar saja.”
“Emmm.. baiklah.”
“Kenapa? Sepertinya ada yang ingin kau sampaikan?”
“Emm..”
TING!!
Mereka sampai di tempat parkir bawah tanah.
“Apa kau selalu sebaik ini pada semua wanita?” So-Hee penasaran dengan hal ini karena dia merasa bahwa Kang-Joon sangat baik padanya.
“Tidak hanya dengan beberapa orang saja.” Kang-Joon masuk ke dalam mobil.
So-Hee mengikuti Kang-Joon.
“Emm.. lalu kenapa kau sebaik ini padaku? Padah kita belum lama kenal?”
“Aku juga tidak tahu, aku hanya mengikuti kata hatiku.” Kang-Joon menyalakan mesin mobil, lalu melaju.
Di dalam perjalanan pulang Kang-Joon dan So-Hee tidak sing bicara, suasanany sedikit canggung.
Akhirnya mereka sampai di rumah So-Hee.
__ADS_1
“Terimakasih, sampai bertemu besok. Hati-hati di jalan.” So-Hee keluar dari mobil.
“So-Hee..” Kang-Joon ikut keluar dari mobil.
So-Hee menghentikan langkahnya.
“Dua bulan lag aku akan mengadakan pameran di tempat yang pernah aku ceritakan.”
“Waaah… daebak! Akhirnya kau berhasil mengadakan pamaeran di sana, selamat Song Kang-Joon.” So-Hee terlihat senang mendengar kabar dari Kang-Joon.
“Hmm.. tapi bukan pameran tunggal, aku mengadakan pameran gabungan bersama tiga seniman lain.”
“Tidak apa, aku yakin suatu hari nanti kau bisa mengadakan pameran tunggal mu sendiri.”
Kang-Joon tersenyum, entah mengapa kata-kata So-Hee barusan membuat hatinya terasa hangat.
“Emm.. tapi itu artinya selama dua bulan aku kan sibuk.”
“Kalau begitu kau harus semangat, aku kan selalu mendukung mu. Aku juga akan sibuk dengan projek baruku”
“Kau juga semangat ya.”
“Hmm.. kapanpun kau butuh teman mengobrol panggil saja aku, oke?”
Kang-Joon mengangguk.
“Ya sudah, masuk sana, dingin.”
“Bye.” So-Hee masuk ke rumahnya sedangkan Kang-Joon masuk ke mobilnya, lalu pulang.
...----------------...
“Young-Joo tolon jangan ceritakan mengenai kejadian hari ini pada ayahku.” Yujin tidak ingin ayahnya khawatir.
“Hmm.. baiklah. Emm.. nanti saat bertemu dengan ayahmu aku harus membahas hal apa? Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Aku masih merasa canggung.” Young-Joo menggaruk kepalanya.
“Aigoo.. pacar tampanku manis sekali saat seperti ini.” Yujin mengelus kepala Young-Joo.
“Aku serius, apa yang harus aku bahas?”
“Mengalir saja, biarkan ayah yang mencari topik untuk pembicaraan kalian.”
Yujin dan Young-Joo sampai di depan rumah Yujin.
“Yujin sebentar.” Young-Joo merapihkan baju an rambutnya, Yujin tersenyum melihat kelakuan kekasihnya.
“Aku pulang ayah.” Yujin dan Young-Joo masuk ke dalam rumah.
“Yujin ayah beli apel, kau harus memakannya, ini baik untuk ibu hamil. Eoh? Young-Joo datang?” Ayah Yujin berlari dari dapur sambil membawa sepiring buah apel.
“Annyeonghaseyo.” Young-Joo memberi hormat.
“Ayo masuk.”
Yujin, Young-Joo dan ayah Yujin duduk di lantai, di depan televisi.
__ADS_1
“Yujin ayo dimakan, apelnya manis.” Ayah Yujin menyodorkan piring berisi apel ke Yujin.
Yujin mencicipi. “Hmm.. segar sekali.”
“Enak kan?”
Yujin mengangguk.
“Ayah.. mulai malam ini bagaimana kalau Young-Joo tinggal disini?”
“Benar kah? Young-Joo kau mau tinggal di rumah jelek kami?” Tanya ayah Yujin.
“Saya diusir oleh ibu saya, jadi sekarang saya tidak punya tempat tinggal.”
Yujin melotot ke Young-Joo, dia meminta Young-Joo untuk menyembunyikan mengenai hal itu pada ayahnya.
“Aigo.. malang sekali nasib mu. Lalu bagaimana dengan kuliah miu?”
“Seniman Song akan membiyayi kuliah saya sampai lulus ayah mertua.” Young-Joo sebenarnya masih belum yakin untuk menyebut ayah Yujin dengan ayah mertua, tapi dia bingung mau memanggil seperti apa.
Ayah Yujin tersenyum. “Jadi begini rasanya memiliki seorang menantu, hehe.. bagus juga.”
Malam itu Yujin, Young-Joo dan ayah Yujin mengobrol hingga larut malam.
...----------------...
Rumah So-Hee.
So-Hee duduk di meja riasnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Di otaknya masih terngiang perkataan Kang-Joon.
“Hmm.. ‘mengikuti kata hati’.” So-Hee mengulang kata-kata Kang-Joon yang membekas sekali di otaknya.
“Bagiamana bisa dia bicara tentang hati pada seorang wanita dengan sangat mudah. Hmm.. aku harap dugaanku salah.” Sebenarnya di dalam hati So-Hee merasa bahwa Kang-Joon sedang mendekatinya bukan sebagai teman melainkan sebagai tahap awal untuk kencan, tapi So-Hee selalu menepisnya. So-Hee tidak ingin pertemanannya dengan Kang-Joon akan renggang karena itu.
...----------------...
Di rumah Kang-Joo.
Kang-Joon sedang mengganti-ganti saluran elevisi.
"Hahh.. Benar-benar payah, tidak ada yang bagus." Kang-Joon meneguk bir kaleng.
BAM!!
Kang-Joon mematikan televisi lalu melempar remotenya ke sofa.
Kang-Joon membawa bir ke balkon apartmennya.
"Kenapa ekspresi So-Hee datar sekali? Aku sudah jelas-jelas memperlakukannya spesial, bahkan dari kata-kataku saja sudah sangat jelas kalau aku sedang mendekatinya. Tapi dia tidak memberikan respon, tapi dia juga tidak menjauh. Apa ini artinya dia memang benar-benar tidak bisa jatuh cinta? Hahh.. Bisa gila aku." Kang-Joon meneguk bir hingga habis.
"...memang susah membuka hati seseorang yang tidak percaya pada cinta, hmm.. Apa yang harus aku lakukan agar So-Hee mau membuka hatinya untukku?"
Malam itu Kang-Joon kembali tidak bisa tidur karena memikirkan So-Hee, setelah bertemu So-Hee hatinya yang sempat tidak berfungsi dengan baik setelah di tinggal sang mantan kini telah kembali.
__ADS_1
Bersambung...