Why Should Get MARRIED?!

Why Should Get MARRIED?!
Chapter. 33 (END!)


__ADS_3

Tak terasa dua minggu berlalu, So-Hee dan Kang-Joon masih belum berbaikan, mereka masih menahan ego masing-masing.


Meski sedikit terganggu dengan pertengkarannya dengan Kang-Joon, tapi So-Hee masih bisa fokus bekerja, dia sukses menjadi mentor bagi karyawan-karyawan barunya.


Semakin hari penjualan Cofa.K semakin bertambah, begitu pula dengan penjualan di cafe the S, maka dari itu So-Hee tidak begitu peduli soal gencatan senjata dengan Kang-Joon.


Tapi di sisi lain Kang-Joon malah semakin dekat dengan sang mantan kekasih, Seul-Gi.


Berdalih mengurus pekerjaan tapi sebenarnya benih-benih cinta kembali muncul.


Awalnya hanya Seul-Gi yang menikmati kedekatan mereka, tapi pada akhirnya Kang-Joon malah ikut terbawa arus.


"Hmm.. baiklah, tidak apa kau temani saja dulu istrimu." Kang-Joon sedang menelpon Young-Joo.


Ting.. tong.. ting.. tong.. 


"Young-Joo sudah ya, ada tamu. Hmm.." Kang-Joon memutus pembicaraan lalu membuka pintu apartmen.


"Seul-Gi?"


"Boleh masuk sebentar?"


"Emm.. oke, masuklah." Kang-Joon mengajak Seul-Gi masuk ke apartmennya.


"Mau minum apa?"


"Apa saya asal tidak mengandung alkohol." Jawab Seul-Gi sambil duduk di sofa, matanya tidak bisa lepas dari Kang-Joon.


"Baiklah."


Kang-Joon membawa dua botol jus orange. "Ini tidak apa?"


"Hmm.. apa saja, aku tidak akan lama."


"Kenapa kau dari tadi menatapku seperti itu?" Kang-Joon tahu sejak awal Seul-Gi menatapnya dengam tatapan misterius.


"Aku akan pindah ke Paris bulan depan." Intro yang mengejutkan.


"Paris? Bulan depan? Cepat sekali? Bukankah kau masih harus bertanggung jawab untuk membuat pameran dua bulan lagi?" Kang-Joon sudah merasa ada yang tidak beres.


Seul-Gi mengeluarkan sebuah amplop berlogo rumah sakit.


"Ini alasanku pergi ke Paris." Seul-Gi meletakan amplop itu di meja.


Kang-Joon mengambilnya lalu membuka perlahan, terdapat foto hasil USG.


"Kau hamil??" Kang-Joon kaget bukan main saat melihat isi amplop itu.

__ADS_1


"Hmm.."


"Jangan-jangan anak ini……" Kang-Joon sengaja tidak meneruskan kata-katanya.


"Benar, malam itu, bersamamu."


Seperti tersambar petir di siang bolong Kang-Joon merasa dirinya tengah dilanda krisis.


“Kau tidak perlu bingung, aku hanya ingin kau tahu. Aku tidak akan meminta tanggung jawab atau sebagainya. Makanya aku mau pergi jauh dari hidupmu, senang bertemu dengan mu lagi Song Kang-Joon.” Seul-Gi berdiri, dia melangkah menuju pintu tapi Kang-Joon menahannya.


“Aku kan tanggung jawab, beri aku waktu untuk menyelesaikan urusanku dan So-Hee, aku akan ikut denganmu ke Paris atau kemanapun, kita harus pergi jauh dari Seoul.”


Seul-Gi menatap Kang-Joon tidak percaya, dia tidak pernah berpikir bahwa Kang-Joon akan bertanggung jawab.


“Kau akan meninggalkan So-Hee?”


“Hmm.. sebenarnya aku mulai menginginkanmu lagi, tapi aku selalu berpikir bahwa sekarang aku sudah memiliki So-Hee. Tapi aku rasa dia tidak memikirkanku.” Seul-Gi memeluk Kang-Joon, dia menangis terharu.


“Kang-Joon terima kasih, aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Tenang saja aku akan menunggu dengan sabar sambil mempersiapkan semuanya, kita akan hidup bahagia bertiga.” 


Lagi.. Hati Kang-Joon kembali terjerat oleh Seul-Gi.


...----------------...


Kang-Joon sampai di tempat parkir, suasana cafe sudah sepi, terlihat So-Hee sedang sibuk dengan laptopnya.


Tok.. tok..


So-Hee menoleh, dia terkejut melihat Kang-Joon, sebenarnya dia belum siap menemui Kang-Joon. 


“Oke, aku harus menghadapinya.” So-Hee berjalan menuju pintu, dia membukakan pintu ccafe yang sudah dia kancing dari dalam.


“Lama tidak bertemu Song Kang-Joon.” Sapa So-Hee. Dia akhirnya bisa menatap mata Kang-Joon setelah sekian lama mereka tidak bertemu.


“Maaf So-Hee ada yang ingin aku sampaikan, tidak akan lama. Aku tahu kau sibuk jadi aku akan mencoba berbicara sesingkat mungkin.”


So-Hee merasa ada yang tidak beres, kata-kata Kang-Joon, matanya, raut wajahnya semua seolah mengatakan perpisahan.


“Hah.. oke, masuklah.” So-Hee sudah mempersiapkan diri, dia tahu bahwa akhirnya memang akan begini.


Kang-Joon duduk berhadapan dengan So-Hee.


“Aku senang proyekmu sukses besar—”


“Tidak perlu bertele-tele Kang-Joon, katakan saja intinya.” Kini keduanya sudah sama-sama dingin, api asmara diantara keduanya seakan tersiram air hujan, menghilang bersama kenangan.


“Aku senang bisa mengenalmu, aku senang kau bisa menerima perasaanku. Aku berpikir aku sudah memenangkan hatimu, tapi ternyata tidak, bagimu pekerjaan nomor satu, karena itu adalah hidupmu. Jadi So-Hee aku akan mengalah, aku tidak ingin menjadi beban untukmu, dan juga aku minta maaf karena kau melakukan kesalahan besar.”

__ADS_1


So-Hee menggenggam tangannya sendiri, dia tidak tahu harus menanggapi bagaimana.


“Aku minta maaf karena aku berbohong, sebenarnya aku bertemu lagi dengan mantan kekasihku. Dia adalah manajer pelaksana pameran, kami bertemu karena pekerjaan tapi pada akhirnya cinta itu muncul lagi, maaf–” Kang-Joon menunduk.


So-Hee tidak bisa menahan air matanya, dia menghapusnya segera. “Kau yang salah, kau yang memaksaku keluar dari zona nyamanku. Sudah aku katakan aku tidak akan menikah dataupun berhubungan dengan lelaki, tapi kau terus saja mendekatiku, tapi kini kau sendiri yang akhirnya menyerah. Aku tahu, kalau begitu keluarlah, aku tidak ingin melihatmu lagi.” So-Hee sekuat tenaga menahan air matanya.


“Maaf Jang So-Hee, aku harap kau bisa menikmati hidupmu selain untuk bekerja. Kau harus menemukan kesenangan lain selain itu, kau harus mencintai dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain.” Kang-Joon pergi begitu saja.


So-Hee menangis sejadii-jadinya, dia belum pernah merasakan hatinnya terasa begitu sesak seperti ini.


...----------------...


Dua bulan berlalu…


“Hai Jang So-Hee, lama tidak bertemu.” Sapa Seung-Yoon.


“Sunbaenim kau sudah pulang?” So-Hee berlari menemui Seung-Yoon di cafe. “Wah.. kau terlihat sangat lain, penampilanmu membuatmu terlihat lebih muda.”


“Tentu saja, bagaimana kabarmu? Aku dengan dari Yujin kau dan seniman itu—”


“Tidak usah dibahas ya sunbaenim.” So-Hee buru-buru memotong kata-kata Seun-Yoon.


“Oppa.” Seorang wanita cantik berambut panjang datang lalu menggandeng tangan Seun-Yoon.


“Aa.. So-Hee perkenalkan ini Lee Monica, dia adalah kekasihku. Monica, ini adalah Jang So-Hee.” Seung-Yoon mengenalkan kekasihnya pada So-Hee, begitu pula sebaliknya.


“Jang So-Hee.” So-Hee mengajak Monica bersalaman.


“Jadi pulang ke Seoul karena sudah punya pacar ya, hish..” So-Hee memukul Seun-Yoon pelan.


“Kami akan melangsungkan pertunangan, rencannya kami akan menikah musim dingin nanti.” Seung-Yoon tampak begitu gembira menyampaikan kabar itu pada So-Hee.


“Wahh.. daebak! Selamat sunbaenim, monica.” So-Hee menberi selamat kepada keduanya.


“Terima kasih.”


“Emm.. oppa, ayo.. kita bisa telat.” Monica mengjak Seung-Yoon pergi, dia tampak tidak nyaman berada di dekat So-Hee.


“Ah.. lain kali kita ngobrol, aku harus pergi ke hotel, aku sudah ada janji bertemu dengan manajer hotel itu untuk membicarakan sewa hall untuk acar pernikahan kami.” 


“Aa.. iya, hati-hati di jalan.” 


Seung-Yoon dan Monica pergi dari cafe.


“Hahh.. sunbae juga sudah menemukan tambatan hatinya.” So-Hee berjalan menuju ruang kerjanya. Dia membuka laptop, dia mengerjakan pekerjaannya berpura baik-baik saja di depan karyawannya, padahal…


‘Aku Jang So-Hee bersumpah tidak akan lagi membuka hati untuk siapapun. Persetan dengan cinta apalagi menikah, aku bisa bahagia dengan caraku sendiri. Bahagia bukan hanya didapat dari percintaan saja, aku berjanji tidak akan menikah selamanya!’

__ADS_1


END!


__ADS_2