
Di tempat penyelenggaraan pameran berlangsung.
Orang-orang lalu lalang melakukan penataan karya seni.
Seniman, kru dan pihak promotor semua sibuk.
Seul-Gi berdiri di dekat pintu masuk sambil memegang kepalanya.
Sejak sore tadi kepalanya sakit.
"Minumlah." Kang-Joon memberikan satu potong sandwich, air mineral dan obat sakit kepala.
Seul-Gi menerimanya.
Kang-Joon hendak pergi tapi ditahan oleh Seul-Gi.
"Temani aku sebentar."
Kang-Joon menuruti Seul-Gi. Mereka duduk di kursi taman di dekat tempat parkir.
"Kau tahu aku sakit kepala?" Tanya Seul-Gi.
"Kebiasaanmu sejak dulu kalau sedang tertekan selalu begitu." Kang-Joon menyilangkan tangan di depan dada.
Seul-Gi tersenyum rasanya sakit kepalanya akan cepat sembuh.
Seul-Gi memakan sandwich, Kang-Joon duduk di sebelahnya.
"Aku kira kau cinta mati dengan lelaki itu tapi ternyata malah bercerai." Kang-Joon akhirnya memecah keheningan.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.." Seul-Gi tersedak karena kaget mendengar perkataan Kang-Joon.
"Kau ini bisa saja membuat orang merasa bersalah." Kata Seul-Gi.
__ADS_1
Kang-Joon menatap Seul-Gi.
"Kau meninggalkanku kekasih yang sudah menjalin hubungan denganmu selama empat tahun. Kau memilih untuk menikah dengan anak pemilik galeri seni, anak konglomerat. Tapi tetap berakhir cerai." Kang-Joon mengungkapkan kekecewaan yang belum pernah dia ungkapkan selama ini.
"Iya aku tahu aku jahat tapi tidak perlu terus terang begini kan aku jadi semakin merasa canggung di dekatmu."
Kang-Joon berdiri. "Kalau begitu aku masuk."
Lagi-lagi Seul-Gi menahan Kang-Joon.
"Maaf Song Kang-Joon, aku tahu kau masih marah padaku."
"Kau salah aku sudah melupakan segalanya, aku sudah tidak merasakan apapun." Kang-Joon masuk ke ruangan.
"Tapi kau masih perhatian padaku, jadi apa maksudnya?" Gumam Seul-Gi saat Kang-Joon sudah menjauh.
...----------------...
Pagi hari.
"Aku harus terlihat cantik, tidak boleh terlihat memalukan." So-Hee mencatok rambutnya.
Ddrrt..
Sebuah pesan masuk.
"Siapa sih pagi-pagi sudah mengirim pesan." So-Hee mengintip ponselnya.
'Aku baru tidur tiga jam lalu, rasanya lelah tapi semangat juga. Aku merindukanmu So-Hee.'
"Kasihan Kang-Joon."
'Apa masih ada waktu untuk makan pagi?'
__ADS_1
"Aku ingin bertemu dengannya." So-Hee kembali mencatok rambutnya.
Hingga So-Hee selesai mencatok rambutnya Kang-Joon tidak membalas pesannya.
"Dia pasti sangat sibuk." So-Hee bersiap untuk berangkat kerja.
So-Hee akan datang ke tempat pameran bersama Yujin saat jam makan siang.
...----------------...
Tepat pukul sepuluh pagi pameran resmi di buka untuk umum.
Pengunjung lumayan banyak yang datang saat pembukaan berlangsung.
Seul-Gi memberikan buket bunga ke seluruh seniman.
"Selamat seniman Song atas pembukaan pameran kali ini. Semoga pameran kali ini berjalan tanpa halangan." Kata Seul-Gi sambil menyerahkan buket bunda berisi mawar merah.
"Terima kasih."
"Emm.. ngomong-ngomong, pacarmu tidak datang?" Seul-Gi sebenarnya tidak tahu bahwa Kang-Joon sudah punya kekasih, dia ingin mencari tahu apa Kang-Joon memiliki kekasih atau tidak.
"Dia akan datang saat jam makan siang." Jawab Kang-Joon.
"Aaa.. begitu ya, padahal pasangan seniman lain semuanya datang." Sindir Seul-Gi.
"Dia wanita yang sibuk dengan pekerjaannya, dan aku memakluminya." Kang-Joon membela sang kekasih.
"Hmm.. tetap saja aneh rasanya tidak menyempatkan diri untuk datang."
Kang-Joon melihat seniman lain menggandeng pasangan mereka, ada rasa iri lada hati Kang-Joon.
"Aku harus menyapa para tamu." Kang-Joon meninggalkan Seul-Gi.
__ADS_1
"Jadi benar dia sudah punya pacar ya, hmm.. sayang sekali aku keduluan."
Bersambung...