
So-Hee tidak bisa konsentrasi bekerja, sebentar-sebentar melirik jam, waktu terasa begitu cepat padahal dia merasa tidak satupun deadline pekerjaannya terselesaikan hari ini.
“Huft..” So-Hee duduk di kursi depan kasir dengan lesu.
“Sajangnim baik-baik saja? Sepertinya hari ini sajangnim sedang lesu? Mau saya buatkan makanan enak?” Tanya seorang karyawan.
“Tidak usah hiraukan aku, aku baik-baik saja.” Jawab So-Hee sambil tersenyum palsu.
“Baiklah kalau begitu.” Karyawan itu pun pergi begitu saja.
“Ckckck.. lagi-lagi menengok jam. Sudah tidak sabar ya menunggu malam hari?” Yujin yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku So-Hee merasa geli sendiri.
“Justru aku merasa waktu berputar sangat cepat hari ini, huft.. bagaimana Yujin?” So-Hee benar-benar seperti remaja yang baru merasakan kasmaran.
“Selamat menikmati nikmatnya berpacu saat awal kasmaran.” Yujin malah mengejeknya.
“Emm.. memangnya kau sudah tidak merasakan jantungmu berpacu saat bersama Young-Joo?”
“Aku dan Young-Joo sudah lama pacaran, emm.. rasanya berbeda dengan awal pacaran.”
“Apa sekarang membosan kan?”
“Tidak juga, tapi pokoknya tetap berbeda.” Yujin pergi ke dapur untuk kembali bekerja.
“Benar kan apa yang aku pikir, pacaran itu membosan kan, pasti indah diawalnya saja. Jadi apa aku lebih baik menolak pernyataan cinta Kang-Joon?” So-Hee menggumam sendiri.
...----------------...
Akhirnya malam hari tiba.
Kang-Joon mondar mandir di dalam studio. Young-Joo masih berkutat dengan laptop, dia sedang memasukan data list karya Kang-Joon yang masih layak untuk dijadikan kandidat karya yang akan dipamerankan.
"Hyeong.. tarik nafas hembuskan." Young-Joo tahu Kang-Joon sedang deg-degan menunggu jawaban dari So-Hee.
Inhale.. ekshale..
Kang-Joon mengikuti arahan Young-Joi tapi…..
"Haishhh.. tidak berguna, aku tidak bisa tenang sejak tadi pagi, sial!"
__ADS_1
Young-Joo tersenyum.
"Tenang saja hyeong, menurutku sajangnim akan menerima pernyataan cintamu."
"Atas dasar apa kau bilang seperti itu??" Bukannya jadi tenang karena didukung Kang-Joon malah semakin merasa deg-degan.
"Emm.. Yujin yang bilang padaku kalau sajangnim terlihat menyukai hyeong."
"Haisshh.. itu sih pendapat Yujin saja, dia selalu bilang begitu juga padaku. Jadi itu belum pasti." Kang-Joon duduk di meja sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Emm.. apa yang hyeong suka dari sajangnim?" Tanya Young-Joo penasaran.
"Emm.. tidak tahu, memang jatuh cinta butuh alasan?? Memangnya kau jatuh cinta pada Yujin dengan alasan? Apa coba aku dengar alasanmu jatuh cinta pada Yujin??"
"Emm.. iya juga sih, kalau dipikir-pikir memang tidak ada alasannya, tiba-tiba saja aku merasa tertarik dengan Yujin, lalu tidak lama kami pacaran." Young-Joo baru sadar akan hal itu.
"Tuh kan.. benar."
"Ehmmm.." Kang-Joon dan Young-Joo menoleh saat mendengar suara deheman.
"Cafe sudah tutup?" Tanya Kang-Joon.
"Jadi di cafe tinggal So-Hee sendiri?" Tanya Kang-Joon.
"Kalau begitu aku mau turun sekarang." Kang-Joon merapihkan rambutnya di depan cermin.
"Kalian pulang saja, bawa saja pekerjaannya ke rumah." Kang-Joon meminta Young-Joo mengerjakan pekerjaannya di rumah.
"Oke, kalau begitu kami pulang. Biar suasananya makin romantis, hanya berdua, uww.." Yujin suka sekali menggoda Kang-Joon dan So-Hee.
Yujin adalah orang yang paling bahagia atas hubungan So-Hee dan Kang-Joon yang berkembang dengan baik
"Kami pulang dulu hyeong, hwaiting!!" Young-Joo mengajak Yujin untuk pulang.
"Menurutmu bagaimana?" Tanya Young-Joo saat menuruni tangga.
"Entahlah, kita lihat saja besok, hehe.." Yujin melambaikan tangan ke So-Hee.
So-Hee tampak duduk dengan cemas.
__ADS_1
"Huft.. aku kira Kang-Joon yang turun." So-Hee menghembuskan nafas kasar.
Kreeeek..
So-Hee menoleh, Kang-Joon masuk ke dalam cafe. Malam ini Kang-Joon terlihat sangat berbeda, dia masih pakai baju yanh sama seperti tadi pagi tapi auranya sungguh berbeda, dia tampak sangat tampan dan menggemaskan.
"Maaf lama menunggu." Kang-Joon duduk di hadapan So-Hee.
"Eoh.. emm.. tidak juga." So-Hee terlihat gugup.
Dua menit berlalu mereka hanya diam.
'Kenapa Kang-Joon diam saja sih? Apa dia menungguku bicara duluan? Hahh.. tapi harus mulai dari mana dulu?' Batin So-Hee.
"Kang-Joon.."
"So-Hee.."
Mereka berbarengan saling memanggil nama, lalu mereka tertawa.
“Jujur aku gugup duduk di depanmu kali ini.” So-Hee akhirnya mulai membuka hati dan mulai bersikap jujur pada Kang-Joon.
“Emm.. sejujurnya aku sudah gugup dari tadi pagi, bahkan aku tidak bisa berkonsentrasi berkarya. Aku menumpahkan cat yang sudah aku atur komposisinya, hmm.. ya begitulah.”
‘Manis sekali, sejak kapan Kang-Joon semanis ini?’ So-Hee sibuk mengagumi Kang-Joon di dalam hati.
“Sejujurnya aku juga tidak bisa berkonsentrasi bekerja hari ini, aku merasa waktu berjalan begitu cepat tapi pekerjaanku tidak ada satupun yang tuntas, aku…”
Belum selesai So-Hee bercerita Kang-Joon sudah duduk di meja tepat di depan So-Hee.
“Jadi apa jawabannya?” Kang-Joon membungkukan badan, dia mendekatkan wajahnya ke wajah So-Hee, kini jarak mereka hanya beberapa inci saja, bahkan mereka bisa merasakan nafas mereka satu sama lain.
So-Hee menelan ludah, entah mengapa matanya tertuju pada bibir Kang-Joon.
"Narangsagyeo." Seperti tersihir So-Hee dengan mudahnya mengajak Kang-Joon berpacaran.
Kang-Joon tersenyum lalu mengecup bibir So-Hee.
Bersambung..
__ADS_1