Why Should Get MARRIED?!

Why Should Get MARRIED?!
Chapter. 06


__ADS_3

"...Tapi ada baiknya juga dia melakukan hal itu kepada ku, aku menjadi anak yang suka belajar agar mendapatkan nilai yang bagus, dengan begitu otak ku bisa dibilang lebih baik dari otak-otak orang seumuran ku."


"Termasuk aku?" Kang-Joon yang sejak tadi hanya memperhatikan So-Hee akhirnya menyeletukan candaannya.


"Iya aku rasa, haha.. cheers." So-Hee mengajak Kang-Joon untuk meneguk wine bersama.


"..Tuhan berbaik hati kepada ku, saat aku sedang memiliki karier yang baik sebagai pengacara, takdir membawa ku dan ibu ku bertemu sebagai pengacara dan klien.


Dia bercerai dengan suami yang dia nikahi saat aku lulus SMP. Saat itu aku tahu bahwa dia tidak lagi mengunjungi ku di panti asuhan karena dia menikah dengan seorang konglomerat asal Jepang, dia tidak ingin suaminya curiga jika terus mengunjungi ku.


Dia memiliki seorang anak yang dia jadikan tameng untuk memeras harta mantan suaminya. Dia meminta ku memenangkan sidang agar dia bisa mendapatkan harta gono-gini yang banyak, dia juga menawarkan diri untuk mengasuh ku dan mengajak ku untuk menuntuk ayah ku, agar aku dan dia mendapatkan harta dari ayah ku, chh.." So-Hee merasa jijik dengan kelakuan sang ibu.


"..Saat itulah aku tahu siapa ayah ku, dan mulai saat itu pula aku memiliki cita-cita untuk mengalahkan dirinya."


"Tapi kau tidak bisa mengalahkan ayah mu hanya dengan memiliki lima cafe. Dia bos konglomerat yang memiliki beberapa mall, cafe dan juga usaha real estate di seluruh penjuru Korea, jadi menurut ku kau tak harus mengalahkannya, kau bisa seperti ini sudah sangat hebat. Jadi mulai saat ini kau bisa mulai menikmati hidup mu." Kang-Joon sering menasehati So-Hee mengenai hal ini.


"Memang benar sekarang dia sudah memiliki semua yang kau sebutkan, tapi awal mula dia berjuang sendiri dengan jerih payahnya adalah JEI coffe. Dia berhasil mendirikan empat cafe JEI coffe sebelum dijadikan menantu seorang konglomerat negara ini. Setelah menjadi menantu, ayah ku di glontor investasi gila-gilaan oleh mertua nya, lalu berhasil mengembangkan semua usahanya. Jadi jika aku sudah berhasil mendirikan lima cafe dengan usaha ku sendiri bukan kah itu artinya aku sudah mengalahkan nya?" So-Hee kembali mengambil segels wine, tapi Kang-Joon menahannya.


"Kau masih harus bekerja besok."


"Bekerja? Chh.. aku kan bos, jadi suka-suka aku mau bekerja atau tidak." So-Hee meneguk segelas wine lagi.


"Hemm.. oke, mari kita lihat besok pagi. Jang So-Hee akan menjadi seorang bos pemalas yang tidur di kasur karena mabuk, atau Jang So-Hee akan mnejadi seorang bos yang rajin dan masuk kerja seperti biasa meski sedang mabuk." Kang-Joon menuangkan wine di gelas kosong milik So-Hee.


"Thank you!" So-Hee meneguk wine. "The End! Cerita ku sudah selesai, hehe.."


"Kalau begitu, apa aku boleh bercerita tentang asal usul ku juga?" Tanya Kang-Joon.


"Tentu saja."


"Emm.. baiklah. Aku lahir di Daegu, sejak lahir yang ku tahu aku adalah seorang anak yatim, aku tidak memiliki ayah. Ibu ku selalu bilang bahwa aku tidak memiliki ayah, jadi sepenasaran apapun aku tidak pernah menyebut kata 'ayah' di depan ibu ku." Kang-Joon meneguk segelas wine.


"..Sejak aku berumur delapan tahun, ibu ku sering meninggalkan ku sendiri di rumah, dia pergi ke Seoul untuk mencari uang. Dia tidak pernah bercerita apa pekerjaannya, tapi dia selalu bilang bahwa dia orang yang baik, jadi dia tidak akna pernah bekerja menjadi penjahat."


So-Hee tersenyum, "Ibu mu pasti orang yang sangat lucu."


"Hemm.. ya bisa dibilang begitu, dia orang yang ramah dan memiliki banyak teman."

__ADS_1


"Hemm.. habis?" So-Hee mengangkat botol wine yang telah kosong. "Kau mau soju?" Tanya So-Hee sambil menyodorkan botol soju ke Kang-Joon.


Kang-Joon menganggukan kepala tanda setuju. So-Hee membuka soju lalu menuangkan ke gelas Kang-Joon yang sudah kosong.


"Hemm.. soju yang beruntung, kau naik kelas. Kau bisa merasakan gelas mewah milik wine, hehe.." So-Hee sediki ngelantur, dia sudah 80% mabuk.


Kang-Joon tertawa kecil melihat tingkah So-Hee yang berbeda saat dia mabuk.


"Lanjutkan." So-Hee meneguk soju nya.


"Saat SMA aku dan ibu ku pindah ke Seoul, kami pindah di sebuah apartmen mewah di Gangnam. Saat itu ibu ku bercrita bahwa dirinya selama ini bekerja sebagai pengelola gedung. Dia memiliki beberapa gedung di Seoul. Saat itu pula untuk pertama kali nya dia bercerita tentang ayah ku. Sama dengan ayah mu, ayah juga seorang konglomerat. Dia pemilik banyak gedung mewah di Seoul. Ayah ku meminta ibu ku untuk mengugurkan kandungannya dan memberikan ibu ku beberapa gedung sebagai hadiah." Kang-Joon meneguk segelas soju lagi.


"Ibu ku setuju, dia bilang telah mengugurkan kandungannya dan menghilang dari Seoul. Ibu ku berbohong, dia tetap mempertahankan ku dalam rahim nya."


"Kau beruntung memiliki ibu yang sangat menyayangi mu." So-Hee menatap Kang-Joon dengan tatapan sayu karena sudah mabuk.


"Iya, maka dari itu aku juga sangat menyayanginya."


"Ehem.. kau kenal siapa ayah mu?" Tanya So-Hee.


"Hemm.. tanpa sepengetahuan ibu ku, aku mencari tahu siapa dia. Emm.. kau mau tahu fakta unik tentang nya?"


"Dia adalah ketua asosiasi pengusaha di Gangnam, dan......" Kang-Joon menggantung kata-katanya.


"Dan apa??"


"Ayah mu adalah wakil ketua asosiasi nya"


"MWO??! DAEBAK! Aku rasa asosiasi itu bukan asosiasi pengusaha."


Kang-Joon tidak tahu ap yang So-Hee maksud.


"Asosiasi bedebah!! Hahahahaha.." So-Hee sudah benar-benar mabuk, dia pingsan.


"Jang So-Hee gwaencana? So-Hee yaa!" Kang-Joon menggoyang-goyang kan badan So-Hee yang bersandar di kursi.


___

__ADS_1


"Eughhh.." So-Hee menggeliat di atas kasur nya, kepala nya terasa berat.


"Hahhh.." So-Hee perlahan membuka matanya, terasa masih lengket, dia ingin tidur kembali tapi suara alarm dari ponsel nya membangkitkan jiwa rajin yang mendominasi tubuh So-Hee.


Perlahan So-Hee duduk lalu dia bersandar di kepala ranjangnya.


Tiba-tiba rasa mual tidak dapat So-Hee tahan, dia berlari ke kamar mandi, lalu muntah.


"Hahhhh.. mithcigeda." So-Hee berjalan sempoyongan menuju lemari es untuk mengambil minum. Dengan sekali teguk sebotol air mineral habis.


So-Hee duduk di kursi makan sambil memegang kepalanya karena masih pusing Lalu semua ingatannya kembali saat dia sedang mabuk semalam.


"Saat mabuk aku tak pandai membaca ekspresi orang, tapi aku rasa Kang-Joon tidak merasa keberatan mendengarkan cerita ku, bahkan dia juga menceritakan tentang rhasia nya. Hemm.. semoga saja Kang-Joon tidak menganggap ku aneh."


So-Hee terkaget mendengar ponsel nya berdering, panggilan masuk.


"Hahh.. siapa sih pagi-pagi begini telepon? Haishh.." So-Hee berjalan menuju kamar nya untuk mengambil ponsel.


"Good morning." Sambut Kang-Joon.


"Hemm.. Good morning." Suara parau So-Hee tidak bisa ditutupi.


"Cepat mandi, aku sedang siap-siap menuju rumah mu."


"Kesini? Sekarang??"


"Iya, aku tahu tempat makan terbaik untuk sarapan saat setelah mabuk semalaman."


"Hemm.. baiklah."


"Kenapa tidak semangat? Apa kau berpikir untuk bolos kerja hari ini?"


"Tidak, ada yang perlu aku urus hari ini. Aku sudah ada janji."


"Oke, kalau begitu cepat mandi lalu siap-siap, aku segera menuju ke situ."


"Hemm.."

__ADS_1


Mereka mengakhiri pembicaraan mereka di ponsel.


"Hahhh.. rasanya ingin jadi pengangguran saja hari ini, haishhh.. dasar Jang So-Hee sudah tahu mau mabuk kenapa besok nya harus buat janji sih." So-Hee mengomel sendiri menyadari kebodohannya.


__ADS_2