
Sesampainya dirumah sakit Yujin langsung dilarikan ke ruang gawat darurat.
So-Hee dan Kang-Joon menunggu di luar ruangan.
So-Hee berjalan monad-mandir sambil menggigit ujung kuku tangannya. Kang-Joon menarik tangan So-Hee lalu memasukannya ke saku mantelnya.
“Kau harus tenang, berdoa saja. Tidak ada gunanya mondar-mandir seperti itu.” Kang-Joon berdiri menyandar tembok.
So-Hee menarik nafas dalam lalu menghembuskannya pelan, dia lalu ikut menyandar tembok bersebelahan dengan Kang-Joon.
“Kau sudah menghubungi Young-Joo?” Tanya So-Hee.
“Hmm.. dia masih diperjalanan menuju kesini.”
“Dia dari kampus?”
“Hmm..”
Sejenak So-Hee dan Kang-Joon terdiam mereka menatap ruang kosong, namun Kang-Joon masih belum melepaskan genggaman tangannya pda tangan So-Hee.
“Apa yang sedang kau pikirkan saat ini?” Tanya So-Hee tanpa menatap Kang-Joon.
“Aku sedang membayangkan bagaimana rasanya menjadi Young-Joo.”
“Apa yang kau bayangkan?”
“Dunia runtuh.”
So-Hee menengok ke arah Kang-Joon seolah bertanya apa maksud dari perkatannya itu.
“Bayangkan saja Young-Joo si anak mama kini kehilangan semua fasilitas yang selama ini dia nikmati. Young-Joo belum pernah hidup susah, dia juga tidak pernah menghadapi hal yang berat selama hidupnya. Tapi dalam waktu yang bersamaan dia harus menghadapi hidup yang berubah seratus delapan puluh derajat.
Dia harus hidup tanpa dukungan apapun dari orangtuanya, dia akan menjadi seorang suami dan ayah dalam waktu dekat, dia juga harus mengerjakan tugas akhir dan juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga kecilnya. Kau bisa membayangkan bagaimana keadaan mental Young-Joo saat ini?” Kang-Joon menatap So-Hee, mereka saling menatap.
“Entahlah, aku sudah terbiasa hidup susah dan berjuang sendiri. Menghadapi segala macam masalah sendiri, aku seorang single fighter sejak lahir. Jadi aku tidak bisa membayangkan keadaan Young-Joo sekarang.” So-Hee menjawab sesuai dengan pengalamannya sendiri.
Kang-Joon tersenyum mendengar jawaban So-Hee.
“Jang So-Hee kau memang hebat, aku salut padamu.”
So-Hee bisa merasakan ketulusan atas pujian yang Kang-Joon beri untuknya.
Drap.. drap.. drap..
“Seniman Song… Jang sajangnim.. di.. mana Yujin??” Young-Joo masih terengah-engah, wajahnya dipenuhi keringat.
“Yaak!! Kenapa sampai begini sih?” Tanya So-Hee.
__ADS_1
“Haahh.. tidak.. hahh.. aku tidak apa, dimana Yujin?” Young-Joo melepas tas punggung dan jaketnya, bajunya basah terkena keringat.
“Kau lari dari mana sih sampai berkeringat seperti ini?” Kang-Joon juga ikut heran melihat Young-Joo.
“Dari kampus.”
“APAA??!” So-Hee dan Kang-Joon kaget mendengarnya.
“Aku tidak punya uang sepeserpun, semua akses kartuku sudah diblokir.”
So-Hee dan Kang-Joon menatap kasihan pada Young-Joo.
Wali dari pasien Kang Yujin?” Tanya seorang perawat yang keluar dari ruang gawat darurat.
Young-Joo berlari menghampiri.
“Saya suaminya.” Kata Young-Joo.
“Saya kakaknya.” So-Hee juga ikut menjawab berbarengan dengan Young-Joo.
“Emm.. kalau begitu silahkan masuk tuan, istri anda sudah siuman.” Perawat hanya memperbolehkan Young-Joo yang masuk ke ruangan.
“Hahhh…” So-Hee membuang nafas kasar.
“Kau tidak haus?” Tanya Kang-Joon.
“Kalau begitu ayo ke cafe seberang rumah sakit.” Ajak Kang-Joon.
...----------------...
Di dalam ruang perawatan pasien.
“Yujin kau baik-baik saja?” Young-Joon tampak cemas melihat Yujin berbaring di atas ranjang pasien, di tangannya sudah terpasang infus.
“Kenapa basah begini? Kau bisa masuk angin nanti.” Yujin tidak menjawab dia malah mengkhawatirkan Young-Joo.
“Kau yang sakit kenapa malah kau yang khawatir sih.”
“Hehe.. aku tidak apa-apa. Maaf membuatmu khawatir.” Yujin mencoba duduk. lalu Young-Joo membantunya.
“Maaf.”
“Hmm??”
“Maaf.” Sebenarnya banyak sekali hal yang ingin Young-Joo sampaikan tapi hanya satu kata yang akhirnya bisa keluar dari mulutnya.
Yujin memeluk Young-Joo. “Bukan kau yang salah jadi tidak perlu minta maaf.”
__ADS_1
Young-Joo menahan air matanya, dia ingin tampak kuat di depan semua orang terutama di depan Yujin.
Yujin melepaskan pelukannya.
“Young-Joo katakan padaku semua yang ada di otakmu, semua yang mengganjal hatimu. Katakan semuanya, semuanya yang mungkin tidak sanggup kau katakan pada orang lain.” Yujin menatap sang kekasih dengan tatapan lembut.
Mata Young-Joo sudah sedikit sembab karen menahan air mata.
“Jadilah dirimu apa adanya, ceritakan padaku semua kesakitanmu, kau selalu seperti pohon besar yang terlihat kuat selama ini. Tapi pohon besar juga akan tumbang jika terkena badai hebat, jadi sebelum kau tumbang pilihlah aku sebagai peri penyelamatmu.” Yujin menggenggam tangan Young-Joo, dan akhirnya Young-Joo tidak bisa lagi menangan air mata kesedihannya.
Young-Joo menangis…
...----------------...
Di cafe seberang rumah sakit.
So-Hee dan Kang-Joo duduk di kursi palinpojok dekat dengan kaca besar menghadap ke gedung rumah sakit.
Sssssrttt..
So-Hee menyedot es amerikano hingga habis.
“Menurutmu apa yang sedang mereka bicarakan saat ini?” Tanya So-Hee sambil menatap gedung rumah sakit.
“Mungkin Young-Joo sedang berusaha terlihat tegar di depan Yujin.”
“Baguslah kalau begitu, tapi menurutku sebaliknya, mungkin saja saat ini Young-Joo sedang menangis seperti anak kecil.”
“Kalau Young-Joo bisa menangis di depan Yujin itu adalah hal yang tepat.”
“Hmmm?? Hal yang tepat??” So-Hee tidak setuju dengan pemikiran Kang-Joon.
“Hmm.. jika Young-Joo menangis di depan Yujin itu artinya dia sudah bisa terbuka pada pasangannya, dia sudah tidak berpura-pura kuat, itu bagus untuk kesehatan mentalnya.”
“Setelah aku pikir-pikir kita berdua selalu memiliki pandangan yang berlawanan tentang pasangan ya?” So-Hee menengok ke Kang-Joon.
Kang-Joon hanya tersenyum.
“Hmm.. aku rasa begitu.”
‘Aku harap kau juga bisa terbuka padaku Jang So-Hee.’ Batin Kang-Joon.
“Kenapa melihatku begitu?” Tanya So-Hee.
Kang-Joon menggelengkan kepala. “Ayo kembali ke rumah sakit.” Ajak Kang-Joon.
Bersambung...
__ADS_1