
Pagi hari..
So-Hee berdandan sambil bersenandung, suasana hatinya sudah membaik.
Tok.. tok..
"Heum? Siapa pagi-pagi begini bertamu?" So-Hee mencabut kabel catokan rambutnya lalu berlari membuka pintu.
"Kang-Joon?"
Kang-Joon datang dengan pakaian rapi dan parfum yang wangi semerbak.
"Ayo kita makan pagi, ada yang menunggumu."
"Menungguku? Siapa?" Tanya So-Hee penasaran.
"Sudah sana selesaikan dulu dandannya aku tunggu di mobil."
"Hehe.. iya, oke." So-Hee masuk ke kamar, dia meneruskan mencatok rambutnya lalu bersiap untuk keluar rumah.
So-Hee segera turun lalu masuk ke mobil Kang-Joon.
"Mau makan dimana kita?" Tanya So-Hee sambil mengenakan sabuk pengaman.
"Tidak jauh dari cafe ada tempat makan tradisional, tempatnya bernuansa klasik dan masakannya juga enak. Mereka mungkin sudah menunggu di sana." Kang-Joon menyalakan mesin mobil.
"Mereka siapa sih yang kamu maksud?" So-Hee semakin penasaran.
"Yujin dan Young-Joo."
"Mereka ingin menemuiku?"
"Hmm.. aku minta kepadamu jangan terbawa emosi saat bicara dengan mereka nanti."
"Bagaimana aku tidak emosi setelah tahu kejadian itu."
Kang-Joon tidak menanggapi So-Hee dia fokus pada kendali mobil.
Tidak lama mereka sampai di kedai yang Kang-Joon maksud.
“Huft..” So-Hee menghela nafas panjang.
“Kenapa? Kau gugup?” Kang-Joon tersenyum mengejek So-Hee.
“Hahh.. belum bertemu mereka saja emosiku sudah sampai kepala, aku tidak yakin bisa berkepala dingin menghadapi mereka.”
Kang-Joon menggandeng tangan So-Hee.
“Ayo masuk.”
Kang-Joon mengajak So-Hee untuk masuk ke kedai.
Tepat seperti yang Kang-Joon bicarakan, Yujin dan Young-Joo sudah duduk bersebelahan.
__ADS_1
So-Hee duduk berhadapan dengan Yujin sedangkan Kang-Joon duduk disebelah So-Hee berhadapan dengan Young-Joo.
“Maaf kami sudah memesan makanan dulu, Yujin kelaparan.” Kata Young-Joo.
So-Hee melirik ke mangkuk Yujin yang sudah kosong.
“Kata orang-orang yang pernah hamil memang begitu, nafsu makan akan meningkat drastis atau bahkan akan menurun drastis.” So-Hee membolak balik menu.
“Untungnya aku tidak mengalami mual-mual yang berarti, sepertinya dia anak baik yang sangat pengertian dengan ibunya.” Yujin mengelus perutnya, nampak raut wajah bahagia.
So-Hee memandang Yujin, dia bisa merasakan bahwa Yujin sedang bahagia, So-Hee lega Yujin tidak depresi atau sejenisnya. So-Hee sempat berpikir Yujin bisa saja depresi karena kehamilannya diusia yang masih muda, ternyata dugaannya salah.
“Kau harus makan yang banyak dan bergizi.” Kata So-Hee sambil menunjuk foto menu pada Kang-Joon.
“Iya aku tahu.” Jawab Yujin.
“Kau mau makan japchae pagi-pagi begini?” Tanya Kang-Joon.
“Memang ada aturan ya kalau pagi tidak boleh makan japchae?”
“Emm.. tidak juga sih.”
“Ya sudah.”
Kang-Joon pergi ke meja kasir untuk memesan makanan.
“Jadi apa rencana kalian ke depan?” Tanya So-Hee dengan mode serius.
“Yaak!! Kenapa bersikap begitu?? Aku kan bukan orang tuanya Yujin, sudah duduk kembali.”
Yujin tertawa melihat Young-Joo dan reaksi So-Hee.
“Sajangnim adalah orang yang dihormati oleh Yujin, jadi aku rasa aku harus minta restu juga.”
“Hahh.. bahkan jika aku tidak merestuinya pun kalian tetap akan menikah kan? Kenapa sok-sokan meminta restu padaku? Chh..” So-Hee masih merasa kesal pada Yujin dan Young-Joo.
“Apa sajangnim marah padaku?” Tanya Yujin.
“Menurutmu bagaimana??” So-Hee malah melemparkan pertanyaan ke Yujin.
“Aku tahu sajangnim marah tapi sejujurnya aku tidak tahu alasannya. Kalau alasannya karena aku hamil jelas itu bukan alasan yang baik untuk marah.” Yujin tertunduk dia tidak berani melihat wajah So-Hee.
“Hahhh.. aku tidak berhak marah soal itu, aku marah karena kau menghilang dan tidak ada kabar seharian.” So-Hee mengkhawatirkan keadaan Yujin.
“Emm.. aku minta maaf, sebenarnya aku ingin menghubungi sajangnim tapi seniman Song bilang waktunya tidak tepat. Lalu dia membantu kami bicara pada orang tua kami.”
Kang-Joon kembali ke kursinya.
“Aaa.. jadi orang ini yang melarang kalian menghubungiku?” So-Hee melirik sinis ke Kang-Joon.
“Jangan salah sangka dulu, tujuannya baik. Emosimu sedang meluap-luap, jadi aku rasa kau perlu waktu untuk menurunkannya dulu.”
So-Hee masih melirik kesal ke Kang-Joon,
__ADS_1
“Hufft.. ya sudah semua sudah berlalu. Jadi kalian sudah ada dana untuk menyelenggarakan pernikahan atau belum? Setelah menikah kalian mau tinggal dimana? Lalu biaya untuk periksa selama kehamilan, biaya persalinan biaya saat bayi kalian sudah lahir, apa semua sudah kalian pikirkan?” So-Hee lebih cerewet daripada ibu mertua.
“Jang So-Hee kau terlalu ikut campur urusan mereka. Biarkan mereka menyelesaikan itu semua sendiri, mereka sudah berbuat mereka juga yang harus bertanggung jawab.
Kalau kau khawatir kamu cukup bilang ‘Kalau kalian butuh bantuan katakan saja, aku siap membantu’.
Hmm.. ya aku rasa itu adalah makna sebenarnya dari semua pertanyaan So-Hee untuk kalian.” Kang-Joon seperti seorang translator yang menerjemahkan bahasa So-Hee ke bahasa yang lebih bisa dimengerti oleh Yujin dan Young-Joo.
“Terimakasih sajangnim, aku tahu sajangnim mengkhawatirkan keadaanku, tapi percayalah aku saat ini sedang bahagia dan sehat, aku berjanji akan begitu terus kedepannya.” Kata Yujin.
“Hmm.. baiklah, terserah kalian saja.”
“Sajangnim aku ingin merahasiakan tentang kehamilanku dari teman-teman di cafe, aku akan mengatakannya saat membagikan undangan pernikahanku. Jadi aku minta tolong bantu aku.” Yujin memohon ke So-Hee.
“Hmm.. tidak masalah.”
Makanan Kang-Joon dan So-Hee datang.
“Waaah.. baunya enak sekali.” Mata So-Hee tertuju pada japchae yang dia pesan.
“Huwek.. huwek.. ma.. maaf aku ke kamar mandi dulu.” Yujin merasa mual saat mencium bau japchae.
Young-Joo menyusul Yujin.
“Pantas saja Yujin sangat mencintai Young-Joo ternyata dia sosok pria yang perhatian.” Kang-Joon memuji Young-Joo.
“Kau suka dengan laki-laki?”
Uhukk… uhukk..
Kang-Joon kaget dengan pertanyaan So-Hee hingga tersedak.
“Yaak! Hati-hati dong!” So-Hee menuangkan air minum untuk Kang-Joon.
Kang-Joon meminumnya hingga habis.
“Kenapa kau tanya seperti itu??!”
“Habisnya kau seperti kagum sekali dengan Young-Joo, aku saja yang wanita tidak tertarik sama sekali dengannya.” So-Hee menikmati makan paginya.
“Lalu lelaki seperti apa yang membuatmu tertarik?”
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Sejujurnya aku juga tidak yakin apa aku tertarik dengan lelaki atau wanita.” So-Hee mengatakan hal tersebut dengan sangat santai seolah hal itu hanya masalah sepele.
“Yaak!! Kang So-Hee kau ini yang benar saja, jangan membuatku merinding begini.” Meski Kang-Joon tahu bahwa So-Hee hanya bercanda tapi kata-kata seperti itu tidak enak didengar.
“Memang kalau aku suka wanita kau ada masalah? Kau tidak ingin berteman denganku lagi ya kalau aku ini tidak normal?”
‘Iya! Aku ingin kau normal, aku ingin kau tertarik pada laki-laki, tertarik padaku!’ Batin Kang-Joon.
Kang-Joon tidak memberi jawaban, dia memilih diam dan menghabiskan makanannya.
Bersambung...
__ADS_1