
Pagi hari yang sangat hangat dan cerah, kota Precognition benar-benar ramai dengan warga yang melakukan aktivitas.
Sotaru yang dikamar, bangun dari tidur dan melihat keadaan kamarnya.
"huohhh.... nyenyak sekali tidurku."
"hmm.. dimana mereka bertiga? sudah tidak ada aja dikamar."
"lebih baik aku kebawah, untuk sarapan pagi" ucap Sotaru.
Sotaru berjalan keluar dan ia berjalan menuju kantin penginapan. dia duduk dimeja makan dan memanggil pelayan.
"Mba.." panggil Sotaru.
pelayan tersebut datang dihadapan Eiji, "ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pelayan tersebut dengan senyumannya.
"euhh.. saya ingin memesan paket ayam bakar, nasi sepiring dan segelas teh hangat." ucap Sotaru.
"baiklah, silahkan menunggu pesanan anda." ucap pelayan tersebut, pelayanan tersebut pergi menuju dapur dengan wajah kebingungan.
“Aku sama sekali tidak bisa melihat masa depan lelaki tersebut, entah mengapa aku hanya melihat kekosongan saja.” batin pelayanan tersebut.
“heheh... sepertinya aku berhasil.”
“Tiga orang, tidak berhasil melihat masa depanku hehhe..”batin Sotaru yang melihat bola mata tidak terlihat di udara kantin.
"hmm... sepertinya dia telah mengetahui keberadaan bola mata «Vis», Aina." ucap Gidou sambil melihat bola «Vis» di meja.
"sepertinya begitu, tapi aku tidak bisa melihat masa depannya.. terlebih lagi aku hanya melihat kekosongan saja." ucap Aina yang merasa heran.
"sama, aku juga seperti kau, Aina. aku merasa dia tidak ada takdir di River of Fate." ucap Gidou.
"kalau begini, kita tidak bisa mendapatkan bukti.. kalau dia adalah Hubots." ucap Aina.
"tenang saja, para tetua percaya Dengan informasi yang kamu berikan semalam."
"mereka percaya, kalau kamu jujur dan mereka tahu kalau kamu yang paling hebat untuk bisa melihat masa depan diantara mereka." ucap Gidou yang menenangkan Aina.
"terimakasih, senior."
"dan saya ingin minta izin kepadamu... kalau hari ini, saya ingin izin libur hari ini karena saya ada janji dengan adik dan nenek saya." ucap Aina.
"baiklah... kamu, saya izinkan karena telah banyak membantu para tetua dan paling cepat menyelesaikan tugas." ucap Gidou.
"terimakasih senior... kalau begitu aku pamit pergi dahulu." ucap Aina yang gembira.
Aina pergi meninggalkan Gidou diruangan pengawas, sementara Gidou terus memperhatikan Sotaru dari bola «Vis».
"siapa dirimu sebenarnya, Sotaru? apakah kamu benar Hubots?masa depanmu benar-benar tidak bisa dilihat sama sekali." ucap dan tanya Gidou yang berbicara sendiri, ia terus menanyakan hal tersebut didalam pikirannya.
beberapa menit kemudian....
Sotaru telah selesai sarapan dan pergi untuk membayar sarapannya, ia memberikan 200 koin Perak ke pelayan dan pergi keluar dari penginapan.
"benar-benar enak makanannya, tapi..." Sotaru yang belum selesai mengatakan sesuatu berjalan menuju pot bunga.
Sotaru memetik bunga itu dan menghirupnya, sementara Gidou terus memerhatikan Sotaru.
Sotaru dengan gerakan cepat, menghancurkan bola «Vis» tersebut dengan Batang bunga.
gerakan Sotaru benar-benar cepat hingga dikira ia tidak bergerak sama sekali. Gidou terkejut karena penampilan bola «Vis» menjadi gelap.
“Apa yang terjadi? kenapa tiba-tiba penampilan bola ini menjadi gelap?”
“Apakah dia menghancurkan bola tersebut? tapi tidak mungkin karena dia seperti menghirup bunga tersebut.” batin Gidou yang kebingungan dan terus memikirkan hal tersebut.
sementara Sotaru tersenyum senang, "sepertinya, dia benar-benar berpendapat kalau aku tidak menghancurkan bola tersebut."
"itu hal yang bagus, aku tidak sangka dia benar-benar kurang pintar, sangat disayangkan..." ucap Sotaru yang tersenyum senang.
dia berjalan untuk keliling kota, dia melihat bangunan kota, belum lagi toko-toko yang menjual banyak barang.
"hmm.... sepertinya aku sekarang harus mencari orang yang didalam mimpi tersebut."
"aku merasa, kalau aku akan cepat bertemu dengan dia, jadi tidak sabar." ucap Sotaru dengan senyuman senangnya.
saat ia berjalan, dia melihat anak kecil yang terus melihat permen lollipop di dalam toko yang berkaca.
“Sepertinya, anak itu ingin memiliki Lollipop tersebut. kalau begitu aku akan membelikannya.” batin Sotaru dengan ekspresi wajah tersenyum.
Sotaru mendekati anak itu dan bertanya kepadanya, "kamu sepertinya ingin memakan lollipop itu?" tanya Sotaru.
"ehh... iya, aku ingin memakan lollipop itu"
"lollipop itu terlihat manis dan nikmat, jadi aku ingin memakannya..." ucap anak kecil itu dengan ceria.
"kalau begitu... aku akan membelikannya untukmu, jadi kamu tunggu disini yah." ucap Sotaru.
"baik..." ucap anak kecil itu yang tersenyum gembira.
Sotaru masuk ke toko permen tersebut dan beberapa saat ia keluar, ia membawakan lollipop dan keranjang berisi permen.
"ini untukmu..." ucap Sotaru dengan senyumannya.
"wahh... banyak sekali, terimakasih kak-"
"namaku adalah Sotaru Takeo, jadi kamu bisa memanggilku kak Sotaru."ucap Sotaru sambil mengelus kepalanya.
"baik.. terimakasih Kak Sotaru, namaku adalah Jirou Harumi. dipanggil Jirou, salam kenal kak Sotaru " ucap Jirou dengan senyum manisnya.
"hihihi... salam kenal juga Jirou."
"oh iya, kenapa kamu sendirian disini? kamu tidak bersama keluargamu atau temanmu?" tanya Sotaru.
"aku disini, bersama kakakku yang telat datang. kakak sudah berjanji bakal menemaniku hari ini." jawab Jirou dengan senyuman imutnya.
"begitu yah, kalau seperti itu maka aku akan menemanimu sampai kakakmu tiba." ucap Sotaru yang mencubit pipi kiri Jirou.
"wahh.. asik, aku ditemani oleh kak Sotaru." ucap Jirou yang benar-benar senang.
__ADS_1
mereka berdua menunggu di depan toko permen, Jirou menjilatin lollipopnya hingga ada seseorang yang memanggil Jirou.
"Jirou..." panggil seorang wanita.
"kakak Aina.." jawab Jirou yang langsung digendong oleh Aina.
"akhirnya kamu datang juga kakak." ucap Jirou sambil memeluk kakaknya.
"maaf yah... kakak terlambat datang." ucap Aina yang merasa tidak enak hati.
"tidak apa-apa kok kak, aku disini juga ditemani oleh Kakak Sotaru yang baik hati ini" ucap Jirou.
"Yo.." sapa Sotaru yang senyum.
"hallo.. terimakasih telah menemani adikku." ucap Aina dengan raut wajah yang penuh Dingin atau datar.
"sama-sama, kalau begitu.... aku pamit dulu" ucap Sotaru dengan senyumannya sambil memberikan jempol untuk pamit pergi.
"tunggu dulu kak Sotaru..."
"aku ingin meminta kak Sotaru untuk ikut bersama kami.." ucap Jirou dengan senyumannya.
"Jirou... kak Sotaru pasti sibuk, jadi kamu jangan meminta hal tersebut.." ucap Aina dengan wajah sedikit marah.
Jirou yang mendengarnya langsung merasa sedih dan Sotaru tidak tega dengan Jirou yang imut tersebut.
"eh-eh.. kamu tidak perlu sedih Jirou.. aku akan bersama kalian hari ini." ucap Sotaru yang tersenyum untuk Jirou tidak bersedih.
"wahh.. terima kasih Kak Sotaru." ucap gembira Jirou.
"baiklah, kamu boleh ikut bersama kami."ucap Aina dengan berat hati.
"kalau begitu, ayo kita jalan bersama." ucap Sotaru yang semangat.
"sebentar, sebelum Kita pergi. aku ingin kakak saling mengenal satu sama lain." ucap Jirou.
Aina yang mendengar hal tersebut, merasa keberatan dan seperti tidak mau kenalan.
Sotaru yang melihatnya langsung berbicara dengan Aina melalui telepati atau melalui pikiran.
"Aina, aku tahu kamu tidak ingin berkenalan denganku karena sebelumnya, kamu mengetahui identitasku, bukan?" ucap Sotaru melalui pikiran.
"sepertinya kamu sudah mengetahui kemampuanku, seperti yang aku duga dari ras Hubots."
"mereka benar-benar hebat dan cerdas dalam hal apapun, dasar Hubots licik." ucap Aina dengan rasa tidak suka atau benci.
"aku tidak tahu, kenapa kamu benci ras Hubots, akan tetapi ini demi adikmu."
"demi adikmu, kamu harus melupakan kebencianmu kepadaku untuk sementara ini saja."
"aku tidak ingin membuat adikmu sedih dan kecewa." ucap Sotaru dengan serius.
Aina melihat Jirou yang wajahnya ingin sekali, ia dan Sotaru berkenalan. Aina dengan berat hati menyetujui hal tersebut.
"baiklah.."
"tapi ingat, ini demi adikku bukan keinginanku untuk berkenalan Denganmu" ucap serius Aina.
"coba saja jika kau mampu, dan selamat untukmu karena tidak berhasil melihat masa depanku.." ucap Sotaru dengan senyuman meremehkan.
Jirou kebingungan dengan melihat Sotaru dan Aina yang saling menatap dengan serius.
"kalian ada apa? kenapa wajah kalian kelihatan serius?" tanya Jirou yang bingung.
"eh.. tidak apa-apa, hanya saja kakak berpikir untuk berkenalan dengan kak Sotaru." ucap Aina.
"benarkah? kalau begitu turunkan aku untuk kalian bisa saling berjabat tangan." ucap Jirou yang gembira.
Aina menurunkan Jirou dari Gendongannya, dan ia melakukan jabatan tangan dengan sotaru.
"namaku adalah Aina Hirumi, panggil saja Aina. salam kenal." ucap Aina dengan wajah tersenyum terpaksa.
"nama yang indah... kalau begitu, namaku adalah Sotaru Takeo, panggil saja aku Sotaru. Salam kenal." ucap Sotaru dengan senyumannya.
"sangat bagus... akhirnya kalian saling mengenal. kalau begitu, mari kita pergi keliling kota..." ucap semangat Jirou, Jirou langsung meraih tangan kiri Sotaru dan tangan kanan Aina.
Jirou menggandeng kedua tangan tersebut dan berjalan di tengah mereka berdua.
"kalau begitu, ayo kita pergi..." ucap semangat Eiji.
mereka bertiga berjalan bersama untuk keliling kota, mereka banyak mendatangi toko untuk membeli sesuatu.
Jirou benar-benar ceria dan gembira saat mereka berjalan bersama. Aina dan Sotaru juga ikut gembira melihat Jirou.
Sotaru memberikan boneka kucing kepada Jirou sebagai hadiah darinya, Jirou menerimanya dan sangat senang mendapatkannya.
Sotaru juga hadiah kepada Aina berupa gelang tangan emas. Aina menerima gelang tersebut dengan senyuman terpaksa. Aina memasang gelang itu ditangan kanannya.
mereka bertiga terus berjalan mengelilingi kota hingga melihat suatu keributan di tengah jalan.
"ada apa itu?" tanya Jirou yang penasaran.
"entahlah... sepertinya ada keributan didepan sana." jawab Sotaru.
nenek di ambil tas oleh seorang laki-laki memakai jubah hitam dan berlari saat nenek itu berteriak meminta pertolongan.
“Pencuri tas yah...”batin Sotaru dengan tatapan tajam.
saat pencuri berlari mendekati mereka bertiga, dia melirik dengan senyuman jahatnya kepada Jirou.
Aina yang merasakan Jirou akan dilukai,
dia langsung melindungi Jirou dari pencuri tersebut dengan kuda-kudanya.
akan tetapi Sotaru dengan langkah cepat, langsung berada di depan Aina yang membuat Aina terkejut.
pencuri itu mengeluarkan pisau dari tas kecil pinggangnya dan mengayunkan pisau tersebut sambil berlari ke arah Sotaru.
Sotaru dengan gerakan cepat, langsung menusuk bagian dada kiri pencuri tersebut dengan jari telunjuk dan tengah.
__ADS_1
gerakan cepat tersebut, terlihat seperti satu gerakan saja akan tetapi sebenarnya itu adalah 20 gerakan yang menusuk titik fatal di setiap tubuh pencuri tersebut.
Aina yang melihatnya langsung terkejut, karena itu gerakan yang sangat cepat hingga hanya terlihat seperti 1 gerakan saja.
pencuri tersebut tidak bisa bergerak dan terjatuh kepermukaan, para warga bertepuk tangan kepada Sotaru yang berhasil menangkap pencuri tersebut.
Sotaru mengambil tas nenek tersebut dari pencuri itu dan memberikan kepada nenek itu.
"wahh... terimakasih atas bantuannya, Nak." ucap terimakasih nenek tersebut.
"sama-sama Nek, itu sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong." ucap Sotaru.
"kalau begitu, terimalah uang ini sebagai tanda terimakasihku." ucap nenek tersebut yang memberikan uang koin emas kepada Sotaru.
"ehh.. tidak usah nek, kamu tidak perlu memberikan uang ini kepadaku. aku ikhlas dan tulus membantumu."
"jadi aku tidak butuh uang ini, lebih baik nenak gunakan uang ini untuk hal yang lebih penting." ucap Sotaru yang menolak uang tersebut.
"wah.. terimakasih yah nak, kamu benar-benar laki-laki yang baik."
"laki-laki sepertimu memang sudah langka di dunia ini dan pasangan hidupmu pasti bakal beruntung memilikimu." ucap nenek tersebut dengan senyumannya.
"bagaimana nenek tahu aku masih singel?" tanya Sotaru yang penasaran.
"hanya insting seorang perempuan tua saja, kalau begitu nenek pamit dulu. kamu jaga diri baik-baik, semoga Dewi Bulan memberkatimu" ucap nenek tersebut, nenek tersebut berjalan menjauh Sotaru.
"kalau begitu, hati-hati nek... jaga dirimu Juga..." ucap Sotaru sambil melambaikan tangannya.
Sotaru berjalan menemui Jirou dan Aina kembali.
"wah.. kak Sotaru hebat sekali.. bisa mengalahkan pencuri tersebut dengan satu tusukan jari saja."
"terlebih lagi kakak baik hati dan tulus. aku merasa senang melihat kak Sotaru seperti itu." ucap memuji dan terkagum Jirou.
"terimakasih pujiannya, kamu juga pasti akan bisa seperti diriku."
"benarkah? jadi aku bisa menjadi kuat seperti kakak?" tanya Jirou dengan hati senang.
"tentu saja, tapi ada caranya.." ucap Sotaru.
"apa itu caranya? aku ingin tahu." tanya semangat Jirou.
"caranya, yaitu: makan makanan bergizi seperti sayur, buah, dan daging."
"tidak cuman itu saja, karena harus melatih diri kita sendiri seperti: berlatih bela diri dan seni berpedang." jawab Sotaru yang mudah dicermati oleh anak sekecil Jirou.
"oh.. baiklah, aku akan mengikuti saran kakak. aku akan menjadi kuat seperti kak Sotaru." ucap Jirou.
"Yos.. kalau begitu, mari kita tos.." ucap Sotaru.
Sotaru dan Jirou saling tos satu sama lain sambil tersenyum.
sementara Aina, sibuk dengan komunikasi dia. "baiklah... aku serahkan masalah disini kepada kalian.." ucap Aina yang sedang berkomunikasi dengan prajurit.
"kau sedang apa, Aina?"tanya Sotaru.
"oh, ini aku sedang menghubungi markas pusat untuk mengurus masalah pencuri ini." jawab Aina.
"kakak, tidak usah berhubungan dengan pekerjaan terlebih dahulu."
"bukannya saat ini kakak libur? jadi kakak sekarang harus bersantai dan menikmati liburan kakak ini." ucap Jirou dengan raut wajah ngambek.
"iya-iya, maafkan kakak yah.. Jirou tidak usah marah dengan kakak." ucap Aina sambil mengelus kepala Jirou.
"baiklah.. kalau begitu, sekarang kita kembali jalan-jalan bersama." ucap semangat Jirou.
"ok.."ucap bersama Aina dan Sotaru.
mereka bertiga berjalan bersama, mengelilingi kota sambil melihat-lihat toko-toko dan orang berdagang.
“Dia memang benar-benar, Hubots. Aku yakin karena melihat gerakan tusukan jarinya yang begitu cepat.”
“untung saja aku sudah memberitahu kepada senior, kalau aku sedang bersama dia, dan senior bisa memberikan saran kepadaku untuk mengawasi dia.”
“tapi... entah mengapa, aku merasa kalau dia memang, bukan Hubots yang jahat.”
“Dari dia menolong dengan tulus kepada nenek tadi, dan baik kepada Jirou. semoga saja apa yang dia lakukan, bukan pura-pura.” batin Aina sambil melirik Sotaru.
Aina berharap kalau Sotaru bukan Hubots jahat dan kebaikan dia tadi benar-benar tulus, bukan kebaikan yang dibuat-buat.
mereka bertiga, menghabiskan waktu bersama di Padang rumput yang luas. Sotaru memainkan gelembung busa bersama Jirou.
mereka bertiga benar-benar penuh senyum dan gembira, mereka bertiga tertawa bersama saat Sotaru menginjak kotoran binatang.
tingkah Sotaru benar-benar bikin mereka berdua tertawa, Aina yang tertawa bersama, sudah melupakan kebencian dia untuk sekarang.
dia mulai memikirkan untuk menghabiskan waktu bersama dengan Jirou dan Sotaru untuk hari ini.
sementara Eiji, Nasywa dan Mizu, melihat mereka dari kejauhan dibalik pohon besar.
mereka bertiga melihat Sotaru yang sedang dekat dengan Aina.
"sepertinya.. Sotaru sudah mulai mendapatkan pasangan hidupnya." ucap Eiji yang tersenyum senang.
"sepertinya begitu, aku juga merasa senang melihat Sotaru, mulai dekat dengan perempuan itu." ucap Mizu yang senang juga.
"aku lebih fokus kepada anak kecil itu, dia terlihat lucu sekali. aku jadi ingin punya adik ataupun anak selucu itu." ucap Nasywa sambil menatap Eiji.
"kenapa, kau melihatku seperti itu? kau pengen punya anak? oh tentu bisa tapi saat kita sudah menikah." ucap Eiji yang langsung mencubit pipi Nasywa.
"aduh.. sakit tahu, aku kan cuman ingin minta seperti ajan ko..." ucap Nasywa sambil mengelus pipinya yang dicubit.
"iyaa.. tapi permintaan seperti itu, saat kita sudah menikah dan umurmu Sudah 20 tahun."ucap Eiji dengan wajah datar.
"saat itu tiba, maka aku akan menguras dan brutal kepada kalian karena staminaku tidak terbatas, jadi aku bisa melakukan hal seperti itu tanpa batas waktu." ucap Eiji yang menakuti Mizu dan Nasywa.
"ihh..." ucap bersama Mizu dan Nasywa yang takut dan ngeri.
dan hari pun menjelang Sore, matahari mulai berada di barat untuk terbenam.
__ADS_1
Selanjutnya.....