
hari mulai menjelang malam, semua orang mulai bersiap-siap untuk pergi ke festival Gerhana Bulan.
sementara Sotaru dan Jirou asik bermain bersama sampai lupa waktu.
"hahaha... ayo kejar aku, kak Sotaru."
"baiklah... aku akan menangkapmu."
Sotaru berlari dengan cepat dan menangkap tubuh Jirou, dia langsung menggendongnya ke pundaknya.
"hahahah.... kau sudah aku tangkap, sekarang aku yang menang, hehehe..."
"kak Sotaru memang hebat .."
Sotaru dan Jirou benar-benar merasa senang dan asik bermain. Aina yang terus ngelihat mereka berdua juga ikut senang.
Aina melihat matahari yang mulai terbenam dan langsung berdiri, dia berjalan mendekati Sotaru dan Jirou.
"kalian berdua..."
"cukup mainnya, sekarang sudah saatnya untuk pulang, supaya bisa bersiap-siap sebelum festival tiba."
"mari Jirou, ayo kita pulang, nenek sudah menunggu dirumah." ucap Aina sambil memberikan kedua tangannya untuk menggendong Jirou.
"hm.. aku mau pulang, jika kak Sotaru ikut pulang bersama kita..." ucap Jirou.
Aina yang mendengarnya pun, berpikir sebentar sebelum menjawabnya.
“Sotaru..” panggil Eiji melalui pikiran.
“Iya Eiji, ada apa? dan kemana saja, kau?” ucap Sotaru yang kesal melalui pikiran.
“euhh.. aku seharian ini, menemani Nasywa dan Mizu keliling kota bertiga.”
“mereka memaksaku dan memohon untuk menemani mereka tapi aku juga harus menuruti kemauan mereka untuk melepaskan helmku.” ucap Eiji yang menjelaskan melalui pikiran
“oh.. bisa-bisanya, berkencan dengan mereka dan meninggalkanku.."ucap Sotaru yang lumayan kesal melalui pikiran.
“maaf-maaf... aku juga tidak ingin meninggalkanmu” ucap Eiji yang meminta maaf melalui pikiran.
“Baiklah... sekarang, kau dimana? aku akan menemanimu.” tanya Sotaru melalui pikiran.
“aku saat ini sedang dikamar penginapan, kami bertiga sedang bersiap-siap untuk ke festival.”
“dan aku menghubungimu untuk kita bertemu di festival itu untuk membicarakan tentang mimpi tersebut.” ucap Eiji melalui pikiran.
“baiklah, kalau begitu... sampai jumpa di festival, Eiji” ucap Sotaru melalui pikiran.
“baik, sampai jumpa juga dan selamat mendapatkan perempuan yang seksi itu, heheh-...” ucap Eiji yang langsung menutup komunikasi telepati mereka.
“dasar kau.. awas saja kau, Eiji.” batin Sotaru yang kesal.
sementara Aina masih berpikir untuk menjawab keinginan Jirou, dia mengambil nafas panjang dan menghela nafasnya.
"baiklah, kak Sotaru boleh ikut pulang bersama kita."
"tapi kamu harus nurut apa kata kakak nanti di festival." ucap Aina yang menyetujui keinginan Jirou.
Jirou yang mendengarnya pun langsung senang dan mengucapkan "oke kak Aina, aku akan menurut apa yang kakak Katakan".
Jirou benar-benar gembira dan senang dengan Sotaru yang ikut pulang bersama mereka.
"hehe.. terima kasih Aina, kau memang kakak yang baik.." ucap Sotaru dengan senyuman lembutnya.
Aina yang mendengar dan melihat senyuman lembut Sotaropun, langsung memerah pipinya dan dia memalingkan pandangannya.
"bukan apa-apa dan kau tidak perlu berterima kasih, ini demi adikku bukan untukmu." ucap Aina yang pipinya memerah dan memalingkan pandangannya.
Sotaru hanya tersenyum mendengar hal tersebut dan sempat melihat foto Keluarga mereka.
"baiklah... karena aku sudah diizinkan oleh Aina, maka ayo kita pulang.." ucap semangat Sotaru.
"ayo kak..." ucap gembira Jirou.
Aina yang melihat mereka bersemangat dan gembira, hanya tersenyum kepada mereka dari belakang.
mereka bertiga berjalan menuju bukit tempat tinggal Jirou dan Aina. Sotaru dan Jirou benar-benar akrab layaknya kakak dan adik.
mereka berdua bercanda dan saling bercerita tentang pengalaman mereka seperti Jirou yang dikejar bayi beruang, sementara Sotaru bermain dengan 3 singa api yang sangat besar.
mereka berdua benar-benar sangat dekat yang membuat Aina senang tapi mulai bermunculan pikiran negatif kepada Sotaru.
mereka sampai juga didepan rumah kayu sederhana keluarga Harumi.
"kita sudah sampai..." ucap Jirou.
"wah.. ini rumah kalian berdua? sederhana sekali, apalagi cukup bagus di atas bukit ini."
"belum lagi, tempat ini cocok untuk melihat pemandangannya karena tidak ada pepohonan atau bangunan yang menghalangi." ucap Sotaru.
"benarkah? terimakasih kak Sotaru telah memuji rumah kami." ucap gembira Jirou
"kalau begitu, ayo kita masuk." ucap Aina.
Aina membukakan pintu dan mesuk kedalam, mereka bertiga masuk ke dalam rumah yang langsung disambut nenek mereka.
"selamat pulang, cucu-cucu nenek ini." sambut nenek Harumi.
"kami pulang, nenek." ucap bersama Aina dan Jirou.
"hallo nek.. maaf jika saya mengganggu nenek." ucap sopan Sotaru.
"hmm... anak muda, laki-laki Aina kah?" tanya nenek yang penasaran.
"ehh... bukan, dia bukan pacarku atau laki-lakiku."
"dia Sotaru Takeo, orang yang baru saja kami kenal." jawab Aina dengan pipi memerah.
"oh.. namamu Sotaru, selamat datang nak Sotaru." sambut hangat nenek Harumi.
"terimakasih atas sambutan nek, semoga kita saling membantu dan akrab." ucap sopan Sotaru.
"kalau begitu, mari duduk. kita makan malam sebelum acara festival dimulai." ucap nenek Harumi yang mengajak mereka.
Sotaru menurukkan Jirou dari gendongan pundaknya, Jirou langsung berlari ke meja makan sementara Aina memegang tangan kanan Sotaru untuk menahan dia sebentar.
"sebentar... aku ingin berbicara diluar denganmu." ucap Aina dengan wajah serius.
"hmm... baiklah tapi kau beritahu dulu nenekmu, supaya dia tidak mencari kita berdua." ucap Sotaru dengan wajah serius juga.
"baiklah.."
"nek, aku dan Sotaru ingin keluar terlebih dahulu. nenek dan Jirou makanlah terlebih dahulu." ucap Aina.
"oh, Baiklah. kalian berduaan dulu aja, setelah selesai... baru kita makan malam bersama." ucap nenek Harumi dengan senyuman bercandanya.
"nenek..." ucap Aina yang merasa malu.
Sotaru hanya tertawa melihatnya, Aina yang melihat Sotaru ketawapun langsung menarik tangan kanannya untuk keluar rumah.
Aina menarik tangan Sotaru hingga ke halaman rumah dan ia langsung melepaskan pegangan tangannya.
"baiklah, disini seperti tempat yang cocok untuk aku berbicara." ucap Aina.
"hm.. seperti kau benar-benar serius, jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sotaru.
"oke.. pertama, apa motifmu dan tujuanmu mendekati adikku?"
"kedua kenapa aku dan Peramal lainnya, tidak bisa melihat masa depanmu?"
"ketiga, apakah kau ingin menghancurkan keluargaku seperti Hubots lainnya?" tanya Aina dengan wajah seriusnya.
"aku harap kau bisa menjawab semua itu, jika kau tidak menjawab... maka kau, aku anggap sebagai ancaman." ucap Aina.
"lumayan pertanyaanmu, tapi aku juga ada hal yang ingin ditanyakan."
"pertama, kenapa kau dan warga desa membenci ras Hubots? apa salah ras Hubots yang bisa membuatmu dan warga desa membenci rasku?" tanya balik Sotaru.
"cihh... itu tidak pantas ditanyakan karena kau yang lebih tahu, kenapa kami membenci ras mu itu." jawab Aina dengan wajah bencinya.
"baiklah, jika seperti ini... maka kita bertarung."
"jika kau menang, maka aku akan memperlihatkan wujud Hubotsku dan kau bisa memberitahu semua warga jika aku Hubots."
"tapi jika aku menang, maka kau harus menceritakan, kenapa kalian membenci ras Hubots."
"bagaimana? apakah adil?" tanya Sotaru.
"oke.. aku akan menerimanya tapi ini bertarung dengan senjata apa?" tanya Aina .
"hmm... mungkin kita menggunakan pedang saja, aku lihat dari penampilanmu, sepertinya kau hebat dalam skill pedang."ucap Sotaru sambil melirik Aina dengan seksama.
"baiklah, jika itu maumu..." ucap Aina dengan wajah meremehkan.
Sotaru dan Aina, berjalan menjauhi satu sama lain dengan jauh 10 meteran. Aina memunculkan pedangnya menggunakan tangan kanannya.
sementara Sotaru, mengambil ranting kayu untuk bertarung. Aina hanya tersenyum meremehkan dan Sotaru tersenyum dengan santai.
"ingat peraturannya, tidak boleh menggunakan sihir, mengalahkan lawannya sampai dia lemas dan tumbang. jika yang kalah, maka harus menceritakan apa yang ditanyakan oleh sih pemenang."
__ADS_1
"baiklah."
"kalau begitu, mari kita berjanji melalui «Agremen», supaya lebih menantang dan jika ada yang melanggar... maka ia akan kehilangan seluruh kekuatannya." ucap Sotaru.
"oke, sepertinya benar-benar menyenangkan." ucap Aina .
"«Agremen»" ucap bersama Sotaru dan Aina dengan tangan kanan mereka ke arah pola sihir ditanah.
angin berhembus, tekanan diantara mereka berdua benar-benar besar. suasana sangat sunyi di halaman rumah Harumi.
saat daun melayang dan jatuh di tengah mereka berdua.
Swoosh!...
mereka berdua dengan gerakan cepat, saling mengayunkan senjata dan adu Tebasan senjata.
mereka berdua langsung memberikan banyak Tebasan senjata dengan gerakan yang sangat cepat.
pertarungan mereka benar-benar sengit dengan Sotaru dan Aina yang adu tebasan senjata.
mereka adu senjata kesegala arah dengan kecepatan yang tinggi, Aina bisa mengimbangi kecepatan Sotaru yang berada di atas kecepatan Nasywa.
” dia benar-benar kuat dan cepat, ranting kayu itu benar-benar kuat.”
“ aku merasa ranting kayu itu Sekeras besi, terbukti dari Tebasan pedangku yang tidak bisa memotong ranting itu” batin aina sambil mengayunkan pedangnya dan memberikan 13 tusukan pedang ke arah Sotaru.
Whoosh!...
Slash!..
Sotaru dengan mudah, menangkis semua tusukan itu hanya dengan ranting kayunya saja.
Bomm!...
pertarungan mereka memberikan kerusakan yang besar di halaman rumah, nenek Harumi dan Jirou tidak merasakan pertarungan mereka di dalam rumah.
whoosh!...
"rasakan ini, «Death Slash»" ucap Aina sambil memberikan ayunan pedang ke arah Sotaru.
saat Aina mengayunkan pedangnya ke arah Sotaru dan Sotaru menghindarinya dengan tubuhnya menyamping ke kanan.
momen itu dimanfaatkan oleh Sotaru dengan memberikan Tebasan ranting kayu mengarah pundak Aina dan membuat Aina terpental hingga menghantam tanah.
Plakk!....
swoosh!...
bomm!...
"arghh... dia sangat kuat sekali! aku tidak bisa menandingi seni pedang miliknya" ucap Aina yang menahan rasa sakit di seluruh badan dengan tubuh terbaring di tanah.
Sotaru mendekatinya dan mengulurkan tangan kanannya, "sepertinya... aku yang memenangkan pertandingan ini."
"jadi sekarang, kau harus menceritakan apa yang aku tanyakan." ucap Sotaru sambil senyum.
Aina meraih uluran tangan Sotaru sambil memalingkan pandangannya, Sotaru menggandeng tangan Aina dan membawanya duduk di halaman rumah.
"sudahlah memalingkan pandanganmu, sekarang ayo ceritakanlah. ingat perjanjian «Agremen»" ucap Sotaru yang memujuk Aina.
"aku tidak akan menceritakan walaupun aku akan kehilangan kekuatanku." ucap tegas Aina.
Aina tetap memalingkan pandangannya dan tidak melihat Sotaru sama sekali.
Sotaru hanya menghela nafas dan berdiri untuk menunjukkan sesuatu.
"baiklah kalau begitu, aku akan memutuskan janji «Agremen» dan menunjukkan wujud Hubotsku"
"tapi sebagai gantinya, kau harus menceritakan apa yang aku tanyakan." ucap Sotaru.
Sotaru memutuskan perjanjian «Agremen» dengan melukai jari jempolnya dengan gigitannya dan meneteskan darahnya ke pola sihir perjanjian «Agremen» untuk memutuskan janji dia dengan Aina.
setelah itu, tubuh Sotaru bercahaya dan ukuran menjadi 7 meter lebih tinggi dari manusia.
Sotaru Kembali ke wujud Hubotsnya dengan warna besi hitam motif biru, tubuhnya benar-benar penuh besi dengan mata biru menyala.
Aina yang melihat itu, merasa terkejut dan memandanginya tanpa sepatah katapun.
Sotaru kembali ke wujud manusianya,
"baiklah, aku sudah menunjukkan wujud asliku."
"sekarang giliran dirimu" ucap Sotaru yang kembali duduk disamping Aina.
"baiklah..."
"aku akan menjawabnya, dimulai dari cerita leluhur suku kami sekitar setelah Realms Wars 500 tahun yang lalu."
"dahulu kala, Hubots dan suku kami hidup bersama karena berhasil mengalahkan pasukan Maou dari Realms Wars." ucap Aina yang memperlihatkan masa lalu leluhurnya yang benar-benar hidup damai dengan Hubots.
"mereka hidup damai dan makmur, saling membantu dan menghormati. di zaman itu benar-benar damai hingga suatu hari, pemimpin mereka-..."
"memerintahkan untuk menyerang suku kami Precognition, kota Waktu itu benar-benar penuh kehancuran, bangunan kota dihancurkan oleh mereka dengan mudah" cerita Aina sambil memperlihatkan kota Precognition kacau dan hancur oleh Hubots.
"saat itu mereka mengincar «Crystal of Fate» yang dimiliki oleh leluhur kami, dikatakan kalau bola itu bisa mengubah takdir dan menjadi portal menuju River of Fate." cerita Aina yang memprihatinkan pemimpin Hubots yang melawan leluhur Aina sambil memegang «Crystal of Fate».
"River of Fate, menurut leluhur kami itu adalah tempat menampung Takdir semua orang dan alam ini."
"bentuk River of Fate seperti sungai dan ada aliran takdir yang bercabang dengan jumlah tidak terbatas." cerita Aina yang memperlihatkan River of Fate.
"jika Hubots berhasil ke tempat River of Fate, maka mereka akan mengacaukan keseimbangan takdir dan bisa menghancurkan seluruh Realms" cerita Aina yang menunjukkan penglihatan masa depan leluhur ia.
"dan kalau aku membenci Hubots karena tragedi di 5 tahun yang lalu."
"5 tahun yang lalu, aku menemukan Hubots di tengah hutan bersama ayahku yang sedang menebang dan mengumpulkan batang pohon."
"kami menemukan Hubots dalam keadaan rusak dan terluka parah di bagian perutnya, karena kasihan jadi kami membawa ia kerumah kami tanpa di ketahui warga." cerita Aina yang memperlihatkan ingatan dia bersama ayah dan Hubots tersebut.
"keluarga kami menyambut dia dengan hangat dan kenyamanan, saat itu aku berumur 11 tahun dan adikku berumur 1 tahun." cerita Aina yang memperlihatkan ingatannya dengan keluarganya dan Hubots di rumah mereka.
"dia benar-benar baik kepada kami, membantu ibu membereskan pekerjaan rumah, membantu ayah menyelesaikan tugasnya."
"menemaniku bermain dan menemani adikku yang masih balita, dia juga Baik dan hormat kepada nenek." cerita Aina yang memperlihatkan kebaikan Hubots tersebut.
"tapi itu tidak berlangsung lama, suatu hari... saat aku, ayah, ibu, Jirou dan Hubots pergi ke Padang rumput dekat hutan untuk piknik." cerita Aina yang memperlihatkan kebersamaan dia dengan keluarganya dan Hubots tersebut.
"kami awalnya sangat gembira dan penuh kebahagiaan hingga pada akhirnya..-" ingatan Aina yang awalnya bahagia menjadi malapetaka.
ingatan itu memperlihatkan Hubots tersebut yang bertarung dengan ayahnya, sementara Aina berlari bersama ibunya yang menggendong Jirou.
bomm!..
tembakan laser mengenai ibu Aina yang melindunginya.
"ughh... kamu tidak apa-apakan? Aina!." ucap ibu Aina yang menahan rasa sakit.
"kamu jangan memandangi ibu seperti itu, kamu harus terus tersenyum dan melindungi adiku kecilmu ini " ucap ibu Aina yang tersenyum dengan Mulu berlumuran darah.
ibu Aina memberikan Jirou kepada Aina, Aina menggendong Jirou yang masih balita dan wajah Aina merasa tidak percaya dengan situasi itu.
"larilah!... kalian berdua harus tetap hidup!.."
teriak ibu Aina.
bomm!....
Duarr!...
tembakan laser mengenai ibu Aina dan ibu Aina terpental menghantam pohon hingga tumbang pohon tersebut.
Hubots tersebut berjalan mendekati Aina dan Jirou yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"terimakasih adik kecil, berkat pertolonganmu... aku kembali pulih dan bisa mengalahkan ayahmu" ucap Hubots tersebut dengan suara berat.
"ini adalah balasan yang tepat karena kau telah menolongku, dan tamatlha riwayatmu" ucap Hubots tersebut yang mengaktifkan Gun tangan kanannya.
Whoosh!...
bomm!...
"arghh... sialan kau! aku akan datang kembali!" ucap Hubots tersebut yang mengubah dirinya menjadi pesawat tempur dan terbang menjauh ke udara.
"pergilah.. Jangan harap kau bisa datang kesini lagi!" teriak laki-laki tua.
lelaki tua itu mendekati Aina yang merasa tidak percaya dan matanya seperti tatapan kekosongan.
"kau tidak apa-apa nak?" tanya lelaki tersebut.
Aina hanya mengangguk sementara Jirou menangis dengan kencang.
"syukurlah.. kalau begitu, aku akan mengantarkanmu pulang ke rumahmu."
"tenang saja, semua bakal baik-baik saja." ucap lelaki tersebut yang menggandeng tangan Aina.
Aina hanya mengikutinya sambil menggendong Jirou yang menangis.
"saat itu aku merasa putus harapan dan tidak menerima semua hal tersebut, ayah dan ibuku di bunuh didepan mataku sendiri"
"aku benar-benar menjadi kosong tapi pria tersebut menyemangatiku hampir setiap hari." cerita Aina yang memperlihatkan dia di Semangati oleh pria tersebut.
__ADS_1
"aku saat itu hanya bisa melihatnya tanpa berkata apa-apa hingga dia mengucapkan kalimat itu"
Aina memperlihatkan pria tersebut yang duduk disamping Aina, mereka berdua duduk di depan halaman rumah di rumput yang hijau.
"nak... ingatlah hal ini, kasih sayang dan cinta bisa menjadi suatu kebencian dan penghianatan,-"
"walaupun kau sudah dikhianati dan kehilangan orang yang kau cintai... tapi kau harus tetap hidup supaya bisa menjadi apa yang diinginkan oleh orang yang kau cintai itu."
"gunakan rasa cintamu untuk tetap hidup dan melawan orang yang dulu mengkhianatimu atau membuatmu kehilangan orang yang kau cintai." kata-kata bijak dari lelaki itu yang membuat Aina kembali memiliki senyuman dan harapan.
"saat aku mendengar kata-kata itu, aku terus berjuang menjadi kuat dan melatih seni pedangku untuk melindungi keluargaku ini." cerita Aina yang memperlihatkan dia sedang berjuang.
"aku melakukan apapun demi menjadi kuat, aku bergabung dengan Pasukan Precognition dan menjadi Ketua divisi disana." cerita Aina yang memperlihatkan dia di angkat menjadi ketua divisi.
"aku terus mengunjungi makam ayah dan ibu untuk mendoakan mereka bersama nenek dan Jirou." cerita Aina yang memperlihatkan dia ke makam ayah dan ibunya.
cerita Aina pun selesai dan mereka kembali ke alam nyata, mereka berdua membuka mata mereka dan saling memandang satu sama lain.
"bagaimana? kamu sudah senang dengan jawabannya?" tanya Aina dengan wajah yang ingin menangis.
"a-aku... aku senang dan juga turut sedih dengan kisahmu..."
"aku tidak menyangka, kalau kau adalah wanita yang kuat!" ucap Sotaru yang merasa bersalah.
"iya, terimakasih..." ucap Aina yang benar-benar ingin menangis dan butuh tempat untuk menangis.
"jika kau ingin menangis, maka aku bersedia untuk menjadi untuk menjadi tempat kau menangis" ucap Sotaru.
"terimakasih dan tolong bantuannya!"ucap Aina yang langsung memeluk Sotaru dengan wajah menghadap ke dada kiri Sotaru.
Sotaru memeluk dan mengelus rambut Aina untuk membiarkan dia mengeluarkan kesedihannya yang telah lama ia pendam.
beberapa saat kemudian...
Aina melepaskan pelukannya dan duduk disamping Sotaru sambil mengelap Air matanya dengan tangan kanannya.
"terimakasih Sotaro, kamu sudah mau menjadi tempat untuk aku mengeluarkan semua kesedihanku..." ucap Aina yang tersenyum senang.
"sama-sama Aina, dan sekarang aku akan menyelesaikan Kesalahpahaman ini!" ucap Sotaru.
"kesalahpahaman, apa maksudmu?" tanya Aina.
"kesalahpahaman tentang Hubots yang di anggap menghancurkan suku dan orang tuamu" jawab Sotaru.
Ainan tetap bingung dengan jawaban Sotaru, dia terus melihat Sotaru dengan kepikiran dan kebingungan.
"biar aku jelaskan.. dari ceritamu, kalau robot yang menyerang suku dan orang tuamu adalah Decton!" ucap Sotaru yang menjelaskan.
"Decton? apa itu? dan apa hubungannya dengan Hubots dan Decton?" tanya Aina yang kurang paham.
"begini... Decton adalah ras yang sama dengan Hubots, mereka sama-sama robot tapi dari dua misi yang berbeda!"
"Decton memiliki misi untuk menjadi militer dan pasukan pertahanan untuk menjaga ras Hubots, sementara Hubots memiliki misi untuk mengembangkan teknologi dan menciptakan teknologi baru..."
"kami hidup berdampingan hingga suatu hari, mereka ingin mengambil Box Tekno yang dimana itu kubus yang bisa membuat penggunanya menciptakan dan mengendalikan teknologi."
"tapi pemimpin kami langsung mengusir mereka dan mereka Menghilang entah kemana."
"Mungkin kau bingung dengan Decton tercipta oleh siapa, tentu saja dari pemimpin kami Leader of Hubots atau Salah Satu 5 Dewa Utama!."
"pemimpin kami menciptakan Decton bertujuan seperti yang aku katakan sebelumnya..."
"oh.. tapi bagaimana kau bisa membuktikan kalau robot yang menyerang kami adalah Decton?" tanya Aina yang mulai paham dan ingin tahu cara membedakan kedua hal tersebut.
"mudah... dilihat dari Warna mata, Warna Besi armor, dan penampilan. Decton memiliki mata berwarna merah menyala, memiliki besi armor berwarna silver putih dan berpenampilan seram dan layaknya pasukan tentara!" ucap Sotaru yang memperlihatkan hologram Decton dan Hubots.
"sementara Hubots memiliki warna mata biru, armor besi berwarna bebas, dan penampilan ramah dan layaknya ilmuwan." ucap Sotaru.
"contohnya seperti aku yang tadi memperlihatkan wujud robotku dan pemimpin Decton yang menyerang orang tuamu!" ucap Sotaru yang memperlihatkan Hologram pemimpin Decton dan dirinya.
"pemimpin? jadi dia adalah pemimpin Decton?" tanya Aina yang kaget dan terkejut.
"iya... dia adalah pemimpin Decton yang dipilih oleh Leader of Hubots, aku bisa mengetahuinya karena dari penampilan dia aja." jawab Sotaru.
"jadi begitu ceritanya, akhirnya aku mengetahui kebenaran yang sebenarnya...-"
"robot yang menghancurkan kota dan kebahagiaan keluargaku.." ucap Aina yang penuh amarah.
"tenanglah Aina, aku yakin kau bisa menahan amarahmu dan aku benar-benar minta maaf." ucap Sotaru yang menenangkan Aina dengan menepuk bahu kanannya.
"iya.. terimakasih Sotaru dan kau tidak perlu minta maaf..."
"aku harus memberikan informasi ini ke markas besar, supaya kamu tidak di curigai terus dan membersihkan nama baikmu" ucap Aina.
Aina langsung menghubungi markas pusat untuk memberitahu informasi penting tersebut.
beberapa menit kemudian.....
Aina selesai melapor kepada atasan dan mereka mempercayainya, mereka langsung bergegas untuk menangkap Decton karena mendapat penampilan mereka dari Sotaru.
Aina menutup komunikasinya dan tersenyum senang.
"akhirnya.... kesalahpahaman ini sudah selesai dan sekarang, ayo kita kembali ke dalam untuk makan malam." ucap Aina yang menggandeng tangan kiri Sotaru.
Sotaru hanya tersenyum dan ikut bersama dengan Aina masuk ke dalam rumah. mereka berjalan berdua seperti layaknya pasangan kekasih yang baru saja baikan.
“Decton, seperti kalian sudah membuat banyak masalah apalagi membuat nama baik Hubots menjadi buruk.”
“apalagi kalian sudah menghancurkan hubungan keluarga Aina, tentu saja aku tidak terima...” batin Sotaru yang penuh dengan amarah.
“tunggu saja kalian, malam ini kita akan menyelesaikan masalah yang telah aku buat selama seribu tahun dan malam ini juga, kau Aina akan mendapatkan apa yang layaknya kamu dapatkan.”
“tunggulah sebentar lagi, maka kau akan kembali kepada keluargamu dan aku benar-benar minta maaf karena ulahku, Kau kena dampaknya.” batin Sotaru yang terus menatap Aina yang menggandeng tangannya tanpa sadar.
“Eiji..” panggil Sotaru melalui pikiran.
“Iya.. aku sudah tahu semuanya, jadi nanti malam kita akan menyelesaikannya dengan mereka?” tanya Eiji melalui pikiran.
“Tentu saja... kita akan berpesta malam ini..” ucap Sotaru dengan senang Melalui pikiran.
“baiklah, aku jadi tidak sabar..” ucap Eiji yang semangat.
Sotaru menutup komunikasi telepatinya dan mereka berdua masuk ke dalam rumah yang langsung disambut oleh nenek Harumi.
"selamat datang kembali..-"
" wahh... sepertinya ada yang baru saja menjadi pasangan.." ucap bercanda nenek Harumi.
"ehh.. eegghhh... tidak ada kok nek." ucap Aina yang pipinya memerah.
"benarkah? terus, kenapa kalian bergandengan tangan?" ucap nenek Harumi yang menggoda Aina.
Aina langsung melepaskan gandengannya dengan cepat.
"ehh... ini cuman gandengan tangan tidak sengaja kok, nek.." ucap Aina yang wajahnya pipinya memerah dan wajah yang malu.
"hehehe... kamu memang lucu, kalau sedang malu dan di godain." ketawa kecil nenek Harumi.
"nenek..."
"sudahlah, ayo kita makan malam.." ucap Aina yang langsung bergegas ke meja makan.
"hehehe... Aina memang cucu perempuanku yang lucu seperti ayahnya." ketawa kecil nenek Harumi.
"dan dia memang pantas mendapatkan laki-laki sepertimu Sotaru." ucap nenek Harumi.
"eh? aku? maksudnya nenek aku?" tanya Sotaru yang terkejut tiba-tiba di bicarakan oleh nenek Harumi.
"tentu saja kamu, kamu adalah satu-satunya laki-laki yang pantas dan Baik untuk Aina."
"Jirou sudah menceritakan tentang dirimu, saat kalian berdua keluar rumah." ucap nenek Harumi.
"hehehe... nenek jadi tahu aku sebelum aku cerita tentang diriku." ketawa kecil Sotaru sambil menggaruk kepalanya.
"iya.. kamu memang anak baik, walaupun kamu seorang Hubots sekalipun, nenek yakin kamu memang layak untuknya." ucap nenek Harumi.
"sepertinya begitu..-"
"Eh? sebentar, nenek bagaimana tahu kalau aku adalah Hubots?" tanya Sotaru yang terkejut dengan ekspresi lucunya.
"tentu saja tahu, nenek bisa melihat identitas asli dari seseorang melalui mata nenek, apalagi nenek bisa mendengar percakapan kalian dengan jelas." jawab nenek Harumi.
"wah...-"
"nenek memang hebat dan nenek seperti sudah mengetahui kebenarannya." ucap Sotaru.
"iya.. tapi nenek juga sebenarnya sudah tahu kalau, Decton yang menyerang orang tua Aina, anak nenek." ucap nenek Harumi.
"maksudnya, nenek? jadi nenek sudah tahu? tapi kenapa nenek tidak memberitahu orang tua Aina?" tanya Sotaru yang terkejut.
"nenek hanya mengikuti takdir yang diberikan, nenek hanya sebatas melihat tapi nenek tidak mengubahnya karena tahu, akhirnya seperti apa." jawab nenek Harumi.
"oh.. nenek benar-benar wanita yang bijak, aku tidak menyangka Aina beruntung memiliki nenek seperti ini." ucap Sotaru sambil tersenyum.
"terimakasih dan ayo, mari kita makan malam." ucap nenek Harumi. mereka semua berkumpul di meja makan.
Sotaru yang duduk, merasakan kehangatan dan kenyamanan Keluarga Harumi, walaupun sederhana tapi cinta mereka melebihi keindahan Emerald.
mereka benar-benar Keluarga bahagia saat mereka makan malam.
__ADS_1
Selanjutnya.....