
Malam hari yang indah di kota Precognition, ditengah jalan menuju bukit, terdapat Festival yang besar di sepanjang jalan.
Banyak orang-orang yang datang ke festival tersebut dan juga banyak orang yang jualan di toko mereka masing-masing.
sementara dirumah Harumi, Sotaru sedang mencoba kimononya yang diberikan oleh Nenek Harumi, dia mencoba Kimono di dalam kamar orang tua Aina.
Sotaru berjalan keluar dari kamar dan terlihat memakai kimono biru motif bunga, ia terlihat tampan dan ganteng dengan rambut pirang, mata biru bersinar.
"wah.. kakak Sotaru sangat tampan dengan kimono peninggalan ayah." ucap Jirou yang terkagum.
"wah-wah.. memang mirip kalian berdua, aku tidak menyangka bisa melihat kimono ini terpakai lagi dan terlihat cocok untukmu." ucap nenek Harumi yang senang.
"benarkah? aku juga merasa cocok dengan kimono ini, tapi aku juga merasa familiar dengan kimono ini." ucap Sotaru sambil melihat-lihat kimono yang ia pakai.
Krekk!...
bunyi suara pintu terbuka dari kamar Aina, Aina berjalan keluar dari pintu kamarnya dengan Kimono Merah motif bunga.
Aina terlihat cantik dengan rambut hitam panjang dan mata merah yang bersinar, Sotaru hanya terkejut melihat kecantikan Aina saat memakai kimono.
Aina hanya merasa malu, memakai kimono peninggalan ibunya. pipi dia merah saat dilihatin oleh Sotaru yang terkejut dan terpesona.
"kenapa kamu melihatku seperti itu? apakah aku tidak cocok memakai kimono ini?" tanya Aina yang langsung membuat Sotaru tersadar dari terpesonanya.
"eh-eh... tidak seperti itu, aku hanya terpesona dengan kecantikan dirimu saat memakai kimono, benarkan Jirou?" jawab Sotaru yang langsung memberikan pertanyaan kepada Jirou sebagai pengalihan saja.
"iya kok kak, Kakak Aina sangat cocok dengan kimono tersebut, memang benar-benar kakakku yang cantik." jawab Jirou yang memuji kecantikan Aina.
Aina mendengar hal itu, hanya bisa tersipu malu dan pipi memerah. nenek yang melihat Aina memakai kimono ibunya pun langsung mengeluarkan sedikit air mata.
"nenek, kenapa? kenapa, nenek menangis?" tanya Aina yang khawatir karena melihat nenek Harumi mengeluarkan air mata.
"tidak apa-apa, hanya saja nenek senang karena kimono peninggalan orang tua kalian, bisa dipakai kembali." jawab nenek Harumi yang mengusap air matanya.
"nenek... " ucap bersama Jirou dan Aina yang langsung saja mereka memeluk nenek Harumi.
Sotaru hanya bisa tersenyum melihat keluarga mereka bahagia walaupun tidak sempurna.
“benar-benar keluarga yang bahagia, aku ingin melindungi senyuman mereka walaupun aku bukan siapa-siapa mereka” batin Sotaru yang sambil tersenyum melihat keluarga Harumi berpelukan.
“mesti aku bukan siapa-siapa mereka, tapi entah mengapa aku merasa memiliki ikatan batin dengan mereka bertiga.” batin Sotaru yang memikirkan perasaannya.
"baiklah, sudah cukup bersedihnya... mari kita ke acara festival gerhana bulan dan kita akan bertemu dengan orang tua kalian dari alam sana." ucap nenek Harumi yang melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.
Aina dan Jirou juga melepaskan pelukannya, mereka mengusap air mata mereka.
"baiklah Nek..." ucap Aina yang tersenyum.
"Kalau begitu, mari kita pergi bersama..." ucap Sotaru yang langsung menggandeng tangan kanan Aina.
Aina yang digandeng tangannya, langsung pipinya memerah dan tersipu malu.
nenek Harumi menggandeng tangan Jirou, supaya Sotaru dan Aina memiliki waktu untuk berduaan dan bisa saling mengenal satu sama lain.
mereka keluar rumah dan berjalan menuruni bukit untuk ke festival yang berada di jalan menuju bukit tempat para jiwa rob yang sudah mati kembali ke dunia ini.
di Festival, ramai warga yang berdatangan. Lampung lentera berada di tali di atas sepanjang jalan, warung-warung kecil yang beraneka macam jualan.
Sotaru, Aina, Jirou dan nenek Harumi berjalan melihat-lihat dan menikmati kemeriahan festival tersebut.
Jirou jajan di salah toko permen, Sotaru memainkan permainan bola lempar ke botol. Sotaru melemparkan bola tersebut yang menjatuhkan tumpukan botol.
Sotaru mendapatkan Boneka Hiu yang diberikan oleh Jirou, Jirou memegangnya dengan erat dan mengucapkan terimakasih kepada Sotaru.
sementara Aina memainkan tangkap ikat menggunakan saringan tipis, dia mencoba berkali-kali tapi tetap gagal hingga Sotaru berhasil menangkap 10 ikan dan diberikan kepada Ainan.
Aina yang menerimanya tersipu malu sementara Sotaru hanya tersenyum melihat Tingkah Aina.
mereka berempat berjalan hingga menemukan Eiji, Nasywa dan Mizu yang sedang berjalan bertiga bersama.
"Eiji...." panggil Sotaru.
Eiji mendengar suara tersebut dan mencari sumber suara tersebut, dia melihat ke arah belakangnya yang ada Sotaru bersama lainya.
"Sotaru..." panggil balik Eiji.
Sotaru, Aina , Jirou dan nenek Harumi berjalan mendekati Eiji, Nasywa dan Mizu yang berada di depan mereka.
"wah.. ternyata kalian berada disini." ucap Sotaru yang sambil melihat mereka bertiga.
"hehehe... aku juga tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini walaupun saat ini kau sedang membawa calon istri." ucap Eiji yang menggoda Sotaru dengan senyuman lebarnya.
"ada ada aja kau, oh iya.. perkenalkan ini adalah nenek Harumi, Jirou dan Aina." ucap Sotaru memperkenalkan mereka bertiga.
__ADS_1
"salam kenal..." ucap bersama keluarga Harumi dengan sopan.
"salam kenal juga, namaku adalah Eiji, ini Nasywa dan ini adalah Mizu. mereka berdua adalah tunanganku." ucap Eiji yang memperkenalkan dirinya dan kedua tunangan.
"salam kenal semuanya" ucap hormat bersama Nasywa dan Mizu.
"salam kenal juga, semoga kita bisa saling membantu." ucap balas hormat nenek Harumi.
Nasywa melihat Jirou yang sedang bergandengan tangan dengan nenek Harumi.
"wahh.... lucu sekali, jadi pengen aku cubit pipinya..." ucap Nasywa yang tersenyum senang melihat Jirou.
"hihihi... terimakasih kakak-..."
"oh, namaku adalah Nasywa, jadi panggil aku kak Nasywa yah."ucap Nasywa yang benar-benar terasa senang dan gembira.
Nasywa benar-benar terlihat cantik dengan rambut panjang lurus ungu, mata ungu bersinar dan kimono ungunya.
Jirou benar-benar terpesona dengan kecantikan Nasywa saat melihatnya.
"oke, namaku adalah Jirou kak Nasywa." ucap Jirou yang benar-benar imut.
Nasywa yang melihat benar-benar seperti orang yang gembira, dia langsung memeluk Jirou dan menggendongnya dengan mudahnya.
Eiji yang melihat Nasywa, Hanya bisa tersenyum dan bisa merasakan keibuan dari dalam diri Nasywa.
"eh... kenapa kakak menggendongku? aku kan bisa berjalan sendiri.." tanya Jirou yang penasaran melihat tingkah Nasywa.
"tidak apa-apa, hanya saja. kakak ingin menggendongmu karena kamu sangat imut, kakak Seperti ingin menggendong adik sendiri walaupun tidak punya." jawab Nasywa yang penuh gembira dan kegirangan.
"oh... baiklah..." ucap Jirou sambil tersenyum imut.
Nasywa yang melihat senyuman imut tersebut, langsung mencium pipi Jirou secara terus menerus.
Jirou hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil, Sementara yang lainnya hanya bisa melihat tingkah Nasywa.
"sepertinya, Nasywa benar-benar terlihat gembira, aku jadi merasa ingin punya adik." ucap Mizu.
"hmm... benarkah? aku rasa kau cocok menjadi seorang ibu ketimbang kakak." ucap Eiji yang menggoda Mizu.
Mizu yang mendengarnya langsung memerah wajahnya karena malu dan berdebar hatinya.
"Eiji, bodoh..." ucap Mizu yang merasa malu.
"hehehe..." ketawa kecil Eiji yang lucu melihat tingkah Mizu.
disini Mizu benar-benar cantik dengan rambut perak panjangnya yang diikat, mata biru bersinar dan kimono putih motif kupu-kupunya.
saat dia tersenyum dan melirik Eiji, kupu-kupu beterbangan di sekitarnya atau mengelilingi Mizu.
"wahh... sepertinya kalian bersenang-senang sampai lupa ada kami di samping kalian." ucap Sotaru.
"hehehe Iya, kami terlalu terbawa suasana." ucap Mizu sambil menggaruk kepalanya.
"he-he-he... sudahlah, Lebih baik kita ke bukit untuk berdoa di dekat kuil dan bertemu dengan para roh jiwa yang akan datang ke kuil nanti..." ucap Sotaru yang memegang erat tangan Aina.
Aina yang merasakan hal tersebut, langsung pipinya memerah dan hati berdebar.
Sotaru sedikit kebingungan melihat Tingkah Aina yang cuman di gandengan tangannya.
"ada denganmu Aina? kau kurang enak badan?" tanya Sotaru yang sedikit khawatir karena melihat wajah Aina yang memerah.
"e-ehh... tidak apa-apa, dan kau sangat bodoh..." ucap salah Aina yang gugup.
nenek Harumi hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah cucunya yang malu di gandengan tangannya oleh Sotaru.
mereka bertujuh akhirnya berjalan menuju bukit yang ada kuil kuno, mereka berjalan melewati banyak ragam makanan yang tentu saja Sotaru langsung mampir dan membeli makanan jagung bakar.
dia membeli 7 untuk mereka termasuk dirinya, mereka bertujuh berjalan bersama sambil memakan jagung bakar yang diberikan Sotaru.
Jirou yang makanannya belepotan pun, langsung di elap dengan jari Nasywa yang menggendongnya.
di jalan menuju bukit, ramai warga yang juga ikut berjalan menuju bukit bersama mereka, ada yang membawa lampu lentera, ada juga yang membawa keluarga mereka.
sementara di bukit kuil kuno, para Decton sedang bersiap dan bersembunyi di balik pepohonan yang lebat.
mereka melihat para warga yang sedang berjalan menuju kuil kuno dari kejauhan menggunakan mata canggih mereka.
"tuan, sepertinya mereka sudah semakin dekat ke tempat kuil." ucap Sector dengan senyuman jahatnya.
"yah.. kau benar, aku tidak sabar untuk menghabisi mereka semua. hahahaha...." ucap Gracton yang tersenyum dan tertawa jahat.
__ADS_1
"sekarang, kau pimpin pasukan untuk menyerang kota, buat kehancuran di sana dan ambil «Crystal of Fate» secara kejam." ucap Gracton dengan mulut kejam dan besarnya.
"baiklah tuanku, aku akan segera kembali sambil membawa kristal tersebut." ucap hormat Sector.
sector Langsung lompat dan berubah menjadi pesawat tempur luar angkasa, dia langsung terbang sambil mengunakan mode invisibility dengan diikuti para Decton lainnya.
Gracton terus melihat para warga dan akhirnya dia melihat Sotaru yang sedang berbicara dengan Aina.
dia sedikit terkejut setelah melihat identitas asli Sotaru menggunakan mata canggihnya.
"tidak aku sangka, ternyata kau berada disini-.."
"dan juga aku tidak menyangka kau bersama dengan cucumu, ayah."
"aku tidak sabar untuk bertemu dan bertarung denganmu, aku akan buktikan kalau aku lebih kuat dan lebih layak dibandingkan dirimu." ucap sombong Gracton.
Gracton tersenyum jahat selama berjalan menuju belakang bebatuan besar yang berada dibelakang kuil kuno.
para Gerombolan warga akhirnya sampai di depan kuil kuno, mereka berkumpul dan melihat bulan yang mendekati Phase gerhana total.
"wahh... benar-benar indah bulannya, aku tidak menyangka akan melihat gerhana bulan lagi." ucap kagum Sotaru sambil melihat bulan yang sedang dalam phase gerhana total.
"kau benar, saat fenomena gerhana bulan total, disitulah Goddess of moon terbangun dan mendengarkan doa-doa para warga..."
"dia senang mendengar doa-doa para makhluk hidup dan disitulah dia akan membukakan pintu alam kematian..."
"disitulah momen kita akan bertemu dengan jiwa roh orang kita sayangi telah tiada.." ucap Aina yang tersenyum karena tidak sabar melihat orang tuanya kembali.
Sotaru yang melihatnya terpesona karena Aina benar-benar cantik dibawah gerhana bulan ini, Sotaru langsung menggenggam erat tangan Aina.
Aina yang merasakan, langsung melihat Gendengan tangan Sotaru dan setelah itu dia melihat wajah Sotaru.
"So... Taru...." ucap Aina dengan jantung yang berdebar dan terpukau melihat wajah Sotaru.
"hmm... ada apa? kau seperti terpukau dengan ketampananku?" ucap Sotaru yang bangga diri.
"eh.. tidak, bukan seperti itu..." ucap Aina yang merasa malu dan memalingkan pandangannya ke arah kiri.
"oh.. baiklah kalau begitu, aku semakin yakin kau terpukau dengan diriku." ucap Sotaru yang benar-benar merasa diri tampan.
“Dasar diriku, bisa-bisanya aku memandangi dia, sekarang dia malah menjadi bangga diri yang membuatnya terlihat memukau.” batin Aina yang benar-benar tersipu malu.
Gerhana bulan sudah sampai titik dimana bulan berwarna merah terang di langit malam yang ada Bintang-bintang.
pemandangan yang benar-benar memanjakan mata. semua orang menunduk kepala mereka dan mengangkat tangan mereka untuk berdoa.
mereka menutup mata mereka dan berdoa didalam hati kepada Goddess of moon, suasana benar-benar sunyi dan tenang.
“Eiji... apakah kau akan berdoa kepada Goddess of Moon itu?” tanya Sotaru melalui pikiran.
“Tentu saja tidak, kita berdua beda kepercayaan dengan mereka, apalagi-...”
“kenapa aku harus berdoa kepada Dewi mereka yang dimana derajat kita lebih tinggi darinya...” jawab Eiji melalui pikiran.
“yah, kau benar... lebih baik kita berdoa kepada Tuhan yang menciptakan kita, walaupun sekarang kita berada di dunia lain...”
“dia pasti mendengar doa kita karena dia zat pendengar...” ucap Sotaru melalui pikiran.
“iya kau benar, semoga doa kita dikabulkan, aku ingin cepat-cepat kembali ke bumi dan memastikan keadaan orang tuaku..” ucap Eiji melalui pikiran.
Sotaru dan Eiji mengangkat kedua tangannya dengan menunjuk telapak tangan mereka, mengangkat kepala mereka ke langit.
“Dewi bulan, aku harap kau mendengar doaku..."
"aku berharap hari ini bisa bertemu dengan orang tuaku kembali, aku juga ingin supaya bisa membuat keluargaku bangga..."
"aku juga ingin mengabulkan keinginan ayah, yaitu mendapatkan kekasih yang mirip dengan dia dan menikah dengannya..."
"aku tahu, jika aku tidak mungkin bisa mendapatkan karena dia sudah ditakdirkan bersama perempuan lain, tapi aku ingin tetap menyampaikan perasaanku ini..." doa Aina di dalam hati atau batinnya.
semua orang juga berdoa, Mizu dan Nasywa mendoakan hal yang sama, yaitu “aku ingin bersama dengan Eiji, menikah dengan Eiji dan berkeluarga bahagia bersama Eiji.”
sementara Sotaru berdoa kepada Tuhannya, yaitu “aku ingin diizinkan untuk melakukan sesuatu, di permudahkan perbuatannya dan di ampuni dosa karena melakukan hal yang melanggar.”
Eiji juga berdoa “ untuk aku bisa membawa pulang seluruh Player ke bumi, aku juga ingin keadaan keluarganya sehat dan selamat di bumi, aku juga berharap untuk di permudahkan segala urusannya.”
namun...
Duarr!....
kedamaian itu berakhir dengan suara ledakan yang berasal dari tembakan laser Gracton.
"hahahaha... riwayat kalian sudah tamat.." ketawa jahat Gracton.
Gracton berdiri di bebatuan besar yang berada di belakang kuil kuno, dia merasa bangga dan senang karena warga kota telah tiada akibat Tembakannya.
__ADS_1
Selanjutnya......