
***
(Flash back)
Dalam sebuah peristiwa yang mengejutkan, benua tempat tinggal para dewa terguncang hebat saat busur dewa bergetar dengan ganas. Gelombang energi yang kuat dan dahsyat memancar keluar, menciptakan kegemparan di antara para dewa yang terdiam dalam kehidupan mereka yang abadi.
Kekuatan Busur Dewa, sebuah sumber energi ilahi yang melampaui pemahaman manusia, tak pernah sebelumnya merasakan getaran sebegitu dahsyat. Para dewa yang terpanggil oleh fenomena yang tak biasa ini dengan cepat berkumpul di tempat tersebut, bingung dan ingin mengetahui penyebab terguncangnya benua yang mereka sebut sebagai rumah.
Seperti cahaya yang menarik ngarai malam, para dewa berhimpun dalam keadaan tegang dan cemas. Mereka membawa kearifan dan kekuatan masing-masing, siap untuk memecahkan misteri di balik gelombang energi yang meresap ke jiwa mereka yang abadi.
Di antara kecemasan dan keheranan mereka, terdengarlah bisikan langit yang merdu, memberikan petunjuk bahwa perubahan besar sedang terjadi. Mungkin kekuatan luar biasa telah terbangun, atau ada perubahan penting yang akan mengguncang keberadaan mereka yang tak terbatas.
Dalam momen itu, para dewa dengan rasa ingin tahu yang tak terbendung dan kekuatan yang tak terhingga saling berbagi pengetahuan mereka. Mereka berdebat, mencoba mengaitkan petunjuk-petunjuk yang ditemukan dalam pikiran mereka yang bijaksana. Pada saat yang sama, mereka merasakan harmoni dan kesatuan yang tak tertandingi, menyatukan kemampuan dan pengetahuan mereka untuk menguak misteri ini.
Seiring waktu berjalan, penemuan dan pemahaman mereka bertambah. Mereka menyadari bahwa gelombang energi yang kuat ini adalah suatu pertanda akan perubahan yang tak terelakkan. Terguncangnya benua mereka adalah tanda bahwa tugas baru dan tantangan yang luar biasa sedang menanti mereka.
Dalam semangat persatuan, para dewa bersiap-siap menghadapi masa depan yang belum terungkap. Mereka menyalakan api pengetahuan mereka, membawa cahaya bagi kegelapan yang mungkin ada di hadapan mereka.
Dalam kejernihan pikiran dan tekad yang kuat, mereka bersumpah untuk melangkah maju, menghadapi apa pun yang mungkin menanti mereka di dunia yang luas ini.
Terguncangnya benua atas tempat tinggal para dewa dan getaran Busur Bewa telah mengguncang keyakinan mereka yang abadi. Namun, dengan tekad dan persatuan yang tak tergoyahkan, mereka siap untuk menjalani perjalanan baru yang akan membawa mereka lebih dekat pada pengetahuan, kebijaksanaan, dan misteri yang melingkupi dunia mereka.
Di sisi lain, Dewi perang Liu Yanran merasa ketenangannya terganggu oleh kemunculan busur dewa yang mendebarkan. Gelombang kuat yang dihasilkan oleh Busur Dewa itu mengguncang alam atas, menciptakan kekacauan di sekitarnya.
__ADS_1
Meskipun Liu Yanran biasanya tenang dan penuh keberanian dalam menghadapi segala macam tantangan, gelombang kuat ini membuat hatinya tidak nyaman dan kekhawatirannya tumbuh.
Saat melihat Busur Dewa yang memancarkan energi tak terkendali, Liu Yanran menyadari bahwa tindakan segera diperlukan untuk mengembalikan ketenangan yang hilang. Dia merenung sejenak, mencari cara untuk menenangkan alam dan meredakan kekuatan yang berbahaya ini.
Dengan pengetahuannya tentang seni raga dan spiritualitas, Liu Yanran memutuskan untuk menggunakan meditasi untuk menenangkan dirinya sendiri dan meredakan gelombang kuat yang merusak alam. Dia mendudukkan dirinya di tanah, menutup matanya, dan memusatkan pikirannya pada energi alam yang memenuhi sekitarnya.
Dalam meditasi yang dalam, Liu Yanran membayangkan dirinya menjadi satu dengan alam. Dia mengalir bersama angin, merasakan getaran bumi di bawahnya, dan merasakan denyut energi yang mengalir melalui setiap pohon dan tanaman di sekitarnya. Dengan pernapasan dalam dan perlahan, dia menyerap energi alam ini ke dalam dirinya, menciptakan keseimbangan dan kedamaian.
Sementara itu, Liu Yanran juga memusatkan perhatiannya pada Busur Dewa yang masih memancarkan gelombang kuat. Dengan kekuatan pikirannya yang fokus, dia mengirimkan energi ketenangan ke busur dewa, mencoba meredakan kekuatannya yang memuncak.
Melalui meditasi dan pengaruhnya yang kuat sebagai dewi perang, Liu Yanran perlahan-lahan meredakan gelombang kuat yang mengguncang alam.
Busur Dewa pun mulai mengurangi intensitasnya, hingga akhirnya hilang sama sekali. Alam kembali tenang, dan Liu Yanran merasa lega melihat keberhasilan usahanya untuk mengembalikan keseimbangan.
.
.
.
Di tengah keheningan yang suram, Kaisar Dewa merasa kekalutan melanda alam atas yang dia kuasai. Guncangan dahsyat dari Busur Dewa telah menggetarkan inti keberadaannya, mengirimkan getaran yang menembus batas-batas dimensi.
Dalam keheningan yang menggelayuti kegelapan, Kaisar Dewa merasakan ancaman yang nyata. Keyakinannya terpatri dalam hati, musuh utamanya pasti telah memulai perjalanan yang berbahaya menuju kehancuran Segel Dewa yang dirajutnya dengan kekuatan yang tak terbayangkan.
__ADS_1
Segel Dewa, pilar terakhir yang mempertahankan keseimbangan alam atas, merupakan titik fokus perjuangan Kaisar Dewa dalam mempertahankan kekuasaannya.
Dengan kebijaksanaan dan kekuatan yang luar biasa, dia telah menanamkan segel ini sebagai tameng terakhir melawan segala kekacauan yang mengancam keberadaan alam atas. Namun, getaran dari Busur Dewa telah membangunkan naluri Kaisar Dewa, meramalkan kedatangan bahaya yang tak terhindarkan.
Dalam kegalauan yang merayap dalam pikirannya, Kaisar Dewa mengingat kembali sejarah panjang perjuangannya. Dia telah melawan kegelapan tak berujung dan menghadapi musuh-musuh yang tak terhitung jumlahnya.
Namun, perasaan tegar dan keyakinan dalam hatinya tak pernah goyah. Kekuatannya adalah sebuah peninggalan yang menjadi beban tanggung jawabnya untuk melindungi dan mempertahankan kedamaian alam atas.
Kini, dengan hati yang berdebar-debar, Kaisar Dewa meyakini bahwa musuh utamanya telah memulai perjalanan berbahaya untuk menghancurkan Segel Dewa yang berharga. Keinginannya untuk mencegah kehancuran melampaui segala batas, mendorongnya untuk segera bergerak. Membebaskan diri dari kekalutannya, Kaisar Dewa mengumpulkan kekuatan terakhirnya dan bersiap menghadapi ancaman yang menyerang.
Dalam perjalanan yang melintasi alam yang misterius, Kaisar Dewa menghadapi rintangan tak terbayangkan. Dia melewati lautan emosi yang ganas, melintasi lembah keputusasaan, dan menantang angin badai yang membelenggu. Meskipun tak terlihat, musuh utama itu menjadi semakin nyata dalam benaknya. Tapi Kaisar Dewa tidak menyerah.
Akhirnya, setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan, Kaisar Dewa tiba di tempat tujuan. Segel Dewa terpampang di hadapannya, rapuh namun kuat. Dia melihat bekas-bekas kekuatan musuh yang mencoba merobeknya. Tanpa ragu, dengan penuh kehati-hatian, Kaisar Dewa memulai proses memperbaiki segel yang rusak dengan kekuatan terakhirnya.
Kemunculan busur dewa membuat fenomena besar, dimana terguncangnya tiga alam yang dihuni oleh para ib*is, Dewa dan juga manusia. Hal itu tentu saja membuat kekalutan dan ketakutan yang semakin nyata di hati setiap orang, sementara untuk Ratu ib*is dan juga Dewi perang Liu Yanran, itu merupakan pertanda baik, karena pria tercinta yang selama ini ditunggu selama ribuan tahun akhirnya kembali.
"Selamat datang, suamiku!"
Dewi perang Liu Yanran akhirnya bisa tersenyum dengan sangat manis, setelah ribuan tahun dia terpenjara dalam sepi, menunggu sang suami kembali. Dia masih belum mengetahui, kemana nasib akan membawanya dan siapa yang merupakan reinkarnasi dari dewa naga keabadian?
***
Sementara di suatu tempat yang tersembunyi, ada seseorang yang tengah ketar-ketir, dia menyadari bahwa saat ini bayi yang telah dilemparkannya menuju alam menengah, telah beranjak dewasa. Dia pasti akan memulai perjalanan untuk menemukan kekuatan sejatinya, sebagai seorang titisan dewa.
__ADS_1
Meskipun dia telah menanamkan segel dalam dantian pemuda itu, namun cepat atau lambat dia pasti akan kembali menemukan cara untuk mengembalikan dantiannya dan membalas dendam terhadapnya.