
Setelah kekacauan yang terjadi akibat pertempuran sengit di Desa Nanggong, Xu Yuan dan kedua Tuan Muda Fu, membantu untuk memulihkan kehidupan di desa yang hancur ini.
Xu Yuan telah lama mendambakan perdamaian, melihat kehancuran yang melanda Desa Nanggong, dia membantu dengan sangat cekatan untuk membersihkan sisa-sisa pertempuran dibantu oleh para warga. Bahkan memberikan sedikit pengetahuannya untuk membangun ketertiban di desa yang sedang dalam kekacauan.
Sedangkan kedua Tuan Muda Fu berusaha untuk menyatukan warga desa, merencanakan strategi pemulihan, dan membangun kembali infrastruktur yang rusak.
Bersama-sama, Xu Yuan dan Tuan Muda Fu membentuk tim yang tidak dapat dihentikan. Mereka mengumpulkan warga desa yang terpukul dan memberdayakan mereka untuk bekerja bersama, memperbaiki rumah-rumah yang hancur, membersihkan sisa-sisa pertempuran, dan menyelesaikan konflik sisa yang mungkin muncul. Ketiganya membantu mereka pulih dari trauma dan membangun kembali masa depan mereka.
Tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, Xu Yuan dan Tuan Muda Fu juga peduli dengan kesejahteraan mental warga desa. Mereka mendirikan pusat perawatan kesehatan mental dan mengajarkan teknik meditasi yang membantu mengatasi rasa takut dan kecemasan. Dengan kelembutan dan empati, mereka menjadi panutan bagi warga desa yang membutuhkan dukungan dan kehangatan.
Hampir sepuluh hari lamanya, ketiga orang pemuda itu tinggal di desa nanggong. Setelah mereka yakin jika saat ini keadaan desa jauh lebih baik dari sebelumnya, bahkan tidak ada lagi ancaman yang diberikan oleh rentenir tua maupun Kaisar Bing Kai, membuat Xu Yuan beserta kedua tuan muda Fu akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan yang telah tertunda menuju ke benua tengah.
Mereka tak bisa tinggal lebih lama lagi, karena saat ini Xu Yuan merasakan jika ancaman dimasa depan akan menjadi semakin sulit, sehingga dia harus berhasil menemukan seorang guru yang bisa membantunya untuk menghancurkan segel dewa yang telah tertanan di dalam dantiannya.
Xu Yuan dan kedua tuan muda Fu, Fu San dan Fu Sing, melanjutkan perjalanan mereka dengan semangat dan determinasi yang tinggi. Setelah berpamitan dengan hangat kepada warga desa Nanggong, mereka melangkah dengan mantap menuju petualangan berikutnya, menyeberangi kota dan meninggalkan wilayah kekaisaran Bing, menuju hutan buangan.
__ADS_1
Perjalanan mereka melalui kota tidaklah mudah. Jalan-jalan yang padat dengan kerumunan manusia, pasar yang ramai, dan bangunan-bangunan megah yang menjulang tinggi menciptakan sebuah dunia yang berbeda dari kedamaian desa Nanggong. Namun, ketiga pemuda itu tak tergoyahkan. Dengan pakaian sederhana, mereka berjalan dengan kepercayaan diri dan saling menyemangati satu sama lain.
Kota menjadi saksi akan keberanian mereka, saat mereka melewati derasnya lautan manusia yang sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Sementara itu, matahari terik di atas kepala mereka melambangkan tekad mereka yang membara untuk mencapai tujuan akhir. Mereka melanjutkan perjalanan tanpa merasa lelah, karena keinginan mereka untuk menjelajahi hutan buangan tak tergoyahkan.
Setelah melewati jalan-jalan kota yang berliku-liku, ketiga pemuda itu akhirnya mencapai batas wilayah kekaisaran Bing. Di sana, mereka berdiri di depan pintu gerbang yang menghubungkan dunia mereka dengan hutan buangan yang misterius. Semangat petualangan membara di dalam diri mereka, sebagai ungkapan rasa ingin tahu, tentang apa yang akan mereka temui di sana.
Dengan hati yang berdebar, Xu Yuan dan kedua tuan muda Fu memasuki hutan buangan. Suasana berubah drastis, dari kesibukan kota menjadi hening yang hanya dipecah oleh suara angin dan suara alam. Daun-daun lebat menari-nari di atas kepala mereka, menunjukkan jalan mereka ke dalam rahasia yang tersembunyi di dalam hutan.
Perjalanan menuju benua tengah telah memulai babak baru bagi Xu Yuan dan kedua tuan muda Fu. Mereka siap menghadapi setiap rintangan dan menguji batas-batas kemampuan mereka. Dengan semangat petualangan yang meluap dan tekad yang bulat, mereka bergerak maju ke dalam kegelapan hutan buangan, siap mengukir takdir mereka sendiri di benua yang baru.
"Apakah tidak berbahaya melewati hutan ini, saudara Xu? Aku pernah mendengar cerita dari beberapa orang, jika siapapun yang memasuki hutan buangan ini pasti tidak akan bisa kembali dalam keadaan hidup. Bahkan sudah banyak orang yang menghilang di hutan ini." ucap Fu San sambil menatap ke arah Xu Yuan.
Fu Sing dan Fu San hanya mengangguk, setelah tertahan selama sepuluh hari di desa nanggong, membuat kedua tuan muda Fu itu mengerti, bahwa kemalangan bisa terjadi dimana saja, dan keserakahan manusia merupakan ancaman terbesar yang harus mereka hindari saat ini.
Ketiga orang pemuda itu nampak berjalan dengan sangat santai, namun Xu Yuan mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan hutan itu, selain bentuk pepohonan yang sama, dia tidak bisa melihat hal yang lainnya, namun saat ini mereka seolah berjalan di tempat yang sama.
__ADS_1
"Apakah kita tersesat?" tanya Fu Sing mulai mengeluarkan suaranya.
Sedangkan Xu Yuan terlihat memijat kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sangat pusing, dia sengaja melakukan perjalanan melewati hutan agar bisa sampai lebih cepat di benua tengah, namun nyatanya hutan buangan tidak semudah yang dia pikirkan. Meskipun ketiganya telah berjalan selama hampir dua kali pembakaran dupa, nyatanya hingga saat ini mereka masih berada di tempat yang sama.
"Sial! Kita benar-benar tersesat saat ini!" ucap Fu Sing. Pemuda itu berusaha untuk menggunakan kekuatannya agar bisa terbang untuk melihat seberapa luas hutan buangan yang saat ini mereka tapaki, hanya saja tubuh pemuda itu seolah terkena sebuah tekanan gravitasi yang sangat berat, sehingga membuatnya tak bisa bergerak.
"Apa-apaan ini? Aku bahkan tidak bisa terbang ataupun menggunakan energi Qi milikku di tempat ini, seolah ada sesuatu yang tersembunyi dan menghalangi pergerakanku."ucap Fu Sing.
Mendengar ucapan saudaranya, membuat Fu San akhirnya segera melakukan hal yang serupa, dia berusaha untuk mengalirkan energi Qi miliknya pada kaki, dan berniat untuk melompat tinggi.
Namun pergerakannya seolah terhenti, bahkan dia merasakan jika sekuat apa pun kemampuannya, dan setinggi apa pun ranah kultivasinya, hutan buangan seolah memiliki hukum tersendiri, dimana siapapun yang berani masuk ke dalam hutan itu dan menjelajahinya, dipastikan akan kehilangan kemampuan yang dimiliki, sehingga mereka hanya bisa menggunakan kekuatan fisik untuk bertahan hidup.
Xu Yuan mengerutkan dahi, dia juga merasakan hal yang sama dengan kedua orang rekannya. Meskipun berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengalirkan energi Qi, nyatanya itu sia-sia saja. Hutan buangan seolah telah dilapisi oleh sebuah array yang tak kasat mata, dan membuat energi dalam tubuh mereka menjadi tak berguna.
____________________________________________
__ADS_1
promo: Ling Tian telah kembali. Jangan lupa mampirin.