
Blamm...
Tubuh pria itu akhirnya tersungkur diatas tanah, namun dengan secepat kilat, pria itu kembali bangkit dan bersiap untuk melayangkan serangan yang lebih ganas dan dahsyat lagi kepada Fu San.
Meskipun Fu San telah berhasil menjatuhkan praktisi dengan ranah kultivasi yang lebih tinggi, pertarungan ini masih menjadi tantangan berat bagi Fu San.
Dalam kegelapan malam yang menyelimuti tempat itu, angin berhembus dengan keras, menciptakan suasana yang mencekam. Fu San berdiri tegak di tengah-tengah jalanan yang sepi, siap menghadapi pria suruhan rentenir yang berdiri di depannya dengan tatapan penuh kebencian.
Dengan cepat, pria suruhan rentenir melepaskan serangan pertamanya. Ia bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, melayang menuju Fu San dengan tinju yang terarah. Namun, Fu San menghindari serangan tersebut dengan gerakan yang gesit, melompat ke belakang untuk menghindari pukulan yang kuat.
Tak mau kalah, Fu San segera melancarkan serangan balasan. Ia memanfaatkan kecepatan dan kekuatannya yang luar biasa untuk menghadapi pria suruhan rentenir. Dengan gerakan yang lincah, ia mengayunkan tinjunya ke arah pria itu dengan tenaga yang luar biasa. Pria suruhan rentenir terkejut oleh kekuatan dan kecepatan serangan Fu San yang tiba-tiba, namun ia berhasil menghindari pukulan dengan melompat ke samping.
Pertarungan itu berlanjut dengan serangkaian serangan cepat dan akurat. Fu San menggunakan kelincahan dan ketepatan gerakannya untuk menghindari serangan balasan pria suruhan rentenir, sementara pria itu menggunakan kekuatan fisiknya yang besar untuk mencoba menjatuhkan Fu San. Setiap serangan mereka memancarkan energi yang kuat dan membuyarkan debu di sekitar mereka.
Namun, dengan kemampuan bertarung yang terus berkembang, Fu San mampu mengantisipasi gerakan dan serangan lawannya. Dengan ketepatan dan kecepatan yang semakin tinggi, ia berhasil mendapatkan kesempatan untuk mengirimkan serangan mematikan. Dalam sekejap, tinjunya mendarat dengan kekuatan yang dahsyat di dada pria suruhan rentenir, membuatnya terlempar ke belakang dan jatuh dengan keras ke tanah.
Fu San menatap pria suruhan rentenir yang tergeletak di tanah, nafasnya tersengal-sengal. Sementara rekan-rekan dari pria itu seolah tak percaya dengan kekalahan telak yang dialami oleh rekan mereka, akhirnya pria-pria itu pun terpaksa melarikan diri dari desa nanggong untuk Kembali menuju kediaman milik majikan mereka.
Sedangkan Xu Yuan beserta kedua orang tuan muda Fu kembali melangkahkan kakinya menuju kedai makan, kemudian melanjutkan kembali acara makan-makan mereka yang tertunda.
Warga desa berbondong-bondong mendatangi ketiga orang pemuda tersebut, kini seorang pria tua membungkuk di hadapan ketiganya dengan penuh hormat.
__ADS_1
"Salam, tuan muda." ucapnya.
Xu Yuan hanya melirik sekilas, sedangkan Fu Sing langsung menjawab sapaan yang diberikan oleh pria tua itu dengan tak kalah ramahnya.
"Salam juga, paman." jawab Fu Sing.
Pria tua itu tersenyum, meskipun dua orang pemuda yang lain hanya diam dan melanjutkan makan, namun salah seorang dari ketiganya bersedia menjawab ucapan si pria tua.
"Namaku Han Xiao, tetua di desa ini. Bisakah ketiga tuan muda menginap di tempat kami? Sepertinya orang-orang suruhan rentenir itu akan kembali ke desa ini untuk membalas kekalahan mereka." ucap si pria tua yang bernama Han Xiao itu sambil menundukkan kepalanya.
Awalnya Fu San akan menolak permintaan dari pria tua itu, namun Xu Yuan dengan cepat menganggukkan kepalanya. Sepertinya dia harus menunda keberangkatannya menuju ke benua tengah, mengingat saat ini warga desa membutuhkan bantuan dari mereka, untuk memberantas orang-orang yang keji seperti suruhan rentenir yang baru saja mereka kalahkan.
Mengetahui jawaban dari Xu Yuan membuat pria tua itu tersenyum sumringah, setelah menyelesaikan acara makan-makan, ketiga orang pemuda itu pun diajak menuju ke rumah tetua desa, mereka dijamu layaknya tamu penting dan diperlakukan dengan sangat baik, bahkan banyak warga desa yang mengunjungi tempat itu hanya untuk bisa berbicara dengan ketiga orang pemuda yang telah menjadi pahlawan bagi mereka.
Di sebuah kediaman besar yang memancarkan kemegahan tiada tanding. Terletak di puncak bukit, bangunan itu menjulang tinggi dengan balok-balok marmer yang megah dan pilar-pilar yang menghiasi pintu masuknya. Taman yang luas terhampar di sekitarnya, dipenuhi dengan kolam-kolam ikan berlapis emas dan taman berbunga yang indah. Suara air mancur yang berdentang-dentang menambah kesan kemewahan yang tak terhingga.
Namun, kemegahan tersebut berbanding terbalik dengan kemarahan yang membakar hati sang rentenir saat mendengar kabar kekalahan anak buahnya. Wajahnya berubah menjadi warna merah padam, matanya menyala seperti bara api yang tak terkendali. Ia melampiaskan kemarahannya dengan memecahkan hiasan-hiasan berharga di sekelilingnya.
Tanpa menunggu waktu lama, sang rentenir mengutus seorang pria yang setia padanya untuk menyampaikan pesan penuh kemarahan kepada kaisar Bing Kai. Pria itu dikirim dengan perintah tegas untuk membawa pesan yang menggambarkan kemarahan dan kekecewaan mendalam sang rentenir.
"Sampaikan pesan ini kepada Kaisar Bing Kai," ucap sang rentenir, suaranya gemetar penuh amarah.
__ADS_1
"Kekalahan anak buahku adalah penghinaan besar bagi kekuasaanku. Aku telah memberikan jaminan keamanan dan perlindungan kepadanya, tapi ia gagal mempertahankan kehormatanku. Kaisar harus tahu bahwa aku takkan mentolerir kegagalan semacam ini."
"Pesan ini harus disampaikan dengan tegas," lanjut sang rentenir, matanya masih memancarkan kemarahan.
"Kaisar Bing Kai harus menyadari bahwa kekalahan ini tak akan berakhir tanpa konsekuensi. Aku akan menghancurkan siapa pun yang berani menghina kekuasaanku. Sampaikan padanya, aku tidak akan berhenti hingga membalaskan kekalahan ini dengan darah!"
Dengan pesan penuh kemarahan tersebut, pria yang dikirim oleh sang rentenir berangkat dengan langkah mantap. Ia menyadari betapa pentingnya mengemban pesan ini dengan tepat dan memberikan peringatan keras kepada kaisar Bing Kai tentang akibat yang akan menimpanya jika tidak memperhatikan kekuasaan dan marahnya sang rentenir.
Pria itu pun segera memacu kudanya dengan sangat cepat menuju istana kekaisaran, untuk menyampaikan pesan yang diberikan oleh majikannya.
Sementara sang rentenir saat ini masih menatap orang-orang pilihannya, yang telah dia kirim menuju desa nanggong, untuk mengusir warga yang tinggal di sana.
"Apakah kalian terlalu lemah sehingga tidak sanggup untuk mengalahkan ketiga orang pemuda itu?" tanya sang rentenir.
Anak buahnya hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepalanya, mereka tidak memiliki keberanian sedikitpun untuk menyela ucapan dari sang majikan. Apalagi mereka juga mengetahui, bahwa Kaisar Bing Kai yang berkuasa di wilayah itu, bahkan tak berkutik di hadapan junjungan mereka.
"Kirimkan orang untuk mengawasi desa itu! jangan biarkan ketiga orang pemuda sialan itu pergi, sebelum aku memberikan mereka pelajaran." ucap sang rentenir.
Salah seorang dari anak buahnya segera melesat dengan sangat cepat untuk melaksanakan tugas, sementara anak buahnya yang lain masih tetap diam di tempatnya seperti sedia kala.
Brak...
__ADS_1