
Dalam pertempuran yang berlangsung dengan dahsyat, tubuh dewi perang Liu Yanran tak terelakkan menderita luka-luka yang dalam. Setelah berjuang dengan gigih untuk melawan kekuatan kegelapan yang dimiliki oleh ratu iblis Mo Xuanyin, Dewi Perang memutuskan untuk kembali ke alam atas, tempat dia berasal, untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Dengan langkah yang tegap diantara bayangan langit yang gelap, Dewi Perang kembali ke tempat yang disebut rumah, di antara para dewa di alam atas. Keberadaannya yang perkasa dan penuh semangat menyala seperti nyala api di malam yang gelap, memberikan harapan bagi mereka yang percaya pada kekuatan kebaikan.
Di alam atas, Dewi Perang disambut oleh para dewa dan dewi dengan penghormatan yang tinggi. Mereka mengamati keadaan yang dialami oleh dewi perang dengan sangat cermat. Dalam keramaian dan kehangatan yang luar biasa, Dewi Perang diangkat ke tempat yang sakral untuk memulai proses penyembuhan tubuhnya yang luka.
Di hadapan para dewa, Dewi Perang menjalani prosesi penyembuhan yang kuno dan sakral. Dengan doa yang kuat dan mantra yang mengalir dari bibir para dewa dan dewi, energi penyembuhan mulai mengelilingi tubuhnya yang lelah. Cahaya suci memancar dari setiap goresan luka yang diterimanya, menghapus kepedihan dan menggantikannya dengan kekuatan yang baru.
Dalam proses penyembuhan yang berlangsung, Dewi Perang mengalami perubahan yang mendalam. Tidak hanya tubuhnya yang pulih, tetapi juga semangatnya yang tak tergoyahkan semakin diperbarui.
Luka-luka yang pernah dialaminya menjadi tanda keberanian dan ketekunan dalam melawan kegelapan. Kekuatan baru memancar dari dirinya, memberikan harapan untuk menjadi lebih kuat lagi di masa depan.
Setelah penyembuhan yang selesai, Dewi Perang kembali ke alam menengah, berlari di atas awan yang putih dan terbang melintasi langit yang biru. Dewi Perang melanjutkan misinya dengan semangat yang lebih besar, siap menghadapi tantangan yang datang dengan keberanian dan keyakinan yang tak tergoyahkan.
Sebagai istri terpilih dari Dewa Naga Keabadian selama 10.000 tahun, Liu Yanran dengan teguh mempertahankan dan melindungi suaminya.
Liu Yanran adalah lambang kekuatan yang tak tergoyahkan. Dalam setiap pertempuran, dia melambangkan keberanian yang tidak akan pernah luntur.
Pedangnya, yang berkilauan di bawah sinar matahari, menjadi senjata yang tak terpisahkan dari tangannya yang kuat. Dalam setiap gerakan pedangnya, terpancarlah keahlian tempur yang sempurna dan tekad yang tidak dapat ditembus.
__ADS_1
Tidak peduli betapa kuat dan jahatnya musuh yang muncul di hadapannya, Liu Yanran tidak pernah gentar. Ia menghadapi bahaya dengan keberanian yang tak tergoyahkan dan dengan kemampuan bertempur yang luar biasa. Ratu Iblis dan pasukannya yang haus kehancuran harus menghadapi pertahanan yang tangguh dan tak terkalahkan dari Dewi Perang ini.
Namun masih ada satu senjata lagi yang tak bisa terlepas dari sosok Dewi perang Liu Yanran, yaitu senjata tombak/tongkat perang yang merupakan sebuah artefak yang legendaris dan mempesona. Dikatakan bahwa kekuatan yang terkandung di dalamnya berlipat-lipat kali lebih hebat daripada senjata tingkat tinggi lainnya, menjadikannya yang paling mematikan di antara segala macam senjata.
Tongkat perang ini memiliki desain yang memikat hati, terbuat dari bahan yang tidak dapat ditemukan di dunia manusia biasa. Logamnya terlihat seperti perpaduan antara emas celestial dan baja neraka, dengan permukaan yang dihiasi oleh hiasan-hiasan simbolik yang mewakili kekuatan dan kemenangan. Di ujung tongkat ini terdapat permata berkilauan yang memancarkan cahaya keemasan yang menakjubkan.
Namun, keindahan luar tongkat perang Liu Yanran ini hanya sejumput dari kekuatan sebenarnya yang tersembunyi di dalamnya. Tongkat ini mampu memanipulasi energi alam semesta dengan cara yang menakjubkan.
Dewi Perang, dengan kepiawaian dan pengalamannya, mampu memanggil petir, angin topan, dan api dengan sekali gelengan tongkat ini. Bahkan tanah pun dapat bergetar dan bergetar di hadapan kekuatan hebat yang ditembakkan darinya.
Namun, bukan hanya kekuatan elemen yang dimiliki tongkat ini. Liu Yanran juga dapat menggunakan tongkat perangnya untuk menguatkan kekuatan fisiknya sendiri. Ketika tongkat itu diayunkan, setiap pukulan yang dia lakukan berlipat ganda kekuatannya, mampu memecahkan benda-benda yang tak terpikirkan oleh manusia biasa.
Tongkat ini juga memberikan perlindungan yang tak tertandingi, mampu melindungi Liu Yanran dari serangan musuh yang paling kuat sekalipun.
Hanya pemilik yang pantas, seperti Liu Yanran, yang mampu memahami dan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki oleh tongkat perang ini.
Namun, kekuatan Liu Yanran bukanlah semata-mata berasal dari keterampilan tempurnya. Ada cinta yang mendalam yang mengikat hatinya dengan sang suami, yaitu Dewa Naga Keabadian.
Ia bersedia melakukan apa pun untuk melindungi dan mempertahankan suaminya yang tercinta. Dalam setiap pertempuran, dia menampilkan kekuatan tak terhentikan untuk memastikan keselamatan dan kebahagiaan Xu Yuan.
__ADS_1
Liu Yanran adalah sosok sempurna dari kesetiaan dan dedikasi seorang istri. Meskipun dia memiliki kekuatan yang luar biasa, hatinya tetap lembut dan penuh kasih.
Cintanya untuk Xu Yuan memandu setiap langkah yang dia ambil, dan tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang dapat menghalangi tekadnya untuk melindungi suaminya.
Dengan keberanian yang menginspirasi dan cintanya yang tak tergoyahkan, Liu Yanran telah menempatkan dirinya di antara para dewa dan manusia sebagai sosok yang tak terkalahkan.
Dia adalah lambang perjuangan yang tak kenal lelah, kekuatan yang tak tergoyahkan, dan cinta yang abadi. Tak peduli apa yang terjadi, Liu Yanran akan selalu menjadi penjaga dan pendamping yang setia bagi suaminya, Xu Yuan, Dewa Naga Keabadian.
***
Dalam suatu peristiwa bersejarah di masa lalu, Dewi Perang terlibat dalam pertempuran epik yang melibatkan kekuatan jahat yang tak terkendali.
Namun, nasib yang tak terduga menghampiri Dewi Perang saat ia bertarung dengan ganas. Saat melindungi dunia, tubuhnya terpecah menjadi tiga bagian yang terpisah, dan masing-masing tersebar di tiga alam yang berbeda selama proses reinkarnasi berlangsung.
Bagian pertama tubuh Dewi Perang jatuh di alam bawah, tempat kegelapan dan kekacauan merajalela. Di alam ini, jiwa Dewi Perang terjebak dan berubah menjadi seorang Ratu Iblis yang kejam dan kuat. Terbebani oleh kegelapan, ia menggunakan kekuatannya untuk tujuan jahat dan kehancuran, menjadi ancaman bagi kedamaian dunia.
Sementara itu, bagian kedua tubuh Dewi Perang terjatuh di alam menengah, tempat manusia hidup dan bermasyarakat. Dalam wujud manusia biasa, Dewi Perang yang terlahir kembali tidak memiliki ingatan tentang identitas dan peran aslinya.
Ia hidup tanpa mengetahui warisan kekuatannya yang kuat, menjalani kehidupan sebagai manusia yang biasa, tidak menyadari potensi luar biasa yang ada dalam dirinya.
__ADS_1
Namun, bagian ketiga tubuh Dewi Perang berhasil bertahan di alam surgawi yang suci dan damai. Di sini, Dewi Perang menjalani reinkarnasi sebagai dirinya yang sejati.
Meskipun terpisah dari dua bagian lainnya, ia mempertahankan kekuatan, kebijaksanaan, dan tekadnya yang kuat. Dalam keheningan surga, Dewi Perang yang sejati terus memantapkan dirinya dan menunggu saat yang tepat untuk menyatukan kembali tubuhnya yang terpecah.