Xu Yuan

Xu Yuan
Chapter 13


__ADS_3

Di tengah kedamaian alam menengah, sebuah kegelapan tiba-tiba merayap dengan perlahan. Gerbang menuju dimensi gelap terbuka lebar, dan dari sana, muncullah Ratu Ib*is yang jahat dengan pakaian kebesarannya yang berwarna hitam, simbol penguasa kerajaan gelap yang berarti.


Di tubuhnya terpapar keanggunan dan kekuatan, tanpa cela, seperti bayangan malam yang menakjubkan, merentang luas di sela-sela waktu. Pakaian kebesaran yang dikenakan olehnya


terbuat dari sutra hitam yang mengalir begitu indah, dibordir dengan benang emas, menciptakan gambaran kerajaan tak terjamah,


melambangkan keangkuhan dan kemegahan.


Mahkota indah di atas kepalanya memancarkan cahaya misterius, berhiaskan batu permata hitam yang mempesona mata yang memandang, seperti kekuatan gelap yang terpendam, menunggu untuk diungkapkan, simbol kekuasaan dan ketenangan, memancarkan kehendak yang tak tergoyahkan. Kedatangannya mengubah alam menengah menjadi sebuah keramaian yang tak terkendali.


Sementara di tempat lain, dalam kemasyhuran malam yang gelap, ketika bintang-bintang bersinar dengan gemilangnya, sebuah lorong yang terbuka muncul di langit. Seperti portal menuju dunia yang luar biasa, sinar langit malam memancarinya dengan keanggunan yang tak terlukiskan.


Dalam kilauan cahaya yang memukau, munculah Dewi Perang, sosok yang menawan dan megah. Pakaian yang dipakainya seperti karya seni yang hidup, melambangkan kekuatan dan kecantikan yang tak tertandingi.


Gaunnya terbuat dari sutra murni yang menjuntai dengan lembut, dihiasi dengan bordiran emas yang mengilap dan batu permata yang berkilauan. Setiap lipatan gaunnya menyerupai sayap elang yang tangguh, menggambarkan kemampuan dan keberanian yang dimilikinya.


Dewi Perang muncul dengan tegap, wajahnya yang indah dipancarkan oleh kegagahan dan kearifan. Matanya berkilauan seperti matahari terbit yang memancarkan keputusan, dan senyumannya melambangkan keadilan yang tak tergoyahkan. Rambutnya yang panjang terurai dengan lembut, berkilau dengan kegelapan malam dan terhembus oleh angin yang tak terlihat.


Di tangan kanannya, Dewi Perang memegang tombak yang terbuat dari logam langka, mewakili kekuatan dan keadilan yang tak terbendung. Di tangan kirinya, perisainya mengilap dengan cemerlang, melambangkan perlindungan dan keberanian yang tak terkalahkan.


Di punggungnya, terdapat sepasang sayap yang muncul dari belakang, melambangkan kebebasan dan kemenangan yang diraihnya dalam pertempuran yang tak terhitung jumlahnya.

__ADS_1


Ketika Dewi Perang muncul dari lorong di langit, semangat pejuang bangkit dan keyakinan akan keadilan meluap dalam hati setiap orang yang menyaksikannya. Aura kemuliaan dan kekuatan yang dipancarkannya memenuhi langit malam, memberikan harapan bagi semua yang merindukan perdamaian dan kebenaran.


Seketika itu, fluktuasi udara menjadi tidak stabil. Angin yang seharusnya lembut dan menyenangkan berubah menjadi kencang dan menerjang dengan marah. Dentuman petir dan gemuruh guntur mengguncang langit, menciptakan suasana yang menakutkan.


Rakyat yang sebelumnya hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, kini dipenuhi oleh kecemasan yang mendalam. Mereka merasakan kehadiran jahat dari kedua makhluk supernatural ini dan merasakan getaran ketidakstabilan alam yang terus berkembang.


Ketakutan meluas di kalangan rakyat. Mereka merasa tak berdaya menghadapi kekuatan gelap yang sedang membelenggu alam mereka. Keamanan dan kesejahteraan yang mereka nikmati hancur berantakan, digantikan oleh ketidakpastian dan kekhawatiran.


Pertemuan ratu ib*is dan dewi perang telah menciptakan gelombang ketakutan di seluruh alam menengah. Alam yang dulu indah dan penuh harapan, kini menjadi tempat yang berbahaya dan tidak stabil. Rakyat berharap agar ada kekuatan yang dapat melawan dan mengembalikan keseimbangan yang hilang.


Dewi Perang, yang dikenal dengan kekuatan dan keberanian yang luar biasa, merasakan kehadiran yang gelap dan jahat merayap di alam menengah. Ketika dia melihat Ratu Ib*is, sumber kejahatan dan kehancuran, hatinya dipenuhi dengan kemarahan yang membara. Semua energi bencinya berkobar-kobar, memenuhi atmosfer dengan aura perang dan ketegangan yang tak terelakkan.


Dengan pandangan tajam dan api di matanya, Dewi Perang bersiap untuk pertarungan yang tak bisa dihindari. Tombak perangnya bersinar dengan kekuatan magis, memancarkan cahaya yang terang dan memotong udara dengan kecepatan yang luar biasa. Setiap langkahnya menimbulkan getaran di tanah, mengguncang segala sesuatu di sekitarnya.


"Tinggalkan alam menengah! Dia miliku!" seru ratu ib*is yang membuat kemarahan besar dihati dewi perang.


Dalam keadaan marahnya, Dewi Perang mengeluarkan seruan pertempuran yang melengking di langit, memanggil para prajurit surgawi untuk bersiap menghadapi kekuatan jahat yang mendekat. Pasukan perangnya yang tangguh dan setia memenuhi langit, menyebarkan sayap mereka dengan gagah berani.


Ketika Ratu Ib*is mendekati, Dewi Perang melontarkan serangan dahsyat. Api perang menyala, petir menyambar, dan angin berputar di sekelilingnya. Dewi Perang mengejar Ratu Iblis dengan niat menghabisinya dan membersihkan alam menengah dari kejahatan yang terus muncul.


Pertarungan ini adalah pertarungan antara cahaya dan kegelapan, antara kebaikan dan kejahatan. Dewi Perang melawan dengan keberanian dan keteguhan yang tak tergoyahkan, mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kehidupan yang suci. Tiap serangan Ratu Iblis dibalas dengan kekuatan yang lebih besar dan semangat yang tak terkalahkan.

__ADS_1


Kobaran kebencian semakin membara, mewarnai langit dengan warna merah menyala. Alam Menengah terguncang oleh benturan kekuatan magis dan fisik yang kuat. Pepohonan tumbang, tanah terbelah, dan debu dan asap melingkupi medan pertempuran.


Namun, Dewi Perang tak akan mundur. Dengan tekad yang teguh, dia terus berjuang, mengalahkan setiap serangan yang dilemparkan oleh Ratu Ib*is. Ketika tombak perangnya melukai Ratu Ib*is, terdengar teriakan marah dan kesakitan yang melengking di udara.


Pertempuran ini menjadi simbol perlawanan dan keberanian. Meski kebencian dan kegelapan mencoba menguasai alam menengah, Dewi Perang memperlihatkan bahwa cinta, keberanian, dan tekad yang kuat mampu mengalahkan kejahatan apa pun yang mencoba mengancam kehidupan.


Cetaaar...


Trang...


Di medan pertempuran yang suram, dua kekuatan dahsyat saling berhadapan, Ratu Ib*is yang memegang Cambuk Neraka dan Dewi Perang yang mengayunkan Tombak Nirwana. Ketika mereka bertemu, kekuatan mereka memicu gelombang energi yang menggetarkan alam menengah, menghancurkan segala yang ada di sekitarnya.


Ratu Ib*is melengkungkan cambuknya, cambukan pertamanya melepaskan api hitam yang membara. Api itu membakar langit dan menjulang tinggi, membentuk awan-awan asap yang menyebar dengan keganasan. Cambukan berikutnya membawa angin panas neraka yang melilit, menghancurkan tanah di bawah kaki mereka.


Dewi Perang tidak gentar. Dengan kekuatan nirwana yang terpancar dari dirinya, dia mengayunkan tombaknya dengan liukan yang cepat dan menggetarkan alam. Setiap kali tombak itu menyentuh tanah, gempa bumi dahsyat menggelegar dan memecah bumi menjadi retakan yang menganga. Alam merespons serangan Dewi Perang dengan kehancuran yang luar biasa.


Pertarungan mereka membawa kehancuran ke segala penjuru. Pegunungan runtuh, sungai mengering, dan hutan-hutan luluh lantak di bawah kekuatan mereka yang dahsyat. Sinar-sinar energi yang berkelebat dan percikan-percikan api hitam menghiasi langit yang gelap, menciptakan pemandangan yang menakutkan.


Sementara itu, makhluk-makhluk roh jahat dan prajurit surgawi terperangkap dalam pertempuran ini. Mereka harus berjuang melawan kekuatan-kekuatan yang menghancurkan sekitar mereka. Tapi seiring dengan hancurnya alam, semangat pertarungan mereka semakin berkobar.


Ratu Ib*is dan Dewi Perang saling menyerang dan bertahan dengan kekuatan masing-masing. Cambukan cambuk Neraka menciptakan luka-luka terbakar pada tubuh Dewi Perang, sementara tombak Nirwana menghasilkan sayatan yang mendalam pada Ratu Iblis. Darah berwarna hitam dan putih bercucuran di medan pertempuran yang kacau.

__ADS_1


Namun, tidak ada pemenang yang jelas dalam pertarungan ini. Kekuatan mereka sama kuat, dan kehancuran yang mereka sebabkan semakin meluas. Hanya setelah berhari-hari bertempur tanpa henti, kedua belah pihak merasa kelelahan dan terpaksa menghentikan serangannya.


Medan pertempuran itu, yang kini hancur dan sunyi, menjadi saksi bisu dari pertarungan epik antara Ratu Ib*is dan Dewi Perang. Kedua penguasa kuat itu meninggalkan jejak kehancuran di alam menengah.


__ADS_2