Xu Yuan

Xu Yuan
Episode 25


__ADS_3

Bruk...


Tubuh beast monyet api itu langsung terjatuh diatas tanah, dalam keadaan tak berdaya. Xu Yuan dengan santainya melompat dan langsung mengambil inti spirit yang berbentuk seperti kelereng dan terletak dikepala monyet api itu, dan melemparkannya pada kedua orang tuan muda Fu.


Hap...


Fu San dengan sigap langsung menangkap inti spirit yang dilemparkan oleh Xu Yuan, sedangkan Fu Sing bergeming di tempatnya, dia membiarkan saudaranya untuk mengambil inti spirit itu. Baginya siapapun yang mendapatkan, itu tidak akan pernah menjadi masalah, karena keduanya adalah saudara yang saling menyayangi.


Setelah itu kedua orang bersaudara Fu akhirnya melemparkan jasad monyet api, mereka tidak ingin menyimpan tubuh dari beast spirit itu karena kulitnya yang sangat keras, membuat mereka harus berjuang sekuat tenaga jika memang ingin mengkonsumsi daging dari binatang beast tersebut.


"Hei! Apa yang kalian lakukan?" tanya Xu Yuan.


Kedua orang bersaudara Fu langsung menghentikan kegiatan mereka, kemudian melirik ke arah Xu Yuan. "Kami ingin membuang jasad beast monyet api ini, tuan muda Xu."


"Jangan dibuang! Simpan saja dalam cincin penyimpanan milik kalian. Sesampainya di kota nanti, kita bisa menjual tubuh binatang itu untuk mendapatkan beberapa koin emas." ucap Xu Yuan.


Kedua orang tuan muda Fu saling bertatapan, tak lama kemudian Fu Sing langsung mengambil tubuh binatang beast monyet api itu dan memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan, setelah itu keduanya pun langsung bergerak kembali ke arah Xu Yuan.


Malam semakin larut, cuaca di hutan itu begitu memprihatinkan. Angin berhembus dengan ganas, membawa dingin yang menusuk tulang. Xu Yuan dan kedua orang tuan muda Fu berusaha keras untuk bertahan, membangun api unggun setinggi mungkin. Namun, tak peduli seberapa banyak kayu yang mereka kumpulkan dan sebesar apa api yang mereka nyalakan, dingin itu tetap tak terkalahkan.


Meskipun mereka telah meletakkan segala upaya untuk menghadapinya, ketiga orang tersebut semakin merasakan kelelahan dan kedinginan yang semakin mendalam. Xu Yuan, dengan keberanian yang melekat pada dirinya, berusaha mencari solusi untuk melindungi diri mereka dari cuaca yang mematikan itu.


Lalu, seperti berkah dari langit, mata Xu Yuan tiba-tiba tertuju pada sebatang dahan pohon besar yang menjulang tinggi. Dia memiliki ide yang brilian. Dengan berani, dia memutuskan untuk memanjat pohon tersebut bersama kedua orang tuan muda Fu.

__ADS_1


Dengan penuh tekad dan keberanian, ketiganya naik ke dahan yang kokoh. Mereka saling membantu satu sama lain, menemukan kenyamanan di atas sana. Meskipun dahan itu sempit, mereka merasa aman dan terlindungi dari dingin yang menusuk.


Malam berlalu dengan perlahan, dan pagi pun mulai menyapa. Xu Yuan dan kedua orang tuan muda Fu akhirnya dapat bernapas lega. Mereka berhasil bertahan melewati malam yang penuh tantangan itu dengan keberanian dan kerja sama yang luar biasa.


Pada saat mereka turun dari dahan pohon, mereka merasakan kehangatan yang menyegarkan dari sinar matahari pagi. Meskipun mereka masih menggigil, kegembiraan dan kepuasan meliputi hati mereka. Mereka telah melewati ujian cuaca ekstrem itu bersama-sama, dan kini mereka menjadi lebih kuat dan lebih dekat sebagai teman.


Setelah membersihkan diri di sungai, akhirnya ketiga orang pemuda itu pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju benua tengah. Saat ini mereka akan keluar dari hutan itu, untuk menuju ke sebuah desa yang terkenal dengan nama desa nanggong.


Tak...


Tak...


Tak...


Dengan santainya ketiga orang pemuda itu langsung memasuki gerbang, mencari sebuah rumah makan kecil untuk mereka mengisi perut, karena sejak di hutan tadi ketiganya memang tak berniat untuk mencari makanan, mereka sepertinya mulai merindukan masakan rumahan, sehingga memutuskan untuk menyantap makanan yang ada di rumah makan.


Kedatangan ketiga orang pemuda itu langsung disambut oleh seorang anak kecil, dia merupakan anak dari pemilik sebuah kedai makan. Dengan cepat, bocah itu pun menggiring ketiga orang pemuda itu untuk memasuki kedainya, kemudian bertanya.


"Makanan apa yang akan tuan muda pesan?" tanyanya.


"Siapkan saja semua makanan yang enak untuk kami." jawab Fu San.


Meskipun dirinya saat ini sudah jatuh miskin, bukan berarti cincin penyimpanan miliknya tidak memiliki tumpukan koin emas, bahkan jika seseorang melihat isi dari penyimpanan kedua orang tua muda Fu itu, mungkin saja mereka akan pingsan di tempat.

__ADS_1


Tak lama kemudian bocah itu pun segera berlari kedapur, wajahnya terlihat sangat ceria. Kedai kecil itu memang telah beberapa hari tidak menerima pengunjung, karena banyaknya stok buah-buahan maupun sayuran yang dimiliki oleh para penduduk, membuat mereka kesulitan untuk menjualnya, hingga akhirnya menggunakan buah-buahan dan sayuran yang ada untuk dikonsumsi di rumah mereka masing-masing.


"Ayah..! Ibu..! Segera siapkan semua menu yang terbaik untuk ketiga orang kamu terhormat kita." ucap bocah itu disambut dengan senyuman hangat dari wajah kedua orang tuanya.


Keduanya dengan ligat langsung menyiapkan semua yang diminta oleh tamu pertama mereka, bahkan beberapa buah-buahan segar dihidangkan dengan cuma-cuma sebagai bentuk syukur, karena pada akhirnya kedai kecil mereka kembali kedatangan tamu.


Xu Yuan beserta kedua orang tuan muda Fu menikmati makanan yang dipesannya dengan penuh suka cita, mereka beberapa kali dibuat kagum dengan cita rasa masakan yang ada di kedai kecil itu, meskipun letaknya berada di ujung desa, namun rasa masakan yang disajikan tidak diragukan lagi kelezatannya.


.


.


.


Di tengah pesona keasrian dan kedamaian Desa Nanggong, di mana penduduknya sebagian besar menjalani profesi sebagai petani, muncul beberapa orang yang mengancam ketenangan mereka. Pria-pria yang dikirim oleh seorang rentenir tiba-tiba datang dengan niat jahat untuk menguasai desa yang mereka cintai.


Desa Nanggong, dengan hamparan padi dan kebun buah yang subur, adalah cerminan kerja keras. Penduduk desa hidup harmonis dengan alam, merawat tanah yang memberi makan mereka dengan penuh rasa syukur. Setiap petani menyemai benih, merawat pertumbuhan tanaman, dan menjaga kelestarian lingkungan dengan penuh dedikasi.


Namun, ketenangan desa yang telah dijaga selama bertahun-tahun mendadak digoyahkan oleh kemunculan pria-pria tersebut. Mereka bertindak sebagai suruhan rentenir yang ganas, yang memiliki ambisi kuasa dan kekayaan atas Desa Nanggong. Dalam keinginan mereka yang tamak, mereka tidak ragu untuk mengancam kesejahteraan dan keselarasan masyarakat.


"Hei kalian! Para penduduk desa! Lebih baik segera berkemas dan tinggalkan tempat ini, sebelum kami meratakan semuanya dengan tanah. Hahaha.." teriak salah seorang pria dengan sombong, dia bahkan tertawa terbahak-bahak seolah tidak melakukan kesalahan sedikitpun.


Para penduduk yang mendengar teriakan pria itu langsung keluar dari rumah mereka masing-masing, wajah mereka terlihat pucat, menandakan bahwa saat ini para penduduk desa itu berada pada ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2