You My Bucin

You My Bucin
11. Hasil ulangan


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu Alya, karena Bu Mega akan membagikan hasil ulangan harian kemarin. Alya berdo'a dari tadi agar nilainya lebih tinggi dari Ilham, tapi hatinya agak ragu mengingat bahwa pelajaran biologi itu adalah pelajaran favorit Ilham. Jelas cowok itu pasti lebih paham dan tau isinya, sedangkan Alya hanya membaca sekilas karena waktu yang mepet plus Alya juga jarang mencatat otomatis banyak materi yang tidak terbaca olehnya.


Alya merutuki dirinya karena malas untuk mencatat buku tentang pengetahuan alam itu, tapi jujur saja Alya lebih suka matematika daripada biologi. Lebih tepatnya Alya trauma karena pernah praktek membedah badan kodok yang membuatnya muntah dan pingsan sampai pulang sekolah. Mengingatnya membuat Alya ingin kembali muntah.


"Alya Maheswari," panggil Bu Mega.


Wajah Alya bersinar terang hari ini ketika melihat wajah Bu Mega yang tak seperti biasanya. Biasanya wanita berkepala empat itu selalu menatap lembar jawaban Alya dengan wajah datar, tapi hari ini untuk pertama kalinya Bu Mega tersenyum melihat kertas milik Alya.


Alya berjalan mengambil kertas kehidupannya. "Makasih Bu," ucap Alya sambil tersenyum.


"Bagus Alya, kamu harus mempertahankan nilaimu itu Ibu percaya kalau kamu anak yang pintar jika rajin belajar," jelas Bu Mega.


Alya mengangguk lalu kembali ke tempat duduknya. Gadis itu belum berani membuka nilai ulangannya, biar saja nanti dia buka ketika Ilham mendapatkan kertasnya juga.


"Ilham Adiwijaya," panggil Bu Mega.


Cowok itu maju lalu mengambil kertas ulangannya dan kembali ke tempat duduknya. Ilham memasang wajah datar tanpa ekspresi padahal dalam hatinya sudah dag dig dug takut jika nilainya lebih rendah daripada Alya.


"Ilham, coba liat nilainya," pinta Alya.


"Gak!"


Alya mengerucut bibirnya kesal. "Ayok kita liatin barengan!"


Ilham menghela napasnya, dia menurut saja karena sedang malas berdebat.


Alya memberikan aba-aba agar bisa memperlihatkan nilainya secara bersamaan.


"Satu...."


"Dua...."


"Tiga...."


Alya memperlihatkan nilainya pada Ilham begitupun sebaliknya. Alya mendapatkan nilai sempurna sedangkan Ilham 99 hanya kurang satu angka.

__ADS_1


Ilham mendesah pelan, Tuhan memang benar-benar ingin menghukum dirinya dengan membuat Alya menjadi pacarnya.


Sedangkan Alya mengigit bibir bawahnya menahan agar tidak berteriak karena disini masih ada Bu Mega.


"Baiklah Ibu permisi, silahkan istirahat."


Setelah Bu Mega keluar, Alya berniat untuk berteriak namun sebuah tangan berhasil meredam teriakannya, orang yang melakukan itu adalah Resta.


"Thank Res," ucap Ilham lalu meninggalkan kelas bersama ketiga temannya.


"Nilai gede tapi cuma buat bucin itu gak pantes buat dipamerin, jadi mending lo diem!" ujar Resta tegas.


Alya menutup mulutnya rapat, entah apa yang terjadi dengan Resta. Apa dia marah padanya?


"Res, lo kenapa? lo marah sama gue?" tanya Alya sendu.


Resta yang sedang memasukan bukunya kedalam tas menatap Alya datar. "Gue gak marah, tapi gue kecewa sama pola fikir lo, gue kira lo mengubah nilai lo karena kesadaran diri tapi ternyata karena bucin!" ujarnya dengan dada yang naik turun.


"Emangnya salah ya? daripada gue-"


"Tap-"


"Alya orang tua lo nyekolahin lo biar pinter bukan buat bucin! apa lo gak sadar sama apa yang lo lakuin?"


Alya diam dengan perkataan Resta, dia lebih baik mendengarkan semua unek-unek yang ada didalam hati gadis itu.


"Dulu lo sering bolos tapi gue tau lo gak pernah absen buat catet pelajaran yang ada dibuku gue kecuali pelajaran biologi karena lo gak suka, dulu meski lo gak masuk tapi lo tetep belajar bareng dirumah gue, dan jujur gue takjub sama lo yang bisa hafal dengan waktu sebentar, gue iri sama kepintaran lo," ungkap Resta.


Resta menyeka air matanya yang turun begitu saja. "Gue pengen punya otak sepinter lo! mungkin gue gak perlu susah-susah belajar dan gak perlu dimarahin nyokap gue karena gue gak pernah masuk 10 besar! sedangkan lo punya otak tapi cuma dipajang doang, dan pura-pura bodoh lo itu gak mempan buat bikin bokap lo peduli Al, cukup tingkah konyol lo itu, jangan ngebodohin diri lo sendiri!! gue mau lo berubah dengan kemauan lo sendiri bukan buat bucin!!"


Alya tertampar dengan perkataan sahabatnya. Kalau difikir-fikir dia ini memang bodoh semenjak orang tuanya bercerai satu tahun yang lalu. Alya memutuskan menjadi anak nakal dan mendapat peringkat terendah, alasannya karena dia ingin diperhatikan oleh ayahnya. Namun, ayahnya tidak peduli dia hanya memarahinya karena Alya membuat masalah di sekolah, namun nilai Alya tidak pernah ayahnya permasalahkan.


Alya sempat berfikir jika dia bodoh maka ayahnya akan memberikan guru les untuknya, dan Alya anggap itu adalah perhatian yang ayahnya berikan untuknya. Tapi sampai saat ini ayahnya hanya diam tanpa mau berkata apapun tentang nilainya.


Alya menunduk sedih, gadis itu menitikkan air matanya. "M-maaf Resta, gue emang bukan sahabat yang baik, gue sahabat yang buruk."

__ADS_1


Hangat. Satu kata yang bisa dirasakan Alya saat ini. Dia tidak menyangka bahwa Resta akan memeluknya, dia sahabat sekaligus saudari untuknya, tidak bisa dibayangkan jika dia tidak ada. Alya bisa kehilangan ibunya, ayahnya bahkan Ilham sekalipun, tapi dia tidak bisa kehilangan Resta karena dia satu-satunya orang yang mengerti dirinya.


"Lo gak boleh jadi cewek bodoh Al!" ujar Resta.


"Gue bakal memperbaiki nilai gue Res, dengan kesadaran diri gue. Gue bakal pastikan ulangan semester 1 gue ambil semua nilai sempurna."


Kedua gadis itu terkekeh lalu melepaskan pelukannya lantas mengusap air mata mereka masing-masing.


Resta memberikan jari kelingkingnya pada Alya. "Janji sama gue lo bakal pake otak lo yang pinter itu buat kalahin si Ilham!"


"Janji." Alya menyambut jari kelingking itu dengan jari kelingkingnya sambil tersenyum.


"Lo jadi pacar si Ilham sekarang?" tanya Resta.


"Hmmm, menurut lo?"


Resta menggeleng. "Gak, lo harus ngejar dia dengan tenaga lo sendiri, otak lo harus dipake mulai sekarang Al, tapi bukan kayak tadi dan lo akhirnya nurunin nilai lo lagi."


"Jadi apa lo punya rencana buat bikin gua lebih deket sama Ilham?"


Smirk terlihat diwajah Resta. "Gue ada ide, tapi gue gak jamin berhasil sih."


"Apa tuh?"


"Jauhin Ilham!"


Alya menatap datar Resta. Ide yang sangat buruk!!


"Ayolah Al, gak buruk kok."


"Pokoknya gak!! mending gue kejar Ilham kayak biasa!"


Resta menepuk dahinya. Susah memang jika menceramahi manusia yang sudah bucin seperti Alya.


"Serah kaulah!!"

__ADS_1


__ADS_2