
"Kita akhiri ceritanya,"
"Kita akan menjadi masa lalu yang indah,"
"Kita akan bersinar di masa depan!"
Mereka tertawa riang di tengah lapangan sembari menyanyikan lagu Masa SMA dari angel 9 band.
Tiga tahun mereka lewati dengan suka duka, banyak kegaduhan yang mereka buat bahkan tak jarang membuat guru-guru pusing apalagi Alya, gadis yang digadang-gadang sebagai siswi ternakal sepanjang angkatan manapun.
"Gue sedih deh, Nara gak bisa gabung sama kita," celetuk Amelya setelah lagu mereka akhiri.
"Iya sepi juga tanpa si Erik," sahut Irgi.
"Mau gimana lagi, mereka udah lulus duluan, udah berkeluarga pula," ujar Alya dengan mengedikkan bahunya.
"Kasihan keduluan sama sepupu hahaha!" cibir Gery.
Pletak
Satu pukulan mendarat di keningnya, tentu saja itu adalah ulah pacarnya eh tunangannya maksudnya.
Seminggu setelah kejadian Erik dan Nara menikah, Gery membuka rahasia tentang hubungannya dan Resta, dari awal sampai akhir hingga mereka semua mengetahuinya dan tentu saja Alya yang paling heboh setelah mengetahui fakta itu.
"Mampus! Dasar gak punya kaca!" ledek Alya sembari tertawa melihat wajah kesal cowok itu.
Dengan tiba-tiba Ilham menggenggam tangan Alya, membuat gadis itu mendongak menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Ada apa?"
Ilham berdeham sebentar sebelum menjawab. "Besok kita nikah yuk! Kita kan udah lulus," jawabnya tanpa dosa.
"Woi anjing! Yang bener dong, yakali kalian mau nikah aja, mending kerja dulu," umpat Irgi. Jujur saja dia masih ingin nongkrong bersama ketiga sahabatnya, tapi sepertinya itu hal yang mustahil karena mereka semua telah menemukan cinta mereka, tidak seperti dirinya.
Kalian tahu? Irgi masih mengincar Amelya, satu tahun masih belum cukup untuk merajut kisah dengannya padahal mereka sudah cukup dekat bahkan teman-temannya selalu saja memanasinya dengan kata-kata yang menyebalkan.
"Kerja? OMG, yang udah kaya dari lahir mah nyimak bos!" sahut Alya, dia berniat hanya untuk bercanda.
Irgi hendak membalas lagi namun terhenti karena tepukan di pundaknya.
__ADS_1
"Udahlah jangan di ladenin, orang kayak dia gak bakal mungkin ngalah," ucap Amelya.
Sontak saja Gery menepuk pundak Irgi dengan cukup keras lantaran gemas dengan sejoli yang belum meresmikan hubungannya itu.
"Woy sat! Sakitlah, gak ngotak lo!" cerca Irgi.
"Lagian kalian kan udah cocok, mending kalian jadian aja," sahut Resta yang sedari tadi hanya diam.
Amelya terdiam, dia memundurkan langkahnya ke belakang kemudian berlari menjauh dari mereka.
"Eh kok malah kabur?" tanya Resta panik, dia takut kalau dirinya mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati Amelya.
Alya yang paham dengan gelagat sahabatnya lantas mengelus pundaknya pelan, "gapapa Res, dia gak marah kok, kayaknya dia lagi butuh sendiri aja."
Resta mengangguk mendengarkan penjelasan Alya. Namun Irgi, dia menatap sendu pada punggung gadis yang telah menghilang dari pandangannya.
"Sampai kapan lo menutup hati Mel? Kapan lo mau lihat gue?"
...*****...
Waktu terasa begitu cepat berlalu, namun hatinya masih selalu beku. Bukan, dia bukannya tidak menyukai Irgi atau dia menyukai orang lain, tapi dia hanya masih takut dengan laki-laki, dia takut di khianati.
Tidak menutup kemungkinan Irgi juga melakukan hal yang sama pada dirinya ketika menemukan wanita lain yang lebih baik darinya. Mengingat Irgi dia jadi mengingat Erik, laki-laki pertama yang mengungkapkan perasaan padanya.
"Maaf gue ganggu Istirahat lo," ujar Erik.
"Gapapa santai aja," balas Amelya.
Saat ini mereka sedang duduk di taman rumah sakit, seharusnya Amelya beristirahat karena dia baru saja selesai operasi, namun dia lebih memilih untuk ikut ajakan laki-laki di sampingnya lantaran dia tidak bisa tidur.
"Lo bawa gue kesini mau apa? Ada yang mau lo omongin?" tanya Amelya tanpa basa basi.
Terdengar laki-laki di sampingnya menghela napas panjang, seperti akan mengatakan sesuatu yang berat.
"Bagi lo Alya itu apa?" tanya Erik membuat gadis itu mengerutkan keningnya.
"Bagi gue Alya itu adik, meskipun gue benci dia dulu karena menganggap bahwa dia lebih beruntung dari gue karena bisa disayang sama ayah dan ibu, tapi sekarang gue sadar dia gak sebahagia itu dan gue berfikir untuk membuat dia bahagia sekarang."
Erik menganggukkan kepalanya, "Apa dengan Ilham kembali sama Alya bakal bikin dia bahagia Mel?"
__ADS_1
"Sepertinya iya." Amelya semakin tidak paham dengan perkataan cowok itu.
Secara tiba-tiba Erik memegang kedua tangan Amelya lembut sembari tersenyum ke arahnya. Tentu saja itu membuat Amelya syok meskipun raut wajahnya masih terlihat biasa saja.
"Gue mau jujur sama lo Mel,"
Netra mereka beradu dan itu membuat detak jantung keduanya berdetak tak beraturan.
"Gue suka sama lo Mel," ungkap Erik tanpa melepaskan tatapannya.
Deg
Jantung Amelya semakin berdetak kencang bahkan sekarang di perutnya terasa geli seperti ada kupu-kupu berterbangan di sana.
"Tapi gue minta maaf Mel,"
"Maksud lo apa? Lo ngeprank gue?!" tanya Amelya dengan nada marah.
"Nggak, bukan itu tapi gue mau jujur satu hal lagi," ujar Erik. Dia masih mempertahankan posisinya meskipun saat ini hatinya sedang terasa sakit begitu melihat wajah murung gadis di depannya.
"Apa? Lo mau jujur apa setelah lo ungkapin perasaan lo yang-"
"Gue yang hamilin Nara, karena itu gue takut buat suka sama lo tapi semakin gue pendam rasa gue ke lo semakin bertambah," potong Erik cepat.
Amelya diam, sontak dia melepaskan tangannya dari cowok itu. Tanpa terasa air matanya menetea begitu saja, beginikah rasa senangnya ketika seseorang menyukai kita secara diam-diam? lalu beginikah rasanya dijatuhkan ketika sedang berada di atas awan?
Malam ini dia diterbangkan lalu dijatuhkan hanya dengan sekali kedipan mata.
"Mending lo tanggung jawab, gue gak mau adik gue sakit karena lihat pacarnya nikah dan bahagia sama orang lain," ucap Amelya tanpa menatap sang lawan bicara.
Dia malu, meskipun saat ini dia tidak memiliki perasaan pada Erik tetap saja dia merasa sakit karena Amelya ini cewek baperan akut.
"Gue emang mau lakuin itu, tapi sebelumnya gue mau ungkapin perasaan gue takutnya setelah gue nikah sama Nara, perasaan buat lo masih gue pendam dan akhirnya bikin Nara sengsara," balas Erik tegas.
Amelya mengangguk, Erik cowok yang baik, dia pantas bersanding dengan Nara sahabatnya, semoga saja dengan mereka menikah Nara akan menjadi orang yang lebih baik.
"Erik lo-"
"Sebentar aja, izinkan gue meluk lo sekali ini Amelya."
__ADS_1