You My Bucin

You My Bucin
15. Perasaan yang muncul kepermukaan


__ADS_3

"Lo hutang cerita sama gue!!"


Devan yang baru saja masuk kedalam kelas langsung disuguhi teriakan sahabatnya yang begitu menyebalkan.


Devan menyimpan tasnya kebangkunya yang berada dipojok paling belakang dan dilihatnya gadis berwajah datar berdiri menyilangkan kedua tangan sambil menyadarkan punggungnya kedinding dekat kursinya.


"Apa?" tanya Devan.


"Kenapa Alya ada dikosan lo? kok bisa lo masukin orang kedalam kosan lo itu sedangkan gue yang notabenenya sahabat lo dari kecil aja gak lo bolehin masuk," cerocos Dania tanpa jeda.


"Kenapa lo marah? kita cuma sahabatan dan Alya itu adek gue," balas Devan datar.


Dania semakin menajamkan matanya. "Apa maksud lo cuma sahabat?!" tanyanya dengan dada naik turun.


"Lo cuma sahabat dan bukan orang spesial yang boleh masuk kedalam kosan gue."


Dania menatap tak percaya, baru kali ini Devan membentaknya dan menyakiti hatinya, bahkan lebih sakit dari saat Devan memperkenalkan Alya sebagai pacarnya.


"Jadi selama ini gue bukan orang spesial?!"


Satu kelas berbisik mengenai pertengkaran hebat antara Dania dan Devan yang sangat jarang terjadi atau ini adalah kali pertama mereka bertengkar. Mereka juga terkejut dengan fakta bahwa Alya si gadis bermasalah itu rupanya adik Devan yang berarti anak dari CEO Nugraha.


"Gue gak tau kenapa lo sampe marah cuma karena hal sepele kayak gini," ujar Devan. Dia menatap Dania yang menatapnya kecewa itu mengingatkannya pada Alya. "Kenapa? lo kenapa?!" tanyanya dengan sedikit membentak.


"Gue suka sama lo sat!! cowok gak peka lo! lo kira persahabatan diantara cewek sama cowok itu bakalan tulus? enggak Van, lo salah besar, lo terlalu bucin sama Alya sampai-sampai lo gak bisa melihat gue!"


Tanpa aba-aba air itu lolos dari pelupuk matanya, bibirnya mengucapkan kata yang selama ini dia pendam, tidak peduli setelah ini Devan akan benci padanya setidaknya dia sudah lega karena mengungkapkan perasaannya. Dania mengambil tasnya yang ada didekat tas Devan, kemudian gadis itu berlari keluar kelas tujuannya hari ini dia akan kabur, tidak peduli dengan hukuman yang ada didepan mata.


"Ck, kok jadi gini? Bego banget si Devan." Seseorang mengumpat lalu berlari mengikuti Dania.


Alya baru saja mau ke kelas Devan untuk marah-marah malah menemukan Dania yang berlari kearah belakang sekolah, karena penasaran dia pun ikut berlari menyusul kakak kelasnya itu.


Matanya membola melihat Dania menaiki dinding yang biasa dia panjat itu, tidak disangka murid teladan itu berniat untuk kabur.


"Apa gue ikut kabur aja ya? udah lama juga gue gak manjat tembok nih," gumam Alya.


Gadis itu memutuskan untuk mengikuti Dania, lagi pula dia kangen dihukum oleh bu Diana hehe.


Brukk...


Alya mendarat dengan sempurna membuat Dania menatapnya takjub, pantas saja Devan menyukai Alya mungkin karena anak ini multimedia eh multitalenta maksudnya.

__ADS_1


Dania menepuk seragamnya yang kotor karena terjatuh saat mendarat, beberapa detik kemudian dia bertanya, "Alya? ngapain lo kabur juga?"


"Ngikutin kak Dania," jawabnya dengan menampilkan deretan giginya.


Dania memutar bola matanya malas, gadis itu lebih memilih melangsungkan acara bolosnya daripada meladeni Alya, tidak peduli dengan gadis yang mengikutinya dibelakang nanti juga dia akan pergi sendiri.


"Aku bakal ikut kemanapun kak Dania pergi," ujar Alya.


Dania mendengus. "Kenapa lo mau ikutin gue?"


"Merasa kalau kak Dania lagi ada masalah, aku bakal jadi pendengar buat Kakak siapa tau aku juga bisa bantu kalo kakak mau ngomong."


Gadis itu menghela napasnya. "Beda banget nih anak sama kakaknya yang gak pekaan itu."


"Serah lo!"


Alya tersenyum lalu menggenggam tangan Dania kemudian mengajaknya berlari kesuatu tempat yang sering dia kunjungi ketika sedang bolos sekolah.


Taman kota. Jaraknya cukup dekat dengan sekolah hanya perlu berlari 7 menit sudah sampai.


"Huh, lo gila Al? gue capek banget astaga dada gue nyesek," ujar Dania dengan napas yang tersengal-sengal.


"Hehe maaf Kak aku udah biasa soalnya kalo bolos suka kesini."


Kedua gadis itu memilih duduk dikursi dekat pedagang batagor.


"Bang saya pesen batagornya 1," ujar Alya.


Bapak itu mengangguk lalu bertanya, "si neng yang satunya gak mau beli juga?"


Alya yang melihat raut tak bersahabat dari gadis disampingnya memilih menggeleng untuk menjawab.


"Oke neng ditunggu ya."


Alya mengangguk sambil tersenyum sebagai balasan.


"Kenapa lo ajak gue kesini?"


"Biar hatinya adem Kak," jawab Alya.


"Yang ada makin panas tau!"

__ADS_1


Memang cuaca pagi ini begitu cerah padahal ini masih jam 8 pagi tapi matahari sudah membuat kulit mereka meronta ingin sesuatu yang menyegarkan.


"Maksudnya biar gak kepikiran, Kakak ada masalah apa emangnya sampe kabur kayak gini?"


Dania sedang menimang apakah dia harus memberitahu pada Alya atau tidak.


"Ini neng pesenannya udah jadi."


Mata Alya berbinar melihat bumbu batagor yang begitu menggugah selera, sepertinya dia akan tambah satu porsi lagi karena cacing diperutnya pasti akan merasa kurang.


"Makasih pak." Alya tersenyum lalu langsung melahapnya. "Eh, nih kwak mawu gwak?" tawarnya dengan mulut yang dipenuhi batagor.


Dania menggeleng. "Gak, gue udah sarapan."


Gadis itu menelan makanan yang sudah dia kunyah. "Mau cerita gak kak?"


"Abisin aja dulu baru gue cerita."


"Udah habis hehe."


Mata Dania terfokus pada piring yang sudah kosong. "Lo lapar?"


"Iya Kak tapi sekarang udah kenyang kok," bohongnya padahal cacing diperutnya sedang berebut makanan.


Alya menyimpan piring beserta uang pas digerobak penjual. "Ayok cerita kak," ujarnya.


Dania menghembuskan napasnya pelan lalu mulai berkata, "gue suka sama Devan sejak dulu, dan tadi gue kelepasan marah sama dia."


"Pasti gara-gara Alya yang nginep dikosannya ya?"


Dania mengangguk lemah. "Maaf Al gue kekanak-kanakan banget padahal gue tau lo itu adeknya."


"Kakak gak salah emang si Devannya aja yang gak peka!!"


"Salah gue, karena gue gak pernah jujur sama dia, gue takut bakal merusak persahabatan gue sama dia."


Alya menepuk bahu Dania. "Tenang kak, si Devan gak bakalan benci Kakak kok malah dia bakal nembak Kakak deh beneran, menurut aku Kakak cocok sama dia lagian aku juga suka sama Kakak kalo misalnya nanti jadi kakak ipar, gak masalah."


Pipi Dania memerah. Astaga, mengapa Alya mengatakan hal yang begitu jauh seperti itu, padahal sekarang saja dia tidak tahu apakah Devan menyukainya atau tidak.


"Jangan bikin ekspetasi gue tinggi Al!" kesalnya.

__ADS_1


Alya terkekeh. "Beneran Kak gue bakalan bantuin lo biar jadian sama Devan, gue yakin kalo dia juga suka sama lo cuma gak sadar aja."


Apakah Dania harus percaya pada Alya?


__ADS_2