
"Pokoknya kamu harus segera di operasi Alya, ayah gak mau sampai kamu kenapa-kenapa," ucap Aryan.
Ini sudah kesepuluh kalinya pria itu mengatakan hal serupa pada Alya, namun jawaban putrinya masih tetap sama.
"Alya gak mau!" jawabnya sambil melenggang pergi meninggalkan sang ayah.
Aryan bingung harus melakukan apa lagi untuk membujuk Alya agar dia mau mengobati penyakitnya. Karena pusing pria itu memijat pelipisnya sembari memikirkan cara untuk kembali membujuk putrinya.
"Ayah mau ngebujuk gimanapun Alya gak bakalan setuju, dia anaknya keras kepala," celetuk Devan.
Dengan malas Aryan menatap putra sulungnya yang sedang memakan camilan, "diam kamu Van, kalau gak bisa kasih solusi setidaknya jangan bikin ayah kehilangan ide."
"Devan hanya mengingatkan kalau putri kesayangan ayah itu batu,"
"Kamu abangnya, ayah serahkan sama kamu, ayah pengen besok adik kamu itu menyetujui untuk melakukan operasi," ujar Aryan.
"Aku gak ma-"
"Ayah potong uang jajan kamu."
Devan mendengus, Aryan memang selalu bisa membuat dirinya bungkam.
"Ayah mau kemana?" tanya Devan yang melihat ayahnya pergi meninggalkan ruang keluarga.
"Ada urusan," jawab Aryan singkat.
"Loh, udah malem gini, emangnya gak bisa bes-"
"Kamu jangan banyak tanya Devan, cukup kamu bujuk adik kamu saja," potong Aryan dengan nada kesal.
Pada akhirnya Devan pasrah, dia memang selalu kalah jika berurusan dengan ayahnya, entah kenapa. Baiklah, kini dia harus memikirkan cara untuk membujuk Alya agar mau melakukan operasi, jangan sampai uangnya terpotong harena dia gagal melaksanakan tugas kanjeng raja.
"Gue ada ide!!"
...*****...
Sebagai seorang ayah, Aryan merasa terpuruk akan kebenaran tentang adanya penyakit di dalam tubuh putrinya. Dia ingin marah karena akhir-akhir ini dia mengabaikannya bahkan sampai membentak dan menamparnya. Dia seorang ayah yang gagal.
Saat ini dia akan mengerahkan segala cara agar bisa membuat putrinya kembali sembuh seperti sedia kala, dia tidak akan sanggup kehilangan Alya, gadis itu adalah hidupnya. Apapun akan Aryan lakukan untuk anak tersayangnya.
__ADS_1
"Jadi, apa saya boleh pinjam uangnya Zayn?" tanya Aryan dengan penuh harap.
"Buat apa kamu meminjam uang sebesar 1 miliyar Ar? apa perusahaan kamu tidak bisa memberikan dana sebesar itu?" tanya Zayn bingung.
Pria itu menghela napasnya kemudian memulai untuk menjelaskan pada sahabatnya. "Sebenarnya perusahaanku beberapa waktu ini mengalami kemerosotan yang membuat aku kehilangan cukup banyak kerugian, maka dari itu aku butuh uang yang cukup banyak untuk menutup kerugian itu," jelasnya.
"Seburuk itu Ar? tapi aku tidak bisa memberikan pinjaman sebesar itu,"
"Kenapa?"
"Kamu belum tahu Ar? kemarin Alya sempat meminta bertemu denganku, setelah kami bertemu dia malah mengatakan untuk memutuskan pertunangannya dengan anakku Ilham. Jadi menurut perjanjian kita, aku tidak bisa memberikan apapun padamu jika pertunangannya batal," ucap Zayn.
Aryan terdiam, dia tidak tahu soal ini, kenapa Alya memutuskan untuk berhenti padahal dia tahu sendiri bagaimana bucinnya Alya pada Ilham, apa karena penyakit yang ada di tubuhnya?
"Jadi maaf, aku tidak bisa memberikan pinjaman sebesar itu Ar," celetuk Zayn dengan perasaan tak enak.
"Tidak apa-apa, hanya saja ini menyangkut dengan nyawa seseorang Zayn,"
Pria itu menaikan alisnya, kini dia sedikit tertarik dengan pembahasan yang baru akan di sampaikan oleh Aryan.
"Maksudnya apa?"
"Dokter mengatakan bahwa obat-obatan sudah tidak bisa menyembuhkan penyakitnya terkecuali dia mau melakukan operasi sumsum tulang belakang, dan seperti yang kita tahu operasi itu tidak cukup dengan uang seratus atau lima ratus juta, maka dari itu dengan perasaan malu aku kesini meminta diberikan pinjaman."
"Maafkan orang yang tidak tahu diri ini Zayn," ucap Aryan mengakhiri penjelasannya.
Dia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi, dia hanya memiliki satu-satunya teman dan itu adalah Zayn, jika dia tidak mau meminjamkannya uang maka terpaksa dia akan menjual beberapa barang yang dimilikinya, mungkin termasuk mobil yang digunakannya.
"Jadi selama ini Alya sakit parah?" seru Ilham.
Kedua pasang mata itu kini tertuju padanya, mereka sedikit terkejut dengan kedatangan cowok itu yang tiba-tiba.
"Kenapa? kenapa gak ada yang kasih tahu Ilham? " tanyanya marah.
Andai dia tidak pergi ke dapur untuk mengambil air minum, mungkin sampai detik ini dia tidak akan tahu keadaan yang sedang dialami oleh wanita yang dicintainya. Pantas beberapa waktu terakhir sebelum mereka putus, Alya lebih pendia. serta tidak seceria biasanya.
"Kenapa gak ada yang bilang kalau Alya sakit?" tanya Ilham lagi. "Alya sakit apa?"
"Dia kena kanker darah stadium akhir."
__ADS_1
Ayah dan anak itu terdiam lantaran terkejut dengan jawaban dari aryan. Mereka tidak menyangka gadis yang selalu ceria itu ternyata memiliki penyakit yang mematikan.
Aryan tersenyum pedih, "bagaimana bisa om kasih tahu kamu kalau om sendiri saja baru tahu dua hari yang lalu," balasnya.
"Maaf Ar, kamu gak perlu pinjam karena berapapun biayanya akan aku tanggung karena aku sudah menganggap Alya sebagai putriku sendiri," ucap Zayn sambil mengelus pundak sahabatnya.
"Nggak Zayn, aku mau pinjam, nanti setelah aku ada uang maka akan aku kembalikan," balasnya menolak niat baik Zayn.
Bukan Aryan sombong, tapi dia merasa tidak enak jika Zayn membuang uang hanya untuk membiayai pengobatan anaknya.
"Makasih atas pertolongannya,"
"Sama-sama, kita ini sudah seperti saudara Ar."
Pria itu mengangguk lantas tersenyum, "Iya Zayn."
Setelah selesai dengan masalah biaya operasi, kini Aryan beralih pada Ilham yang sedari tadi diam seperti patung, dia berniat untuk meminta bantuan pada cowok itu.
"Ilham," panggilnya.
"Iya om," sahut Ilham.
"Om boleh minta tolong sama kamu?"
Ilham mengangguk, "Tentu om, selagi Ilham bisa pasti bakal Ilham bantuin."
"Om minta tolong sama kamu, bujuk Alya agar dia mau dioperasi, semoga saja kalau kamu yang minta dia mau," ucap Aryan dengan penuh harap.
Sebenarnya dia tidak yakin bisa untuk membuat gadis itu mau menjalankan operasi, kejadian waktu lalu sepertinya akan sangat membekas dan tidak akan ada yang bisa diubah. Alya benar-benar sudah pergi darinya karena perlakuan kasarnya.
Ilham bodoh, seharusnya dia mencari tahu kemudian baru mengatai Alya. Dia benar-benar menyesal.
"Ilham kamu bisa kan?" ulang Aryan meminta balasan.
Dengan sisa keyakinannya akhirnya Ilham menjawab, "Iya, Ilham bisa om."
"Terimakasih karena kalian sudah mau bantu Alya, semoga perjuangan kita tidak sia-sia, semoga nanti Alya kembali menjadi gadis ceria yang sembuh," ucap Aryan sambil menitikan air matanya.
Zayn mengelus pundak Aryan memberikan kekuatan padanya. "Amin, semoga Alya sembuh."
__ADS_1