
"Woilah, ngelamun bae!"
Tanpa dosa Angga duduk di sebelah Melya setelah menggebrak meja yang membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Lo bisa gak sih jangan gangguin gue!" ucap Melya dengan nada kesal.
Cowok itu mengedikkan bahunya, "Lo gak mau pulang? Udah malem nih," tanyanya.
"Sebentar lagi."
Angga berdiri lantas memberikan sesuatu dari saku hoodienya. "Buat lo biar mood lagi," ujarnya.
Kepalanya mendongak menatap cowok itu kemudian menolak mentah-mentah coklat yang disodorkan olehnya.
"Gue gak butuh perhatian palsu lo!" ucap Melya ketus.
"Kok lo sewot? kalo gak mau ya udah gak maksa, lagian nih coklat gue beli mahal-mahal buat ayang Resta bukan buat lo!" jelas Angga yang memasukkan kembali coklat itu ke sakunya.
Sudah dia duga, tidak mungkin Angga sepeduli itu padanya. Melya tertawa miris, "Terus kenapa lo kasih ke gue setan?!" tanyanya.
"Karena gue kasian liat sahabat gue dari tadi murung terus ya udah gue kasih ke lo, kalo buat Resta bisa nanti lagi gue beli," jawabnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Saat ini rasanya Melya ingin menangis dan menertawai takdirnya yang begitu buruk.
Lantaran kesal Melya bangkit kemudian menyenggol bahu Angga.
"Woy! Kalo lo kesel sama gue bilang!" teriak Angga sebal.
Melya menulikan pendengarannya, saat ini dia ingin menyendiri dan tidak ingin pulang terlebih dulu. Tujuannya adalah menuju ke dapur dimana tidak akan ada orang yang mengganggunya kecuali cucian piring kotor yang menumpuk.
"Arghh! Angga sialan!" Melya mengumpat kesal.
Dia menangis sambil memukulkan kepalan tangannya ke dinding.
"Kenapa gue gak bisa bahagia? Kenapa? " teriaknya frustasi.
Dia butuh seseorang, dia butuh penguat, dia butuh pelukan.
"Kenapa Tuhan gak adil banget sama gue? Mana bahagia yang Tuhan janjikan untuk semua makhluknya? Kenapa gue selalu menderita?"
Pada akhirnya dia hanya seseorang yang tidak akan dianggap ada, entah itu di keluarga atau di mata Angga. Tidak ada yang benar-benar melihatnya, bahkan Nadira dan Nara pun terkadang tak dapat melihat kehadirannya.
"Gue capek," ucapnya lirih.
"Harusnya lo seneng Melya," seru Nara.
Dengan cepat Melya menghapus air matanya kemudian dia menatap Nara tajam, "Apa maksud lo? Gue harus seneng gitu liat cowok yang gue suka jadian sama cewek lain?" tanyanya kesal.
"Bukan Melya."
"Terus apa? Hal apa yang bisa buat gue seneng?" tanya Melya.
__ADS_1
Nara bersedekap dada lalu menyunggingkan senyumnya, "Harusnya lo seneng kalo denger Alya ternyata punya penyakit kanker."
Melya terdiam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
"Seharusnya lo gak khawatir karena satu masalah lo musnah, mungkin besok atau lusa cewek itu-"
"Cukup!"
Nara terkesiap dengan bentak Melya. Baru kali ini dia melihat wajah marah dari Melya yang ditujukan untuknya.
"Lo bentak gue Mel?" tanya Nara tak percaya.
Tanpa takut Melya mendekat kemudian menatap Nara tajam. "Dia kembaran gue sialan!"
...*****...
Malam semakin larut namun tidak ada niatan untuknya kembali pulang. Dia menepi di kursi besi pinggir jalan, ditatapnya kendaraan yang hilir mudik padahal waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam.
Dia menghela napasnya, kembali dia teringat tentang sosok kembarannya yang ternyata memiliki tubuh bersarang penyakit.
"Sebenci apapun gue sama lo tetep perasaan peduli gue ke lo itu sama kayak saudara-saudara di luar sana," ucapnya bermonolog.
Dia menutup matanya sejenak merasakan sesak di dadanya.
"Gue kembaran yang buruk ya Al, gue selalu iri sama lo tapi gue gak pernah lihat gimana rasanya jadi lo."
Beberapa menit berlalu dengan hawa dingin namun kini ada sebuah kehangatan yang membalutnya membuat dia membuka matanya.
Orang itu tanpa permisi duduk disampingnya. "Kenapa? Gak usah tatap gue kayak gitu, gue emang ganteng."
Melya mendelik kemudian melepaskan jaket itu, "Gue gak butuh! Lagian gue gak tidur disini," ucapnya dengan nada kesal.
"Gak tidur tapi tutup mata."
"Lo ngeselin banget sih!"
"Iya gue tau, gue ganteng."
Melya menyerah dia lebih baik menutup mulutnya.
"Jiakhh, kalah kan lo!" ledeknya.
Cowok itu memeluk jaketnya sambil fokus menatap ke jalanan.
"Lo lagi sedih ya? Kok bisa? Padahal gue kira orang kayak lo gak bisa sedih," tanyanya.
Melya berdecak, "Gue juga manusia."
"Mel, lo merasa gak sih kalo kita ini cocok.".
Pertanyaan random itu keluar begitu saja dari mulut cowok itu.
__ADS_1
"Iya cocok-"
Cowok itu mengembangkan senyumnya menatap Melya.
"Cocok buat jadi musuh!" lanjut Melya tanpa menatap sang lawan bicara.
"Astaghfirullah kenapa lo benci sama gue sih? Padahal gue itu gak ada salah sama lo," ujarnya dengan wajah memelas.
"Muka lo ngeselin," balas Melya.
"Kira-kira kalo gue operasi plastik terus ganti jadi wajah Jaehyun, lo bakal suka gak?"
Melya menatap cowok itu sebal. "Gak! Gue lebih suka naruto daripada oppa korea."
"Ptttt, gepeng!"
Cowok itu meledakkan tawanya membuat Melya semakin kesal dan terdorong untuk memukul tangan, pundak serta mencubit cowok itu.
"Ampun, ampun! Astaga jangan kdrt Mel!" teriaknya.
"Siapa suruh lo ketawain husbu gue!!" murka Melya.
"Ampuni gue Mel, eh sumpah ya tenaga lo kayak tenaga kuli kuat banget."
Melya semakin gencar memukul cowok itu tanpa di sadari dia mulai melupakanmu kesedihannya.
"Ayo terus pukulin gue Mel sampe rasa sedih lo hilang," ujar cowok itu.
Dia menghentikan acara memukulnya, kini dia menatap cowok di depannya dengan wajah bingung. "Apa maksud lo? Gue gak sedih!" kilahnya.
"Gue tahu lo sedih Mel, seluruh anggota tubuh lo bilang kalo lo itu capek," ucapnya.
"Sok tahu!"
Cowok itu terkekeh pelan, "Gue emang tahu makanya gue kesini buat hibur lo."
Melya tersadar, dia kembali memutar ingatannya pada beberapa waktu lalu, dia diberikan perhatian dan seolah dipedulikan tapi ternyata dia sama sekali tidak pernah mendapatkan itu secara tulus. Mereka hanya kasihan.
"Hei, lo kenap-"
"Gak usah kasih perhatian ke gue, jangan pernah kasihan sama gue," potong Melya cepat.
Gadis itu memalingkan wajahnya ke lain arah, dia tidak mau berlama-lama terhanyut dalam perhatian semu. Sejujurnya Melya itu gampang baper, apalagi jika diberikan perhatian lebih.
"Gue gak kasihan sama lo, gue tulus kok buat hibur lo," ucap cowok itu tanpa ragu. "Gue bakal hibur lo ketika lo sedih, gue tau lo rapuh," lanjutnya.
"Gak ada yang benar-benar tulus, semuanya bohong."
"Biar gue buktiin sama lo Mel, kalo orang baik masih ada,"
Melya menatapnya sebal, "Lo gak usah membual Irgi, gue tau lo lagi deketin Nara."
__ADS_1