You My Bucin

You My Bucin
19. Kenapa?


__ADS_3

Ilham membaringkan tubuhnya yang terasa sakit padahal dia tidak melakukan aktivasi yang berat hanya bersekolah setelah itu mengantarkan seorang gadis, tapi mengapa tubuhnya begitu merasa lelah.


Tringgg


Sebuah pesan masuk membuatnya harus bangun dengan terpaksa untuk mengambil ponselnya yang ditaruh di nakas.


Melya:)


Kamu udah sampe?


17:30


Ilham menjentikkan jarinya lalu menekan tombol kirim.


^^^Me:^^^


^^^Udah kok ini lagi tiduran^^^


^^^17:30^^^


Tringg


Sebuah pesan kembali masuk membuat cowok itu mengembangkan senyum.


Melya:)


Langsung mandi Ilham jangan tiduran udah sore!!!


17:31


^^^Me:^^^


^^^Iya, bawel banget sih pacar aku^^^


^^^17:31^^^


Iya, ketika istirahat kedua Melya menemuinya mengajaknya untuk berbincang berdua, Ilham fikir mungkin dia akan menanyakan sesuatu tentang Osis karena dia adalah wakilnya. Namun Ilham salah besar justru gadis itu malah mengatakan hal yang dari dulu sangat Ilham inginkan.


"Ilham aku gak tau tindakan aku ini benar atau salah, aku cuma gak mau memendam ini lebih lama, aku sakit ketika liat kamu terus berduaan sama Alya."


Beberapa menit keheningan melanda keduanya, Ilham sedang bergelut dengan fikirannya menyaring setiap kata yang diucapkan oleh gadis didepannya. Keheningan itu kembali pecah ketika Melya melanjutkan ucapannya sambil menunduk.


"A-aku suka sama kamu, aku gak tahu sejak kapan, tapi yang jelas saat kamu berduaan sama Alya rasanya itu sakit."


Hening, bahkan suara angin di rooftop ini lebih nyaring dari pada deru napas mereka berdua. Ilham masih diam, dia tidak tahu harus berekspresi apa. Jika dulu mungkin dia sudah melompat kegirangan karena mendengar gadis yang dia suka juga menyukainya, namun entah mengapa kali ini ada yang berbeda. Ilham senang, namun seperti ada yang mengganjal dihatinya.


"Ilham, kamu mau jadi pacar aku?"


Cowok itu membuka matanya lebar menatap wajah sendu penuh kekhawatiran itu, tidak mungkin Ilham tega untuk menolaknya lagi pula memang ini yang diinginkannya dari dulu kan? tapi apakah perasaannya masih sama seperti dulu?


"Ya, aku mau."


Melya tersenyum senang kemudian memeluknya tanpa aba-aba. "Makasih."


"Harusnya biar aku yang nembak bukan kamu."


Entah mengapa pelukan ini terasa hampa, mungkinkah perasaannya ini sudah hilang? tidak mungkin.


Beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya lalu tersenyum kaku. "M-maaf ya aku refleks meluk kamu saking senengnya."


"Gakpapa sekarang kamu kan pacar aku," balas Ilham sambil tersenyum.


Wajah gadis itu memerah menahan malu, tidak bisa Ilham bayangkan jika dia menolaknya pasti gadis ini akan begitu sangat sedih.


"Aku anterin pulang nanti ya, aku tunggu diparkiran."


Melya semakin melebarkan senyumnya. "Makasih."

__ADS_1


Tringg


Sebuah pesan kembali masuk menyadarkan lamunannya. Keningnya berkerut dia kira orang yang sama telah membalas pesannya namun nyatanya bukan.


Cewek Gila!


Ilham tadi kenapa? Alya ada salah ya?


17:34


Tidak ada niatan untuk membalasnya namun entah mengapa hatinya terdorong untuk membalas pesan cewek itu.


^^^Me:^^^


^^^Gue mau anterin pacar gue!^^^


^^^17:34^^^


Dia tidak tahu apakah dengan ini Alya akan menjauhinya atau tidak. Sebenarnya perlakuannya tadi memang kelewatan, ada sedikit sakit disana namun dia menepis kuat bahwa dia tidak memiliki perasaan apapun pada gadis itu.


Cewek Gila!


Loh, Ilham jadian sama Melya?


17:34


Kok aku gak tau?


17:34


Putusin Ham!!


17:35


Mending sama aku aja


17:35


^^^Me:^^^


^^^Berisik!! Lo gak berhak buat merintah gue, lagi pula gue suka sama Melya^^^


^^^17:35^^^


Cewek Gila!


Kita udah buat kesepakatan loh, kalo aku dapet nilai tinggi di uas nanti kita pacaran Ilham


17:35


Ilham mematikan ponselnya, entah mengapa ketika dia berurusan dengan gadis itu rasanya kesal, namun bersamaan dengan itu ada suatu ruang kosong yang seketika menjadi penuh. Entahlah, dia tidak ingin memikirkannya lebih lama atau dia akan gila dengan sendirinya.


"Ilham!! mandi udah mau magrib!" teriak Rayna dibalik pintunya.


"Iya Ma! ini juga mau kok."


...*****...


Ku menangis


Membayangkan


Betapa kejamnya dirimu atas diriku


Kau duakan cinta ini


Kau pergi bersamanya~

__ADS_1


Lagu itu mengalun memenuhi ruangan 3×3 bercat biru langit.


"Hueee..., kok bisa-bisanya dia jadian sama si anak pungut itu!!" tangis Alya.


Setelah pesannya tidak dibalas akhirnya gadis itu uring-uringan gak jelas sambil memutar lagu random yang dia ketik di sebuah flatfrom musik. Dia ingin menggeser lagunya namun semakin diresapi semakin kena dihatinya.


"Arghh!! kok bisa-bisanya Ilham setega itu sama gue, cewek berengsek itu juga berani-beraninya main langsung ambil, gue aja pdkt dulu baru ajak jadian tapi ditolak mulu, huaaaa...."


Hidung gadis itu memerah cairan bening itu terus-terusan mengalir, sesekali ia juga menyedot ingusnya yang hampir jatuh. Menyebalkan sekali, padahal dia tidak menyediakannya tisu bagaimana mau menangis dengan aesthetic seperti didrakor, yang ada Alya terlihat seperti bocah yang tidak dibelikan ice cream oleh ibunya.


Insyaflah wahai manusia


Jika dirimu bernoda


Dunia hanya naungan


'Tuk makhluk ciptaan Tuhan~


Tangis Alya mereda seiring berjalannya lagu 'Keagungan Tuhan' yang dinyanyikan oleh Vidi Aldiano itu, Alya seketika jadi ingat mati, apalagi sekarang sudah waktunya adzan magrib.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar~


Alya langsung mematikan musiknya lalu menyeka air matanya, lantas gadis itu segera menuju ke kamar mandi untuk berwudhu setelah itu dia melaksanakan sholat magrib.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh"


Alya melakukan salam terakhir lalu dia menengadahkan tangannya.


"Ya Allah, jika dia jodoh hamba maka dekatkanlah, jika bukan, tolong jodohkanlah Ya Allah."


"Hamba juga mohon tolong lindungi Ibu disana, hamba juga berharap ayah bisa kembali sayang sama Alya, amin" Alya mengusap wajahnya setelahnya dia melipat sajadahnya lalu disimpannya di tepi kasur.


Tok... Tok... Tok...


Alya mendengus, siapa coba yang berani bertamu magrib begini, apakah dia tidak sholat?


Dengan terpaksa gadis itu membukakan pintu kosannya.


Ceklekkk


"Woah!! MasyaAllah ukhti."


Cowok itu melongo melihat Alya yang mengenakan mukena putih polos lengkap dengan bawahannya, perasaan tentram seketika singgah dihatinya.


"Mau apa lo kesini? sorry gue gak nerima tamu cowok!" ketusnya.


"Gue cuma mau ajakin lo makan diluar, lo pasti belum makan," ujarnya.


"Kesambet apaan lo Rik? lo tahu darimana kalo gue tinggal disini?"


Erik menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ehm, gue nanya kak Devan, lagian kita kan sepupu jadi gakpapa dong gue pengen lebih deket sama sepupu gue."


Alya memicingkan matanya, tidak ada kebohongan dimata cowok itu yang berarti dia memang benar-benar ingin berbuat baik padanya.


"Oke, tapi lo sholat dulu, gue gak mau diajak main sama cowok yang jarang solat kek lo!"


"Sembarangan, gue udah sholat kali!"


"Kapan?"


"Barusan, dimasjid deket kosan lo!"


Dilihat dari rambutnya yang sedikit basah dibagian depan sepertinya cowok ini tidak berbohong. Baiklah daripada Alya galau mikirin Ilham, mending dia cari makan.


"Oke tunggu diluar, gue ganti baju dulu."


Brukk

__ADS_1


Alya menutup pintu dengan keras membuat Erik mengusap dadanya.


"Huh, untung cantik!"


__ADS_2