
"Ilham!"
Cowok itu tidak mengindahkan teriakan yang masuk ke gendang telinganya, kedua kakinya terus berjalan tanpa berniat menghentikan meski saat ini tatapan orang-orang beralih padanya gara-gara tingkah Alya yang menarik perhatian.
"Ilham tunggu!" panggilnya lagi.
Alya mensejajarkan tubuhnya dengan cowok jangkung yang berjalan seperti singa itu, napasnya tersengal-sengal lantaran berlari dari halaman sekolah sampai koridor kelas XI Mipa 1.
"Ilham kenapa gak berhenti? padahal Alya udah panggil dari tadi."
Alya berusaha untuk membuka percakapan setelah empat hari lalu mereka saling terdiam, dan menjaga jarak. Semua ini terjadi karena permasalahan tempo lalu tentang pertunangan mereka. Tidak ada yang istimewa, hanya saja Alya saat ini sudah diklaim sebagai calon menantu dari keluarga Kusuma.
Alya senang? tidak juga. Alya kesal? tidak mungkin dia kesal hanya karena akan menikah dengan pujaan hatinya dengan cara perjodohan. Hanya saja dia tidak enak dengan Ilham, atau mungkin kasihan karena dia tidak memiliki perasaan apapun pada Alya.
"Stop ngikutin gue!" ujar Ilham.
Pada akhirnya cowok jangkung itu berhenti di depan kelas XI Mipa 2. Dia menatap Alya tak suka, dia tidak bisa menerima pertunangan absurd yang dilakukan kedua sahabat itu.
"Ilham kenapa? kesel sama Alya?" tanya Alya dengan nada sendu.
"Gue gak mau lihat muka lo lagi!"
Alya mengerucutkan bibirnya. "Nanti malem ada acara makan lagi, aku cuma mau bilang itu aja."
"Gue gak bisa!"
Ilham kembali melangkahkan kakinya diikuti oleh Alya yang berjalan di sampingnya.
"Ilham, kalo kamu gak mau nikah sama aku gapapa, kamu bisa bilang sama papa kamu buat batal-"
Ilham menatap Alya tajam, dia menghembuskan napas kesal. "Kalo gue bisa, udah gue lakuin dari kemarin!"
Alya menunduk, entah mengapa akhir-akhir ini dia sering menangis karena perlakuan Ilham padanya. Padahal dulu cowok itu sering mencibir Alya dengan kata-kata kasar dan Alya tidak ambil hati, tapi sekarang kenapa dia jadi baperan.
"Lo nangis?" tanya Ilham dengan suara yang lembut.
Kali pertama dalam hidupnya, menangis ditempat umum dan itu dihadapan Ilham.
"Alya! lo kenapa?" tanya Resta panik melihat sahabatnya terisak.
__ADS_1
Resta menangkup wajah Alya, terlihat air mengalir dengan deras dan hidungnya memerah.
"Lo kenapa nangis Al? lo diapain sama si ketos brengsek ini?" tanyanya.
Alya menyedot ingusnya lalu menepis tangan sahabatnya lantas menghapus bekas air matanya dengan tangan. "Gue gapapa," tutur Alya.
"Gapapa gimana? ini lo nangis gini pasti udah di apa-apain sama ketos kan?" omel Resta.
Ilham tidak berniat untuk mengusap bahu Alya seperti yang dilakukan Resta, cowok itu malah berlalu pergi menuju kelas meninggalkan Alya yang kembali menangis.
"Hei, kenapa lo nangis lagi Al?" Resta panik bukan main, seumur-umur bersahabat dengan gadis ini, dia tidak pernah melihatnya menangis disekolah seperti ini.
"G-gue kok cengeng banget sih Res?" Alya kembali menyedot ingusnya dan menghapus air matanya yang terus mengalir. "Perasaan dulu gue gak gini deh, gue gak pernah nangis gara-gara cowok," lanjutnya.
Resta mengusap pelan bahu Alya, berusaha untuk memenangkannya. "Gapapa itu berarti lo waras."
Alya mendelik mendengar jawaban sahabatnya. "Maksud lo selama ini gue gak waras?"
Resta menggeleng polos.
"Kamprett!!"
...*****...
Kolam di SMA Pertiwi ini cukup luas dan dalamnya setinggi dada anak laki-laki yang tinggi 180 cm. Sudah dipastikan Alya akan menghilang jika masuk kedalam kolam itu karena tingginya yang hanya 160 cm, untungnya Alya ini jago berenang bahkan dia pernah ditawari untuk ikut lomba renang dengan imbalan beasiswa. Tapi, namanya juga Alya, dia pasti malas.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pak Jarot datang.
"Baiklah anak-anak sebelum melakukan renang, sebaiknya kita pemanasan dulu, ikuti bapak ya!"
Seluruh murid kelas XI Mipa 3 menurut mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh pak Jarot. 5 menit berlalu, kini mereka berjajar mengerumuni kolam menunggu giliran mereka, atau sekedar melihat cara renang anak laki-laki.
"Baiklah sesuai absen ya!" ujar pak Jarot.
Alya tersenyum senang, karena di kelasnya hanya dia yang miliki huruf berawalan 'A'.
"Dimulai dari huruf 'Z' ya. Ziva ayo maju."
Alya menekuk wajahnya. "Cih, kok bisa begitu sih konsepnya."
__ADS_1
Resta terkekeh melihat wajah kesal Alya. "Sabar Al."
Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya kini giliran Ilham. Alya begitu antusias melihat cara Ilham berenang, cowok itu tak kalah jago dengan Alya.
"Ilham semangat!" teriak Alya.
Cowok itu tak mengindahkan perkataan Alya, dia fokus dengan tujuannya yaitu mendapatkan nilai tertinggi dan mengalahkan gadis menyebalkan itu.
Usaha tidak menghianati hasil, akhirnya Ilham memegang rekor renang tercepat saat ini, dan berharap Alya tidak lebih cepat darinya nanti.
"Alya Maheswari, ayo sekarang giliran kamu."
Alya tersenyum senang, dia segera mempersiapkan diri untuk melakukan pertunjukan yang semoga saja Ilham tertarik dengannya. Siapa tahu setelah ini Ilham mau mengomel padanya karena sudah mengambil peringkat pertamanya. Hahaha....
Alya masuk ke dalam air, awalnya memang baik-baik saja namun dipertengahan tiba-tiba saja kakinya tidak bisa digerakkan, dia panik lalu berusaha untuk meminta pertolongan.
"T-to-lo-ng!!"
Semua orang disana terkejut kecuali Ilham, cowok itu berpikir bahwa saat ini Alya sedang berpura-pura, mungkin untuk membuat Ilham masuk ke dalam air untuk menyelamatkannya.
"Cepat tolong Al-"
"Gak usah panik Pak, dia lagi drama nanti juga capek sendiri." Ilham memotong perkataan pak Jarot.
"Lo gila Ham?" tanya Resta dengan dada naik turun. "Sebodoh-bodohnya Alya kejar lo, dia gak bakalan bikin drama yang permaluin dirinya sendiri sialan!"
"Dia itu jago berenang, mana mungkin dia tengge-"
"Ck, kalo lo gak mau nyelamatin Alya biar gue aja!!" sarkas Erik.
Cowok itu langsung masuk ke dalam air untuk menyelamatkan Alya, sedangkan Ilham hanya mematung ketika melihat bibir pucat gadis yang dia suka.
Resta langsung memeluk tubuh dingin sahabatnya sambil menangis, dia menampar wajah Alya berharap gadis itu terbangun. Namun nihil, tidak ada respon dari gadis itu.
"Al, Alyaa!! bangun Al!"
Andai saja Resta jago berenang mungkin dari tadi dia sudah menyelamatkannya, pasalnya Resta ini punya skill renang cuma untuk ujian praktek bukan untuk menyelamatkan orang.
"Bawa Alya ke Uks!" titah pak Jarot panik.
__ADS_1
"Bawa ke rumah sakit saja Pak! saya sudah telpon ambulan," sahut Gamala.
"Bagus Gama! yang lain tolong hubungi orang tuanya Alya," teriak pak Jarot.