You My Bucin

You My Bucin
87. Keputusan


__ADS_3

Suasana di rumah Nara begitu menegangkan, acaranya terhenti lantaran Alya datang dengan Erik untuk membawa kebenaran yang akan membuat sebuah perubahan takdir untuk kisah Alya dan Ilham.


"Saya yang harus bertanggungjawab untuk Naraya, karena saya orang yang telah membuat Nara dalam keadaan saat ini," ujar Erik tanpa ragu.


Alya langsung menutup mulutnya tidak percaya, dia tidak menyangka sepupunya akan melakukan hal itu apalagi dengan gadis yang tidak dia sukai.


"Kamu anak tidak tahu diri, kenapa kamu lakukan ini pada Nara hah?" Dahlia murka, dia mengamuk dengan menarik kerah seragam Erik dengan sesekali memukul bahu dan wajahnya.


"Kamu benar-benar bejad! Kenapa kamu renggut masa remaja Nara, kenapa?!" Tangisnya tidak bisa lagi di bendung. Dahlia terisak sambil terus memukuli bahu pemuda yang masih belum merespon.


Sakit, Erik merasa sangat bersalah pada ibunya Nara, tapi nasi sudah menjadi bubur, dia tidak akan bisa membalikkan keadaan.


"Cukup! Ini semua bukan kesalahan Erik tapi Nara sendiri!" seru Nara.


Untuk pertama kalinya, gadis itu berdiri untuk menegakkan kebenaran, bahkan Ilham sendiri juga terkejut dengan pembelaannya terhadap Erik.


"Aku yang membuat malam itu menjadi nyata, aku yang salah di sini bukan Erik," ungkap Nara tanpa takut.


Plakk


Satu tamparan mendarat di pipi mulus gadis itu. Sedari tadi Tio menahan amarahnya agar tidak keluar, namun saat mendengar sendiri penuturan putrinya dia amat sangat kecewa. Putri satu-satunya melakukan hal yang menjijikkan dan membuat malu keluarganya.


"Nara! Kenapa papah tampar Nara? Kasihan Nara-"


"Kamu kasihan dengan anak bodohmu ini?!" tanya Tio dengan nada tinggi.


"Pah, Nara itu gak sal-"


"Salah mah! Jangan terus membela seseorang yang salah, jangan selalu memanjakan Nara. Lihat, sekarang bagaimana bentukan anakmu yang selalu dimanjakan ini."


Tio sudah kepalang kesal dengan anaknya. Dia tahu selama ini Nara selalu mengejar Ilham, dia bahkan tahu siapa yang membuat hubungan Ilham dan Alya hancur, itu adalah ulah putrinya.


Dia tahu karena dia selalu menempatkan mata-mata untuk Nara. Tapi, malam itu dia berfikir Nara tidak akan melakukan apapun karena telah berhasil membuat laki-laki yang dia suka menjadi miliknya. Namun rupanya Nara malah semakin liar.


"Maaf pah, Nara memang salah, maaf-"


"Kata maaf tidak akan mengembalikan sesuatu yang telah gugur Nara," potong Tio.


Nara menunduk takut, dia tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang.


"Saya akan menikahi Nara, om. Izinkan saya untuk menggantikan Ilham," ucap Erik memecah keheningan.


"Terlambat, lo terlalu banci untuk tanggung jawab Rik, kenapa gak dari kemarin aja lo jujur, kenapa harus sekarang?" sahut Ilham.


Dia berjalan mendekati Erik, tangannya terulur untuk membogem wajah sahabatnya namun dengan cepat Alya menghalanginya.


"Kenapa terlambat? Bukannya ijab kabul belum dilakukan? Bisa gak sih kamu hargai perjuangan aku ini Ilham," ucap Alya. Dia tidak tahan dengan respon menyebalkan cowok itu.

__ADS_1


"Nggak Alya, kita udah selesai, kita benar-benar selesai dan sekarang aku bakal lanjutin pernikahannya!" ucapnya tegas.


Seluruh orang di sana cukup terkejut dengan keputusan Ilham, tidak ada yang menyangka cowok itu akan terus maju tanpa mau mundur.


"Gila! Kamu gila Ilham! Kamu selalu bilang cinta sama aku, kamu bilang jangan tinggalin aku, tapi setelah aku berjuang untuk batalin pernikahan ini kamu tetep milih dia? Dimana otak kamu?" tanya Alya murka.


"Aku sudah memutuskan dan ini keputusan aku," kekeh Ilham.


Alya nenggeleng pelan, dia benar-benar kecewa, dia tidak percaya dengan sikap Ilham yang keras kepala.


Brukk


Suara nyaring itu mengalihkan atensi mereka, semua orang panik dengan ambruknya tubuh Nara, jangan tanyakan keadaan Dahlia, wanita itu kini sedang berteriak histeris.


"Bawa Nara ke rumah sakit cepat!!" seru Ilham panik.


Alya hanya memandangi pristiwa itu dalam diam. "Sekhawatir itu sekarang kamu sama Nara, Ilham?"


...*****...


"Nggak! Gak mungkin! Nara sehat, Nara gak sakit!!" Dahlia terisak dalam dekapan suaminya.


Setelah dokter memeriksa, mereka mengatakan bahwa ada kanker dalam tubuh Nara, tepatnya kanker hati. Kondisinya saat ini begitu kritis, apalagi kanker itu sudah stadium akhir.


"Sabar mah, ini semua cobaan semoga Nara kita baik-baik saja," ucap Tio memenangkan istrinya.


"Ilham, aku boleh bicara berdua sama kamu?" panggil Alya.


Laki-laki yang sedang memandangi ruangan Nara itu berbalik menatap Alya, gadis yang selalu dia semogakan.


"Aku harus nungguin Nara," tolak Ilham.


"Sebentar aja, ada hal penting yang harus aku tanyain sama kamu."


Dia menghela napas pasrah, akhirnya dia menuruti permintaan Alya. Mereka berdua sedikit menjauh dari tempat berkumpul keluarga Nara dan Ilham.


"Mau nanya apa?" tanya Ilham tanpa basa basi.


"Kamu tahu Nara sakit dari kapan?"


"Kemarin,"


"Karena itu kamu jadi kasihan sama dia dan memutuskan untuk nikah sama dia?" tanya Alya lagi.


"Iya, dia sahabat gue."


Alya menggigit bibir bawahnya, dia ingin sekali menangis dan berkata bahwa dia juga butuh dirinya, dia ingin Ilham, tapi jika dia egois maka dia akan sama saja seperti Nara waktu itu.

__ADS_1


"Udah kan jadi-"


"Nara! Nara sadar!"


Pekikan Dahlia membuat Ilham segera pergi dan meninggalkan Alya yang sedang mematung.


Napasnya terasa berat, padahal dia baru saja selesai operasi, seharusnya dia diam di rumah tapi untuk Ilham dia menjadi bodoh dan memperburuk keadaannya dengan rasa sakit hati yang lebih sakit dari kanker darahnya.


"Alya, lo gapapa kan?" Erik mengusap bahu sepupunya khawatir.


Dengan cepat dia menepis tangan cowok itu lantas ikut masuk ke ruangan Nara. Saat ini dia tidak ingin bicara dengan Erik, dia masih sedikit kecewa padanya.


"Mah, pah, maafin Nara ya," ucap Nara dengan nada lemah.


"Nggak, mamah yang harus minta maaf sama kamu Nara, maaf karena mamah gak pernah ragukan cari tahu tentang keadaan kamu yang sebenarnya," sahut Dahlia diiringi dengan isakan.


Nara tersenyum, saat ini dia berharap bisa kembali masa lalu lantas memeluk dan menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya.


"Alya," panggil Nara ketika melihat gadis itu masuk ke ruangannya.


Gadis yang disebut namanya langsung mendekat. "Apa? Lo jangan banyak bicara, lo lagi sakit," ujar Alya.


Nara tak mengindahkan perkataannya, dia kini menyuruh Ilham juga untuk mendekat menggunakan isyarat tangannya.


"Buat apa lo manggil Ilham juga? Lo mau-"


"Gue mau kalian bahagia," ucap Nara sambil tersenyum.


Alya menatap Nara tak percaya, tapi dilihat dari manapun sorot matanya tidak memancarkan kebohongan.


"Lo harus sembuh Nara, gur bakalan kabulin segala permintaan lo," ucap Ilham.


Nara terkekeh, "gak perlu mikirin gue, kita sahabat kan? Kayaknya udah cukup lo berkorban buat gue Ilham, sekarang lo harus bahagia dengan pilihan lo," ujarnya.


"Gue pilih lo, kita bisa bahagia,"


"Kebahagiaan apa yang akan gue dapatkan Ilham? Sesuatu yang didapatkan hanya karena kasihan itu gak bakal berlangsung lama, yang ada gue bakal sakit setiap hari."


Nara meminta tangan Alya juga tangan Ilham, sambil tersenyum dia menyatukan tangan sepasang kekasih yang kehilangan harapan itu.


"Tolong bahagia dan jangan pernah salah paham lagi, hubungan kalian itu cuma perlu kepercayaan," ucap Nara.


"Bagaimana dengan lo? Gimana dengan-"


"Ada gue, bukankah gue ayah dari anak yang dikandung Nara? Seharusnya sejak awal gue jujur dan gak harus bikin kalian hancur." Erik menyela ucapan Alya. Dia saat ini harus belajar dari Nara, jika gadis itu bisa berbuat baik setelah kejahatannya di masa lalu, seharusnya dia juga bisa.


"Makasih, semoga kalian berdua bahagia!" ucap Alya senang, dia bahkan sampai menitikan air matanya.

__ADS_1


"Lo juga, bahagia ya Al."


__ADS_2