
"Ibu, cepet sadar ya, Alya pengen ngomong sama ibu,"
Alya menatap ibunya sendu sambil menggenggam tangannya yang dipasang selang infus.
Pagi-pagi gadis itu langsung berlari ke ruang rawat Nirmala tanpa memikirkan dirinya yang baru saja pulih. Bahkan Alya tanpa ragu mencabut infusan di tangannya sampai darah mengalir dari bekas jarumnya.
Alya sedikit kecewa pada kembarannya yang baru mengatakan dipagi harinya bukan ketika pertama kali ibunya dibawa ke rumah sakit. Dia kesal, makanya dia bersikeras menyuruh kembarannya itu untuk sekolah, iya lagipula Alya akan menjaga ibu mereka, tidak ada yang harus Melya khawatirkan.
"Ibu, ayo bangun, Alya udah empat jam loh nungguin ibu disini," ucapnya pada Nirmala yang entah kapan akan bangun.
Gadis itu menghela napasnya, berdiam diri tanpa melakukan apapun membuatnya merasa lapar, mungkin saja jika dia pergi ke kantin sebentar ibunya akan sadar.
"Ibu, aku ke kantin dulu ya, lapar hehehe," katanya kemudian menampilkan deretan giginya.
Dia hendak melepaskan genggamannya namun sebuah keajaiban terjadi, tangan ibunya bergerak, ya tidak salah lagi, tidak mungkin Alya berhalusinasi kan?
"Ibu, ibu sadar?" pekik Alya senang.
Matanya kini beralih menatap kelopak mata ibunya yang bergerak.
"Alya, Alya,"
Gadis itu mengigit bibir bawahnya senang, ibunya ternyata masih menyayanginya sampai-sampai baru tersadar dari koma saja dia langsung menyebut namanya.
"Alya, kamu disini?" tanya Nirmala lirih.
Matanya kini sudah terbuka menatap putrinya yang sedang tersenyum dengan raut khawatir.
"Iya aku nemenin ibu disini," sahut Alya.
"Melya mana?"
"Dia pergi sekolah, Alya yang suruh tadi."
Nirmala diam, air matanya mengalir tiba-tiba membuat Alya kaget.
"Eh, maafin Alya bu, maksudnya kan biar Melya itu pintar jadi aku suruh dia sekolah, lagipula ada aku yang nungguin ibu, jadi gapapa ya sekarang biar aku yang-"
"Maaf Alya," ucap Nirmala. "Maaf untuk segalanya, maaf sudah menjadi ibu yang jahat untuk kamu dan Melya."
Nirmala menutup matanya sejenak merasakan sakit menyerang kepalanya. Dia sudah tidak tahan dengan semua rasa sakit ini, entah batin ataupun raga, semuanya terasa menyakitkan.
__ADS_1
"Ibu selalu jadi ibu terbaik yang Alya punya, Melya juga pasti begitu," balas putrinya.
Perkataan Alya malah semakin membuat dirinya sakit, dia jadi teringat dengan segala dosa yang telah dia perbuat.
"I-bu, sa-yang kamu Alya," ucapnya terbata-bata.
Alya mengeratkan genggamannya dengan air mata yang kini mengalir deras. "Ibu jangan mikir yang aneh-aneh, ibu harus sembuh."
"Cukup sampai disini penderitaan kita sayang, maaf ibu gak bisa jadi ibu terbaik untuk kalian, semoga Dinda bisa menggantikan ibu ya,"
Gadis itu menggeleng, dia semakin takut dengan perkataan ibunya.
"Tolong bawa Melya bersama kamu ketika ibu sudah gak ada, jaga dia ya Al. Kamu juga harus sembuh dan jangan menunda operasi, ibu gak mau kamu nyusul, nanti ibu pukul kamu disana," ucap Nirmala diakhiri dengan kekehan.
"Nggak, ibu bakal jagain Melya, ibu gak akan kemana-mana," teriak Alya.
Nirmala tidak menjawab, kini matanya terbuka lebar dengan tubuh kejang-kejang. Dia merasakan sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, mungkin ini yang dinamakan sakaratulmaut?
Wanita itu ingin berteriak menumpahkan betapa sakitnya dia saat ini, namun yang ada hanya kilas balik yang tiba-tiba muncul di depannya. Kenangan ketika dia menemukan Aryan kemudian terluka dengan hati yang terus menerus berharap kepada pria itu hingga akhirnya dia menyiksa kedua putrinya.
"Asyhadu an laa ilaha illallah." Alya mencoba untuk menuntun ibunya dengan air mata yang semakin deras.
"Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah,"
"Wa asyhadu anna muhammadar Rasulullah." Nirmala mengucapkannya dengan lancar.
Seketika tubuh wanita itu menjadi berat, tidak ada lagi kehidupan, ruhnya sudah kembali kepada sang Kuasa.
"Alya! lo kenapa nangis?" teriak Melya yang tiba-tiba datang, padahal ini baru jam sepuluh siang.
Kembarannya tidak menjawab, dia masih terisak sambil menunduk denga tangan yang masih menggenggam jemari ibunya.
"Alya, jawab gue! lo kenapa nangis?" Melya yang panik menggerakkan bahu Alya. "Jawab!" bentaknya.
"Ibu udah tenang Mel, dia sekarang udah gak ngerasa sakit."
...*****...
Kehilangan seorang ibu rasanya seperti langit runtuh, entah bagaimanapun sikap seorang ibu pada anaknya tetap saja dia adalah lampu pertama yang anak lihat, dia adalah pelitanya.
"Kamu yang sabar ya Al, tante Nirma pasti bakal sedih banget kalo lihat kamu nangis terus," ucap Ilham menenangkan Alya.
__ADS_1
Gadis itu menyandarkan kepalanya di pundak Ilham sambil menahan sekuat tenaga agar tidak kembali meneteskan air matanya.
"Nangis aja Al, dengan menangis seseorang yang kita sayang emang gak bakal balik, tapi setidaknya tangisan lo bisa meredakan sedikit rasa sesak di dada lo, daripada lo tahan nanti penyakit lo makin parah," sahut Aldian yang berada di samping Ilham.
"Lo gak usah ikut campur," balas Ilham ketus.
"Gue cuma gak mau aja liat Alya balik ke rumah sakit terus, di operasi dia juga gak mau kan?"
"Emangnya lo siapanya Alya? abang? bukan kan? jadi mending diem deh."
Aldian mendengus, dia kalah telak, mau menjawab juga dia bingung harus mengatakan apa. Serba salah memang jika tanpa status, apalagi suka dengan gadis yang sudah memiliki status bertunangan. Aldian memang gila.
"Ilham, apa ibu bakalan marah ya sama Alya?" tanya Alya sambil menyeka air matanya.
"Kenapa? mana mungkin ibu kamu marah Al,"
"Iya soalnya aku belum kasih tahu ibu tentang hubungan kita, pasti dia marah dong,"
Ilham terkekeh gemas melihat wajah polos Alya dengan hidung yang merah seperti tomat. "Gak bakalan marah dong Al, ibu juga pasti udah tahu kok, mungkin beliau juga lagi disini peluk kamu mungkin," ucapnya.
"Iyakah? ibu disini?"
"Iya, katanya sebelum empat puluh hari arwah seseorang itu bakal ada disekeliling kita, lihatin kita,"
Alya tersenyum, "Aku bisa peluk ibu gak?"
"Ya gak bisa dong, soalnya sekarang yang bisa peluk kamu itu, aku."
Ilham merangkul bahu Alya, dia memeluknya sampai-sampai lupa akan tempat yang sedang mereka singgahi.
"Bucin terus, padahal lagi di pemakaman," cibir Melya yang datang dari belakang.
"Ih, nggak juga Ilham cuma nenangin Alya,"
"Menenangkan dengan cara bucin, hadeuh panas panas," ucap Melya sambil melirik ke arah Aldian.
Cowok itu berjalan menjauh dari pemakanan dengan tangan mengepal, dia tidak tahan terus menerus cemburu tidak jelas.
"Ayo Di, yok move on, yok bisa yok," ucapnya menyemangati diri sendiri.
"Move on dari siapa?"
__ADS_1