You My Bucin

You My Bucin
78. Sesal dan kejujuran


__ADS_3

Tring


Suara pesan masuk membuat Nirmala langsung mengecek ponselnya. Dia tidak tahu siapa yang mengirimkannya pesan karena itu nomor tidak dikenal.


......Unknown number......


Unknown number:


Kamu adalah ibu yang jahat karena membuat anakmu menderita.


Nirmala menatap pesan itu takut, dia rasa penyakitnya akan kembali kambuh.


Unknown number:


Karena kamu yang selalu membuat Alya kesakitan akhirnya dia memiliki penyakit yang sangat mematikan.


Unknown number:


Kanker darah


Wanita itu mengetik dengan tangan bergetar, dia ketakutan, dia tidak pernah ingin menyakiti anaknya sendiri, dia menyayangi Alya dan juga Amelya.


^^^Me:^^^


^^^Siapa kamu?^^^


^^^Me:^^^


^^^Apa yang kamu inginkan?^^^


Bukannya menjawab si pengirim pesan malah memberikan sebuah alamat padanya.


Unknown number:


Rumah sakit pelita, ruangan anggrek no. 31


Nirmala segera mengambil tasnya kemudian memesan taksi online. Dia tidak tahu apa yang dikatakannya itu benar atau tidak, yang terpenting sekarang dia harus memastikannya sendiri.


Nirmala mengeluarkan buku serta pulpen dari tasnya, ini adalah salah satu cara terapi untuk penyakitnya agar tidak terlalu kambuh. Biasanya dia akan menuliskan perasaan yang terjadi saat ini, semacam buku harian. Setidaknya ini bisa sedikit menenangkannya dibandingkan tadi.


"Tuhan, apakah selama ini aku sudah sangat keterlaluan pada anakku sendiri?" Wanita itu menunduk dengan air mata yang menetes menembus kertas yang penuh dengan tulisan.


"Diam kamu anak pembawa sial!" bentak Nirmala.

__ADS_1


Gadis berusia empat belas tahun itu menunduk takut sambil memilin tangannya. "Maaf ibu."


Karena kesal Nirmala membuang sekumpulan kertas di tangannya tepat di wajah putrinya.


"Bodoh! apa keuntungan kamu tinggal disini hah? hanya benalu yang hanya membuat saya tertekan," ujar Nirmala.


"Harusnya ibu gak tinggal sama ayah, lagipula ayah mencintai tante Dinda dan bukan ibu, aku juga kalau bisa memilih lebih baik mempunyai ibu seperti tante Dinda," ungkap gadis itu memberanikan diri.


"Amelya!"


Plakk


Pipi sebelah kanannya merah bekas tamparan ibunya, sudut bibirnya sobek hingga berdarah lantaran tamparannya terlalu kuat. Namun Amelya, gadis itu malah tersenyum menatap sang ibu.


"Ibu memang gak punya ayah, tapi ibu masih punya aku kan? Aku sayang ibu."


Beralih pada kenangan lalu yang terlukis wajah ketakutan dari putri kesayangannya, Alya.


"Ibu jangan!" teriak Alya ketakutan.


Nirmala yang frustasi mengambil pecahan gelas yang berserakan di lantai, dia menatap putrinya kesal. Dia kesal lantaran Alya selalu menjadi wanita terpenting dalam hidup Aryan, namun tidak dengan wanita yang melahirkannya.


Nirmala pikir setelah dia melahirkan seorang penerus untuknya Aryan akan sedikit melihatnya dan menganggap dirinya ada. Namun pada kenyataannya dia semakin menjauh, bahkan semua hal harmonis yang tercipta itu hanyalah semu belaka.


"Ibu lepas!" Alya kembali berteriak dengan ringisan kecil dari bibirnya.


"Kamu adalah anak pembawa sial! karena kamu hidup saya hancur," bentak Nirmala.


Dia mencoba untuk menyayat pergelangan putrinya, dia seperti kesetanan, matanya menyorotkan kobaran api amarah tanpa adanya belas kasihan.


Tes... tes...


Darah segar menetes ke lantai pertanda bahwa dia berhasil melukai putrinya.


Sama seperti Amelya, gadis itu bukannya membenci dirinya malah dia tersenyum dengan ringisan di bibirnya.


"Gapapa kok ibu sakitin Alya kalau itu memang bisa bikin ibu tenang, Alya sayang ibu."


Nirmala tersadar dari lamunannya lantaran suara sopir taksi yang masuk ke gendang telinganya. Setelah membayar akhirnya dia keluar dan sampai di alamat yang dikirimkan oleh seorang anonim.


Baru ingin menyebrang tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata menabrak tubuh rapuhnya. Dia terhempas dengan tulang-tulang yang terasa remuk.


Pandangannya mengabur bersamaan dengan bayangan kelam di masa lalu, dia menangis meratapi kisah hidupnya, namun yang lebih sedih adalah karena dia tidak bisa membahagiakan kedua putrinya.

__ADS_1


"Alya, Melya, ibu juga sayang kalian."


...*****...


Amelya terisak di luar ruangan UGD, dia tidak bisa merasa tenang hingga membuatnya bolak balik di pintu ruangannya. Dia takut nyawa ibunya tidak bisa diselamatkan, dia belum sempat meminta maaf pada ibunya atas kesalahan di masa lalu. Dia benar-benar takut.


"Amelya, kamu menunggu siapa?"


Gadis itu diam, terkejut melihat seseorang yang menegurnya.


"Siapa Mel? siapa yang masuk ugd?"


Dia memunduk dengan isakan kecil dari bibirnya, "Ibu kecelakaan, dia lagi di dalem sekarang."


Wajah pria itu syok, wanita di sebelahnya juga tak kalah terkejut bahkan dia menutup mulutnya tidak percaya.


Wanita itu langsung mendekap tubuh Amelya menyalurkan kekuatan untuknya. "Kamu yang sabar ya Mel, tante Dinda bakalan disini temenin kamu."


"Makas-"


"Gak Din, kamu harusnya nemenin Alya di ruangannya bukan nemenin anak ini," sela Aryan.


Dinda menatap kecewa pada suaminya, "Alya udah membaik Ar, Melya lebih butuh karena dia gak punya siapa-siapa lagi selain ibunya," ucapnya.


"Lagipula dia bukan ibu kandungnya, mungkin saja dia menangis hanya karena terkejut bukan karena sayang." Aryan menatap tak suka pada Melya yang terisak di pelukan sang istri. "Dia anak adopsi yang membuat Alya jadi seperti ini!" bentaknya.


Cukup, Melya sudah lelah dituduh seperti ini, mungkin dulu dia memang jahat tapi sekarang dia ingin berubah. Dia ingin memeluk saudarinya, dia ingin dipeluk oleh ayahnya, dia ingin semua orang menyukainya dengan versinya yang sekarang. Sudah cukup dia akan mengatakan yang sebenarnya.


"Dia bukan ibu angkat aku, dia ibu kandungku asal anda tau!"


Mereka bungkam dengan ucapan gadis remaja itu, Aryan masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi saat ini begitu juga dengan Dinda.


"Aku dan Alya saudara kembar, Alya beruntung bisa hidup layak dengan kedua orang tuanya, sedangkan aku?" Melya terkekeh meratapi nasibnya yang buruk, "aku dibuang di panti karena aku bukan anak yang dipilih. Seandainya aku laki-laki ibu pasti akan membawaku ke hadapan ayah sebagai penerus perusahaan, sayangnya Tuhan gak sebaik itu sama aku."


"Kamu bohong, kamu jangan membual!" teriak Aryan yang berusaha untuk tidak termakan dengan perkataan gadis di depannya.


"Ini salah satu alasan aku takut berkata jujur, karena pada akhirnya aku akan menjadi orang yang paling salah diantara yang salah," balasnya.


Melya merongoh sakunya mengambil benda pipih yang berisi kebenaran tentang identitas asli Alya dan Melya, surat keterangan bahwa dia dan Alya adalah saudara kembar.


Dia memberikan ponselnya pada Aryan, "Anda bisa membaca ini kan?" tanyanya.


Pria itu membaca seksama kemudian menggeleng pelan, "gak, nggak mungkin kamu anak saya. Bahkan dokter bilang saya hanya punya anak tunggal, hanya Alya."

__ADS_1


Rasanya sia-sia dia mengatakan kebenarannya, karena pada akhirnya tidak ada yang mempercayainya.


"Lihat Al, ayah gak mau mengakui gue sebagai anaknya, tapi lo selalu nomor pertama yang dibanggakan oleh ayah, juga ibu. Beruntung banget hidup lo Al."


__ADS_2