You My Bucin

You My Bucin
24. Putus


__ADS_3

Beberapa pasang alat kehidupan dipakaikan ditubuh pria yang mulai mengkurus, matanya terpejam namun bibirnya berbicara seperti tak merasakan rasa sakit.


"Om harap kamu bisa jagain Aulia dengan baik, dia itu anaknya polos banget gampang kerayu sama temen-temennya," ujar Sabian.


Gery yang masih berumur 14 tahun hanya bisa mengangguk mengiyakan keinginan sahabat papanya. Lagi pula dia sudah menganggap Sabian seperti pamannya sendiri.


"Kamu mau kan setelah besar nanti menikahi Aulia?"


Jujur saja dia tidak pernah melihat putri dari Sabian bagaimana dia bisa menjaganya dan menikahinya, dia juga saat ini sedang mengagumi seorang gadis, apakah dia bisa menjalankan amanah Sabian?


"Gery kamu bisa kan?"


"Iya, pasti Gery bakalan jaga Aulia." Pada akhirnya dia pasrah menggugurkan harapannya untuk bisa bersama dengan sang pujaan hati.


Namun, takdir Tuhan tidak ada yang tahu, tiba-tiba saja Gery dikejutkan dengan fakta yang membuat hatinya begitu senang. Mungkin ini pertanda bahwa Resta itu memang ditakdirkan untuknya, mungkin saat ini gadis itu tidak menyukainya tapi besoknya lagi tidak ada yang tahu, bisa saja rasa suka ikut muncul seiring berjalannya waktu.


Dia jadi tidak sabar untuk cepat dewasa dan menikahi pujaan hatinya.


"Selamat pagi wahai sahabatku yang budiman," sapa Gery saat memasuki kelas.


Dengan wajah berseri dia duduk disamping Ilham yang menatapnya aneh, sedangkan Irgi yang duduk dibelakangnya tak jauh beda dengan tatapan Ilham, namun berbeda dengan Erik yang seakan tidak peduli dengan kehadiran satu sahabatnya itu. Dia masih belum berbaikan dengan Ilham sebenarnya.


"Tumben banget pagi-pagi senyum bahagia padahal hari ini masih ulangan," celetuk Ilham.


"Padahal biasanya sering uring-uringan, banyak alesan biar gak ikut ulangan," cibir Irgi.


Gery tidak mengindahkan perkataan sahabatnya, dia masih mempertahankan senyumnya membuat siapapun yang melihatnya akan takut, seperti orang kerasukan.


"Wah, ada kabar bahagia apa nih sampe muka lo merah kayak pantat sinchan?" tanya Alya yang baru saja masuk kelas bersama sahabatnya.


Gery semakin melebarkan senyum melihat wajah datar Resta yang dimatanya terlihat manis. "Gue lagi bahagia karena ternyata Tuhan baik banget sama gue," jawabnya.


"Lo menang lotre ya Ger?" tebak Irgi.


"Ck, bukan! ini lebih besar dari lotre."


"Oh, lo udah naik glory!!" Ilham ikut menebak.


Gery merengut kesal. "Ck! bukan, kalian payah banget masa nebak kayak gitu."

__ADS_1


Resta tahu mengapa Gery bersikap aneh hari ini, dia paham betul tapi dia tidak mau sampai orang tahu kebenarannya. Dia memutuskan untuk segera mengajak Alya duduk ke bangkunya.


"Eh, kok main duduk aja, gue pengen tau alesan si Gery senyum-senyum kek orang gila," protes Alya.


"Gue takut lo ketularan si Gery."


Alya duduk lalu menatap bertanya pada sahabatnya. "Emangnya si Gery punya penyakit apa?"


"Rabies!!"


"Loh, bukannya si Gery kerasukan mbak kunti ya?"


...*****...


Ulangan hari kedua berakhir, sama seperti hubungan sejoli yang baru beberapa hari meresmikan hubungannya.


"Aku gak mau putus Ham, kenapa kamu tiba-tiba ngomong gini?"


Awan mendung menjadi background yang bagus untuk keadaan mereka saat ini, air mulai turun setetes demi setetes mengenai hidung mancungnya, tidak ada niatan untuk meneduh, mereka masih berdiri ditaman sekolah dengan wajah serius.


"Aku gak mau pacaran Mel," balas Ilham.


"Kamu bohong! pasti ada alasan yang lain."


"Aku harus fokus kejar beasiswa apalagi kita bentar lagi kelas tiga, kamu juga harus fokus Mel jangan sampai beasiswa kamu hilang begitu aja karena sibuk pacaran sama aku."


Ilham mencoba mencari alasan supaya hubungannya dengan Melya tidak buruk dan dia bisa terlepas tanpa adanya beban yang mengganggu hidupnya, jujur dia tidak tega jika harus berkata jujur.


Melya menangkup wajah Ilham, dia menatap sendu berharap cowok itu akan luluh. "Aku gak bisa terima begitu aja, aku suka sama kamu, kamu juga begitu kan? aku janji gak bakalan ganggu belajar kamu dan kita capai cita-cita kita bareng, kita gak perlu akhiri hubungan ini Ham."


"Aku gak bisa, aku-"


"Iyung!! ayo pulang, aku tungguin lama banget!"


Ilham memutar kepalanya melepaskan tangan Melya dari wajahnya, netranya menangkap seorang gadis yang berlari kearahnya sambil cemberut. Lucu.


"Kamu masih belum beresin urusan kamu sama waketos?" tanya Alya yang berpura-pura tidak tahu akan hubungan keduanya.


"Aku buk-"

__ADS_1


"Iya bentar, tungguin aja di motor, ini lagi urusin masalah event yang bakal diadain setelah ujian praktek dulu," potong Ilham cepat.


Cowok itu mengelus puncak kepala Alya lembut, jika alasan tadi tidak bisa membuat Melya menerima putusnya hubungan mereka, mungkin dengan ini dia akan sadar bahwa Ilham sudah jahat padanya dan akan menerima permintaan putusnya.


"Iyung lama banget jadi aku kesini nemenin, gakpapa kan?"


Melya menatap tajam gadis yang bersikap manja itu, dia benar-benar sebal dengan Alya, kenapa dia selalu membuat hidupnya memburuk.


"Iyung?" tanya Ilham tidak mengerti dengan panggilannya.


Alya mengangguk. "Iya, Ilham suyung, artinya Ilham sayang gitu loh. Kita kan udah resmi pacaran, jadi gakpapa dong kalo aku bikin nama panggilan sayang."


Alya melirik kearah Melya yang terlihat kesal, ingin rasanya saat ini dia menjulurkan lidahnya untuk mengejek mantan sahabatnya itu, tapi bukankah itu malah akan membuat dirinya buruk dimata Ilham? jadi biarkan sajalah.


"Kalian pacaran?"


Pada akhirnya Melya bertanya dengan tangan yang masih terkepal, hatinya seperti dicabik-cabik, sejak kapan cowok yang menyukainya itu jadian dengan gadis yang paling dia benci, mengapa dia tidak tahu apa-apa? jika Ilham sudah jadian dengan Alya, lantas mengapa dia menerimanya kemarin?


"Iya, Alya pacarnya Ilham sekarang," jawab Alya.


Ilham hanya diam mengamati interaksi keduanya.


"Oh, sejak kapan?" tanya Melya lagi.


"Kemarin."


Melya menatap Ilham bertanya, dia ingin tahu apa alasan Ilham menjadikan Alya pacarnya padahal kemarin mereka sudah resmi pacaran.


"Alya tunggu diparkiran aja ya, ini bentar lagi selesai kok," bujuk Ilham


Alya menurut kemudian dia pergi menyisakan dua manusia yang belum menyelesaikan masalah mereka.


"Jadi maksudnya?" tanya Melya dengan mata yang sudah memanas.


Ilham menatap dalam manik coklat itu kemudian menjawab, "iya, aku jadian sama Alya karena aku suka sama dia bukan kamu."


Deg.


Dia kalah? semudah ini? yang benar saja! tidak mungkin hanya beberapa hari Ilham menyukai gadis itu, bahkan dia tahu nama kontak Alya diponsel Ilham sangat jauh dari kata suka.

__ADS_1


"Kamu bohong Ilham! kam-"


"Kita putus ya, aku sayang sama Alya."


__ADS_2