You My Bucin

You My Bucin
16. Teman masa kecil


__ADS_3

"Lo bodoh atau gimana sih?"


Devan diam, saat ini dua cowok itu sedang duduk di rooftop sekolah memandangi langit biru yang sangat tidak mendukung perasaan Devan saat ini.


"Lo sama Dania itu temenan dari kecil-"


"Gue baru deket sama dia dibangku SMP Di," potongnya.


"Tapi lo kenal dia dari kecil kan?"


"Dia cewek yang lo bawa kedalam kehidupan gue!"


Devan selalu membenci kehadiran Dania karena gadis itu selalu mengganggunya.


Anak cowok berusia 7 tahun itu sedang berkutat dengan buku tebal, sudah rutinitas setiap hari libur duduk seharian dikamar sambil membaca buku.


Brakkk...


Pintu dibuka dengan kuat menampakkan dua bocah seumurannya.


"Jangan baca buku terus nanti matamu sakit," celetuk Aldian.


Bocah laki-laki itu duduk bersama Devan diatas kasur. "Ayok main! aku bawa temen baru."


Gadis itu diam diambang pintu sambil memperhatikan interaksi keduanya.


"Aku gak mau main, mau baca buku aja," ucap Devan.


Aldian mengguncang bahu Devan. "Ayoklah main kasihan Dania udah aku ajak kesini masa kamu cuekin."


"Oke, cukup Aldi kepala aku pusing!"


Bocah itu nyengir lalu menghentikan aktivitasnya.


Devan turun lalu menyimpan bukunya dimeja belajar, dia mendekati gadis yang masih diam seperti patung itu.


"Siapa?"


Gadis itu menaikan alisnya tidak mengerti apa yang ditanyakan bocah ini.


"Siapa nama kamu?" ulang Devan dengan sedikit penambahan kata.


"Nama aku Dania Larasati, kelas 2, aku baru pindah rumah kesini dan kebetulan Aldian ini tetangga aku, tapi aku kayaknya gak satu sekolah sama kamu."


"Bagus."


Dania kembali menaikan alisnya. "Maksudnya?"


"Bagus gak satu sekolah karena itu bakal ngerepotin aku."


Dia kira dengan bersikap tidak ramah akan membuat gadis itu menghilang dari kehidupannya, namun Devan salah besar.

__ADS_1


"Devan!! Ayok main, jangan belajar terus!"


Bocah itu memutar bola matanya malas. "Gak!"


Dania cemberut, hari ini dia datang sendiri karena Aldian sedang sakit perut.


"Ayoklah jangan belajar terus nanti kamu cepet tua!"


"Kalo enggak ya enggak!!"


Devan menutup pintu kamarnya dengan keras membuat Dania menangis dibalik pintu itu.


Namun rasa benci dihati Devan menghilang ketika hari itu dia lupa membawa dasinya.


"Astaga dasi, mana ya." Cowok itu terus mencari-cari dasi birunya didalam tas, berharap benda itu ada disana namun nyatanya nihil.


Seorang gadis menyodorkan dasi biru padanya, dia mendongak menatap gadis itu.


"Pake punyaku aja, aku bawa 2. Gak usah ditolak, nanti yang ada dimarahin OSIS."


Devan mengangguk lantas tersenyum. "Makasih, nama kamu siapa?"


"Dania Larasati."


Devan sadar setelah 3 tahun tidak bertemu dengannya, dia seketika berubah menjadi gadis yang berwajah datar namun tetap baik.


"Ayok temenan Dania, aku Devan yang waktu itu sering belajar."


"Hey, lo jangan jadi pengecut gini dong, lo gak mau persahabatan lo sama Dania hancur kan?"


Ucapan Aldian membuatnya tersadar. "Ya, lo bener gue harus ngomong sama dia."


Aldian tersenyum namun sedetik kemudian dia kembali berwajah datar.


"Gue bakal ngomong kalo kita gak bakalan bisa menjalin sebuah hubungan karena kita-"


"Aduh Van, itu namanya lo merusak persahabatan lo, gila lo padahal dia udah mati-matian nahan perasaannya dan lo sama sekali gak ada perasaan gitu sama dia?"


Devan menggeleng. "Gak ada."


"Lo coba dulu kasih rasa lo sama dia jangan stuck di si Alya, lo kan tau dia adek lo mending buat gue aja." ujar Aldian.


"Amit-amit gue punya adek ipar kayak lo!"


Aldian tertawa melihat wajah kesal sahabatnya, jika berurusan dengan Alya cowok itu memang sangat sensitif, padahal tidak lama ini dia menyakiti Alya sampai berdarah pula.


"Bagus dong lo sama Dania, gue sama Alya. Nanti kita double date, woahhh gak kebayang betapa bahagianya gue nanti."


"Ya, kita bertiga yang gak bahagia."


...*****...

__ADS_1


Kedua sahabat itu kini sedang duduk berdua ditepi danau dekat rumah Dania. Suasana mereka menjadi canggung karena kejadian tadi pagi, untungnya Devan menghubungi Dania dan gadis itu menerima untuk bertemu dengannya.


"Mau sampai kapan diem?" Dania memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka.


"G-gue-"


"Sejak kapan lo jadi gagap?" Gadis itu terkekeh pelan berusaha mencairkan suasana yang semakin dingin.


Devan berdeham lalu menggenggam tangannya, Dania terkejut dengan sentuhan itu membuat tubuhnya meremang dan jantungnya berdetak lebih cepat.


"Gue minta maaf," ucapnya sambil menatap tangan yang digenggamnya. "Gue emang orang yang gak peka, maaf kalau selama ini sikap gue membuat perasaan lo semakin tumbuh."


Mata mereka kini saling bertubrukan, Dania sama sekali tidak berkedip menatap manik yang selalu membuat hatinya teduh.


"Lo tahu semua masalah gue kan Nia?"


Gadis itu mengangguk. "Ya, gue tahu."


Devan menghembuskan napasnya pelan. "Lo tahu kalo gue sayang lo kan?"


"Sebagai sahabat kan? gue-"


"Gak!"


Mata Dania membulat sempurna, arghh bolehkah Dania baper saat ini?


"Gue sedang mencari tahu tentang perasaan gue ke lo, gue gak mau bikin sahabat gue kecewa dan gue berharap setelah semua permasalahan gue selesai gue bisa memahami perasaan gue ke lo."


"M-maksudnya?"


Devan mengukir senyum sampai matanya terlihat seperti bulan sabit. "Gue bakal belajar mencintai lo Dania, gue gak mau bikin sahabat gue kecewa."


Pandangannya memburam, rasanya seperti mimpi.


"Nia, eh kok lo nangis sih? gue jahat ya?" tanya Devan panik melihat gadis didepannya meneteskan air mata.


"E-enggak, gue cuma gak nyangka aja lo bakal membalas perasaan gue."


Devan merasa menjadi cowok yang jahat, dia jadi teringat dengan Alya jika melihat Dania. Bukan karena dia masih menyukainya tapi dia adalah adiknya, rasa sayang seorang kakak pada adiknya hanya itu saja.


Tangannya terulur untuk menghapus jejak air mata gadis yang dia sayang. "Lo kalo nangis jelek banget," ejeknya.


Dania cemberut lalu memukul dada bidang Devan, cowok itu langsung mendekap tubuhnya sampai tangannya diam dan diganti dengan debaran jantung yang semakin cepat, usapan lembut dirambutnya membuat Dania meletakkan dagunya dibahu Devan.


"Gue harap lo bisa mengerti situasi gue saat ini, lo mau panggil gue sayang atau apa boleh, tapi-"


"Tapi kita gak pacaran?" tanya Dania sedikit kesal.


"Lo mau pacaran atau nikah sama gue?"


"Gak tau!!"

__ADS_1


Devan terkekeh. "Oke, mulai sekarang lo pacar gue, sebelumnya gue minta maaf takutnya nanti gue bikin lo kecewa."


__ADS_2