You My Bucin

You My Bucin
20. Malam minggu


__ADS_3

"Gue baru tau kalo lo sepupunya Devan," celetuk Alya setelah beberapa menit saling terdiam dengan fikiran masing-masing.


Jalanan jakarta cukup ramai padahal ini masih jam 18:45, tapi syukurlah tidak ada kemacetan lagi pula orang yang malam mingguan biasanya keluar jam 8 malam. Ah, Alya jadi teringat lagi dengan hubungan Ilham dan Melya, kira-kira apakah cowok itu akan mengajak pacar barunya keluar malam atau tidak ya, mengingat bahwa Ilham menyukainya sejak dulu.


"Gimana lo tau kalo lo aja gak pernah ikutan ke acara keluarga."


"Gue juga baru tau kalo lo itu adeknya kak Devan, lo tau gak sih gue pengen banget punya sepupu cewek soalnya di keluarga gue semuanya cowok. Jadi gue seneng banget pas tau kalo lo itu adeknya Devan," cerocos Erik tanpa digubris oleh Alya yang sedang melamun.


"Al, lo denger gue gak sih?"


"Hah? apa?"


Erik mendengus kesal, sadari tadi dia mengoceh namun gadis ini tidak mendengarkan perkataannya sama sekali.


"Lo denger gue ngomong tadi gak?" tanya Erik berusaha sabar.


"Enggak," jawab Alya sambil menggelengkan kepalanya.


"Lo denger jawaban gue gak?"


"Enggak juga."


Baiklah berhubung dia ingin lebih dekat dengan sepupu barunya jadi dia akan berusaha sabar semaksimal mungkin.


"Gue seneng punya sepupu cewek," ujarnya.


Tukk


Helm mereka beradu karena Erik mengerem secara mendadak hampir saja motor kesayangannya ini menabrak mobil ayam didepannya.


"Hati-hati makanya kalo bawa motor jangan liat kekaca spion terus!" omel Alya.


"Iya, iya," kesal Erik. "Lo seneng gak punya sepupu kayak gue?"


"Gak! males lo bawel!" balas Alya.


"Ye, bawel gini gue sayang sama lo ya!"


Alya reflek mencubit samping perut Erik membuatnya kesakitan.


"Sayang, sayang, yang boleh sayang sama gue itu cuma Ilham!" ketus Alya.


Cowok itu memutar bola matanya malas. "Gue sayang sama lo sebagai sepupu bukan sebagai cowok, lo ngerti gak sih?"


"Ya."


"Mau makan dimana nih?" tanya Erik ketika sudah melihat banyak pedagang kaki lima berjajar menyuguhkan berbagai makanan.


"Gue mau makan ketoprak," jawabnya.


"Gak mau makan di restoran?"

__ADS_1


"Gak! gue pengen ketoprak, sate, bakso, batagor, tahu goreng-"


"Buset, lo gak seret gak beli minum?" potong cowok itu.


"Ya lo peka dong, katanya gue sepupu yang lo sayang."


"Giliran beginian lo ngaku sepupu sialan!"


Erik memarkirkan motornya didekat gerobak ketoprak, Alya langsung turun dan duduk di kursi yang sudah disediakan kemudian memesan.


"Mang ketoprak 2 ya," ujarnya.


Cowok itu ikut duduk disamping Alya. "Saya gak pedes Mang," tambahnya.


"Saya juga."


"Tumben lo gak pedes."


"Emang gue gak suka pedes!" balas Alya dengan nada kesal.


Erik membuat sebuah kotak dengan kedua jari telunjuk dan ibu jarinya menghadap pada Alya lantas dia berkata, "kalo gue terawang sih muka lo itu pedes kayak cabe level 10, gue heran kok bisa ya lo gak suka sama pedes."


Alya menepis tangan Erik yang berada dekat diwajahnya, gadis itu menatap galak. "Suka-suka gue lah! lagian mana ada muka gue kayak cabe, yang ada kayak gulali!"


"Gulali warna merah tapi," cibirnya sambil menggembungkan pipinya.


Plak


"Lo mau bilang kalo gue gendut!?"


"Mana ada ya! gue cuma bilang kalo pipi lo merah kayak gulali warna merah!"


"Kenapa harus pake digembungin segala tuh muka?"


"Ya, lucu aja soalnya pipi lo chubby jadi pengen gue cubit," jelas Erik dengan menampilkan deretan giginya yang rapi.


Alya mengerucutkan bibirnya. "Lo sama Devan sama aja, suka banget nyubit pipi gue."


"Kapan?"


"Tadi sebelum magrib dia diem dikosan gue sebentar, eh dia malah nyubit pipi gue tanpa permisi mana sakit lagi," gerutunya.


Otak Erik kini dipenuhi oleh ide jahil untuk membuat Alya kesal, haha tidak apa kan? sekali-kali jahil dengan saudara sendiri.


Tangan Erik dengan cepat mencubit kedua pipi Alya, membuat gadis itu melotot kesal.


"Gitu bukan?"


"Erik!!"


Alya menyerang cowok itu dengan tamparan mengenai lengannya, sedangkan cowok itu hanya terkikik geli tanpa merasakan sakit.

__ADS_1


"Nih mbak, mas, pesanannya gak pedes ya," ujar si mang.


Keduanya menghentikan pertengkaran mereka kemudian sibuk memakan ketoprak yang sedari tadi mereka tunggu.


"Bang pesen ketopraknya 3 yang satu makan disini aja, pedes semua ya mang."


Si Amang mengangguk, kemudian cowok itu duduk dimeja yang sama dengan Alya yang sedang menunduk menikmati ketopraknya. Rambutnya yang panjang menghalangi wajahnya, Erik yang peka langsung mengikat rambut Alya ke belakang, dia mengikat dengan karet gelang yang dia temukan dimeja.


"Nah gini kalo makan tuh iket dulu rambutnya," ujarnya.


"Serah gue dong!"


Rasanya tidak asing dengan suara itu lantas cowok itu mengalihkan pandangannya pada asal suara tersebut membuat dirinya mematung. Perasaan aneh apa yang ada didalam hatinya saat ini, mengapa ada rasa kesal, sakit, dan tidak terima didalamnya.


"Kalian pacaran?" pertanyaan konyol itu keluar dari mulutnya membuat dua anak remaja itu menyadari keberadaannya.


"Loh Ilham? ngapain disini?" tanya Alya dengan raut terkejut.


Bukannya menjawab Ilham malah mengulangi pertanyaannya. "Kalian pacaran?"


Erik tersenyum jahil lalu dia merangkul bahu Alya membuat gadis itu menempel didadanya. "Duh iya nih kita baru aja jadian tadi," jawabnya.


Gadis itu buru-buru menarik dirinya lalu melepaskan rangkulannya. "Bohong! kita cuma nyari makan doang."


Ilham tidak menggubris dia hanya diam lalu mengalihkan pandangannya menghadap ramainya pengguna jalan raya ketika malam minggu datang.


"Ilham gak ajak pacarnya malam mingguan?" tanya Alya.


Erik yang sedang mengunyah tersedak dengan pertanyaan random dari gadis disebelahnya. "Emang lo punya pacar Ham? kok gue gak tau."


"Melya kan pacarnya Ilham baru aja jadian tadi pulang sekolah."


Cowok itu menatap tidak percaya dengan jawaban Alya. "Beneran? kok bisa?"


"Pacar gue lagi sibuk belajar buat UAS, gak kayak lo yang keluyuran bareng cowok!"


Entah mengapa ucapan Ilham terdengar seperti seorang pria yang cemburu ditelinga Alya, mungkinkah sebenarnya selama ini dia ada sedikit rasa pada Alya seperti yang dikatakan oleh Irgi sore tadi?


"Ya terserah dia dong, daripada cewek gue jadi sinting gara-gara baca pelajaran terus mending jalan malam mingguan iya gak Ay?"


Alya bergidik ngeri mendengar Erik memanggilnya 'Ay'. Namun dia cukup senang karena melihat raut kesal terukir jelas diwajah Ilham.


"Ay, ayo abisin ketopraknya terus kita lanjut jalan lagi," ujar Erik sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ck, iya bawel banget!"


"Bawel karena sayang Ay, gakpapa-"


Ucapannya tergantung karena Ilham tiba-tiba meninggalkan meja mereka.


"Bungkus semua Mang."

__ADS_1


__ADS_2