
Saat ini Alya berjalan beriringan dengan Resta menuju halaman sekolah karena bell pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu.
"Gue seneng banget Res akhirnya kita baikan lagi," ujar Alya dengan senyum yang mengembang.
"Gue juga, seneng bisa marahin lo lagi."
Alya langsung mencebikan bibirnya kesal, "Lo tega banget sih, masa temenan sama gue cuma cosplay jadi guru bk."
"Haha, lagian tingkah lo itu bikin gue darah tinggi tau gak?"
"Iya deh, terserah lo yang penting kita jadi bestie lagi!!"
Kedua remaja itu tertawa seakan tidak memiliki beban hingga tawa mereka reda ketika sampai di depan halaman sekolah, disana sudah ada sebuah motor matic dengan sang pemilik yang tidak asing di mata mereka.
"Lo jahat banget Al, lo bilang kita pulang bareng," ucap Resta berbisik.
"Gue juga gak tau, lo tahu sendiri hubungan gue sama Ilham sekarang gimana," balas Alya tak kalah berbisik.
Mereka diam memandangi cowok berhelm hitam itu, hingga cowok itu melepaskan helmnya kemudian menatap mereka datar.
"Pulang bareng gue," ujar Ilham.
Alya langsung menggeleng, "Gue gak mau, gue pulang bareng Resta."
Tangannya melingkar di lengan Resta, jujur dia sedikit takut dengan Ilham yang sekarang, cowok itu jadi sedikit kasar padanya.
"Pulang bareng gue dengan baik-baik atau mau gue paksa?" tawar Ilham dengan nada tak bersahabat.
"Pulang aja sana sama sahabat lo itu, lagian kita udah gak ada hubungan lagi," balas Alya dengan sedikit berteriak.
Cowok itu langsung turun dari motornya kemudian berjalan mendekati Alya. Untuk sejenak gadis itu menahan napasnya lantaran kehadiran Ilham di depannya seperti dirinya di datangi oleh malaikat maut, mengerikan.
"L-lo mau apa?"
__ADS_1
"Pulang bareng calon suami lo, gak usah lo berharap di anterin sama selingkuhan lo itu," ucap Ilham dengan nada kasar.
Lagi-lagi Ilham menyangkut pautkan dirinya dengan Aldian, memang ini semua adalah salahnya karena mengatakan dia menyukai kakak kelasnya itu.
Tapi Alya pikir, Ilham akan menyerah dan terluka lalu melepaskan dirinya begitu saja, tapi dia salah, malah sekarang Ilham bersikap kasar padanya mungkin dia ingin balas dendam atas sakit hatinya.
"Heh! lo jangan maksa dong, kalo Alya gak mau ya gak mau, jangan di tarik kayak gini juga." Resta memukuli tangan Ilham yang sedang mencengkram tangan Alya. "Lepas Ilham, lo itu ketos harusnya lo gak sakitin rakyat lo," ujarnya.
Dengan marah Ilham melepaskan tangan Alya kemudian dia menatap teman sekelasnya tajam.
"Persetan sama jabatan gue! yang terpenting saat ini itu Alya, gue sayang sama dia, apa gue salah memperjuangkan seseorang yang gue sayang hah?" ucap Ilham dengan lantang.
Alya memegang pergelangan tangannya yang memerah, rasanya perih tapi rasa sakit itu seketika hilang lantaran diobati oleh perkataan Ilham barusan. Ternyata cowok itu masih menyukainya, dia benar-benar sudah menjadi bucinnya Alya, ada rasa senang di hatinya tapi ada rasa takut juga.
"Memperjuangkan itu beda sama memaksa Ilham, lo harusnya-"
"Gapapa Res, maaf ya gue harus batalin janji kita, gue pulang bareng Ilham," potong Alya dengan senyum di wajahnya.
Resta menghembuskan napasnya kesal, entah kemana Alya saat pembagian otak, yang ada cuma pinter di pelajaran tapi bodoh masalah percintaan.
...****...
Alya merasa kepalanya sedikit pusing namun dia tetap berusaha menegakkan tubuhnya dan berpegangan pada roknya. Rasanya canggung jika saat ini memeluk Ilham seperti biasanya lantaran dirinya sudah memutuskan hubungannya beberapa waktu lalu.
Tidak ada percakapan sedari tadi, hanya terdengar suara bising klakson ataupun suara knalpot kendaraan yang berlalu lalang. Ingin rasanya Alya memulai percakapan, namun dia urungkan lantaran hawa dingin yang menyelimuti Ilham.
"Kalo mau pegangan, pegangan aja karena gue gak mau lo sampe jatuh," ucap Ilham yang sedari tadi memperhatikan Alya lewat kaca spionnya.
Alya tersenyum kemudian memegang seragam Ilham dengan erat. "Maka-"
"Gue gak mau sampe masuk penjara karena bawa anak orang terus balik-balik anaknya masuk rumah sakit," lanjut Ilham.
Seketika Alya membuang mukanya sembarang arah, dia pikir Ilham takut dirinya kenapa-kenapa, rupanya dia tidak ingin merepotkan dirinya sendiri. Padahal tanpa dia terjatuh dari motor pun, Alya akan tetap masuk rumah sakit lantaran penyakit yang ada di tubuhnya.
__ADS_1
"Kita sekarang kayak orang asing ya Ham," celetuknya sambil melihat beberapa gedung pencakar langit di sampingnya.
Ilham terdiam berpura-pura fokus menyetir motornya, padahal sedari tadi dia memikirkan bagaimana perasaan Alya saat ini padanya, Ilham takut gadis itu membencinya, tapi dia juga bingung bagaimana harus bersikap karena jujur hatinya masih terasa sakit.
"Asing banget kita Ilham. Bahkan rasanya kita sejauh bumi dan langit," ucap Alya lagi.
"Lo yang bikin kita jadi gini, lo yang memulai semuanya Al," balas Ilham setelah beberapa waktu terdiam.
Gadis itu langsung menunduk sedih, seandainya saja hidupnya bertahan lama, sudah pasti Alya akan terus mempertahankan pria yang dia cintai, tapi saat ini Alya tidak lagi memiliki harapan untuk hidup, dia menyerah, dia lelah.
"Kita seperti asing karena lo udah menghianati perkataan lo sendiri yang bilang gak bakalan tinggalin gue," ucap Ilham.
"Gue gak pernah mau kita berakhir, gue gak pernah mau kita jadi asing, tapi-"
"Tapi waktu mengubah perasaan cinta lo ke gue?" tanya Ilham memotong perkataan Alya. "Bulshit Al, gak ada waktu yang mengubah perasaan seseorang kalau gak dari orang itu sendiri."
"Gue jujur, gue gak pernah menghianati perasaan lo, gue selalu sayang sama lo," ungkap Alya.
Gadis itu mengigit bibir bawahnya diringi dengan air mata yang jatuh lantaran mendengar kekehan yang berasal dari Ilham.
"Lawakan lo garing tau gak? tapi lumayan bisa bikin gue ketawa sih," ucap Ilham sinis.
"G-gue gak ngelawak Ilham, gue jujur!" teriak Alya.
Ilham menepikan motornya, dia melepaskan helmnya kemudian mengubah arah kaca spionnya menjadi mengarah pada Alya yang tertunduk dengan bahu naik turun.
"Tangisan lo gak bikin gue luluh Al, gue masih kecewa sama lo."
Ilham memandangi wajah gadis itu dari kaca, dia terlihat sedih dengan wajah yang basah. Dengan cepat gadis itu menghapusnya namun tak urung dia menatap Ilham dengan raut murung.
"Lagipula gue gak ada niatan buat balik lagi sama lo, gue juga gak minta buat lanjutin pertunangan absurd ini!" Alya menatapnya tajam kemudian turun dari motornya.
Gadis itu berjalan dengan kaki yang dihentakkan meninggalkan Ilham sendirian yang tengah memandangi dirinya yang sudah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Lo emang gak ada niatan buat balik lagi Al, tapi gue ada."