You My Bucin

You My Bucin
66. Takdir kita


__ADS_3

Alya duduk sambil memilin jarinya, dia tidak tahu harus berbicara apa saat ini, mungkin dengan diam itu lebih baik.


"Kamu sudah tidak waras Alya? kamu merahasiakan penyakit kamu yang parah itu dari ayah? kamu gak sayang sama ayah hah?" tanya Aryan marah.


Pria itu memijat pelipisnya, dia benar-benar khawatir pada Alya, dia takut putri satu-satunya meninggalkannya.


"Kamu mau membuat ayah menyesal? kamu mau membuat ayah mati dengan rasa bersalah?"


Alya dengan cepat menggeleng, "Enggak, Alya gak bermaksud gitu," ucapnya.


Aryan berjongkok dihadapan Alya, dia memegang tangan putrinya penuh rasa sayang. "Kamu itu putri satu-satunya ayah, gak mungkin ayah bisa hidup tanpa kamu Alya, ayah sayang banget sama kamu."


"Maaf."


Alya menunduk sambil mengigit bibir bawahnya, dia ingin sekali mengatakan bahwa Melya adalah saudarinya, anaknya Aryan juga. Namun Alya tidak punya hak untuk mengatakan itu, biar saja nanti Melya yang berkata jujur.


"Alya," panggil Dinda.


Gadis itu mendongak menatap sang bunda yang sedang berdiri di samping Aryan.


"Apa Bunda?" tanya Alya.


"Sebenarnya bunda pengen nanya ini dari kemaren, tapi rasanya gak enak," ucap Dinda.


"Tanya aja bun, nanti Alya jawab sebisanya."


Dinda menghela napasnya sebentar kemudian kembali berkata, "Apa kamu sudah tahu masa lalu bunda, ayah, dan ibu kamu?"


Alya bungkam, dia semakin tersudutkan.


"Maksud kamu apa Din?" Aryan menatap istrinya penuh tanya.


"Aku lihat Alya akhir-akhir ini gampang banget nerima aku padahal dulu dia benci banget sama aku dan Devan," ucap Dinda menjelaskan tentang apa yang dirasakannya. "Aku gak tau apa alasan sebenarnya dari Alya, tapi yang jelas aku seneng tapi aku juga pengen tahu alasan yang sebenarnya."


Devan yang mendengar itu langsung menatap Alya yang sedang kebingungan, dia tahu pasti Alya merasa bersalah atas apa yang dilakukan ibunya. Dia kasihan pada Alya yang hidup dikelilingi oleh kebohongan.


"Itu mungkin karena Alya yang udah menerima kamu Din, kenapa kamu harus menanyakan itu?" tanya Aryan dengan nada sedikit kesal.

__ADS_1


"Tapi mas, aku ngerasa itu beda," ucap Dinda tegas.


"Kamu-"


"IYA ALYA TAUU!"


Keduanya kompak menatap Alya dengan terkejut.


"Alya, jadi selama ini kamu tau?" tanya Aryan.


Gadis itu mengangguk. "Aku yang jahat ayah, kalau aja aku gak ada mungkin Devan sama bunda gak bakalan merasa tersakiti, mungkin dari dulu bunda bisa ayah publikasikan," ucap Alya menjelaskan.


"Bunda seneng bisa ketemu kamu Al," ucap Dinda yang kini duduk disamping Alya. Dia mendekap putrinya dengan penuh kasih sayang. "Jangan pernah berpikir hal yang buruk, bagi kami kamu itu adalah anugerah."


Alya benar-benar tidak menyangka Dinda akan memperlakukannya seperti anak sendiri, entah hatinya terbuat dari apa yang jelas ayahnya beruntung mempunyai istri seperti bundanya ini.


"Maafin ibu Alya bunda, maaf-"


"Gak ada yang salah, ini sudah takdir kita."


'Hai, selamat ulang tahun kembaran!!! Semoga lo selalu bahagia sama ibu dan semoga lo gak benci sama gue karena kehadiran gue bikin hidup lo menderita:(. Sebagai kata maaf, gue cuma bisa kasih lo gelang itu, asal lo tau aja itu gue beli dari uang sisa tabungan gue. Awas kalo gak dipake!


Gue bahagia bisa jadi saudara asli lo, gue gak pernah benci sama lo, gue sayang sama lo Amel. Gue selalu berharap bisa jadi saudara lo lagi suatu saat nanti:)


^^^Salam sayang Alya♡'^^^


Ini sudah yang kesepuluh kalinya Melya membaca tulisan yang ditulis oleh Alya, dia merasa kasihan pada adik kembarnya itu meskipun selama ini Melya selalu bersikap jahat padanya, tetap saja separuh dirinya ada didalam Alya begitupun sebaliknya.


"Jangan dipandangin terus, mending lo baikan aja sana," ucap Nadira yang datang membawa dua piring batagor.


Dengan cepat Melya melipat kertas itu kemudian memasukannya kedalam saku bajunya. "Gak usah sok tau, gue cuma heran kenapa ada manusia bodoh yang nulis surat sealay itu," balas Melya.


"Gengsi terus sampe mampus!"


Melya mendelik tajam, dia langsung mengambil satu piring batagor dan langsung memakannya dengan kesal.


"Pelan-pelan Mel, nanti keselek terus malaikat Izrail nyabut nyawa lo gimana? Lo kan belum baikan sama Alya, makanya jangan mati dulu," ujar Nadira menasehati.

__ADS_1


Melya semakin kesal dengan ucapan sahabatnya kemudian dia membalas, "Lo kayaknya ngedoain-"


"ARGHHH! PANAS! LO BISA JALAN GAK SIH!?"


Ucapan Melya terhenti karena suara teriakan seorang gadis yang begitu nyaring masuk ke gendang telinganya.


Semua mata yang berada di kantin langsung menyudutkan arah pandangannya pada asal suara tersebut, termasuk Melya.


"Gue gak sengaja Res," balas Alya yang membawa nampan berisi semangkuk bakso dengan es jeruk. "Gue minta maaf."


"Maaf lo gak bakalan balikin seragam gue yang kotor!" bentak Resta.


Tanpa permisi gadis itu mengambil es jeruk yang dibawa Alya lantas menumpahkannya tepat diatas kepala Alya.


Semua orang dikantin begitu terkejut dengan perbuatan Resta, mereka tidak pernah berpikir gadis itu akan tega mempermalukan sahabatnya sendiri meskipun dengan insiden postingan Alya waktu lalu mereka rasa saat ini Resta sudah terlalu berlebihan.


"Baju kotor untuk manusia berhati kotor," ucap Resta sinis.


Alya membuka matanya setelah menikmati hawa dingin yang masuk dari sela kulit kepalanya, otaknya terasa beku karena es itu, dia menatap Resta dengan kecewa, sahabatnya benar-benar sudah menghilang.


"Gue gak tau sebesar apa kesalahan gue sama lo Res, tapi sampai detik ini gue masih selalu menganggap kalau lo itu sahabat gue, mau lo apain gue tolak gue gimanapun itu, gue tetep anggap lo sahabat-"


"Bacot! Gue gak peduli, gue gak mau tau, dan gue benci sama lo!"


Resta pergi meninggalkan Alya yang basah kuyup sendirian, orang-orang menatapnya iba ada juga yang menatapnya senang.


Lagi dan lagi Alya merasakan kepalanya pusing dengan cairan kental yang keluar dari hidungnya, pandangannya mengabur membuat tubuhnya tidak kuat lagi menopang hingga terjatuh. Untungnya Aldian datang tepat waktu untuk menangkap Alya, meskipun dia tidak bisa menyelamatkan nampan dan isinya, masa bodo itu tidak penting.


Aldian dengan cepat memangku Alya dan membawanya ke uks.


"Liat kan? mereka beneran pacaran dan gak boongan," ucap gadis itui mengompori cowok jangkung disebelahnya.


"Mereka gak pacaran," balas cowok itu dengan yakin. "Mereka cuma adik dan kakak kelas, itu aja."


"Mau sampai kapan suka sama dia? kamu juga berhak bahagia Ilham," tanya Nara kesal.


"Lo gak usah ikut campur sama perasaan gue karena lo gak ada hak apapun," ucap Ilham. "Satu lagi, gue gak suka sama lo!"

__ADS_1


__ADS_2