
Bugh
Satu pukulan mendarat diwajah Erik ketika dia baru saja masuk ke kelas. Ditatapnya cowok berwajah datar dengan kilatan amarah dimatanya, dahinya berkerut bertanya-tanya apa kesalahan yang dia lakukan sehingga membuat seorang Ilham marah besar padanya.
"Lo gila!?" pekik Irgi yang berada disamping Erik.
Mereka yang berada di kelas tentu begitu terkejut dengan kejadian ajaib yang sedang mereka tonton ini, seumur-umur sekelas dengan Ilham baru kali ini dia memukul orang tanpa kejelasan, dan lebih parahnya memukul sahabatnya sendiri.
"Gue lagi pengen mukul orang aja."
Lagi-lagi mereka dibuat terkejut dengan jawaban yang tidak logis dari mulut ketua OSIS itu. Pagi ini benar-benar membuat mereka kebingungan dengan sikap yang selama ini tidak pernah mereka lihat sebelumnya dari diri seorang Ilham.
"Gue ada salah sama lo?" tanya Erik.
Jujur otaknya tidak bisa mencerna tindakan Ilham barusan.
"Masih nanya? lo pikun hah!"
Bugh
Kembali ia layangkan pukulan mengenai wajah sahabatnya membuat tubuh Erik terhuyung ke belakang karena tidak ada persiapan untuk menopang tubuhnya.
Pada akhirnya cowok itu pun ikut tersulut emosi kemudian dia mencengkram kerah seragam Ilham lantas dia membalas pukulannya.
Bugh
"Gue gak tau maksud lo sat!! gue ngerasa gak pernah cari masalah sama lo!" teriaknya tepat diwajah Ilham yang masih datar.
Cowok itu tersenyum sinis. "Lo lupa kejadian malam itu? apa maksud lo kalau bukan buat cari masalah sama gue."
Erik menatap tak percaya, kejadian malam itu? kejadian ketika dia mengajak makan Alya? yang benar saja!!
"Maksud lo?"
"Udah inget? lo sengaja bikin gue kesel karena lo gak suka sama gue kan?!"
Bugh
Ilham menendang tulang kering milik Erik membuatnya merintih kesakitan.
"KALIAN GILA!? KALIAN ITU TEMENAN SAT!" Sudah cukup, Gery tidak tahan dengan drama dipagi hari ini.
Resta menatap kejadian tersebut, otaknya berputar dan entah mengapa dia jadi mengingat Alya, gadis itu belum datang dia harus segera menemukannya agar dia bisa menghentikan pertengkaran gila ini.
Dia berlari menyusuri koridor yang mengarah kearah parkiran, dengan napasnya yang tersengal-sengal akhirnya dia menemukan gadis berwajah pucat itu. Tunggu, Alya pucat?
__ADS_1
"Huh, Al kenapa lo baru dateng?" tanyanya sambil mengatur napasnya.
"Loh, ini masih pagi tau Res bahkan ini lebih pagi dari biasanya gue dateng," jawab Alya.
Setelah menstabilkan napasnya Resta menepuk pundak Alya dan meneliti wajah sahabatnya yang kelihatan pucat meskipun bibirnya sudah diolesi oleh liptint.
"Al, lo gakpapa kan? kok muka lo pucet?"
"Hah? e-enggak tuh mana ada gue pucet mata lo minus makanya liat wajah gue kek gitu."
Resta melupakan tujuan awalnya saking khawatirnya pada Alya, bodo amat dengan adu hantam teman sekelasnya yang terpenting disini baginya hanya Alya.
"Sumpah lo!? gue rasa lo nyembunyiin sesuatu deh dari gue," tanyanya lagi.
Alya menghembuskan napasnya pelan. "Enggak Res beneran gue gakpapa sehat-sehat aja cuma tadi kebetulan gue gak sarapan, lo tahu sendiri kan kalo gue sekarang ngekos jadi jarang sarapan."
Matanya mencari kebohongan yang disembunyikan oleh Alya, namun dia tidak menemukan apapun selain Alya yang berwajah penuh tanda tanya.
"Lo ada apa sampe jemput gue kegerbang segala?"
"Astaga gue jadi lupa hal itu Al."
"Iya ada apa Resta, cepet kasih tau gue," ujar Alya yang sudah kesal.
"Ilham sama Erik berantem."
"Gue gak tau makanya gue cariin lo siapa tau lo tahu gitu."
"Lo fikir gue cenayang?"
Resta berdecak dia langsung saja menyered Alya untuk segera melihat secara langsung kejadian yang menghebohkan kelas Mipa 3.
"Santai atuh santai Res jangan narik-narik gini juga."
Resta tidak merespon dan Alya hanya mengikuti langkah sahabatnya dengan sedikit berlari. "Pagiku cerah, langsung diajak berlari" batin Alya.
Kembali ke kelas Mipa 3. Pertengkaran masih berlanjut bahkan semakin memanas karena tidak ada yang mau mengalah. Sampai detik ini mereka tidak tahu apa yang menjadi permasalahan keduanya, dan mereka kini hanya dapat menerka-nerka sesuai dengan fikiran mereka.
"Lo kalo suka ambil sat! gue gak ada hubungan apa-apa." Pada akhirnya Erik menjawab pertanyaan mereka semua.
Jadi inti perkelahian ini karena seorang cewek?
"Gue gak suka! cuma gue ngerasa lo mau jatuhin dengan ucapan busuk lo itu!"
"Ucapan gue yang mana? apa gue ada ngomong aneh-aneh?"
__ADS_1
Gery dan Irgi kebingungan, sebenarnya topik apa yang sedang dibicarakan oleh kedua temannya ini.
"Gue gak suka lo ambil sesuatu yang jadi milik gue!" tegas Ilham.
Tatapan mereka berdua masih sama, bahkan semakin menajam.
Erik terkekeh sambil menatapnya sinis. "Hei, sejak kapan seorang Ilham mengklaim sesuatu yang menurut dia menyebalkan jadi miliknya, bukannya lo gak suka? kok lo kayak suka."
Ilham melakukan semua ini dengan sadar namun dia juga tidak tahu mengapa hatinya terdorong untuk memukul sahabatnya sendiri karena mengingat kejadian malam itu. Katakan saja dia sudah gila, mulutnya terus berkata bahwa dia tidak menyukai Alya tapi entah mengapa hatinya terasa sakit mengingat malam itu. Apa dia benar-benar menyukai Alya?
"GUE GAK SUKA DIA SAT! LO TULI?!"
Plakk
Erik memejamkan matanya, tidak ada sesuatu yang mendarat diwajahnya, lantas siapa yang dipukul oleh Ilham?
Matanya terbuka, seorang gadis sedang berdiri didepannya, dia Alya.
"ALYA!!" teriak Gery, Irgi dan Resta secara bersamaan.
Panas menjalar dipipinya, matanya terpejam menikmati rasa sakit yang entah mengapa dia suka, tidak seperti saat Devan atau Ayahnya yang memukul, benar kata orang jika sudah cinta hal apapun yang lakukan oleh si dia akan sangat menyenangkan.
"Alya lo mimisan!"
Matanya terbuka, dia menatap raut khawatir orang-orang padanya terutama Resta.
"Gue mimisan?" Alya segera memegang sesuatu yang terasa hangat mengalir melalui hidungnya, benar itu darah, cairan yang sangat dia benci dalam hidupnya.
Kepalanya terasa pusing, matanya memburam kemudian gelap dan dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Brukkk
"ALYA!!" Resta memekik melihat tubuh sahabatnya ambruk tepat dihadapannya.
"Lo gila Ham? kenapa lo tampar Alya? kenapa bukan gue aja?" tanya Erik dengan dada naik turun.
"Gue juga gak tau tiba-tiba cewek gila ini ada didepan gue," bela Ilham.
Resta geram melihat perdebatan yang masih berlanjut itu, apa mereka tidak lihat ada korban yang tergeletak disini?
"Cukup!! mending lo bawa Alya ke uks, gue khawatir dia kenapa-kenapa," ujar Resta dengan sedikit berteriak.
"Biar gue-"
"Gue aja!" potong Ilham.
__ADS_1
Resta tahu pasti akan ada perdebatan lagi. "ILHAM! CEPET BAWA ALYA KE UKS!!"