You My Bucin

You My Bucin
25. Baikan


__ADS_3

"Lo itu ngeselin banget, main ganti nama orang aja mana alay gitu!" protes Ilham.


Mereka berdua kini sedang boncengan menuju rumah Alya, seperti biasanya gadis itu melingkarkan tangannya diperut Ilham sambil tersenyum.


"Lucu tau! itu panggilan sayang Alya buat Ilham," ujar Alya.


"Gue gak suka!"


"Tapi kita udah pacaran Ilham."


Bagi Ilham nilai sekolahnya lebih penting dari perasaannya, hidupnya penuh tekanan tidak mungkin dia bersenang-senang sampai membuat nilainya turun. Ibunya selalu menginginkan Ilham menjadi orang yang pintar agar bisa dibanggakan. Nyaris saja kemarin dia mendapatkan sp, tapi untungnya bu Diana berbaik hati memaafkannya, hanya diberi hukuman untuk membereskan perpustakaan dan gudang sekolah saja. Tidak apa.


"Kita pacaran karena terpaksa Al, gue gak beneran suka sama lo!" ujar Ilham.


Alya cemberut. "Nanti juga pelan-pelan suka sama Alya, dijamin pasti bakalan bucin."


"Amit-amit gue jadi bucin sama lo," cibirnya.


Biarkan saja Ilham mau berkata apapun, dia yakin suatu saat nanti perasaannya akan dibalas.


"Lo pulang kemana?"


"Kosan."


Ilham mengerutkan keningnya, mengapa gadis ini memilih tinggal dikosan, padahal rumahnya itu besar.


"Kenapa lo gak tinggal dirumah bareng bokap lo? " tanya Ilham.


Alya tersenyum dibalik punggung Ilham. "Kamu udah tahu tentang Devan kan?"


Cowok itu mengangguk. "Iya, dia kakak tiri lo."


"Devan tinggal dirumah terus Alya gantian tinggal dikosan Devan, males liat muka ngeselinnya soalnya."


"Dia mantan lo?" Ilham bertanya lagi.


"Iya cuma sebulan."


"Kenapa putus?"


Bibir Alya mengerucut, kesal dengan pembahasan mengenai cowok itu, apakah tidak ada hal menarik lain untuk dibahas?


"Jangan omongin dia ih, cari yang lain kek," protes Alya.


Ilham terkekeh ketika melihat raut kesal tercetak jelas lewat kaca spionnya. "Sensi banget kalo bahas soal Devan, lo masih suka sama dia ya?"


"Enggak! gue benci banget sama Devan, lagian gue udah sayang sama lo!"

__ADS_1


Gadis ini memang seperti bunglon, gampang berubah-ubah suasana hatinya membuat Ilham jadi gemas. Eh, kok gemas sih? Ilham kan benci sama Alya!!


"Kalau gue selingkuhin lo, lo bakal putusin gue gak?" Pertanyaan random akhirnya keluar dari mulut Ilham.


Alya mengangguk kemudian menjawab, "iya bakal Alya putusinlah, tapi aku yakin kalo Ilham gak bakalan selingkuh."


"Iya kan lo selingkuhan gue!"


"Mana ada?"


"Gue pacarnya Melya dan lo selingkuhan gue Alya."


Benar juga sih, tapi sekarang Melya kan sudah jadi mantannya jadi Alya bukan selingkuhan.


"Tapi kalian udah putus," ujar Alya.


"Tapi tetep aja lo selingkuhan."


"Gakpapa deh, asal sama Iyung aku gakpapa jadi yang kedua."


...*****...


Cowok berjaket denim itu menyandarkan tubuhnya didepan pintu sambil sesekali mengecek ponselnya, namun sepertinya tidak ada tanda-tanda respon dari sang penerima. Entah sengaja atau memang ponselnya kehabisan baterai. Sepertinya memang dia harus menunggu sampai pemilik rumah pulang.


Padahal jam sekolah sudah berakhir satu jam yang lalu, entah pergi kemana dulu gadis itu. Andai tadi dia mengantarkannya, sayang sekali dia ditolak mentah-mentah karena gadis itu bilang akan pulang bersama pacarnya. Dia tidak keberatan sama sekali, toh dia juga tidak menyukainya.


"Ngapain lo disini?" tanya seorang yang cowok yang baru turun dari motornya.


"Rik, kok ada disini?" gadis itu ikut bertanya.


Erik menegakkan tubuhnya, dia mendekat pada Alya dan menghiraukan kehadiran Ilham disamping gadis itu.


"Ikut gue-"


"Apa maksud lo!" sentak Ilham.


"Gue gak ada urusan sama lo, mending lo pulang," ujar Erik tanpa menatap lawan bicaranya.


Ilham menggeser bahu Erik membuat cowok itu menatap jelas raut tak bersahabat dari cowok jangkung itu. "Gue pacarnya Alya, jadi gue berhak tau!"


Erik terkekeh. "Pacar? gak salah denger kuping gue? bukannya lo gak suka Alya ya?"


"Tapi dia pacar gue!"


"Ya, terserah lo deh, gue bodo amat."


Erik kembali memfokuskan dirinya pada Alya.

__ADS_1


"Ikut gue Al, kita ke rumah sakit," ujarnya.


Alya menaikan alisnya. "Kenapa harus ke rumah sakit?"


"Om Aryan masuk rumah sakit, dia sakit-sakitan pas lo ngekos, dia sayang banget sama lo Al," ungkap Erik.


Alya membuka matanya lebar, kenapa si Devan sialan itu tidak memberitahunya sejak awal, kenapa harus menunggu ayahnya masuk rumah sakit. Dasar anak tiri! meskipun Alya ini tidak suka pada ayahnya, namun tetap saja dia ini anaknya yang dulu ditimang-timang meskipun sekarang sering diperlakukan tidak baik. Alya tidak mau jadi anak durhaka dan tidak mendapatkan bagian warisan, rugi dong.


"Si Devan kenapa gak telepon gue sejak awal? dia pengen bokap gue cepet meninggal?" kesal Alya.


Erik menghela napasnya. "Bukan Al, tapi dia takut bokap lo cuma pura-pura sakit biar lo balik ke rumah, tapi ternyata om Aryan beneran sakit karena khawatir sama lo," jelasnya.


"Ck, yaudah ayo ke rumah sakit," ajak Alya.


"Gue ikut!"


Erik menatap tajam pada Ilham. "Gak usah, lo gak ada kepentingan disini."


"Dia juga temen bokap gue kalo lo lupa," terang Ilham dengan tatapan yang tak jauh beda dari lawan bicaranya.


"Lo kalo mau jagain Alya gak usah segininya, gue cuma sepupu dia gak lebih!" tegas Erik.


Dia sudah lelah dengan drama yang dimainkan Ilham, bilang tidak suka padahal suka sampai-sampai membuat wajahnya bonyok. Dia tidak mau membuat Alya terus bersedih dengan merasa bahwa Ilham tidak suka padanya.


"Gue cuma mau jenguk om Aryan," kilahnya.


"Gak usah bohong, gue tau!"


Alya dibuat pusing sendiri dengan kedua cowok itu, dia tidak tahu alasan jelas yang membuat awal pertengkaran keduanya. Tidak mungkin gara-gara Alya kan?


"Udah deh, ini kalo bokap gue kenapa-kenapa salah kalian ya, kalian harus bayar denda 10M!!" teriak Alya mengalihkan atensi mereka.


"Ayo sama gue," ajak Erik.


"Gue ikut!" imbuh Ilham.


Alya berkacak pinggang sambil menatap kedua cowok itu garang. "Gue gak mau ke rumah sakit kalo kalian masih musuhan, cepet baikan!! atau gue gak pernah mau kenal sama kalia lagi!" ancamnya.


Sebuah keajaiban ancaman Alya membuat cowok itu pasrah dan saling berjabat tangan.


"Gue minta maaf Rik, gue salah mukul lo tiba-tiba," ujar Ilham.


"Gue juga minta maaf ya, pokoknya lo jangan cemburu sama gue, gue cuma sepupu gak lebih, lagian gue setuju kalo lo nanti jadi ipar gue," jelas Erik membuat Ilham mencubit perutnya.


"Sialan lo! baru aja baikan."


"Lebay lo! ayok Ayung."

__ADS_1


__ADS_2