
Pagi ini seharusnya dia tersenyum senang lantaran hari ini dirinya genap berumur 18 tahun. Namun yang dirasakannya hanya hampa, tidak ada ibu, tidak ada Ilham, tidak ada Resta, bagaimana dia bisa merayakan hari bahagianya tanpa ketiga orang itu.
Alya menggendong tasnya lantas menuruni tangga dengan sesekali menghela napasnya, dia berusaha menahan agar tidak menangis, dia harus kuat untuk orang-orang yang masih berharap kesembuhannya. Devan dan Aldian, jangan lupakan Vian.
"Happy birthday Alya!!"
Alya mengusap dadanya pelan, dia mendelik tajam pada kedua pria yang tengah cengengesan.
"Bisa gak sih kalian jangan kagetin Alya!" ucap Alya kesal.
"Namanya juga kejutan Al, yakali gak bikin lo terkejut," sahut Devan yang sedang menarik kursi untuk Alya, "Silakan tuan puteri Alya," ujarnya.
"Jijik Devan!"
Dinda dan Aryan terkekeh geli dengan interaksi keduanya, sampai detik ini mereka belum tahu tentang Alya yang sudah mengetahui masa lalu mereka, keduanya berpikir bahwa Alya sudah menerima kehadiran Devan dan Dinda.
"Selamat ulang tahun sayang," ucap Aryan lembut. "Kamu mau kado apa dari ayah?" tanyanya.
Alya menggeleng dengan senyum di wajahnya, "Alya gak mau apa-apa, Alya juga gak mau makan kue atau tiup lilin, Alya cuma mau habisin hari ini jalan keliling sendirian, boleh?"
"Boleh dong, tapi ayah temenin ya," ucap Aryan.
"Gak mau!"
"Yasudah, ditemani Devan,"
"Gak mau!"
Devan menyenggol bahu Alya, "Pagi-pagi lo gak usah ajak ribut ayah," ucap cowok itu.
"Gue cuma ngejawab gak ajak ribut," balas Alya kesal.
"Sama aja!"
Alya tidak mendengar ucapan Devan karena saat ini dia fokus dengan makanan favoritnya yang sudah tersedia di meja makan. "Bunda masakin semua ini buat Alya?" tanyanya
Dinda tersenyum, "Iya dong, buat anak kesayangan bunda."
"Aku boleh minta tolong bunda ambilin buat aku gak? Aku kangen diambilin makanan sama ibu," ucap Alya dengan nada sendu.
"Boleh dong Al."
Dinda dengan telaten mengambil nasi lantas mengisi piring itu dengan berbagai macam lauk kesukaan Alya.
__ADS_1
"Makasih bunda," ucap Alya sambil tersenyum.
Alya menikmati makanannya tanpa berkata sepatah katapun begitupun dengan ketiga manusia yang berada di meja itu.
Devan sesekali melirik ke arah Alya, entah mengapa hatinya merasa khawatir melihat senyum Alya yang seperti itu. "Apa cuma perasaan gue aja ya?" batinnya.
"Sudah habis!" seru Alya.
Gadis itu memundurkan kursinya kemudian berdiri berjalan ke arah Dinda.
"Kenapa Al? Mau bunda ambilin lagi?" tanya Dinda yang baru menyelesaikan sarapannya.
Alya mengigit bibir bawahnya gugup sambil memilin jarinya.
"Kenapa Al?" tanyanya lagi.
"A-alya boleh minta dipeluk bunda gak?"
Dinda sedikit terkejut dengan permintaan Alya, namun dia juga bahagia akhirnya putri tirinya sudah mulai terbuka padanya.
"Boleh, sini bunda peluk," ucap Dinda dengan senyum manisnya.
Wanita itu langsung memeluk Alya lembut, tanpa sadar air jatuh dari pelupuk matanya. Satu tahun lebih akhirnya Dinda bisa memeluk Alya, akhirnya mereka menjadi keluarga yang bahagia.
"Seharusnya bunda yang makasih sama kamu karena udah nerima bunda."
Alya melepaskan pelukannya lantaran mendengar isakan yang keluar dari bibir wanita cantik itu.
"Bunda kenapa? Bunda nangis? Aku salah bicara ya bun?" tanya Alya panik.
"Bunda nangis bahagia bukan sedih Al!" sahut Devan yang menatapnya malas.
Alya mendelik menatap Devan, "Gue gak nanya sama lo!"
Sebuah sentuhan dipundaknya membuat Alya kembali menatap Dinda yang kini sudah menghapus air matanya.
"Devan benar Al, bunda nangis karena bahagia akhirnya kamu mau menerima bunda," ucap Dinda.
"Aku yang minta maaf sama bunda karena udah ngomong kasar." Alya menunduk merasa bersalah atas perlakuannya selama ini. "Aku tahu bunda bukan orang jahat, bunda baik banget udah mau anggap Alya anak bunda."
Alya tersenyum kemudian memeluk Dinda. "Makasih bunda, Alya sayang bunda."
...*****...
__ADS_1
Langkah kakinya berakhir di depan seorang gadis bermata sama dengannya. Dia memilih jalan lain namun gadis di depannya juga mengikuti langkahnya.
"Mau lo apa sih Al?" tanya Melya kesal.
Alya tersenyum lantas mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Happy birthday kembaran!" seru Alya.
Melya menatap sebuah kotak kaca transparan berisi gelang emas berhuruf 'A', lantas dia menatap Alya, "Buat gue?" tanyanya sedikit terkejut.
Gadis itu mengangguk cepat, "Iya buat lo, karena kita kembar jadi tanggal lahir kita sama dan gue pengen kasih sesuatu yang berharga buat kembaran gue," jelas Alya.
"Gue gak mau," tolak Melya cepat. "Gue gak butuh kado, dan gue gak peduli sama ulang tahun!" lanjutnya.
Melya berjalan menyenggol bahu Alya, "Gue gak pernah anggap lo kembaran, ngerti!"
"Gue bakal terus sayang sama lo Mel, gue seneng bisa jadi kembaran lo," balas Alya sambil tersenyum.
Melya tak mau berlama-lama dekat dengan Alya, takut jika nanti dia luluh dan terbuai dengan kebaikan gadis itu. Sejujurnya Melya juga ingin mengucapkan selamat ultah tahun untuknya, hanya saja dia malu.
Selepas kepergian gadis itu Alya berjalan menuju kantin dengan kotak yang masih di genggamannya. Dia tidak masalah jika saudarinya itu menolak, dia masih punya cara lain untuk menyampaikan hadiahnya itu.
Tepat sekali, seorang gadis cantik berambut sebahu sedang duduk di kantin sendirian seperti biasanya.
"Hai Nadira," sapa Alya.
Gadis itu menaikan alisnya, tumben sekali seorang Alya datang ke kantin pagi-pagi dengan tas yang masih digendongannya.
"Eh, hai Alya. Ada apa ya?" tanya Nadira to the point.
Alya memberikan kotak itu pada Nadira. "Tolong lo masukin ini ke tas Melya ya, jangan sampai ketauan dia tapi," ucapnya.
Mata Nadira membulat sempurna melihat gelang emas itu, dia pikir pasti harganya akan sangat mahal, bahkan mungkin lebih mahal dari biaya spp-nya sebulan disini.
"Nadira, lo bisa kan?" tanya Alya.
Gadis itu mengangguk, "I-iya, bisa kok Al nanti gue masukin tasnya deh, aman kok," balas Nadira sedikit gugup.
"Oke kalo gitu. Makasih ya Dir," ucap Alya sambil tersenyum. "Oh iya, gue harap lo bisa jadi sahabat Melya terus ya, tolong jagain dia terus tuntun dia ke jalan yang benar. Bilangin kalo gue sayang sama dia," lanjut Alya panjang lebar.
Setelah mengatakan itu dia pergi meninggalkan Nadira dengan beribu pertanyaan di benaknya. Sikap Alya pagi ini benar-benar aneh, dan sepertinya gadis itu sudah tahu mengenai kebenaran tentang dirinya dan Melya.
Nadira menatap isi kotak itu takjub, ukirannya benar-benar mewah, dibawahnya terdapat sebuah surat. Sepertinya Alya benar-benar menyayangi saudarinya. "Melya beruntung ya punya adik kayak Alya."
__ADS_1