You My Bucin

You My Bucin
79. kita bukan siapa-siapa


__ADS_3

"Bro, si Erik kemana? tumben tuh anak gak nongol," tanya Irgi yang baru saja datang dan langsung duduk di sebelah Ilham.


"Mana gue tau, gue bukan emaknya," sahut Gery yang sedang menyuapkan bakso ke mulutnya.


Ilham juga mengedikkan bahunya pertanda dia tidak tahu entang kemana sahabat satunya lagi.


"Lah kocak kalian, katanya sahabat," ujar Irgi tak tahu diri.


"Lo aja yang suka nempel sama tuh orang gak tau kemana, apalagi kita iya gak Ham?"


Ilham mengangguk mengiyakan perkataan Gery.


"Lagian kenapa sih lo nyariin si Erik? tumben banget," tanya Gery.


"Biasa, nyontek. Lagian kalo minta sama kalian mana boleh, kalian kan pelit," cibirnya.


"Kata emak gue, 'jadilah orang pelit biar cepet kaya',"


"Apa hubungannya sama nyontek?"


"Iya kalo gue gak nyontekin ke lo, berarti gue kaya ilmu," jawab Gery.


Irgi terkekeh, "kaya ilmu tapi ranking terendah hiyaa."


Plakk


Gery puas sekali memukul belakang kepala sahabatnya, siapa suruh Irgi menyebalkan jadinya kan tangannya otomatis menegurnya.


"Sialan lo, gimana kalo gue geger otak, hilang ingatan," rutuknya.


"Alhamdulillah kalo lo ilang ingatan, jadi gak perlu nyusahin gue."


Dibalik kegaduhan yang di buat kedua cowok itu, datanglah sosok yang sedang menjadi perdebatan keduanya.


"Kalian kenapa?" tanya Erik dengan wajah bingung.


"Akhirnya ketemu, lo kemana aja sih ege?"


"Abis dari toilet, kenapa emang?"


Gery berdiri kemudian menepuk bahu Erik pelan, "noh minta contekan katanya."


Erik mengangguk, "oke, ambil aja kayak biasa."


Mereka bertiga diam, sepertinya ada yang salah dengan Erik, biasanya dia tidak kalem seperti ini, apalagi jika tahu sepupunya Alya di rumah sakit, pastinya dia akan mengoceh.


"Rik lo kenapa?" celetuk Ilham.

__ADS_1


Cowok yang baru duduk di sebelah Gery itu mengangkat alisnya. "Maksudnya?"


Irgi yang paham dengan pembahasan Ilham langsung menyahut, "tumben banget lo gak ngomel dulu, biasanya lo ngomel sampe mulut lo berbusa."


"Lah iya, gue baru sadar sohib kita ini berubah cuy, ada apa gerangan kawanku ini?" Gery terkekeh sambil merangkul bahu Erik membuat cowok itu langsung menepisnya.


"Apa sih? gue kalem salah, gue ngoceh salah, pusing gue," rutuk Erik.


"Yaelah baperan amat abang Erik ini,"


"Najis Gi!"


Ketiga cowok itu tergelak karena Erik mereka sudah kembali. Namun tawa itu reda ketika seorang gadis mendekat ke meja mereka.


"Rik, gue boleh minta waktu lo sebentar?" tanya gadis itu sambil memainkan jarinya.


Irgi menatap gadis itu bingung, "calon cewek gue ngapain ngajak berduaan sama Erik? mending sama gue," ujarnya.


"Anjir! Mel emang lo mau sama modelan Irgi? kalo Erik sih masih wajar ya,"


Cowok itu mendelik menatap Gery. "Diem lo syaiton!"


"Gue gak mau basa basi, lo bisa ikut gue atau nggak?" tanya Melya lagi menghiraukan ucapan tidak berfaedah dari dua curut itu.


"Kemana?" tanya Erik.


"Gak usah banyak tanya deh, nanti juga lo tahu sendiri," jawabnya geram.


Erik berdiri kemudian berkata pada teman-temannya, "gue ada urusan bentar, tungguin gue."


Setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan area kantin, Erik sendiri tidak tahu gadis ini akan membawanya kemana, dia pasrah saja.


"Tumben banget Erik mau ngikut si Melya," ujar Gery.


"Mungkin karena dia wakil ketos, jadi dia nurut. Mungkin ada masalah yang harus mereka selesaikan," sahut Irgi.


Ilham masih memandangi jejak punggung yang hilang di belokan kantin, jujur dia juga penasaran kenapa Erik jauh lebih pendiam sekarang.


Meskipun dulu juga dia tidak banyak berbicara seperti Irgi, tapi aneh saja dia tidak ada sedikitpun membahas Alya, padahal biasanya dia selalu mewanti-wanti padanya agar menjaga sepupunya itu.


"Gue jadi curiga sama tuh bocah," celetuk Irgi.


"Gue juga,"


Ilham ikut mengangguk, "Gue juga sama, apa dia ada masalah keluarga?"


"Masa sih? dia anak tunggal kaya raya, yakali ada problem keluarga, apa hubungannya coba sama Melya?"

__ADS_1


"Melya itu saudara kembarnya Alya."


Irgi langsung membuka matanya lebar, "Hah? kok bisa?"


"Ya bisalah, ini buktinya mereka anak kembar yang terpisah," sahut Gery.


Jangan tanya darimana cowok itu tahu, tentu dari pasangan mereka masing-masing, dan tentu saja Irgi ketinggalan informasi karena dia adalah jomblo akut.


"Wah, nih manusia satu tau darimana?" tanyanya bingung.


"Dari ayang Resta dong, makanya nyari pacar biar tahu berita terhot," balas Gery sombong.


"Bener tuh, jangan membebani kita terus, iya gak Ger?"


Irgi mengusap dadanya pelan, sedih sekali menjadi jomblo karena selalu dinistakan, padahal Erik juga sama sepertinya tapi kenapa dia yang selalu disudutkan?


"Lihat aja, nanti gue bakal pacarin si Melya biar bisa double date sama lo Ilham," seru Irgi.


Ilham menepuk punggung sahabatnya prihatin. "Gimana bisa lo double date sama gue, sedangkan si Melya aja sekarang lagi di gas sama si Erik."


"Iya terima nasib jomblo lo aja Gi, udah sabar." Gery ikutan meledek sahabatnya itu.


"Dasar sohib laknat lo pada!!"


...******...


Jam istirahat kedua berbunyi, dia langsung keluar kelas dan melangkahkan kakinya entah akan kemana, hingga langkah kakinya terhenti ketika seseorang menarik tangannya dari belakang. Dia menatap tak suka pada gadis berambut coklat yang sedang tersenyum kearahnya.


"Mau apa lo?" tanyanya tak ramah.


Gadis itu murung, namun dia tak urung untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan, "Makan ke kantin bareng yuk, Alya kan masih di rumah sakit," katanya dengan nada semangat.


"Gak usah deket-deket sama gue lagi." Cowok itu membentaknya lantas melepaskan jemari kecil milik gadis itu dari lengannya. "Kita bukan siapa-siapa, jadi lo gak usah sok deket sama gue."


"Kita sahabat Ilham, kenapa kamu-"


"Dulu, sebelum lo memutuskan untuk pergi jauh dari gue," potong cowok itu dengan nada lemah.


Nara memilin jarinya gugup, "Kita gak bisa jadi sahabat lagi ya Ham? bukannya malam itu kamu bilang sayang sama aku?"


"Gue terpaksa, dan tolong lupain segala hal tentang gue,"


"Kamu jahat Ilham!" teriak Nara dengan sorot mata kecewa. "Aku yang menemani kamu untuk berdiri tapi Alya yang kamu ajak untuk berjalan."


"Lo gak tahu gimana kondisi gue ketika lo pergi Ra, lo gak tau kan? Gue hancur, gue menutup semua orang yang mau masuk ke hati gue, hingga akhirnya gue benar-benar membuka hati gue buat Alya. Dia penyembuh gue," ungkap Ilham.


Nara menunduk, "Jadi kamu mau lupain malam-"

__ADS_1


"Cukup Ra! mending lo pergi jauh-jauh dari gue, dan jangan pernah lo datang lagi di-"


"Aku hamil."


__ADS_2