
"Eh ada orang penyakitan, kenapa masih bertahan sih Al? Penyakit lo itu gak bakalan sembuh!"
Matanya menatap tajam pada gadis berdress putih itu, andai saja saat ini dia tidak memakai kursi roda mungkin dia sudah mencakar wajah menyebalkannya.
"Gak usah sombong Al, sadar diri lo itu udah gak bisa apa-apa," ucapnya.
"Lo bisa diem gak sih? Dasar muka polos hati nenek sihir!" sentak Alya kesal.
Gadis itu tertawa renyah, dia berjongkok dihadapan kemudian berkata, "Gue kasian lihat Ilham kalo tau ternyata pacarnya yang tersayang itu penyakitan."
"Nara!!"
Keduanya mengalihkan atensinya pada asal suara itu.
"Lo mau ngapain Alya? Ngapain juga lo disini?"
Nara menatap sinis cowok itu, "kak Aldian kenapa disini? Harusnya pacarnya Alya yang nemenin dia kok jadi kakak?" tanyanya.
"Lo gak usah ngalihin pembicaraan!" ucap Aldian.
"Iya, gue habis jenguk nenek gue dan kebetulan gue liat temen sekelas gue juga di rawat disini jadi sekalian aja," jawab Nara jujur.
Aldian menarik lengan Nara kemudian menghempasnya kasar.
"Awww," ringisnya. Nara menatap tajam pada cowok itu, "Lo banci banget ya! Lo berani kasar sama cewek?"
"Bodo amat!" ucap Aldian tepat di wajah Nara.
Cowok itu membiarkan gadis itu merutuk, saat ini tujuannya adalah untuk menjauhkan Alya dari gadis jahat itu.
Iya, Aldian tahu bagaimana sifat asli Nara karena tanpa sengaja dia mendengarkan rencana jahat gadis itu tentang memecah belah persahabatan antara Alya dan Resta.
"Ehh tunggu!" seru Nara.
Gadis itu menghalangi jalan Alya, dengan cepat dia mendekat kemudian membisikkan sesuatu di telinga Alya. "Ilham gak bakalan mau hidup sama cewek penyakitan kayak lo Al, apalagi sisa umur lo itu gak bakalan bisa nemenin Ilham sampai tua-"
"Heh! Udah gak usah lo hasut adek gue!" sentak Aldian.
"Sok tau lo!" bentak Nara.
Dengan kaki yang di hentakkan gadis itu berlalu pergi meninggalkan keduanya.
Kejadian kemarin selalu terputar di otaknya, ucapan Nara selalu menghantuinya hingga membuatnya memutuskan untuk menyerah mempertahankan Ilham.
"Kenapa lo nyakitin diri sendiri?"
__ADS_1
Alya mendongak menatap Aldian yang mengulurkan tangannya.
"Tanpa menyakiti diri sendiri pun gue udah penyakitan," balas Alya.
Gadis itu berdiri tanpa bantuan Aldian. Dia tidak akan selemah itu hanya karena kanker yang di dalam tubuhnya.
"Lo jangan terus bantuin gue dan jangan peduli sama gue karena gue gak perlu di kasihani," jelas Alya kemudian meninggalkan Aldian sendirian.
Bukan Aldian namanya jika membiarkan gadis itu pulang sendiri, mau bagaimanapun Devan sudah mewanti-wantinya agar selalu mengikuti Alya dan menjaganya. Namun bukan itu saja alasannya, dirinya sendiri juga terdorong untuk melindungi gadis itu, karena Alya sudah seperti adiknya sendiri.
"Alya tunggu! Pulang bareng gue," teriak Aldian sambil berlari.
Alya menulikan pendengarannya sampai suara klakson mengagetkannya.
"Aaaa!!!"
Jantung Alya berdegup dengan kencang, dia menutup matanya menantikan mobil itu menabrak tubuhnya namun bukan rasa sakit yang diterimanya tapi sebuah pelukan hangat.
"Ilham?" tanya Alya kemudian mendongak.
"Gue bukan cowok lo!" ketus Aldian.
Alya segera menjauhkan dirinya dari cowok itu. Dia baru sadar barusan seseorang menarik tangannya, dia pikir itu Ilham ternyata bukan.
"Padahal lo gak usah selametin gue, biar aja gue ketemu Tuhan lebih awal," ucap Alya dengan wajah kesal.
"Gue gak minta di tolongin!"
"Kalo lo ketabrak nanti yang punya mobil kesusahan!"
Mereka saling menatap mengibarkan bendera perang.
Dari jauh seorang cowok tidak sengaja melihat adegan ketika mereka berpelukan, cowok itu melihatnya dengan wajah marah. "Hati lo gak bohong ternyata, yang bohong itu janji lo Al."
...*****...
Alya menatap tajam ke arah dua sejoli yang akhir-akhir ini terlihat semakin lengket seperti perangko. Tanpa sadar dia memasukan sambal sepuluh sendok ke dalam kuah baksonya membuatnya menyemburkan kuah dari mulutnya.
"Anjir! Jorok banget sih lo Al!" pekik Aldian sang korban.
"Lagian siapa sih yang masukin sambel segini banyak ke bakso gue?" gerutu Alya sambil mengipasi bibirnya yang terasa panas.
"Dasar pikun! Jelas-jelas lo sendiri yang masukin sambel segitu banyak ke mangkok lo," ujar Aldian.
Dania yang duduk disamping Alya menyodorkan teh miliknya pada gadis itu. "Minum Al," ucapnya.
__ADS_1
Alya menggeleng, "Gak mau kak, panas. Lagian gue ada nih jus jeruk."
"Minum es cuma nambah rasa panasnya mending lo minum teh anget gue," jelas Dania lembut.
"Tuh dengerin ucapan kakak ipar lo!" celetuk Devan ikut nimbrung.
"Ya, iya, ck bawel banget kalian." Alya mengambil teh itu lantas meneguknya setengah. "Makasih kak," ucap Alya pada Dania.
"Sama-sama."
Alya diam, dia kembali melirik ke arah meja sebelahnya, hatinya panas melihat adegan suap-suapan diantara Ilham dan Nara. Saking fokusnya mengamati dua insan itu dia sampai tidak mendengar panggilan dari kakak tirinya.
"Alya sayang!!" teriak Aldian yang menggema dipenjuru kantin.
Alya terlonjak kaget karena suara Aldian itu mirip seperti toa masjid.
Alya menatap Aldian sebal kemudian bertanya, "Apa sih? Gak usah teriak juga kali!"
"Lagian lo dipanggil Devan diem aja malah bengong," jawab Aldian.
"Iya gak usah teriak pake kata sa-"
"Bisa gak usah berisik?"
Mereka berempat mengalihkan atensinya pada Ilham yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Alya.
"Kalian kalo mau pacaran jangan di tempat umum apalagi di sekolah, malu-maluin," ucap Ilham tegas.
"Terus apa yang lo lakuin tadi? Lo nyuapin cewek, itu artinya lo juga jangan mesra-mesraan di depan umumlah, gue risi liatnya jijik," jelas Alya dengan nada ketus.
Semua orang menatapnya aneh terkecuali Aldian yang tahu bagaimana kini hubungan keduanya.
"Nara tangannya lagi sakit jadi gue sebagai sahabatnya bantuin dia biar dia gak kelaperan," balas Ilham.
"Gue bodo amat sih, gak penting juga."
Ilham tanpa sadar mengepalkan tangannya kemudian berkata, "Iya gue lupa, harusnya gue gak jelasin apapun sama lo karena kita jelas udah bukan siapa-siapa lagi."
Seisi kantin dikejutkan dengan penuturan Ilham. Ternyata pada akhirnya kedua anak manusia yang bucin itu memutuskan hubungan mereka, ada yang bersorak senang ada juga yang kecewa.
"Iya harusnya lo juga gak usah dateng ke meja gue cuma karena pacar gue ini manggil sayang, kenapa? Kepanasan lo?" cibir Alya.
Lagi-lagi mereka terkejut, ternyata Alya sudah menjalin hubungan lagi dengan Aldian.
Devan yang mendengar itu langsung melotot tajam pada Aldian, sedangkan cowok itu menggeleng dengan wajah masam.
__ADS_1
"Sialan si Alya, mau bikin gue mati cepet keknya," batin Aldian.
"Lo emang cewek sampah!"