
Saat ini Alya berada di rumahnya untuk mengadakan pengajian, jangan lupakan Ilham juga yang sedari tadi terus menempel dengannya. Jangan tanyakan dimana Melya dan Aldian, kedua manusia itu kini sedang kompak menatap pasangan bucin di depan mereka.
"Sampai kapan lo mau suka sama si Ilham?" celetuk Aldian tiba-tiba.
"Hah? suka sama tuh cowok bucin? najis!" sahut Melya.
"Mulut lo astaga kayak gak di sekolahin,"
"Lagian lo nanya gak berbobot."
Aldian merasa lebih nyaman dengan Melya yang sekarang, dulu gadis itu kan sok polos pakai 'aku' 'kamu', terdengar menggelikan di telinganya.
"Terus lo sukanya sama siapa?" tanya Aldian lagi.
Gadis itu mendengus, "Banyak tanya!"
"Ye, gue lagi baik nih siapa tau lo mau gue comblangin," ujar Aldian.
"Cih, emang lo bisa apa? gak bakalan bisa juga lo bikin orang yang gue suka, balik suka sama gue."
Cowok itu menggeleng pelan sambil berdecak, "ck, ck, ck, lo gak tau ya kalo gue itu yang comblangin si Devan sama si Dania."
"Hah?" tanya Melya tak percaya. "Seriously?"
"Yoi, gue keren kan?"
Melya menatap datar Aldian yang sedang tersenyum sombong. "Biasa aja!"
"Astaga Mel, lo jadi orang gak bisa banget bikin gue seneng,"
"Bodo amat."
Aldian mencoba sabar menghadapi Alya versi kalem ini, meskipun memang awalnya Melya ini berbeda dengan kembarannya tapi semakin lama dia malah semakin mirip Alya, menyebalkan.
"Udah tinggal ngomong aja lo suka sama siapa apa susahnya sih," rutuk Aldian setelah meredakan emosinya.
Melya mendengus karena pertanyaan cowok itu kembali mengarah pada privasinya, "Gue suka sama Angga," jawabnya.
Akhirnya dia jujur, lagipula mana mungkin cowok itu tahu dengan Angga toh anak itu gak famous plus terkenal pendiam di sekolah, bagaimana cara dia untuk mendekatkannya dengan Angga?
"Hah? lo suka sama adek gue yang jelek itu?"
Seketika Melya membalikkan kepalanya ke arah Aldian, dia tidak salah dengarkan?
"Lo abangnya? sejak kapan Angga punya kakak?"
"Lah lo juga sejak kapan punya kembaran."
__ADS_1
Lagi dan lagi Melya mendengus, pantas saja tidak ada yang tahan dekat dengan Aldian, ya terkecuali Devan. Semenit dengan cowok itu rasanya Melya ingin segera memusnahkannya dari dunia ini.
Kembali pada pasangan bucin yang kini saling menyender satu sama lain. Alya yang bersandar di bahu Ilham, sedangkan cowok itu meletakkan kepalanya di atas kepala Alya.
"Ilham, kamu bakal disini sampai acara selesai kan?" tanya Alya.
"Iya dong, aku-"
Drtttt drttt
Getaran ponselnya membuat cowok itu menghentikan perkataannya.
"Siapa?" tanya Alya yang kini sudah menegakkan tubuhnya.
"Orang gak penting," ujarnya lantas mematikan panggilannya.
Tak berselang lama seseorang itu mengiriminya pesan.
"Siapa? itu penting kayaknya deh Ham sampai kirim pesan juga," ucap Alya.
"Sebentar ya aku cek dulu."
Gadis itu mengangguk sebagai jawaban.
Ilham berdiri kemudian menjauh dari tempat Alya, takut jika tiba-tiba gadis itu mengintip isi chatnya.
Nara:
Ilham, tolong anterin aku buat cek kandungan
Nara:
Aku mohon Ilham sekali ini aja, aku janji
^^^Me:^^^
^^^Lo gila? gue lagi temenin Alya, ibunya meninggal jadi gue harus disini.^^^
Nara:
Ya udah aku gugurin aja ya, aku takut Ilham, nggak ada yang mau menerima anak ini termasuk kamu juga kan?
^^^Me:^^^
^^^Lo beneran udah gila Ra^^^
^^^Me:^^^
__ADS_1
^^^Gue otw sekarang, jangan lo apa-apain tuh anak, dia gak salah.^^^
Dia mematikan ponselnya kemudian kembali menyimpannya. Hidupnya jadi semakin rumit karena gadis bernama Nara, dia benar-benar cewek menyebalkan. Apa dia buang Nara saja kelaut ya?
"Ilham, siapa?" tanya Alya menepuk bahu cowok itu.
"Ehmm, ini mamah nyuruh aku buat jagain Zahra katanya dia mau arisan, gapapa aku tinggal Al?" tanya Ilham penuh harap.
"Yaudah deh, adik kamu lebih penting, lagipula aku disini ada Melya kok, ada bunda juga jadi jangan khawatir,"
Cowok itu mengelus puncak kepala Alya pelan, "Makasih udah mau ngertiin aku, jaga diri baik-baik ya jangan sampai Aldian godain kamu," ucapnya.
"Hahaha, enggaklah Ham, udah deh jangan negatif thinking mending sekarang kamu jalan gih."
Gadis itu tersenyum manis membuat Ilham merasa tidak tega, seharusnya dia jujur tapi bagaimana jika Alya tidak menerimanya atau bahkan mungkin dia akan sangat marah padanya.
"Yaudah aku pergi ya, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya!"
Ilham akhirnya meninggalkan pekarangan rumah gadis itu, dia memejamkan matanya sejenak kemudian membatin, "Maaf Alya."
...*****...
Seorang cowok jajangkung berdiri di balkon kamarnya sambil menyesap sebatang rokok. Pikirannya sedang dipenuhi dengan masalah sekarang, tidak banyak sebenarnya hanya seorang gadis yang tidak sengaja dia hamili.
"Argh! sial, sial, sial!" teriaknya sambil melemparkan puntung rokok ke sembarang arah.
Dia duduk dilantai dengan punggung yang bersandar ke tembok. Dia menarik rambutnya frustasi, semua ini gara-gara Nara, sekarang statusnya berubah menjadi seorang ayah. Benar-benar di luar dari perkiraannya.
"Nggak mungkin gue tega buat nyuruh Nara gugurin kandungannya, dia anak gue, kalau suatu saat nanti gue dapet karma dan gak bisa memiliki anak, gimana?" ujarnya bermonolog.
"Arghh!!" teriaknya. "Gak mau, gue gak mau kalau sampai gak punya keturunan," ucapnya lirih.
Beruntung di rumahnya saat ini sedang tidak ada siapa-siapa, hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang sepertinya sedang sibuk di dapur.
"Tapi gue gak mau tanggung jawab, gue gak suka sama Nara, gue benci cewek itu!"
Dia tidak tahu harus bagaimana saat ini, jujur dan bertanggung jawab, atau diam dan menunggu waktu yang tepat. Tapi sampai kapan? waktunya mungkin hanya lima bulan karena kandungannya pasti akan terlihat nanti dan jika itu terjadi pasti Nara akan meminta tuntutan padanya.
"Hancur semua, hancur!" Tangannya memukuli lantai tak berdosa, dia mengabaikan rasa sakitnya sampai tangannya merah. "Masa depan gue hancur cuma gara-gara satu malam yang bikin hidup gue sial."
Seharusnya dia tidak menyalahkan Nara karena disini kedua pihak yang menginginkan hal tersebut maka konsekuensinya harus ditanggung bersama. Tapi, bagaimana caranya dia mengatakan pada kedua orang tuanya serta pada ayah dan ibunya Nara. Tidak, dia belum siap dengan setiap cercaan yang akan disajikan untuknya nanti.
"Apa nanti dia bakalan maafin gue? apa nanti gue gak bakal menyesal? gue sayang sama dia tapi dengan bodohnya gue hamilin cewek lain, bego!"
Cowok itu terisak, dadanya terasa sesak ketika memikirkan beberapa hal yang mungkin terjadi ketika nanti dia berkata jujur. Semua orang pasti akan membenci dan menjauhinya termasuk gadis yang dia suka.
__ADS_1
"Gue pasti tanggung jawab Ra, tapi nanti."