
Masa SMA adalah masa paling indah, dimana cinta dan persahabatan terjalin dengan begitu baik. Namun, bagi seorang wanita yang kini sudah berumur 40 tahunan, masa SMA baginya hanya penuh dengan penekanan, penghianatan, dan penyesalan.
Hidup dalam lingkungan bisnis menjadikannya sengsara seumur hidupnya, perasaannya bahkan tidak bisa diutarakan, setiap hari dia selalu berusaha untuk menjadi baik-baik saja, hingga akhirnya dia terjatuh dalam lubang hitam yang membawanya ke tempat gelap dimana cahaya tidak dapat masuk untuk meneranginya.
Dia meringkuk sendiri berteman dengan sepi, mencari celah untuk bangkit dan menata hidupnya. Namun segala hal yang dia perbuat hanya menjadi abu dan tersapu angin, tidak ada yang benar-benar dia ubah, dia hanya semakin terjerat dan tidak bisa melarikan diri dari kegelapan yang membunuhnya secara perlahan.
Diusapnya sebuah bingkai kaca bergambar dua orang gadis dengan seorang pria yang berdiri ditengah. Seragam putih abu membalut mereka bertiga, disana dia tersenyum tanpa beban, tanpa tahu yang sedang terjadi diantara mereka bertiga.
"Aku kangen kalian," lirihnya.
Tetesan air jatuh membasahi bingkai foto itu, tercetak jelas wajah wanita yang mulai berkerut namun masih terlihat cantik, hanya saja dirinya tidak terurus dengan benar terlihat dari rambutnya yang kusut dan sedikit beruban.
"Bagaimana kabar kalian ya? pasti baik-baik saja."
Rasanya masih sesak mengingat kejadian masa lalu, mungkin ini adalah balasan untuk segala hal yang dia perbuat, seandainya dulu dia bersikap tegas mungkin sekarang dia akan hidup bahagia sama seperti dua temannya.
"Ibu ngapain terus nangis kayak gitu sih!" seru gadis berbalut kaos putih berlengan pendek.
Wanita itu masih betah menunduk sambil mengusap bingkai kaca itu. Hingga tangan putrinya itu mengambil alih barang yang dipegangnya, namun posisinya masih tetap sama sekarang. Menunduk tanpa mau menegakkan tubuhnya.
"Buat apa sih liatin foto jelek ini, lebih baik buang saja Bu!" omelnya.
Gadis itu meletakkan bingkainya dinakas kemudian berjongkok untuk menatap wajah ibunya.
"Bu, jangan ingat-ingat lagi hal yang sudah berlalu, kita pasti bisa lewatin ini berdua," ujarnya mencoba menenangkan ibunya yang semakin terisak.
"Ibu gak bis-"
"Bisa, pasti bisa!"
Pada akhirnya wanita itu menatap putrinya lantas mengusap pelan wajah cantik yang selalu mengingatkannya pada seseorang. "Makasih, kamu selalu ada buat Ibu."
"Aku cuma punya Ibu, jadi aku bakalan jaga Ibu baik-baik."
"Ibu ingin melihat adikmu," ujarnya.
Gadis itu menatap kesal. "Dia udah gak ada Bu! jangan minta aku buat bawa jasad dia kesini!"
"Kamu jahat sekali, dia masih hidup nak."
"Dia udah mati!"
...*****...
__ADS_1
Brakkk.
Pintu terbuka memperlihatkan seorang pria yang terbaring dengan selang infus ditangannya.
"Ayah kenapa gak kasih tau Alya sih kalo lagi sakit, Devan juga jahat gak bilang-bilang Alya, gini-gini aku juga anak Ayah, kenapa gak mau kasih tau aku?" cerocos Alya.
Aryan tersenyum samar, putrinya terlihat begitu khawatir padahal dia sudah sangat jahat padanya. Dia merasa jadi ayah yang buruk.
"Kamu baru ingat ayah? kemana saja kamu selama ini? kabur dari rumah dan kakakmu bilang kalau kamu lebih memilih tinggal dikosan sempit agar bisa main dengan pacarmu itu."
Alya menaikan alisnya, bermain dengan pacar? heh! Devan benar-benar kejam.
"Mana ada, Devan itu bohong! dia fitnah Alya biar semua harta ayah jatuh ketangan dia."
Pletakk.
Devan yang berada disamping Alya menyentil dahinya.
"Lo juga fitnah gue! mana ada gue mau harta bokap lo!" protes Devan.
"Terus apa maksud lo ngomong kalo gue pindah kosan buat pacaran?"
"Lah emang iya kan lo jadi lebih bebas pacaran sama siapa tuh namanya, Ham, Ilam, apa Imam?"
Devan mengangguk. " Iya itu."
Kedua cowok yang berdiri dibelakang adik kakak itu hanya menggeleng heran, mereka berdua seperti roh yang tidak terlihat. Mereka berdua berfikiran sama saat ini, Devan dan Alya terlihat seperti adik kakak biasanya, terlihat harmonis dan baik-baik saja, entah mengapa waktu itu Devan memukul Alya dan gadis itu begitu sangat membenci Devan.
"Loh, Ilham kamu disini?" tanya Aryan yang menyadari kehadiran cowok itu.
"Iya Om," jawab Ilham sambil tersenyum ramah.
"Nah, ini Yah pacarnya si Alya yang bikin gak mau pulang ke rumah!" seru Devan.
"Devan!! sejak kapan gue bikin alesan itu buat gak pulang ke rumah, gila lo!" pekik Alya.
Aryan tidak mengindahkan perdebatan kedua anaknya itu, dia malah fokus pada kedua remaja yang terlihat kebingungan.
"Jadi Ilham ini pacarnya Alya ya?" tanya Aryan lagi.
Ilham menggaruk tengkuknya yang tak gatal, merasa canggung karena memang sudah lama tidak bertemu dengan Aryan.
"I-iya Om," balas Ilham gugup.
__ADS_1
"Kok bisa kamu suka sama Alya, dia itu anaknya galak."
Alya yang mendengar itu merengut kesal. "Ayah! mana ada Alya galak!"
Lagi-lagi Aryan tidak peduli dengan ucapan Alya.
"Dia juga sering bikin masalah di sekolah kamu juga pasti tahu, kok bisa kamu jadiin anak om ini pacar," lanjut Aryan.
"Gimana gak jadian horang si Alya yang nyosor!" sahut Devan. "Awww! sakit oy!!" Cowok itu menjerit karena Alya mencubit perutnya.
"Siapa suruh mulut lo itu lemes!!"
"Hmm, kalo gitu masuk akal sih," ujar Aryan.
Entah sejak kapan ayahnya dan Devan menjadi julid seperti ini, rasanya Alya benar-benar seperti anak pungut.
"Om jangan kebanyakan becanda nanti makin parah," celetuk Erik yang sedari tadi menyimak.
"Nah dengerin tuh kata ponakan tersayang ayah!" timpal Alya.
Aryan tersenyum lantas dia meraih tangan Alya membuat gadis itu mendekat.
"Ayah minta maaf Al, ayah benar-benar gak bisa tanpa kamu, ayah sayang banget sama kamu," ungkap Aryan dengan raut sedih.
Alya tersenyum. "Sayang tapi gak dianggap buat apa?"
Aryan semakin sendu, apa dia sudah begitu banyak berdosa pada putrinya ini?
"Ayah bukannya gak mau mengakui kamu sebagai anak ayah dipublik, cuma ayah gak mau kamu sampai banyak diwawancarai, lihat Devan aja suka bingung sendiri kalo ketemu sama wartawan."
Alya menatap Devan dan cowok itu mengangguk. "Iya, lo selalu salah paham."
"Tapi kenapa kalian kasar banget sama Alya? Devan mukul Alya ayah juga."
Mereka diam merenungi kesalahannya selama ini. "Belum saatnya kamu tau," jawab Aryan.
"Masalah disekolah itu karena gue sebel liat muka lo!" ujar Devan.
Alya menekuk wajahnya, jawaban macam apa ini? dia tidak suka dengan jawaban mereka. "Sampai kapan kalian main rahasia-rahasiaan gini? apa sampai Alya gak ada?"
"Loh banyak tamu ternyata, ada Alya juga ya?"
Dinda, dia masalah awal hidupnya. Alya yakin itu.
__ADS_1