
Rayna berjalan sambil membawa dua cangkir teh, wanita cantik itu memberikan satu pada suaminya lantas dia duduk disamping pria bertubuh tegap kemudian meniup tehnya yang masih mengepul.
"Ilham kemana Ray?" tanya Zayn lalu menyesap tehnya yang sudah hangat.
"Dia main basket sama temen-temennya buat persiapan ujian praktek besok," jawab Rayna.
"Kamu gak terlalu menekan Ilham kan?"
Rayna menatap suaminya kesal. "Aku gak menekan Ilham Mas, aku cuma mau dia bisa jadi anak pintar agar tidak diremehkan oleh neneknya, kamu juga tahu sendiri mamah gimana orangnya."
"Jangan samakan kamu dengan Ilham, Ray. Kita tidak boleh menekan anak itu, dia bukan anak kandung kita dia itu anak kakakku, kita harus menjaganya dengan baik," ujar Zayn.
Selama ini Rayna selalu berbohong dengan kebenaran tentang Ilham, itu karena dia tidak mau anak itu menjadi bebas dan berlaku sesukanya. Dan dia ingin membuat Ilham sibuk dengan perusahaan Zayn agar anak itu tidak memikirkan keinginan pribadinya, dia tidak ingin Ilham segera menikah karena itu hanya akan merepotkannya.
Dia berniat menjadikan Ilham sebagai pengganti Zayn setelah anak itu lulus SMA, kemudian menyuruh anak itu berkuliah dengan mengambil kelas karyawan. Alasannya karena dia ingin agar suaminya tetap dirumah bersamanya dan juga Zara, mereka akan menjadi sebuah keluarga kecil tanpa adanya kehadiran Ilham.
"Dia sudah ada dikeluarga kita jadi ya aku sudah menganggap dia anak kandungku sendiri Mas," bela Rayna.
"Aku gak mau kak Zeen sedih diatas sana kalau melihat Ilham tumbuh seperti robot."
Zayn hanya dapat memantau Ilham dari jauh karena kesibukannya sebagai seorang CEO diperusahaan Kusuma. Dia tahu Rayna selalu mengekang putra kakaknya itu, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Rayna bilang itu demi masa depannya. Namun Zayn tidak tahu jika selama ini istrinya selalu berkata bahwa Ilham ini anak dari panti asuhan, jika saja dia tahu mungkin Zayn akan sangat marah padanya.
"Dia masih manusia Zayn! kenapa kamu terus saja menuduhku sebagai ibu yang buruk?"
Rayna menyimpan gelasnya dimeja, wanita itu hendak pergi tapi sayangnya Zayn langsung menahan tangannya dan dia pun kembali duduk disamping suaminya.
"Aku gak menuduh kamu seperti itu Ray, kenapa kamu marah?" tanya Zayn lembut.
Rayna menekuk wajahnya. "Aku gak suka kita berantem gara-gara anak kakakmu itu, kita juga punya anak Zayn, kenapa kamu gak bahas Zara saja?"
"Kamu ini udah tua tapi terus-terusan ngambek gara-gara hal sepele kayak gini," ledek Zayn membuat Rayna menepuk pahanya dengan keras.
"Sakit sayang, jangan dipukul dong mending dipeluk."
Zayn memeluk Rayna secara paksa, awalnya istrinya yang tukang ngambek itu menolak namun karena lelah menghindar akhirnya dia pasrah dipeluk oleh Zayn dan sekarang dia menempatkan kepalanya dibahu suaminya dengan nyaman.
"Ray," panggil Zayn lembut.
"Hmm, apa?" sahutnya.
"Kamu jangan sering ngambek, jelek."
"Aku gak bakalan ngambek kalo kamu gak ngeselin."
Zayn terkekeh dengan jawaban istrinya, sudah seperti abg saja mereka ini padahal sudah berkepala empat.
"Rayna," panggil Zayn, kali ini dengan nama lengkapnya.
__ADS_1
"Apa Zayn?" tanya Rayna yang masih nyaman dipelukan suaminya.
"Aku kepikiran buat jodohin Ilham."
Rayna langsung menatap suaminya dengan alis terangkat. "Kok kamu mikirin buat nikahin Ilham? dia masih SMA loh."
"Iya aku tahu, tapi aku merasa kalau dia akan lebih semangat belajar kalau ada pendamping."
"Aku gak mau Ilham nikah pas SMA," tolak Rayna.
Zayn mengusap rambut Rayna dengan lembut, jika seperti ini pasti istrinya tidak akan marah. "Iya gak perlu nikah sekarang juga sayang, kita bisa buat tunangan dulu terus dia nikah nanti udah lulus SMA."
"Kamu kira dia mau?"
"Dia kan nurut sama kamu sayang."
Rayna menggeleng. "Gak mau, aku gak mau dia kenal sama cewek dulu nanti gak fokus belajar."
Zayn sudah paham betul dengan kemauan istrinya, maka dia akan menggunakan alasan ini untuk membuat Rayna menyetujui perjodohan ini.
"Kamu tahu gak Ray? kalo Ilham nikah pas udah lulus SMA aku bakal kasih tanggung jawab perusahaan sama dia terus aku bakalan pensiun dan ngurus Zara bareng kamu." Zayn mencoba untuk membujuk istrinya. "Terus kamu tahu gak keuntungan yang kedua?"
Rayna kembali menggeleng. "Gak tau!"
"Kalo dia nikah dia pindah rumah dong, jadi kita cuma bertiga hidup bahagia membesarkan Zara. Iya gak?"
"Oke, aku setuju," putus Rayna.
Zayn tersenyum senang.
"Kalo gak sesuai yang kamu omongin gimana?" tanya Rayna.
"Tinggal kamu atur aja sayang, kamu kan jagonya."
Rayna berdecak, suaminya ini memang pandai merayu. Baiklah dia akan berusaha agar rencananya ini berjalan dengan mulus.
"Kapan kamu mau omongin ini sama Ilham?"
"Besok mau?"
"Oke."
...*****...
Cowok itu duduk dilantai semen lapangan, dia mengusap keringat yang mengucur dipelipisnya, cowok itu sedang beristirahat sebentar sebelum pulang kerumah.
Rasanya seperti keluar dari penjara, sangat bebas sekali meski hanya sehari dia sudah bersyukur. Ini semua berkat ketiga temannya yang tiba-tiba mengajak bermain basket dengan alasan berlatih untuk ujian praktek. Padahal yang akan diuji nanti adalah renang bukan basket, memang sangat peka sekali temannya ini.
__ADS_1
"Mau langsung pulang Ham?" tanya Erik yang habis membeli minum diwarung dekat lapangan.
Cowok itu memberikan satu botol air mineral pada ketiga temannya.
"Thanks Rik," ujar Irgi yang langsung meneguk airnya hingga tandas.
"Thanks." Gery juga ikut minum sampai habis karena tenggorokannya memang sudah kering.
Ilham meneguk airnya sampai tersisa setengah kemudian dia menjawab, "iya gue langsung balik takutnya nyokap gue ngamuk."
"Gak mau liat Alya dulu?" tanya Gery.
Erik mengerutkan dahinya. "Lah emangnya sepupu gue itu kenapa?"
"Buset, udah dipanggil sepupu sekarang." Irgi menyahuti perkataan Erik.
"Iyalah gue dari dulu pengen sepupu cewek, tapi malah dapet berbatang semua, gue bersyukur sekarang karena si Alya ternyata adeknya kak Devan," jelasnya.
"Awas suka loh."
Erik tidak mengindahkan perkataan Irgi, dia kembali bertanya pada Gery. "Ger, emang Alya kenapa?"
"Alya semalem dibawa kerumah sakit."
"Hah? kok lo gak kasih tau gue sih?"
Ilham memutar bola matanya malas. "Biasa aja kali gak usah berlebihan dia cuma pingsan."
"Kok lo gak kaget?"
"Dih, kan Ilham gue kasih tau." Gery membalas pertanyaan Erik.
Cowok itu menekuk wajahnya. "Kok lo tega sih Ger, gue sepupunya tapi gak lo kasih tau."
"Makin hari makin alay aja lo Rik," cibir Irgi.
"Gue gini karena gue peduli!"
Ilham berdecak sebal dengan kekhawatiran Erik, dia saja yang pacarnya tidak panik dan sekhawatir itu, jangan bilang dia ada perasaan lebih pada gadisnya. Eh, gadisnya?
"Alya gakpapa, gue udah chat dia."
Ketiga orang yang sedang berdebat itu langsung diam dan mengalihkan atensinya pada Ilham yang kembali meminum airnya.
"Lo udah mulai suka sama Alya?!" teriak ketiganya secara bersamaan membuat Ilham tersedak.
"Sialan!"
__ADS_1