You My Bucin

You My Bucin
67. Gue harus apa?


__ADS_3

"Awww, pelan-pelan lah!"


Gadis itu meringis lantaran tangannya ditarik kasar dengan kaki yang tidak berhenti melangkah menaiki tangga, gadis itu mencoba menyeimbangkan langkahnya dengan manusia di depannya, gadis itu tidak tahu apa yang akan dilakukan orang ini padanya karena saat ini dia membawanya ke rooftop.


Setelah sampai orang itu melepaskan cengkramannya kemudian menatapnya tajam.


"Lo mau apa sih? sakit tau gak! lo kalo iri gue deket sama Nadira gak usah kayak gini juga," ucap Gadis itu.


Beberapa menit orang itu hanya diam dengan tatapan membunuh hingga...


"Arghhh!! sakit Mel! lo gila?" gadis itu memekik kesakitan ketika rambutnya ditarik kuat oleh orang itu.


"Ini balasan lo karena udah bikin Alya pingsan!" teriak orang itu yang tak lain adalah Melya. "Sahabat macam apa lo Res? bisa-bisanya lo bikin Alya menderita!" ucapnya lagi.


Resta meringis sambil memegang rambutnya yang terasa seperti akan tercabut dari akarnya. "Arghhh! sakit sialan!" teriaknya.


Melya akhirnya melepaskan jambakannya, kini dia beralih mencengkram wajah Resta dengan menekan kedua pipinya.


"Lo manusia paling beruntung di dunia Res, karena lo bisa dapet sahabat kayak Alya," ucap Melya.


Resta tidak menjawab, dia membiarkan Melya meneruskan ucapannya, dia ingin tahu apa sebenarnya yang ingin gadis sampaikan padanya.


"Alya itu bodoh ya Res, dia selalu belain lo, dia selalu nganggep lo sahabat meskipun lo udah berlaku kasar sama dia. Kurang bodoh apa dia?" Gadis itu kini merubah raut wajahnya menjadi sendu. "Gue bener-bener gak tau harus nyebut dia apa, padahal dia lagi sakit-"


"Swakit? Alya swakit apwa?" tanya Resta menyela ucapannya.


Melya terdiam, dia memalingkan wajahnya mencoba untuk menyembunyikan kebenarannya.


Resta yang kesal langsung melepaskan tangan yang mencengkram wajahnya lantas dia memegang bahu Melya membuat gadis itu menatapnya.


"Gue tanya sekali lagi, Alya sakit apa Mel?" ucap Resta. "Jawab!!"


"Alya kena kanker darah," jawab Melya lirih.


Deg


Seketika badan Resta lemas hingga dia terduduk di lantai. Tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja, dia merasa bersalah, dia benar-benar sahabat yang buruk, dia bahkan tidak tahu apa yang sedang dialami sahabatnya.


"Sejak kapan Alya punya penyakit? kenapa lo bisa tau dan peduli?" tanya Resta sambil menunduk.


"Gue gak tau sejak kapan tapi gue rasa sejak insiden Alya tenggelam dia udah kena penyakit itu," jawab Melya mencoba menerka.


"Terus?"

__ADS_1


Gadis itu menghela napasnya, kemudian dia mendudukkan dirinya disebelah Resta. Mungkin ini saatnya orang tahu kebenaran tentangnya. "Gue kembarannya Alya, wajar kalau gue peduli sama dia," ujar Melya.


"Hah?" pekik Resta.


Gadis itu menatap Melya tak percaya, bagaimana mungkin Alya yang anak tunggal memiliki kembaran, mereka tak sama pula. Ternyata Resta terlalu banyak ketinggalan informasi, ini semua karena Gery.


"Lo gak becanda kan? lo gak asal ngomong kan?"


Melya memutar bola matanya malas, "Iya, gue gak bohong. Gue kembaran Alya, dan gue lebih tua dari dia!"


"Gila! kehidupan Alya bener-bener gila!"


...******...


Sudah setengah jam Alya belum terbangun, selama itu pula Aldian menggenggam tangan Alya. Cowok itu rela meninggalkan kelasnya, rela diceramahi oleh Devan hanya karena untuk Alya. Katakan saja dia bucin.


"Ayo bangun Al, lo pingsan terus lanjut tiduran ya? alasan lo bagus banget biar gak masuk kelas," ujar Aldian sambil terkekeh.


Matanya meneliti setiap inci wajah sempurna Alya, meskipun bibirnya terlihat pucat tetap saja kecantikannya tidak bisa dihilangkan.


"Gue suka sama lo Al, gue harus apa?"


Aldian menghela napasnya, "Gue tau lo masih suka sama Ilham, gue tau lo bucin banget sama dia. Makanya gue gak pernah mau tunjukin perasaan gue yang sebenarnya ke lo, terlalu menyakitkan seandainya lo tolak gue nanti."


"Eunghh."


Aldian langsung melepaskan genggaman tangannya, dia berpura-pura membuka ponselnya ketika Alya akhirnya sadar.


Mata gadis itu mengerjap dan satu tangannya memegang kepala. "Loh gue kok disini?" tanya Alya sambil menatal sekeliling ruangan.


Dia melirik ke baju seragamnya, otomatis dia membuka matanya lebar. "Baju gue!! siapa yang gantii!" pekik Alya.


Aldian Refleks menutup kedua lubang telinganya, teriakan Alya bisa merusak telinganya.


"Berisik!" sentak Aldian.


Seketika jari telunjuk Alya mengarah padanya. "Lo kan yang ganti baju gue? ngaku!"


"Lo pikir gue mau mati ditangan sahabat gue sendiri? kalo gue ganti baju lo otomatis detik ini lo gak bakal ketemu gue, yang ada lo liat hantu gue," ucap Aldian menjelaskan.


"Terus siapa dong yang ganti?" tanya Alya.


"Ya anggota pmr lah bodoh! astaga Alya gitu aja lo masih mikir."

__ADS_1


Benar juga, kenapa Alya harus nenuduh Aldian padahal dia tahu disekolahnya ini banyak pengurus uks. Alya jadi pelupa.


"Aldian," panggil Alya.


"Hmm," sahutnya yang fokus dengan ponsel.


Alya tidak suka ketika dirinya diacuhkan seperti ini, dia langsung mengambil ponsel itu dari tangan pemiliknya tanpa berkata apapun.


"Oy! ganggu aja lo ah, gue lagi liat cewek-cewek seksi juga," rutuk Aldian.


Mata Alya langsung melotor tajam ke arahnya, "Gak baik! mending lo tobat liatnya ceramah para ustad biar hati dan pikiran lo bersih."


Aldian memalingkan wajahnya tanpa menyahut, dia sedang merajuk sekarang.


"Aldian," panggil Alya lagi.


"Apa?" sahutnya tanpa menatap lawan bicara.


"Kenapa lo gak masuk kelas?"


"Males."


Alya memajukan bibirnya kesal. Kenapa Aldian yang seperti ini malah membuatnya lebih kesal daripada kemarin sore.


"Aldian."


Cowok itu berdecak lantas menatap Alya, "Ck apa sih? lo mau jadi wartawan?"


Alya menggeleng, "Gue cuma mau ingetin nanti kalo lo anter gue checkup ke rumah sakit lo harus periksa jantung lo, gue takut lo kena penyakit jantung," ujarnya polos.


Aldian terbatuk lantaran tersedak ludahnya sendiri. Astaga bisa-bisanya Alya menganggap bahwa dirinya penyakitan, padahal yang menjadi biang penyakitnya adalah dirinya sendiri, Alya.


"Kok lo diem? lo gak mau periksa?" tanya Alya.


"Gue gak sakit!" ketus Aldian.


Alya berusaha menggapai tangan Aldian hingga akhirnya dapat, gadis itu memegangnya lembut dengan menatap cowok itu sembari tersenyum.


"Lo harus periksa, kalo nanti lo tiba-tiba mati gara-gara serangan jantung gimana? kasian orang tua lo apalagi adik lo," ucap Alya mencoba membujuknya.


Deg, deg, deg...


Aldian merutuk dalam hati, lagi-lagi jantungnya tidak bisa diajak kompromi.

__ADS_1


"Gimana bisa gue obatin, sedangkan lo pemicunya Al."


__ADS_2