You My Bucin

You My Bucin
41. Senja pertama


__ADS_3

Jam pulang sekolah sudah berakhir 15 menit yang lalu, lapangan yang tadinya riuh sekarang sepi dan kini menyisakan sepasang anak muda yang saling terdiam, berdiri di pinggir lapangan.


Gadis itu memasukkan tangannya kedalam saku hoodie biru langit miliknya, kepalanya mendongak menatap cowok jangkung yang sudah terdiam selama hampir lima menit.


Gadis itu menghela napasnya, kemudian berkata, "Waktunya sudah habis, kalo gitu gue pulang."


Dia memutar tubuhnya hendak pergi, namun sedetik kemudian tubuhnya mematung lantaran cowok itu memeluknya dari belakang.


"Jangan pergi," bisiknya. Cowok itu lantas melepaskan pelukannya kemudian memutar tubuh gadis itu agar menghadap kearahnya. "Aku minta maaf, ayo baikan Alya!"


Netra mereka beradu, namun beberapa detik kemudian Alya memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jujur saja hatinya sedikit sakit karena foto semalam, mau bagaimanapun Ilham sudah menghianati kepercayaannya, apalagi kemarin dia tidak memberikan kabar.


Ilham menggenggam tangannya namun dia masih tidak mau menatap cowok itu. "Alya, aku minta maaf, aku harus gimana biar kamu mau maafin aku?"


"Gak tau, aku cuma gak enak hati aja. Aku sakit dan kamu tahu, tapi kamu gak ada ngejenguk aku atau ngabarin aku kemarin sore." Alya lagi-lagi menghela napasnya, "Terus tiba-tiba ada orang yang ngirim foto kayak gitu ke aku, gimana perasaan kamu kalau jadi aku?" lanjutnya tanpa menatap sang lawan bicara.


"Aku minta maaf, aku minta maaf, aku-"


"Gapapa." Alya memutar kepalanya menatap Ilham dengan senyum manisnya. "Aku udah maafin kamu kok."


Cowok itu tersenyum senang dan reflek memeluk Alya, sang empu hanya diam tanpa membalas pelukannya.


"Makasih Al, aku gak bakalan kecewain kamu lagi," ujar Ilham senang.


"Aku harap kamu bisa pegang janji kamu,"


"Pasti Al, aku seneng akhirnya kamu mau maafin aku." Ilham melepaskan pelukannya lantas menggenggam hangat tangan Alya. "Aku mau tunjukin kamu sesuatu Al."


Alya menaikan alisnya, "Nunjukin apa?"


Cowok itu hanya tersenyum tanpa menjawab, dan sekarang Alya malah dituntun menuju rooftop sekolah. Entah apa yang ingin ditunjukkan oleh Ilham, tapi semoga saja itu dapat membuat mood Alya nembaik.


Dengan langkah kecil Alya mengikuti Ilham dari samping, dia tersenyum menatap raut bahagia yang tercetak jelas diwajah cowok itu.


Tadinya Alya mau jual mahal, tapi jika hubungannya bermasalah itu artinya Melya akan dengan mudah menghancurkannya kan? jadi Alya mengalah saja dan memaafkan Ilham. Semoga saja dia tidak kembali dikecewakan.


Beberapa menit berlalu, mereka sudah sampai di rooftop.


"Mau ngapain ke sini?" tanya Alya bingung.


Bukannya menjawab Ilham malah menuntun Alya kembali untuk duduk menghadap ke arah barat.


Mata Alya berbinar menatap fenomena senja yang menyihir matanya, benar-benar indah. Dia baru tahu kalau rooftop sekolahnya ini adalah tempat terbaik untuk menyaksikan matahari tenggelam.


"Sesuai permintaan kamu," ujar Ilham membuat Alya menatapnya dengan kening berkerut.


"Maksudnya? aku gak inget pernah minta lihat senja disini,"

__ADS_1


Ilham terkekeh lantas merangkul bahu Alya agar dia mendekat, kemudian dia meletakkan kepala gadis itu dibahunya. "Kamu inget gak? pas waktu itu aku nawarin kamu pulang bareng."


Alya menggeleng, "Enggak."


"Ck, pikun!"


"Manusiawi tau! aku kan gak sedetail itu buat inget-inget momen," bela Alya.


"Itu artinya momen bareng aku gak istimewa ya?"


Alya cemberut lalu menjawab, "Istimewa Iyung, bahkan sangat. Dapetin hati kamu itu gak gampang ya, aku sampe harus nyemplung ke kolam terus tenggelam."


"Terus kenapa bisa lupa momen waktu itu?" tanya Ilham kesal.


"Tolong ingetin dong, aku kan pelupa, tapi melupakan Iyung itu sangat tidak mungkin."


Ilham terkekeh lantas mencubir pipi Alya gemas. "Boong banget."


"Beneran ihhh!"


"Iya, iya."


Alya menegakkan tubuhnya lalu kembali berkata, "Ayok dong kasih tahu, kok malah diem."


Jantung Alya berdegup kencang ketika Ilham menggenggam tangannya tanpa izin, dia menatap cowok berhidung mancung itu dengan mata belonya. Senyum itu selalu indah, bahkan lebih indah dari senja. Alya suka.


Alya berusaha mengingat-ingat kejadian di motor waktu lalu, hingga sebuah bayangan muncul dibenaknya.


"Senjanya bagus ya? gue pengen banget lihat senja sama pacar gue nanti." Alya mengalihkan pembicaraan.


Ilham menghembuskan napasnya pelan. "Lo mau lihat senja dimana?"


"Gue pengen liat senja di rooftop sekolah," jawab Alya.


"Kenapa gak ditepi laut atau diatas bukit?"


"Karena mungkin pacar gue nanti adalah orang yang berasal dari sma Pertiwi."


Ilham mengerutkan keningnya. " Siapa yang mau jadi pacar lo?"


"Ilham Adiwijaya Kusuma," jawabnya penuh percaya diri.


Ilham terdiam lalu dia terkekeh. "Gue jadi pacar lo? mungkin waktu itu gue lagi kerasukan setan, hahaha."


"Alya Inget!" serunya membuat cowok itu terlonjak kaget. "Loh, berarti Ilham sekarang lagi kerasukan setan ya?" tuduh Alya.


Ilham menoyor kepala gadis itu pelan. "Iya, setannya genderuwo!"

__ADS_1


"Ihh, Ilham! aduh ini gimana kalo Alya anemia!" Alya mengusap kepalanya yang ditoyor oleh Ilham.


"Amnesia Alya! bukan anemia! " ralatnya.


"Sama aja tau!"


"Beda Alya!"


"Sama, sama-sama merugikan."


Ilham mengalah, daripada harus berdebat dengan gadis bernama Alya yang sampai manapun tidak akan mau mengalah.


"Ihh, kok diem sih? cemen ah, masa ngalah," ledeknya.


Cowok itu tersenyum lalu memegang kedua bahu Alya. "Aku diem bukan ngalah, tapi karena aku tau gak bakalan menang kalo adu debat sama kamu."


"Iya itu artinya kamu cemen!"


"Dosa apa gue sampe punya pacar modelan kayak gini," batinnya.


Alya cemberut karena Ilham tak kunjung bersuara, pada akhirnya dia mencubit perut Ilham membuat cowok itu tertawa karena kegelian.


"J-jangan hahaha, jangan yang itu Al, ampun ahaha...."


Gadis itu malah semakin bersemangat untuk menggelitiki Ilham. Haha, sekarang Alya tahu kelemahan Ilham, rasanya jadi semakin menyenangkan.


"Alya! a-ampun ahaha..., Al aku m-mohon."


"Makanya kalo aku ngomong jawab dong jangan diem!" ujar Alya.


Setelah puas melihat penderitaan Ilham, gadis itu akhirnya menghentikan acara menggelitiknya dan kini dia sedang menatap pacarnya yang terlihat kelelahan.


"Huh, huh, tega banget kamu Al, sumpah ini hukuman paling berat yang aku terima," tutur Ilham dengan napas tersengal-sengal.


Alya merasa tidak tega dengan Ilham, akhirnya dia mengelus-elus punggung tangan Ilham membuat cowok itu menatap bertanya padanya.


"Hmm, aku minta maaf Iyung, janji gak gitu lagi," ujar Alya.


Ilham tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada wajah Alya, membuat gadis itu menahan napasnya sejenak. Jarak mereka kini hanya satu senti, bahkan hidung mereka sudah menempel. Refleks Alya menutup matanya dengan degup jantung yang tidak beraturan.


Namun beberapa detik berlalu, tidak ada yang menempel dibibirnya, lantas Alya membuka matanya. Dia menatap Ilham malu, cowok itu kini sedang menertawakannya.


"Haha, muka kamu merah, kamu mau cium?" ledek Ilham.


Alya menggembungkan pipinya. "Ilham nyebelin, Ilham ngeselin, Ilham anj- mphhh."


Matanya membulat sempurna ketika benda kenyal itu mendarat dengan sempurna dibibirnya. "Sial, sial sial! first kiss gueee!!"

__ADS_1


"Jangan ngomong kasar, nanti aku hukum."


__ADS_2